1. Dasar Konyol
"I love you, Om CEO!" ucap Grasella tanpa malu, pada pria tampan yang sedang duduk bertumpang kaki sambil membaca buku di kursi taman.
Seketika, pria itu mendongak padanya. Dia pun melihat ke sisi kiri dan sisi kanan, karena mungkin apa yang diucapkan gadis itu bukan untuk dirinya.
"Kamu bicara pada siapa?" tanya pria yang bernama Gavin.
"Pada, Om, donk. Di sini nggak ada siapa-siapa lagi, kan?"
"Dasar konyoll." Gavin lantas bangkit dan pergi meninggalkan gadis itu. Dia juga sebal karena dipanggil Om.
Grasella bukan gadis pertama yang mengucapkan cinta padanya. Hingga membuat Gavin tak perduli.
Grasella mendengkus sebal dengan Gavin yang meninggalkannya sendiri. Tidak mau menyerah, dia pun mengucapkannya lagi untuk kedua kalinya.
"I love you, Om CEO!" teriak Grasella, namun masih dengan volume standar.
Hal itu sukses membuat Gavin menghentikan langkahnya. Dengan wajah sebal, Gavin mau tidak mau menoleh ke arah Grasella. Untung saja di taman itu tidak banyak pengunjung.
Grasella tersenyum senang karena ucapannya, seperti mendapat respon. Namun ternyata Gavin malah tidak perduli dan meninggalkannya lagi. Dia pun semakin tertantang.
"I LOVE YOU, OM CEO."
Kini, teriakan Grasella dengan volume tinggi. Ini ucapan yang ke tiga kalinya. Gavin pun dengan jengah berhenti lagi melangkah dan menatap tajam padanya. Lalu dia melangkah dengan coolnya ke arah di mana Grasella berdiri.
"Apa maumu?" tanya Gavin sambil bersedekap dadaa.
"Mandapatkan hati Om!" jawab Grasella tanpa malu.
"Apaaaaa?" ucap Gavin dengan alis berkerut.
Gavin memang sering mendapat ungkapan cinta dari beberapa wanita. Mungkin karena dirinya pria mapan, tampan dan jutawan. Sehingga, walaupun usianya sudah hampir menginjak kepala 4, masih banyak wanita yang memujanya. Namun tidak ada yang menarik perhatiannya.
Semenjak istrinya meninggal, dia tidak berniat membuka hatinya lagi pada wanita manapun.
Bisa dia lihat, gadis di depannya ini sepertinya mahasiswi. Terlihat dari jas universitas yang digunakan gadis itu.
Penampilan gadis ini jauh dari kata fashion. Apa lagi feminim. Wajahnya yang polos tanpa make up. Rambutnya sebahu yang menggambarkan bahwa dirinya tampak masih kekanak-kanakan. Tingginya pun hanya sedada.
Gavin benar-benar memperhatikannya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Gadis ini sangat berbeda dengan keponakannya. Walaupun sepertinya sama-sama kuliah tapi keponakannya pintar make up dan juga suka dengan fashion.
Grasella seperti sedang diintimidasi. Namun dia sangat yakin bahwa pria dewasa di depannya tertarik padanya. "Jadi, Om mau pertimbangkan perasaanku?"
Alis Gavin semakin berkerut. 'Pede sekali anak ini,' ucapnya dalam hati.
"Apa maksudmu?" tanya Gavin heran.
"Aku sudah mengungkapkan perasaanku tiga kali. Nah, yang ketigakalinya Om menghampiriku. Itu tandanya, Om mau pertimbangkan perasaanku. Atau bisa jadi, Om menerima perasaanku," celetuk Grasella penuh percaya diri dengan polosnya.
Gavin mendengkus lucu. "Kamu belum pernah pacaran, ya?" tanya Gavin sambil memainkan dagunya dengan sebelah tangan melipat di dadaa.
Grasella menggeleng.
"Belum pernah jatuh cinta juga?"
Grasella menggeleng lagi.
"Apa jangan-jangan kamu belum pernah ditembak seorang pria?"
Lagi-lagi Grasella menggeleng.
"Astaga ... Gue mimpi apa semalam," lirih Gavin tampak frustasi menghadapi gadis di depannya yang belum pernah pacaran apa lagi jatuh cinta.
"Itu tandanya, hatiku masih perawann. Belum ada yang nyentuh. Jadi, siapa tahu, Om langsung menerima cintaku. Bukankah, Om sudah setua ini masih jomblo? Mungkin Om memang sedang mencari hati yang perawann. Contohnya aku!"
Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ...
Seketika Gavin tersedak. Jujur, dia merasa lucu. Namun terkejut juga dengan kepolosan gadis di depannya ini.
Grasella mengambil botol minuman kemasan di dalam tasnya. Lalu membukakan tutupnya, setelah itu dia berikan pada Gavin. "Om, mau minum?"
Gavin melirik botol minum yang diberikan Garsella. Dia memang sedang butuh minum karena tenggorokannya terasa kering menghadapinya. Lagi pula, sepertinya botolnya masih baru. Bisa dia dengar cara Grasella membuka tutupnya yang masih tersegel. Tanpa pikir panjang, dia menerima minuman itu dan meneguknya langsung.
Grasella tampak senang karena minumannya diminum. Dia tampak terpesona dengan cara minum Gavin yang memperlihatkan jakunnya naik turun. Hal itu membuatnya menelan ludahnya sendiri.
"Terimakasih atas minumannya. Tapi maaf, perasaanmu, aku tolak," ujar Gavin sambil memberikan botol minuman yang sudah kosong itu pada Grasella. Dia pun melangkah pergi.
Grasella menerima botol kosong itu dengan hampa. Dia kecewa karena pernyataan cintanya ditolak.
Sementara, Gavin mulai merasakan sesuatu. Dia pun menghentikan langkahnya, dadaanya terasa sesak. Nafasnya pun terasa sempit. Tiba-tiba tubuhnya ambruk ke tanah.
Grasella sangat terkejut melihatnya. "Astaga!" Dia langsung berlari menolongnya. "Om, kenapa, Om?"
"Na-fas-ku," ucap Gavin dengan tersenggal.
"Hah, ya ampun." Grasella pun sangat terkejut dengan keadaan Gavin yang wajahnya berubah pucat. Dia langsung meminta tolong pada siapa saja.
Di taman itu tidak banyak pengunjung. Sehingga hanya beberapa orang yang menghampirinya. Lalu ada yang berinisiatif menghubungi ambulance.
Gavin benar-benar, tidak kuat lagi. Sementara Grasella sangat ketakutan dengan keadaan Gavin.
"Om, kuatlah! Sebentar lagi pertolongan datang!" ucap Grasella menangis sambil memangku kepala Gavin di pahanya. Dia benar-benar takut jika ada hal yang serius padanya.
"Sebelum ambulance datang, sebaiknya kasih dulu nafas buatan!" usul seseorang yang ikut berkerumun di sana. Semua pun setuju.
"Hah." Grasella terkesiap mendengar ucapan pertolongan pertama untuk Gavin.
"Buruan, Dek!" ucap salah satu dari mereka.
Gavin benar-benar sudah pucat. Grasella akhirnya dengan berani memberikan nafas buatan padanya. Gavin yang awalnya sudah menutup matanya, dengan pelan membuka mata kembali. Sepasang bibir yang menyentuh bibirnya seakan memberikan kesadaran. Dia juga melihat, gadis yang memangkunya itu wajahnya tampak basah oleh air mata.
Tidak berapa lama, pertolongan pun datang. Gavin langsung dibawa ke Rumah Sakit. Perasaan Grasella sangat tidak tenang. Dia takut terjadi hal serius pada Gavin. Walaupun, dia tidak mengenalnya, tapi dia punya rasa simpati. Apa lagi kejadian itu tepat di depan matanya.
Saat ini, Grasella sedang menunggu di depan pintu UGD. Mau menghubungi keluarga Gavin pun dia tidak tahu karena dia bukan siapa-siapa. Suster pun akhirnya memberikan ponsel Gavin untuk dia mencari nomor terakhir yang dihubungi Gavin atau yang menghubungi Gavin. Namun, ponsel itu memakai pola, sehingga sulit baginya untuk membuka ponsel tersebut.
Grasella bingung harus bagaimana. Sudah dua kali dia memasukkan pola pada ponselnya tapi masih belum berhasil. Sedangkan jika sudah tiga kali memasukkan pola, jika tidak berhasil, maka akan terblokir. Namun dengan asal dia memasukkan pola memakai tanggal lahirnya. Dan akhirnya, ponsel Gavin berhasil dia buka.
Walaupun Grasella terkejut dengan pola yang dia masukkan, tapi dia enyahkan dahulu dan dengan cepat mencari nomor untuk bisa dihubungi. Dia pun berhasil menghubungi nomor seseorang yang terakhir menghubungi Gavin dan memberitahu keadaannya.
Tak berapa lama, Dokter yang menangani Gavin akhirnya ke luar dan memberitahu keadaannya. "Dia sepertinya alergi pada salah satu makanan. Boleh saya tahu, makanan apa yang dia konsumsi sebelum kejadian?"
"Hmmm, dia tidak makan apa pun. Hanya minum minuman kedelai ini saja," jawab Grasella sambil menunjukkan botol kosong pada Dokter.
"Sepertinya, pasien alergi pada kedelai. Hal itu membuatnya kesulitan bernafas. Jika saja dia telat ditangani, mungkin nyawanya tidak akan tertolong," ucap sang Dokter.
"Apa?" Grasella merasa bersalah telah memberikannya.
Tiba-tiba, seorang ibu-ibu menghampirinya. "Bagiamana dengan keadaan anak saya, Dok?"
"Anda ... Ibunya?" tanya sang Dokter.
"Iya, saya ibunya," jawab ibu-ibu itu.
Grasella terkejut dengan kedatangan ibunya Gavin. Dia tidak mau jadi pecundang. Dengan berani dia mengakui kesalahannya sambil bersimpuh...
"Maafkan kesalahan saya, Bu. Saya tidak tahu kalau Om Gavin punya alergi terhadap kedelai!"
"Apa? ... Berarti, kamu harus tanggung jawab!"
°°°TBC