Perubahan Deswita

1144 Kata
Sejak pertemuan di kafe bersama Reyno kemaren, Deswita berubah menjadi baik pada Mela. Atasannya itu berbaik hati meminta file pembaharuan kontrak kerja yang mereka buat kemaren dan menawarkan akan membantu Mela untuk mengirimi file tersebut ke perusahaan Rayan. Padahal pekerjaan itu tidaklah sulit, tinggal membuka email, menarik lampirannya dan menekan tombol send untuk mengirim berkas. Ada saja hal yang membuat Deswita ingin berkomunikasi lebih lanjut dengan Mela. Mela sendiri tidak peduli dengan semua pendekatan yang dilakukan Deswita. Ia tidak punya informasi apapun yang bisa ia berikan pada atasan nya itu kecuali kenyataan kalau Reyno adalah kakak kandung Rayan. Hanya itu yang Mela ketahui, dan Deswita belum puas dengan informasi tersebut dan tetap mendekati Mela untuk mengetahui info lebih lanjut. Perubahan sikap Deswita yang menjadi baik kepadanya ini Mela anggap sebagai anugrah dari tuhan karena sudah tidak ada lagi yang julid kepadanya di kantor meskipun tidak ada satupun yang bisa Mela lakukan untuk mendekatkan Deswita dengan Reyno. Hubungan Mela dan Reyno saja seperti orang asing yang tidak pernah saling kenal padahal Mela adalah istri dari Rayan, meskipun mereka hanya menikah siri dan kenyataan mereka yang hanya bertemu beberapa kali. “Saya bawa salad buah yang banyak dari rumah, kau mau?” Deswita meletakkan satu kotak salad yang berisi berbagai jenis buah-buahan di dalamnya, lengkap dengan keju dan mayonaise sebagai topping. “Saya kemaren sudah menemukan rumahnya, Ckckck... rumah itu sangat besar dan luas. Dia benar-benar pria yang unlimited,” ucap Deswita dengan pandangan menerawang ke depan, membayangkan rumah besar seperti yang ia ucapkan. “Unlimited? Siapa yang Ibu bilang Unlimited?” tanya Mela tidak mengerti. “Reyno, kakak dari mantan suamimu. Ups! Sorry! Almarhum suamimu.” Deswita memperbaiki ucapannya. “Ibu kerumahnya?” tanya Mela tidak percaya sekaligus heran. Apa Deswita diterima dengan mudah di rumah itu? Padahal ia dan Rayan saja susah untuk masuk ke sana. Sampai sekarang Deswita tidak pernah tahu hubungan Mela dengan keluarga Rayan tidak baik, bahkan mereka tidak pernah bertegur sapa sampai detik ini. “Iya, saya menemukan alamatnya di laci meja itu.” Deswita berkata sambil menunjuk laci meja kerja Mela, tidak lupa senyum yang ia buat semanis mungkin di wajahnya. “Ibu memeriksa meja saya tanpa izin? Ibu bisa saya laporkan!” Mela menjadi marah karena Deswita membuka dan memeriksa meja kerjanya tanpa izin. “Lah, kan sekarang saya sudah izin,” jawab Deswita tanpa rasa bersalah. “Ini bukan izin, Bu! Izin itu meminta terlebih dahulu sebelum mengerjakan nya. Kalau yang ibu lakukan sekarang itu bukan izin melainkan laporan, memberitahu jika Ibu sudah membuka laci meja kerja saya,” geram Mela. “Sama saja! Lagian saya hanya mengambil alamat rumah. Periksa saja! Tidak ada yang hilang kan?” ketus Deswita. “Ada! alamat rumah seseorang telah di curi,” balas Mela tak kalah ketus. “Hehehe... hanya itu! Saya tidak akan mengambilnya jika kau mau memberikannya. Makanya... jangan pelit kasih informasi.” Deswita kembali berlaku manis. Tepatnya sok manis. “Tidak mau! Saya tidak mau menerima sogokan.” “Bukan sogokan. Anggap saja salad ini sebagai ungkapan permintaan maaf saya kepadamu atas pencurian alamat rumah Reyno, dimakan, ya!” ucapnya kemudian. “Saya mau ke ruangan dulu, melanjutkan pekerjaan! Jangan lupa dimakan!” Deswita kemudian mengetukkan jari telunjuknya pada penutup salad dan berlalu dari hadapan Mela. Mela hanya menatap kotak salad yang terpampang di depannya, ia sama sekali tidak tertarik dengan isi di dalam kotak tersebut Selera makannya menghilang sejak tau Deswita telah berlaku tidak pantas karena telah membuka laci meja kerjanya tanpa izin. Ia lalu kembali fokus pada pekerjaan yang sedang ia selesaikan. Hanya beberapa menit Mela bisa berlaku cuek pada salad yang ada di depannya. Tiba-tiba ia merasa air liurnya menetes hanya dengan melihat dan membayangkan isi kotak tersebut. Mela mengenyampingkan laptop yang ia pakai lalu meraih kotak buah tersebut. Seperti orang kelaparan yang belum makan berhari-hari Mela melahap semua jenis buah yang ada di dalamnya. Sedikitpun tidak ada yang bersisa, keju dan mayonaisenya pun habis termakan. Mela mengusap perutnya setelah menghabiskan semuanya, salad buah yang diberikan Deswita adalah salad buah paling enak yang pernah Mela makan. Rasanya Mela ingin meminta sedikit lagi pada Deswita untuk ia bawa pulang dan makan di rumah. ** “Bersihkan semua dan buang barang yang tidak dibutuhkan lagi,” Perintah Reyno pada Andri. Hari ini Reyno menata ulang ruang kerja Rayan. Ia memerintahkan pada Andri untuk membersihkan dan menata ulang barang-barang yang ada di sana. Reyno akan datang sekali dalam seminggu ke Rayan’s Studio untuk mengecek dan mengevaluasi hasil kerja semua karyawan. Reyno juga sudah mengangkat seorang yang sudah ia percaya untuk menggantikannya jika ia sedang berada di kantornya sendiri. “Semua file-file yang sekiranya tidak penting di buang saja!” perintah Reyno lagi. Andri membuka lemari kerja Rayan dan membersihkan isinya, ia di bantu oleh Herman untuk menyeleksi file mana yang tidak penting dan sudah bisa di buang. Andri dan Herman saling pandang ketika mereka menemukan sesuatu di dalam lemari tersebut. “Apa ini akan kita buang?” bisik Herman. “Gak tau! Coba sisihkan dulu dan tanya Pak Reyno,” jawab Andri. Herman menyisihkan semua barang-barang pribadi milik Rayan, dan memasukkannya ke dalam sebuah kardus kecil. Lalu Herman meletakkan kardus tersebut di atas meja kerja yang biasa di pakai Rayan. Lalu keduanya melanjutkan membersihkan bagian lain di dalam ruang tersebut. “Ini isinya apa?” Reyno masuk ke dalam setelah semuanya beres. Semua yang tidak penting sudah di keluarkan dan ada sebagian yang di buang. Letak dan tatanan peralatan kantor juga sudah di tata dengan sesuai dengan keinginan Reyno. “Barang pribadi Pak Rayan, Pak!” jawab Herman. Reyno membuka penutup kardus tersebut dan melihat-lihat isinya. Ada sebuah foto Rayan dan Mela di sebuah pantai sedang memandangi matahari yang hampir tenggelam. Reyno mengangkat foto tersebut, meski di ambil dari arah belakang, Reyno bisa mengetahui jika kedua nya pasti sedang tersenyum bahagia memandang aurora yang terpampang di depan mereka. Reyno beralih pada dokumen lain yang ada di dalam kotak tersebut. Dari sekian banyak dokumen ada satu yang menarik perhatian Reyno. Reyno mengambil dokumen tersebut dan membawanya ke sofa. Sambil duduk, Reyno membuka lembar demi lembar dan mebacanya dengan teliti. Bagian depan dokumen tersebut ada sebuah brosur perumahan yang cukup mewah yang letaknya tidak jauh dari Bank tempat Mela bekerja, selanjutnya kwitansi pembayaran untuk pembelian satu unit rumah atas nama Mela. Rumah tersebut sudah di bayar setengah harga oleh Rayan, dan di sana tertulis akan di lunasi di pembayaran kedua. “Minggu depan,” gumam Reyno. Reyno kemudian mengeluarkan ponsel yang ada di balik saku jasnya. Lalu ia menelepon seseorang. “Few, tolong selesaikan pembelian rumah atas nama Mela Gianina yang dilakukan oleh Rayan. Urus pergantian nama menjadi nama Mama, saya akan kirim dokumennya sebentar lagi ke email.” Reyno menelepon pengacara perusahaan nya untuk menyelesaikan pembelian rumah yang dilakukan Rayan dan meminta Fewiko untuk melakukan pergantian nama di sertifikat rumah yang sudah di daftarkan Rayan atas nama Mela.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN