Deswita membawakan tiga kotak salad buah pesanan Mela. Wanita itu awalnya menggerutu saat Mela meminta kembali salad yang pernah ia beri itu, ia membawakan ketiga kotak salad itu bukanlah gratis, ia membuat Mela berjanji akan menuruti permintaannya jika ia bersedia membawa pesanan Mela.
“Ini,” Deswita langsung memberikan pesanan Mela ketika ia baru masuk ke mobil yang membawa mereka ke kantor.
“Waaah, terima kasih, Bu,” ujar Mela dengan wajah yang berseri-seri.
“Hhmmm, kemaren seperti tidak tertarik. Sekarang malah minta tambah,” ejek Deswita.
“Ini karena enak, Bu. Salad ini adalah salad yang paling enak yang pernah saya makan.”
“Halaaah, bilang saja pengen dibawakan lagi,” cibir Deswita yang di balas Mela dengan senyuman kecil.
Mela langsung memakan satu kotak salad ketika ia baru saja meletakkan tasnya di meja, sejak di dalam mobil ia sudah ingin mencobanya. Mela tidak mengerti kenapa ia sangat menginginkan salad tersebut, ada dorongan yang kuat dari dalam tubuhnya yang sangat menginginkan hal itu.
Mela merasa sangat senang ketika telah menghabiskan satu kotak salad, ia menatap dua kotak lagi yang akan ia makan nanti siang dan sore hari. Dua kotak salad itu kemudian Mela masukkan ke dalam kulkas, karena dingin akan terasa lebih nikmat jika dimakan.
“Mel.” Siska datang menghampiri Mela dengan wajah yang cemberut.
“Kenapa?” tanya Mela.
“Aku mau resign,” ucap Siska. “Tepatnya dipaksa resign,” lanjut Siska lagi sebelum Mela bertanya lebih lanjut.
Mela sudah tahu permasalahan yang dialami oleh sahabatnya itu, Siska akan menikah dan harus mengikuti suaminya ke luar kota nanti setelah mereka menikah, tapi itu tiga bulan lagi. Yang membuat Mela bertanya-tanya, kenapa Siska resign nya harus secepat ini?
“Kenapa secepat ini?” Akhirnya Mela menanyakan itu pada Siska.
“Mama yang minta, mama mau aku di rumah sebelum pernikahan ini,” ia berkata dengan wajah sedih, bibirnya ia buat mengerucut mengekspresikan kekesalannya.
“Terkadang untuk mendapatkan sesuatu, kita harus mengorbankan sesuatu. Kau harus ikhlas jika memang sudah memutuskan untuk menikah dengan nya.”
“Kau benar, hanya saja aku merasa sedih jika harus meninggalkan pekerjaan dan kalian semua,” ucap Siska dengan suara yang lemah.
“Kita masih bisa bertemu di luar kantor,” ucap Mela.
“Hmmm... kau benar. Pak Teguh sudah datang? Aku akan mengantarkan surat resign.”
“Belum, tapi kalau Bu Deswita sudah ada di ruangannya.” Mela memberi tahu.
“Heiii... aku perhatikan hubungan kau dengan Bu Deswita sudah mulai membaik. Itu bagus, jadi tidak ada lagi orang di kantor ini yang bersikap buruk.” Siska berkata setengah berbisik pada Mela. Siska hanya tidak tahu, dibalik kebaikan yang diberikan oleh Bu Deswita ada permintaan yang harus Mela penuhi.
“Itu Pak Teguh sudah datang.” Mela berkata karena mendengar suara langkah kaki seseorang yang berjalan mendekat. Untung juga Teguh datang tepat waktu jadi Mela tidak harus membahas tentang kebaikan Deswita pada Siska.
“Selamat Pagi, Pak!” Sapa mereka bersamaan.
“Pagi,” jawab Teguh dengan ramah.
Siska yang memang sedang menunggu kedatangan Teguh langsung berjalan menyusul pria itu ke ruangannya. Mela hanya memperhatikan dari tempat ia duduk. Sebentar lagi Siska akan resign, itu artinya ia akan kehilangan satu orang sahabatnya, terlebih Siska akan menikah dan meninggalkan kota ini. Memikirkan Siska yang akan menikah membuat Mela teringat dengan statusnya. Benarkah ia sekarang seorang janda?
Menikah dan harus berpisah di usia pernikahan yang baru satu hari pernah membuat Mela merasa orang yang paling tidak beruntung di dunia ini, kembali bekerja dan memiliki kesibukan membuat Mela lupa dengan kesedihannya. Namun di malam hari, ia pasti teringat dengan Rayan. Tidur satu malam dalam pelukan Rayan adalah tidur Mela yang paling indah dan tidak akan pernah Mela lupakan seumur hidupnya. Setiap malam sebelum tidurnya, Mela selalu merasakan bagaimana cara Rayan menyentuhnya malam itu. Sangat Indah dan Nikmat.
Mela lalu membuang jauh pemikirannya, ia harus bekerja. Kemudian Mela meraih laptop yang tersimpan di dalam lemari kecil yang terletak di samping meja kerjanya, gadis itu kemudian menunduk, lalu ia merasakan pusing. Rasa pusing yang datang secara tiba-tiba membuat Mela menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, pandangan matanya kemudian mulai mengabur, reflek Mela menutup kedua matanya untuk menghilangkan rasa pusing yang menyerang.
**
Siska mengutarakan alasan ia meminta resign pada Teguh. Teguh adalah atasan yang sangat baik yang memperhatikan semua karyawan. Ia terlihat cuek dan tidak banyak bicara, namun ia tahu banyak berbagai hal dan bisa mengerti permasalahan tentang kehidupan karyawannya.
“Saya akan menyampaikan surat ini ke pusat, tapi kau tetap harus bekerja sampai pimpinan pusat menyetujuinya,” ucap Teguh usai membaca isi surat yang Siska sampaikan dan mendengar alasan Siska untuk berhenti.
“Terima kasih banyak, Pak! Saya akan menunggu hasilnya.” Siska berkata lega.
“Kalau begitu saya permisi dulu,” lanjut Siska.
Siska berdiri dari duduknya, ia akan kembali ke ruangannya. Teguh juga melakukan hal yang sama, pria itu bangkit dan juga hendak keluar ruangan yang membuat Siska melihat Teguh dengan tanda tanya.
“Saya akan ke pantry,” ucap Teguh memberi tahu sebelum Siska bertanya.
Siska mengerti, ia langsung menemui Teguh di saat pria itu baru sampai di kantor. Harusnya OB di kantor mereka telah menyiapkan minuman untuk atasan mereka, tapi Siska pernah mendengar jika Teguh lebih suka membuat minuman untuk dirinya sendiri.
“Mela....” Siska berteriak melihat Mela yang seperti seseorang sedang tidur di kursi.
Siska berlari mendekati Siska dan menggoyang tubuh Mela, mata Mela mengerjap sebentar tapi kembali menutup. Ia tampak sangat lemah.
“Minggir!” Teguh mendekat, ia meminta Siska untuk menjauh dari Mela. Tanpa bicara, pria itu langsung melingkarkan tangannya ke tubuh Mela dan membawa gadis itu dalam gendongannya.
Dengan cepat Teguh membawa Mela keluar yang di ikuti Siska dari belakang. Beberapa pasang mata menangkap adegan itu dan tidak menyangka jika Teguh bisa senekad itu menggendong Mela sambil berlari keluar menuju mobilnya. Semua karyawan bisa melihat raut cemas di wajah Teguh, hampir tidak pernah pria itu kontak langsung dengan karyawan nya seperti yang ia lakukan pada Mela sekarang.
“Kau masuk duluan,” perintah Teguh pada Siska. Setelah itu ia meletakkan kepala Mela di pangkuan Siska. Teguh kemudian masuk ke mobil dan membawa mobil dengan cepat menuju rumah sakit terdekat.
Teguh menunggu di luar kamar ketika Mela di periksa oleh dokter. Ada Siska di dalam sana yang menemani Mela. Teguh memang tidak mengucapkan apa-apa tapi dari raut wajahnya terlihat kalau ia sangat khawatir dengan Mela.
Pria itu langsung masuk ke dalam ketika seorang perawat keluar.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Teguh.
Siska yang sedang berbicara dengan dokter yang memeriksa Mela melihat ke arah Teguh yang masuk tiba-tiba.
“Dimana Mela?” tanya Teguh lagi.
“Mela masih di dalam sana,” tunjuk Siska ke ruangan yang ada di belakangnya.
Teguh lalu mengambil tempat di kursi kosong yang ada di samping Siska.
“Bagaimana keadaannya, Dok?”
“Pak, seperti yang sudah saya jelaskan pada Bu Siska. Kondisi Bu Mela yang lemah saat ini karena ia dalam keadaan hamil. Kondisi seperti ini sangat wajar untuk ibu di usia kehamilan yang masih muda. Bu Mela perlu banyak istirahat, saya akan resepkan vitamin dan obat untuk dirinya sekaligus bayi yang ada di dalam kandungannya.”
Teguh terdiam mendengar penuturan dokter yang ada di depannya, sementara Siska menatap pintu ruang dimana Mela masih ada di dalamnya. Teguh dan Mela sama-sama larut dalam pikiran masing-masing, pikiran yang sama. Kehamilan Mela.