1. Kenyataan Pahit
"PIM-PIM ...!!"
Suara klakson mobil memecah keheningan malam itu. Diikuti dengan seorang laki-laki yang tergopoh-gopoh membukakan pintu untuk tuannya. Pintu besi setinggi hampir tiga meter itu bergeser.
Namun, alih-alih langsung masuk, mobil itu masih bergeming.
Cup!
"Aku akan menjemputmu kembali besok pagi," ucap si pemuda di balik kemudi setelah mengecup singkat pipi sang kekasih.
"Hmm, oke. Udah malem. Kamu hati-hati, ya!" pesan gadis itu setelah memberikan balasan kecupan singkat. Pintu mobil itu pun terbuka. Diikuti sepasang kaki jenjang yang lantas turut keluar tak lama setelahnya.
"Bye!" Gadis itu melambaikan tangan setelah menutup kembali pintu mobilnya.
"Bye!" balas si pemuda singkat, kemudian menutup kaca hitam mobil itu dengan perlahan. Mengakhiri kebersamaan mereka sepanjang hari ini.
Perlahan, mobil itu pun bergerak. Menyusuri jalanan malam yang tampak lengang, meninggalkan komplek perumahan mewah itu.
"Selamat malam, Nona!" sapa penjaga gerbang kediamannya begitu mendapati Nona mudanya melintas di depan pos jaga. Membiarkan gadis berperawakan tinggi semampai itu memasuki halaman, sementara ia bergegas menutup kembali pintu gerbang.
"Selamat malam, Pak Ujang!" Davinna membalas ramah.
Ia melenggangkan kakinya menyusuri halaman. Melewati beberapa air mancur di tengah taman, juga patung-patung kecil yang menghiasi sepanjang halaman rumah berlantai dua itu. Hingga sampailah ia pada sepasang daun pintu berukuran cukup besar, dan kemudian membukanya.
"Ma ...! Pa ...! Aku pulang ...!" teriaknya sembari menjinjing sebuah tas di tangan kanan.
Namun, sepi. Tidak ada sahutan. Sepertinya kedua orang tuanya sedang beristirahat, mengingat hari yang sudah memasuki tengah malam. Gadis itu pun memutuskan untuk melanjutkan langkah. Menapaki anak tangga, melewati beberapa pintu kamar yang terdapat di lantai dua rumahnya. Hingga suara ribut-ribut mengalihkan perhatiannya. Davinna bergerak mendekat, samar-samar mendengar perdebatan kecil dari salah satu kamar yang pintunya sedikit terbuka.
"Sudah kubilang, jangan terlalu memanjakannya, Widia! Kamu selalu saja memberikan semua yang dia inginkan!" bentak seorang laki-laki dari dalam sana.
"Dia tidak pernah memintanya, Pa. Ini murni keinginan Mama sendiri. Sebentar lagi, Davinna 'kan ulang tahun. Nggak ada salahnya Mama memberinya sebuah kado kecil," kilah seorang perempuan kemudian.
Davinna membatu di tempat. Terjebak oleh rasa penasaran, ia memutuskan untuk menguping pembicaraan kedua orang tuanya.
"Kado kecil?! Kamu bilang, itu kado kecil?!?" pekik sang Ayah. "Berlian itu nilainya hampir sama dengan rumah ini, Ma!?!"
Kening gadis itu pun berkerut. Tidak biasanya papanya berbicara dengan nada tinggi seperti ini. Memangnya, apa yang tengah mereka berdua perdebatkan?
"Mama membelinya dengan uang Mama sendiri, Pa. Mama nggak pake sepeser pun uang perusahaan Papa!" elak perempuan paruh baya itu.
"Ha-ha-ha ...! Nggak pake uang Perusahaan, kamu bilang? Lalu dari mana, uang bulanan yang kamu dapatkan selama ini berasal, Ma?!"
"Loh, kok jadi bawa-bawa uang bulanan Mama, sih? Oh, jadi Papa mau hitung-hitungan sama Mama, gitu?"
"Sejak awal Papa nggak pernah setuju kamu mengadopsinya, Ma. Tapi kamu bersikeras mengambilnya dari Panti Asuhan itu!"
Tubuh Davinna seketika bergetar. Dadanya terasa amat sesak seolah tertimpa batu besar.
Adopsi?
Sejak kapan orang tuanya memiliki anak adopsi?
Atau jangan-jangan ....
Dirinyakah yang mereka maksud?
"Pa ... Mama cuma berusaha menghangatkan rumah ini dengan kehadiran seorang anak, Pa!" tukas Widia.
"Anak, kamu bilang? Anak yang bahkan nggak jelas asal-usulnya itu?! Selamanya, dia bukanlah darah dagingku. Ingat itu, Widia!"
Tak tahan lagi dengan serangan kebenaran itu, Davinna mendorong pintu hingga terbuka. Menghadap pada kedua orang tuanya dengan air mata yang sudah membayang.
"Jadi, sebenarnya Davinna cuma anak pungut, Ma, Pa?"
"D-davinna?!" pekik Widia. Perempuan itu gelagapan dengan kehadiran Davinna di ambang pintu kamarnya. Ia bergegas mendekatinya dengan panik. "Eeee ... Mama bisa jelaskan, Sayang. Ini nggak seperti yang kamu dengar. Mama sama Papa--"
"Davinna udah denger semuanya, Ma," lirih Davinna menahan tangis.
"Maaf kalau selama ini Davinna ngerepotin, padahal Davinna cuma anak adopsi." Ia memaksa bicara dengan suara bergetar dan air mata yang sudah jatuh. Gadis itu berlari ke kamarnya. Meninggalkan Widia dan Bramu Darmawangsa yang saling melempar pandang.
"Kamu sih, Pa! Gimana, ini?!" tuntut Widia pada Bramu yang hanya bisa berdiri mematung.
Widia berlari menyusul Davinna ke kamarnya. Mendapati gadis itu tengah mengepak beberapa pakaiannya ke dalam sebuah tas kecil.
"Sayang, kamu ngapain? Mau ke mana malam-malam begini?" tanya Widia tampak kebingungan.
"Davinna mau pergi!" tukas Davinna sembari menutup tas kecilnya kemudian mengikat rambutnya dengan asal.
"Enggak! Kamu nggak boleh ke mana-mana! Kamu nggak boleh ninggalin Mama!" sergah Widia mencoba mencegah Davinna agar tidak pergi.
"Davinna cuma mau nenangin pikiran, Ma. Davinna butuh waktu sendiri."
"Enggak! Pokoknya, Mama nggak ngizinin kamu pergi, Davinna!" tolak Widia tegas sembari menggeleng.
"Aku pergi dulu, Ma," pamit Davinna setelah mengecup pipi Widia dan meraih tas kecilnya.
Meskipun Widia menghalangi dan terus memanggil, putrinya itu tetap tidak berhenti hingga menghilang ke gerbang depan.
"Davinna!"
*
"Berhenti, Pak!" tukas Davinna pada seorang supir taksi yang mengantar kepergiannya malam itu.
Davinna mendongakkan kepala, menatap jendela kaca berwarna transparan yang terdapat pada sisi depan apartemen Andro. Sedikit merasa lega, karena mendapati lampu apartemen itu masih menyala. Menandakan bahwa Andro masih terjaga di dalam sana.
Davinna pun memutuskan untuk masuk. Melewati sebuah portal keamanan yang terdapat pada pintu masuk gedung, gadis itu pun lantas mendapati seorang security perempuan yang tampak tengah berjaga malam di sana.
"Mbak Davinna?!" sapa Ria dengan raut wajah terkejut melihat kedatangan Davinna.
"Hai, Ria!" balas Davinna. "Andronya ada di atas?" tanya Davinna kemudian.
"Ah, i-ituuu ... Mas Andronya lagi ... ehm--" jawab Ria terbata sembari menggaruk tengkuknya, merasa kikuk.
Kening Davinna berkerut. Memulas senyum simpul, gadis itu pun lantas mengibaskan tangan kanannya. "Ya, udah. Biar aku sendiri yang nyari dia!" pungkas Davinna, kemudian berlalu pergi.
Davinna pun menyusuri lobi dengan langkah panjang. Memasuki lift yang mengantarkannya pada lantai di mana apartemen Andro berada.
Ting!
Pintu lift pun terbuka. Davinna melangkahkan kakinya keluar. Menyusuri sebuah koridor yang menghubungkan ruangan itu dengan beberapa unit di ujung sana. Beberapa unit kelas menengah atas yang rata-rata dihuni oleh para pria dan wanita lajang. Berhenti tepat di depan apartemen Andro, Davinna pun lantas memasukkan kode sandi yang sudah ia hafal di luar kepala dan membuat pintu itu terbuka.
"An?" panggil Davinna.
Gadis itu lalu melangkah masuk menyusuri ruang tamu. Meletakkan tas kecilnya di atas sofa, keningnya pun lantas kembali berkerut ketika ia mengangkap sesuatu yang tidak biasa. Sepasang high heels yang tampak tercecer di atas lantai.
High heels siapa, ini?
"An, kamu di mana?" panggil Davinna lagi.
Merasa tak mendapati sahutan dari Andro, Davinna pun lantas memutuskan untuk mencari keberadaan pria itu di setiap sudut. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Menyusuri setiap ruangan, tetapi tetap tak menemukan keberadaan Andro di mana pun. Hingga sebuah suara berhasil menarik perhatiannya.
"Argh!"
Dahi Davinna mengernyit, mendengar sebuah suara ambigu yang berasal dari dalam kamar Andro.
"Ah! ah! ah!"
Kini yang tertangkap olehnya adalah suara seorang wanita. Terdengar saling sahut-menyahut dengan seorang pria yang sangat ia kenal. Davinna meneguk ludah. Mencoba menyingkirkan berbagai rasa yang sedang berkecamuk di dalam hatinya.
"An, kamu di sana?"
"Ah! Kau sangat nikmat, Sandra!" racau Andro samar dari dalam sana. "Jadilah milikku, Sandra. Kupastikan akan kupenuhi setiap kebutuhanmu, jika kau mau menjadi milikku!"
"Kau sudah memiliki kekasih, An. Ah! Ah! Aku tidak bisa!" sahut wanita itu dengan terbata.
"Persetàn dengan gadis itu! Aku akan meninggalkannya, jika kau mau menjadi milikku, Sandra!" balas Andro. "Oh, s**t! Kau sangat nikmat, sweety!"
BRAKKK!?!
"Apa yang sedang kalian lakukan?!"
Pintu itu terbuka lebar. Davinna berdiri di sana dengan tatapan penuh luka. Dilihatnya Andro dan selingkuhannya yang tampak tengah memadu kasih. Sedetik kemudian, pria itu lalu mengusap wajahnya kasar. "Sial!" umpatnya dalam hati.
"Davinna?" panggil Andro.
Dengan gerakan cepat, Andro pun melangkah turun dari ranjangnya. Meraih kasar celana yang terserak di lantai, lalu bergegas kembali mengenakannya. Sementara di atas ranjang tampak seorang wanita bu9il yang sedang berusaha menutupi tubuhnya dengan selimut. Tanpa menunggu waktu lama, Davinna pun beranjak pergi. Meninggalkan tempat itu, tanpa berniat untuk kembali satu kali pun!
"Tt-tunggu! Dengarkan aku, Davinna! Aku nggak bermaksud--"
"Cukup! Nggak ada lagi yang perlu kamu jelasin, An. Kita selesai!" pungkas Davinna, kemudian pergi dengan langkah lebar.
"Davinna, tunggu! Aku bisa jelasin semuanya ...!" teriak Andro frustasi yang tak lagi dihiraukan oleh gadis itu. "s**t!"
*