Cinta Sejati

1153 Kata
Usai Mela mandi dan membersihkan diri, sambil menunggu jam makan malam Mela membuka ponselnya. Ada email yang dikirim Teguh yang belum sempat Mela baca. Mela lalu membuka email tersebut. Disana tertulis jadwal pertemuan Mela dengan Pimpinan Rayan’s Studio yang baru, nama yang tertulis di sana adalah nama yang sudah Mela kenal. Arreyno Savian Alteza. Nama kakak laki-laki Rayan. “Bang Reyno.” Mela bergumam menyebut Reyno dengan panggilan Abang persis seperti Rayan memanggil Reyno. Entahlah, jika mengingat segala sesuatu yang berhubungan dengan Rayan, Mela tidak bisa mengendlikan hatinya. Air mata tetap menggenang di pelupuk matanya meskipun hati Mela berteriak untuk tidak melakukannya. Mela masih diselimuti suasana duka, mungkin akan selamanya seperti itu, dan menghadapi kenyataan besok dimana ia harus bertemu dengan kakak lelaki orang yang ia cintai, membuat Mela kembali mengingat Rayan. “Mel... ayo makan.” Suara Rusdi di luar kamar yang memanggil Mela membuat gadis itu tersadar. Buru-buru ia hapus air mata yang jatuh ke pipinya, Mela tidak mau jika Rusdi melihatnya menangis lagi karena ia sudah berjanji pada pria itu untuk selalu kuat menghadapi kenyataan. Sepahit apapun kenyataan itu. “Sebentar, Yah!” Mela bangkit dan merapikan penampilannya yang sedikit kusut. Kemudian ia menyusul Rusdi yang sudah menunggu di meja makan. Mela menatap tubuh kurus ayahnya yang telah menyiapkan makan malam di meja. Bagi Mela, Rusdi adalah sosok ayah yang paling sempurna. Rusdi adalah seorang ayah yang terbaik di dunia ini. Ia adalah ayah yang menomor satukan kebahagiaan anaknya daripada kebahagiaan dirinya sendiri. Mela sudah mengizinkan ayahnya untuk menikah lagi jika memang Rusdi menemukan wanita yang cocok sebagai pengganti ibunya, namun Rusdi menolak dan memilih setia pada ibunya. Alangkah bahagianya Ibu Mela di alam sana, melihat suami yang setia kepadanya meskipun raga mereka tidak berdampingan lagi tetapi hati mereka tetap bersatu. Cinta Rusdi pada ibu Mela adalah salah satu contoh cinta sejati yang jarang dimiliki oleh penghuni bumi ini, dan Mela adalah salah satu peniru cinta sejati yang dimiliki ayahnya. Sama dengan perasaan yang dimiliki ayahnya terhadap sang ibu, Mela juga memiliki perasaan yang sama pada Rayan. Begitu mencintai dan sangat setia pada pasangannya. “Ayo Makan!” Suara Rusdi kembali menyadarkan Mela dari lamunan. Gadis itu memaksakan senyum supaya Rusdi tidak curiga jika ia masih memikirkan Rayan. “Apa yang kau pikirkan?” tanya Rusdi di sela makan nya. Rusdi adalah ayah yang sangat peka, ia bisa tahu jika Mela sedang memikirkan sesuatu. Rusdi tidak akan pernah bisa melarang Mela memikirkan Rayan, tapi jika kesehatan Mela akan terganggu karena pikiran itu, Rusdi tentu akan berang dan menasehati Mela. “Tidak ada, Yah!” jawab Mela berbohong. Rusdi menatap putrinya yang menyuap makanan dengan sangat pelan, Mela yang sadar sedang diperhatikan segera berkata. “Pak Teguh barusan kirim E-mail. Mela besok akan kerja di luar untuk bertemu customer yang baru, dan Mela harus pergi berdua dengan Bu Deswita. Ayah tau bagaimana sikap Bu Deswita selama ini pada Mela, ‘kan?” “Owh... begitu.” Rusdi kembali melanjutkan makannya karena sudah tau apa yang sedang di pikirkan Mela. Putrinya itu memang selalu bercerita tentang orang-orang yang berhubungan dengan dirinya di kantor, dan Rusdi cukup hafal dengan karakter mereka melalui setiap cerita yang disampaikan Mela. “Bu Deswita kan memang sudah typenya seperti itu, sama semua orang ia bersikap ketus, ‘kan? Jadi jangan diambil hati. Bekerjalah dengan baik dan fokuslah pada apa yang sedang dikerjakan, memikirkan lawan kerja yang pemikirannya tidak sejalan dengan kita akan mempengaruhi pikiran kita. Lagian, ia hanya menemani, ‘kan?” Rusdi memberikan sedikit nasehat tentang kekhawatiran Mela yang akan menghadapi Deswita esok hari. Mela mengangguk mengiyakan, nasehat Rusdi seratus persen benar, Mela akui itu. Tapi yang membuat Mela khawatir sebenarnya itu bukan Deswita, melainkan pertemuannya dengan Reyno nanti. Mela masih teringat dengan cara Reyno memandanginya di saat mereka bertemu pertama kali, tatapan penuh kebencian yang diberikan Reyno kala Rayan mengatakan jika mereka sudah menikah. Pagi datang menyapa, Mela sudah siap dengan pakaian kerja. Ia menunggu Aqil yang menjemput di teras rumah. Pagi ini, karena akan bertemu dengan customer untuk perbaharui kontrak kerja, Mela memakai pakaian yang terbaik yang ia punya. Untuk pekerjaan seperti yang mereka punya, penampilan dan keramahan sangat di perlukan supaya customer mereka merasa nyaman dan tidak pindah ke instansi lain. Mela selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk pekerjaan nya. Semangat Mela untuk bekerja seketika layu karena komentar pedas yang diberikan Deswita. ‘Baru saja menjanda sudah tampil kegenitan lagi.’ Begitulah komentar yang diberikan atasannya itu ketika mereka berdua turun dari mobil yang di bawa Aqil. Jika mereka duduk berdekatan, mungkin ia tidak akan menunggu hingga mereka semua sampai di kantor untuk mengucapkannya. Ini adalah komentar yang paling pedas yang diterima Mela sejak ia mulai bekerja. Janda dan genit. Mela kemudian mematut penampilannya di cermin besar yang ada di pantry. Tidak ada yang salah dengan penampilannya. Kemeja yang ia pakai memang pas di tubuhnya namun masih dikategorikan sopan dan tertutup karena ia menggunakan blazer lagi untuk melapisi kemeja itu. Rok yang ia gunakan berada di bawah lutut dengan belahan hanya lima centi saja. Make up yang Mela pakai juga sangat sederhana, tidak tebal apalagi menor, begitu juga dengan lipstiknya. Penampilannya yang sederhana itulah membuat Rayan jatuh cinta kepada Mela. Mela kemudian keluar dari pantry dan kembali ke meja kerjanya. Ia harus mempersiapkan segala berkas yang akan ia print dan akan ia bawa nanti untuk bertemu dengan Reyno, pimpinan Rayan’s Studio yang baru. Jam sepuluh, Deswita dan Mela sudah berada di Coffee Shop, tempat yang sudah ditentukan untuk pertemuan mereka. Tidak biasanya mereka bertemu dengan customer di sebuah kafe, biasanya mereka akan langsung ke perusahaan tersebut atau pimpinan perusahaan yang datang ke Bank untuk penandatanganan kontrak kerja. Memang, ruang yang mereka tempati ini adalah sebuah ruang VIP sehingga tidak ada pengunjung lain yang akan menganggu mereka nanti. Sudah hampir setengah jam mereka menunggu, Deswita sudah berkali-kali menyuruh Mela untuk menghubungi Reyno. Permintaan Deswita sama sekali tidak Mela acuhkan, ia lebih memilih untuk menunggu daripada menghubungi pria itu. Pintu ruangan itu bergeser, seorang pelayang datang membawa makanan dan meletakkannya di meja. “Kami tidak memesan semua ini,” ucap Deswita. “Pak Reyno yang memesannya, saya hanya mengantar, Bu,” jawab pelayan itu sopan, lalu ia segera beranjak dari ruangan tersebut. “Kapan dia akan datang? Kami sudah lama menunggu,” omel Deswita pada diri sendiri. Wajahnya terlihat sudah tidak betah lagi menunggu. Beberapa menit kemudian, pintu ruangan itu kembali bergeser. Deswita dan Mela sama-sama melihat ke arah pintu. Deswita memperbaiki penampilannya, wajah yang tadi cemberut berubah menjadi cerah diikuti senyum yang lebar terukir di wajahnya. Entah apa yang membuat wanita itu tiba-tiba seperti itu, padahal tadi ia mengomel dan merutuki keterlambatan Rayan. Rayan mengambil tempat duduk persis di depan Deswita. Untuk beberapa saat pria itu menatap Mela tanpa kedip, lalu ia beralih mentap pada Deswita yang duduk di depannya. “Maaf, saya terlambat. Sebelumnya saya sudah meminta supaya kita bertemu di studio namun atasan kalian meminta untuk bertemu di tempat lain,” ucap Reyno.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN