~ Flashback on ~
"Eh, denger-denger, akan ada CEO tampan yang mengisi acara penyuluhan nanti," ucap salah satu mahasiswi yang membawa berita terhot saat ini.
"Benarkah? Wah, nggak sabar pengen lihat!" Temannya pun tampak antusias. Begitu juga dengan beberapa teman yang lainnya.
Si pembawa berita mencari informasi tentang CEO tersebut di Mbah G**gle. Karena CEO itu adalah putra satu-satunya dari salah satu perusahaan ternama di kota tersebut. Sehingga mereka dengan mudah mencari tahu tentangnya.
"Usia dia 39 tahun. Dia duda rasa perjaka gaes, astaga," sambung si pembawa berita lagi.
"Walaupun usianya hampir kepala empat, tapi masih terlihat awet muda, ya. Makin tua makin mempesona."
"Hooh ... Usia hanyalah angka."
"Kira-kira siapa yang tega membuatnya duda? Duh, jadi pengen obatin lukanya, deh."
"Dih, lebay. Mana mau dia sama cewek-cewek bau kencur kayak kita. Body kita aja masih rata. Cowok sekelas dia itu pasti nyarinya yang sem*k, b*hay, kayak gitar Spanyol."
"Eh, dia duda ditinggal meninggal gaes."
Mereka pun tampak tercengang dengan pernyataan salah satu temannya.
Sementara, dua gadis yang duduk tak jauh dari mereka merasa risih dan tidak suka dengan apa yang mereka obrolkan.
"Ke perpustakaan, yuk. Pengen ngadem. Di sini ger*h. Berisik lagi." Dia adalah Grasella Malika Putri. Panggil saja Grasella. Tahun ini genap berusia 19 tahun dan baru beberapa bulan yang lalu menjadi mahasiswi di salah satu fakultas di kota itu.
"Hayuklah. Pengang kuping kita lama-lama di sini dengar ocehan nggak berbobot kayak gitu," ucap teman sebangkunya yang bernama Ghea Anastasya. Panggil saja Ghea.
Mereka berdua pun disoraki oleh beberapa teman yang sejak tadi ricuh. Keduanya tertawa sambil berjalan ke perpustakaan.
Ketika mereka berdua memasuki perpustakaan, penyuluhan yang diadakan di aula sekolah itu pun dimulai. Semua mahasiswi dan mahasiswa pergi ke aula. Terutama para mahasiswi yang tampak ingin tebar pesona pada CEO tampan, mapan dan jutawan itu.
Penyuluhan berlangsung lancar. Para mahasiswa banyak yang antusias tentang penyuluhan yang diberikan CEO tampan itu. Isi penyuluhan itu adalah tentang bagaimana sukses di usia muda. Juga, bagaimana mengembangkan serta bertahan ketika banyak pesaing-pesaing berdatangan.
CEO itu adalah Gavin Delano Marteen. Sebut saja Gavin. Dia adalah pewaris tunggal dari perusahaan ternama di kota besar tersebut. Karirnya cemerlang dan juga banyak menuai prestasi. Namun sayang, kisah pribadinya tidak semulus jalan tol.
Saat ini usianya 39 tahun. Hampir mendekati angka ke 40. Namun dia masih hidup sendiri. Dia pernah menikah. Namun sayang, di hari pernikahannya itu harus ditinggalkan sang istri untuk selamanya. Jadi, banyak yang bilang dia adalah duda rasa perjaka.
"Ok ... Sampai di sini, apa ada yang ingin kalian tanyakan?" tanya Gavin dengan kerennya. Saat ini dia mengenakan jas berwarna coklat dengan dipadukan inner hitam yang menutupi leher. Sehingga dia tampak keren di mata kaum hawa.
"Saya, Kak, eh Pak. Duh, Mas ... Hihi, bingung mau panggil apa."
Salah satu mahasiswi mengangkat tangannya sambil bingung harus memanggil Gavin dengan apa. Tentu saja hal itu mengundang tawa semua orang yang ada di aula tersebut. Termasuk Gavin yang merasa lucu dan tersenyum sampai memperlihatkan lesung pipinya.
"Terserah, mau panggil saya apa saja!" ucap Gavin dengan bijak.
"Ya udah, panggil "Mas" aja ya." Mahasiswi itu tampak senang dan salah tingkah.
"Astaga." Gavin tak kuasa menahan tawanya. "Baiklah, apa yang akan kamu tanyakan?"
"Ehem ... Pertanyaannya adalah, kapan Mas Gavin temb*k aku?"
Huuu ... Huuu ... Huuu ...
Semua orang riuh dengan pertanyaan yang dilayangkan mahasiswi itu dengan malu-malu. Gavin pun hanya bisa tertawa dan geleng-geleng kepala.
"Pertanyaan yang sulit. Lagi pula, saya nggak bawa pist*l buat nemb*k kamu," jawab Gavin sambil menahan tawa. Semua orang pun bersorak dengan jawaban Gavin yang mengundang tawa.
Lalu, tiba-tiba, ada Dosen wanita yang mengangkat tangannya. "Apa saya boleh mengajukan pertanyaan juga?"
Gavin melihat ke arahnya. "Tentu saja boleh!"
Dosen wanita itu tampak antusias. " Pertanyaannya adalah, kapan Mas Gavin mau lamar saya?"
Huuu ... Huuu ... Huuu ...
Sekali lagi semua orang yang ada aula riuh. Kali ini, Dosen wanita di sekolah itu dengan berani melayangkan pertanyaan seperti itu. Dosen wanita itu memang terkenal masih single. Dia lumayan cantik dan dewas*. Jangan lupakan riasan wajahnya yang menor.
Gavin semakin tertawa dibuatnya. Dia pun menggeleng. "Maaf, pertanyaan anda juga sangat sulit untuk saya jawab. Lagi pula, saya lupa tidak membawa surat lamarannya."
Sekali lagi, jawaban Gavin mengundang tawa. Guru wanita itu salah tingkah. Sementara Gavin, tampak mencari seseorang yang dia kenal, tapi belum dia lihat.
'Apa mungkin membolos?' batin Gavin.
~
~
~
Sementara, Grasella dan Ghea malah berdua di perpustakaan. Di saat semua orang pergi ke aula. Mereka malah tidak perduli.
"Gras, emangnya kamu nggak tertarik sama CEO tampan itu?" tanya Ghea.
"Ngapain? Nggak jelas. Lagi pula, CEO itu sudah om-om. Kata anak-anak yang tadi dia duda. Aku nggak mungkin tertarik." Grasella tetap tidak perduli. Selama ini dia selalu mengutamakan pelajaran.
"Kamu sendiri, kenapa nggak lihat penyuluhannya?" tanya Grasella balik.
"Mending di sini, deh. Temenin kamu. Heee!" jawab Ghea. Dia pun mengeluarkan ponselnya. Lalu mengetikkan sesuatu. Setelah itu dia tunjukkan ke Grasella.
"Lihat, deh! CEO itu nggak om-om banget, kok. Dia masih terlihat tampan dan mempesona. Walaupun usianya mau kepala empat."
Grasella melihat layar ponsel Ghea yang menampilkan profil CEO yang bernama Gavin itu. Dia tidak memungkiri bahwa CEO itu tampak mempesona. Namun dia tetap tidak perduli.
"Ya, dia memang tampan, mapan dan jutawan. Tapi dia bukan levelku. Atau, aku yang bukan levelnya. Ya ampun, nggak guna banget bahas dia."
"Kamu nggak tertarik sama dia? Padahal, kan lumayan kalau kamu bisa dapetin hatinya. Dia bisa royal sama kamu. Siapa tahu bisa bantuin Mama kamu berobat."
Grasella menggeleng. "Astaga ... Kamu kira aku sugar baby!"
"Kali aja kamu punya pikiran ke sana. Siapa tahu kamu hoki sama dia."
"Ada-ada saja, deh." Garsella mendengkus lucu dengan ucapan Ghea.
Ghea tersenyum penuh misteri. "Kamu mau tantangan dari aku, nggak?"
"Apa tuh?" tanya Grasella cuek dan tetap fokus membaca buku.
"Gini ... Aku akan jual motorku, jika kamu berhasil menaklukkan hati Om CEO itu!"
Grasella menghentikan baca bukunya. "Maksudnya?"
"Aku akan jual motorku buat biaya pengobatan Mama kamu, kalau kamu berhasil naklukin hatinya!" ulang Ghea.
Grasella mengerutkan keningnya. Perasaannya tidak enak dan merasa tidak masuk akal.
"Jangan konyol!"
"Ayolah ... Hanya luluhin dia doang. Setelah itu, terserah kamu mau gimana dan motorku benar-benar akan ku jual saat itu juga!"
Grasella tampak berpikir. "Ck ... Aku nggak mau!" tolak Grasella.
Ghea tampak mendengkus sebal dengan penolakannya. Dia sudah beberapa kali menawarkan pertolongan dan juga pinjaman uang, tapi selalu ditolak.
"Kamu kenapa sih, selalu nolak pertolonganku?"
Grasella menghela nafasnya. "Aku hanya nggak mau ngerepotin orang apa lagi sampai balas budi. Aku hanya ingin berjuang dengan keringatku sendiri."
"Tapi, tantanganku kali ini 'kan kamu berjuang naklukin hati Om CEO itu."
"Nggak!" tegas Grasella.
Tiba-tiba, suara ponsel miliknya berdering. Dia langsung mengangkatnya karena dari nomor penting.
"Hallo."
"Ibu kamu baru saja histeris. Tapi, Dokter sudah bisa menanganinya. Maaf, mengganggu kuliah kamu, karena saya khawatir jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan."
Suara si penelepon di seberang sana membuat Grasella sedih. Sudah 10 tahun sang Mama di Rumah Sakit Jiwa. Semenjak kematian sang Papa, sang Mama stres dan gil*. Tepatnya, ketika dia SD. Dia pun menitipkan sang Mama di Rumah Sakit Jiwa karena dia harus sekolah, sedangkan di rumah tidak ada yang mengurus dan menjaganya.
Untung saja, si pemilik Rumah Sakit Jiwa itu masih teman sang Mama. Tapi Grasella tidak mau cuma-cuma. Sehingga, dia menjual rumahnya untuk biaya pengobatan sang Mama dan juga biaya untuk sekolah. Tapi sampai sekarang masih belum ada perubahan. Dokter menyarankan, agar sang Mama dibawa ke luar negeri untuk pengobatan yang canggih. Tapi Grasella tidak punya uang. Mobil dan Rumah yang dia punya sudah dia jual.
Grasella sebenarnya orang kaya. Ayahnya pekerja kantoran dan ibunya seorang Dokter. Tapi, gara-gara kecelakaan 10 tahun yang lalu itu membuat sang ayah meninggal dan ibunya gangguan jiwa, hingga kini dia jatuh miskin.
"Baiklah. Nanti sepulang sekolah, saya ke sana!" Hal itu sudah biasa baginya.
Telepon pun terputus. Raut wajah Grasella berubah muram. Dia sudah tidak tega melihat sang Mama dalam keadaan seperti itu.
"Pasti dari Rumah Sakit, ya?" tebak Ghea.
Grasella mengangguk. Tiba-tiba, Grasella teringat dengan tantangan yang ditawarkan Ghea.
"Aku akan terima tantangan itu ... Demi Mama!" ucapnya tanpa pikir panjang. Hal itu sukses membuat Ghea tercengang. Namun juga senang.
°°°TBC