Dela, istrinya tak hanya cantik tapi juga jago masak, istri idaman banget. Ilham mesti banyak bersyukur memiliki istri secantik dan sepintar Dela. Dan meski dia bertingkah aneh sekarang, tapi pasti dia akan keluar saat akan jam makan siang nanti, Ilham yakin itu.
Benar saja yang Ilham pikirkan, istrinya keluar dan langsung ke dapur tak lama setelah terdengar azan dari penjuru masjid.
Wajahnya tampak basah, pasti bekas air wudu'. Ilham lantas menyusul ke dapur, dia masih khawatir dengan bekas merah yang sempat dia lihat cukup panjang melingkar di bagian depan leher istrinya.
"Kamu mau ngapain, Mas? Ke kamar aja sana, udah azan Dzuhur. Kamu sebaiknya sholat," ucap Dela.
Perempuan itu bisa mendengar langkah kaki Ilham di belakangnya. Sungguh dadanya bergemuruh menjadi tak menentu.
Gelisah takut dan khawatir berpadu, memporak porandakan ketenangan pikiran dan hatinya yang telah dia latih sejak di kamar tadi.
Langkah kaki Ilham terhenti, "akutuh cuma pengen liat yang merah di leher kamu, Sayang."
Ada apa sama Dela? Ilham sungguh dibuat kebingungan dengan sikapnya. Dia terlihat seperti sedang merajuk, tapi kenapa? Atas alasan apa Dela-nya bersikap seperti itu?
"Udah ga papa, kok. Nanti pas makan pasti bakal keliatan." Dela menjawab masih memunggungi Ilham yang berdiri tak jauh di belakangnya.
Ah iya. Rambut Dela dicepol ke atas. Sudah pasti leher jenjangnya nanti akan terekspos dengan nyata.
Daripada berdebat, lebih baik Ilham mengalah dan pergi ke kamarnya. Dia harus sholat dan lalu turun untuk membantu istrinya memasak.
Dela menghela napas, setelah dirasa suaminya melangkah menjauh lalu hilang. Pasti ke kamarnya.
Dela mengambil peralatan masaknya, dia sulap sawi putih, wortel, sosis dan bakso yang ada di kulkas menjadi capcay kuah. Melihat ayam yang ada di freezer, Dela jadi teringat dengan ayam goreng telur buatan Ambu. Dela pun memasak menu itu untuk mengusir kegalauan hatinya.
Jujur saja, jika mengingat hal yang semalam, Dela rasanya tak mau lagi memasakkan apapun untuk Ilham. Tapi karena kewajiban dan tanggungjawab, perempuan itu berusaha berbesar hati memasak dan menyiapkan makanan untuk Ilham. Itu adalah bentuk pelayanan dari Dela sebagai seorang istri untuk suaminya.
Saat sedang mengungkep ayamnya, Ilham datang. Wajahnya sedikit lebih cerah dengan bulir air yang masih tersisa di wajahnya.
"Aku udah mau selesai. Mas Ilham tunggu aja di meja makan," seru Dela membuka penutup ungkepan ayamnya untuk mengecek apakah ayamnya sudah siap digoreng atau belum.
"Aku ada bikin salah ya, Del?" tanya Ilham akhirnya. Sungguh sikap istrinya sejak tadi pagi rasanya terus menjauh dan menghindar.
Entah itu benar atau cuma perasaannya saja. Sebab itu Ilham menanyakannya untuk memastikan.
"Aku mumet aja. Besok sekolah udah mau diaktifkan. Aku agak takut."
Huft ... Jadi ternyata itu masalahnya!
Ilham bisa bernapas lega, artinya Dela tidak sedang merajuk dan nanti malam masih akan ada kemungkinan untuk memunculkan pertempuran kedua.
"Oh itu ... Kenapa nggak dilaporin aja itu Si Pak Rido?" tanya Ilham ragu-ragu. Kalau benar Dela mencintai kepala sekolah itu dan apa yang Ilham pikirkan tentang Dela benar, pasti istrinya ini akan marah mendengar Ilham berkata begitu.
"Ga bisa, Mas. Apa jadinya sekolah tanpa dia?! Dia yang punya andil besar dan selalu bisa mengatasi masalah siswa."
"Maksudnya guru yang lain gak bisa mengatasi?"
Shit, Ilham terpancing oleh jebakannya sendiri. Hatinya tak suka mendengar Dela seolah memuji kepala sekolah itu.
"Nggak gitu, Mas. Ah, udah lah. Kamu ga bakal paham sama masalah remeh temeh siswa. Kadang ada yang sampe bawa-bawa orang tuanya." Dela mulai meletakkan penggorengan di atas kompor.
"Dan yang bisa atasi adalah Pak Rido? Lalu guru lain kemana? Ga bisa ngatasi mereka?"
Dela mendesah, lebih baik dia tak perlu memperpanjang masalah kemaren. Toh, Dela sudah memberi pelajaran pada kepala sekolah m***m itu. Dela yakin, dia sudah tak berani macam-macam padanya.
Sekarang pun begitu, lebih baik dia diam daripada membuat keruh suasana yang bagi Dela sendiri terbilang mulai terdapat jurang dalam yang memisahkannya dari suaminya.
Dela sudah tak terlalu banyak berharap pada pernikahannya. Hatinya seolah menjadi batu setelah semalam Ilham merengkuhnya dengan paksa. Terlebih setelah membaca chat suaminya, dia meminta video m***m di grub itu.
Dela jadi hilang kepercayaan pada suaminya. Ilham sama saja seperti laki-laki pada umumnya, otaknya cuma berisi s**********n.
"Ya udah, fine. Terserah kamu, aku cuma khawatir takut b******n itu mau berbuat aneh-aneh lagi sama kamu," ucap Ilham akhirnya.
Dela sendiri tak menanggapi, dia terlihat fokus dengan ayam yang dia goreng.
Setelah semuanya siap, Dela mengangkatnya dan membawanya ke meja makan. Ilham membantu menyiapkan piring, mengambilnya di rak lalu membawanya ke tempat yang sama, meja makan.
Ilham mencicipi makanan yang dimasak dengan tangan istrinya. Sungguh, rasanya memang selalu nikmat. Jujur Ilham akui, apapun yang dibuat dengan tangan istrinya selalu berhasil memanjakan lidah Ilham.
Tak hanya sebatas sampai di lidah, tapi sampai ke hatinya juga. Ilham jadi makin cinta dan mungkin dia salah sudah berpikir istrinya menyukai orang lain.
Yang semalam terjadi, pun reaksi Dela yang barusan tidak menunjukkan kemarahan, membuat Ilham yakin bahwa memang hanya Ilham lah satu-satunya orang yang ada di hati istrinya.
Ilham menatap wajah istrinya, dia terlihat makin cantik saja menurut Ilham, apalagi dengan rambut dicepol seperti itu, semakin menambah kecantikannya.
Leher jenjangnya yang terekspos membuat Ilham menelan ludah.
Ternyata emang udah ga terlalu merah.
Saat selesai makan, Ilham membantu istrinya, membereskan meja makan. Tak hanya itu, dia juga akan membantu Dela mencuci piring.
"Ga usah, Mas. Biar aku aja." Dela melarangnya.
"Kamu kan udah masak, pasti capek. Biar aku aja yang cuci piring," ucap Ilham.
Efek memandangi leher istrinya terlalu lama, timbul keinginan untuk mengulang kembali yang semalam. Ilham tak mau Dela kecapean, sebab itulah dia berinisiatif untuk mencuci piring, padahal seumur-umur dia menjadi manusia, tangannya belum pernah bersentuhan dengan busa pencuci piring dan kawan-kawannya.
"Ya udah." Dela langsung pergi. Baguslah Mas Ilham-nya mau menggantikan tugasnya. Dela jadi bisa kembali memindahkan barang-barang miliknya ke kamar sebelah.
Tak semuanya sih, hanya beberapa yang diperlukan untuk kebutuhannya sehari-hari.
Ilham tersenyum, melihat punggung istrinya yang berjalan lalu masuk ke dalam kamar.
Tak sabar rasanya untuk menyelesaikan cucian piring ini, lalu segera menyusul ke sana.
Pertempuran babak kedua, lanjutan dari yang semalam, akan Ilham lanjutkan hari ini. Dela pasti tak akan menolaknya, kan sudah bukan yang pertama lagi. Dia tentu tak akan ketakutan seperti semalam.
Ilham mempercepat kerjanya agar bisa cepat selesai dan dia bisa cepat ke kamar, melanjutkan misi yang baru dipikirkan saja sudah membuat senjatanya menegang.
Mungkin ini yang dimaksud Didi, ketagihan.