Drama pagi-pagi

1144 Kata
Dela membaca chat grub suaminya, reflek dia tersenyum membaca nama grub yang tertera di paling atas pesan. “Perkasa gundulnya.” Dela mencibir. “Eh kok tahu kalo yang kita maksud adalah si gundul.” Ilham menjawab, sungguh tak menyangka istrinya bisa sepintar ini. Haih ... padahal bukan itu yang dimaksud Dela. Perempuan itu baru tahu bahwa ternyata ada sisi di mana suaminya bisa bertingkah seperti mereka, Dela lantas meneruskan membaca chating suaminya di sana. “Aku gak suka sama chat kamu dan temen-temen kamu, dan lagi ... hapus video yang kamu dapet dari David," ucap Dela mengembalikan ponsel suaminya. Raut wajahnya sulit diartikan. Haih ... siapa yang menyuruhnya berkomentar tentang isi chatnya? “Tapi kamu udah liat, kan? Udah baca juga, kan?” Ilham dengan bodohnya masih mempertanyakan dua hal itu pada Dela. Kalau Dela sudah berkomentar bukankah artinya dia sudah membaca isinya? Dela mengedikkan bahu, sejujurnya ... dia marah bukan hanya karena perkara tisu magic, Dela marah karena semalam Ilham melakukan itu dengan memaksa, seolah tak memedulikan tangis Dela. Bahkan Ilham juga dengan pulas nya tidur tanpa memikirkan di mana istrinya setelah dia melakukannya. Sikap Ilham membuat Dela berpikir bahwa Ilham pun sama seperti laki-laki di luar sana. "Jangan minta-minta video yang cuma merusak akal pikiran." Dela berucap lagi. Sungguh kenyataan yang baru dia ketahui tentang suaminya begitu menyesakkan, tapi bagaimanapun sikap dan sifatnya, menyesalinya sekarang adalah suatu yang sia-sia. Ilham tetaplah suaminya, yang harus Dela layani dan dia siapkan kebutuhannya. Sebab itulah, Dela tetap bangun pagi meski sejatinya dia sangat malas untuk itu. Sekarang menu sarapan mereka adalah nasi goreng putih dengan toping telur dan daun bawang di atasnya. Bahan-bahan di kulkas masih penuh, tapi karena mood Dela sedang buruk, jadinya hanya menu itu saja yang dia siapkan. Sudah dari sejak subuh, dia berperang di dapur, tapi sekali lagi moodnya yang kacau membuat dia kebanyakan bengong daripada bekerja. Sekarang, Dela tengah duduk dengan menopang dagu memandang ke luar jendela rumahnya. Gedung tinggi menjulang dengan sedikit aktivitas di luar. Huft ... corona tengah merajai negeri, hingga semua orang harus berdiam di rumah. Tak terkecuali dirinya yang kini merasa hidupnya bak mendekam dalam penjara. Sungguh, Dela sudah tak sabar untuk kembali beraktivitas dan tak melulu ada dalam rumah. Dela rindu mengajar dan bertatap muka dengan murid-muridnya. Dia juga rindu riuh murid-muridnya saat sudah terdengar bel tapi Dela belum juga menyelesaikan proses belajar mengajarnya. “Del ....” Suara Ilham sukses membuat perempuan itu sedikit terkejut. Lamunannya buyar seketika berganti bayang-bayang seperti yang terjadi semalam. Tidak! Dela tidak mau! Perempuan itu bangkit lalu bergerak menempel ke jendela. Kursi yang ada di dekatnya dia pegang kuat-kuat. Hatinya terus bicara mengingatkan bahwasanya Ilham adalah suaminya, suami yang telah Dela pilih dengan sukarela, dengan cinta bahkan ketulusan. “Ayo makan, itu kamu yang masak, kan?” Ilham berkata dengan mengangkat tangannya ke atas bahu, menunjuk dengan ibu jarinya ke belakang, ke arah meja makan tepatnya. “Iyalah, siapa lagi?!” Dela menjawab seraya melangkah buru-buru keluar. Saking cepatnya, kakinya sampai tersandung dan nyaris jatuh, beruntung Ilham menangkapnya, memegangi kerah belakang bajunya. Jantung Dela serasa mau jatuh, melompat keluar dari tempatnya saking terkejutnya. Kejadiannya begitu cepat hingga Dela tak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Syukurlah, suaminya sangat sigap dan tanggap menangkapnya dengan tepat. Ya, meski karena ulah suaminya, sekarang leher Dela menjadi sedikit nyeri. Ada bekas kemerahan karena Ilham menariknya cukup kuat tadi. “Sayang, ga papa, kan?” tanya Ilham sebab sejak tadi dia melihat istrinya terus terusan mengusap lehernya. Ya, sepanjang mereka sarapan, Dela tak henti mengusap lehernya, terutama di bagian depan yang serasa perih. Melihat tingkah istrinya, Ilham lantas bangkit untuk mengecek. “Eng, enggak usah, Mas. Aku ga papa, kok.” Dela langsung menolak bahkan sebelum Ilham beranjak ke tempatnya. “Kamu abisin dulu makannya,” ucap Dela lagi. “Makanan aku udah abis dari tadi, Sayang.” Ilham memperlihatkan piringnya yang kosong tanpa sisa. Bahkan kalau masih ada sepiring lagi, masih sanggup untuk Ilham habiskan karena masakan Dela begitu memanjakan indra perasa nya. Lelaki itu lantas berjalan ke arah kursi istrinya yang letaknya berhadapan dengan kursinya. “Astaga, Del. Ini kok ampe merah gini, sih?” Ilham menyibakkan rambut istrinya. Melihat kulit leher istrinya yang kemerahan. Dasar kulit bule, baru kegencet kerah baju dikit aja udah langsung merah-merah. Gua yang orang kota, kenapa yang putih bening malah orang desa! Ilham geleng-geleng kepala. Kulit istrinya begitu bening dan mulus, kalau saja Dela adalah kaca, maka sudah tentu dia adalah kaca paling kinclong yang Ilham lihat. Dan beruntungnya, Ilham lah yang memilikinya. “Nggak usah ah, Mas. Dikompres pakek es ntar juga ilang,” tolak Dela. “Ya udah, biar Mas yang kompres.” Ilham berbalik menuju kulkas yang ada tak jauh di belakangnya. Huft ... Dela sih mau saja dibantu oleh suaminya, bahkan dia sangat berterimakasih untuk itu, tapi mengingat kejadian semalam ... Dela justru takut kalau suaminya mencari kesempatan mencumbunya nanti. Hii ... membayangkannya saja membuat Dela dirundung ketakutan, dia buru-buru bangkit dan masuk ke kamarnya. Tak berhenti sampai di situ, Dela juga mengunci diri dalam kamarnya lalu kemudian duduk menghadap cermin. Dilihatnya bekas kemerahan yang melingkar di lehernya, tak luka sih, hanya kemerahan pun rasanya nyeri dan panas. “Del, kok dikunci, sih?” Handle pintu bergerak-gerak menandakan Ilham tengah mencoba membukanya. “Aku mau kompres sendiri, Mas. Kamu tunggu aja di luar,” seru Dela dengan sedikit berteriak. Haih ... aneh banget istrinya. Mau ngompres sendiri kan ga harus ngunci pintu. “Iya udah, kompres sendiri, tapi kamu kan ga bawa es batu ke dalam, Sayang.” Ilham memang perlu ekstra kesabaran menghadapi tingkah istrinya. Ambu Indun sendiri yang bilang itu pada Ilham. Tak lama pintu terbuka, tapi tak terbuka lebar, hanya terbuka sedikit, “mana es batunya.” Dela berucap sembari menengadahkan tangannya. Ilham hanya melihat wajah istrinya sepintas karena pintu yang ditahan Dela dengan sebelah tangannya langsung ditutup begitu dia menerima es batu dari Ilham. Entah apa yang ada di pikiran istrinya, Ilham sungguh tak bisa menerka untuk yang satu ini. Semalam dia yang meminta Ilham untuk mencoba, ya ... meski saat di pertengahan Dela meminta berhenti, dan Ilham tetap melanjutkannya meski dengan sedikit melakukan pemaksaan, tapi endingnya jelas mereka telah berhasil semalam. Harusnya, mereka menjadi makin dekat dan makin lengket. Ah, tapi semua yang menyangkut Dela memang sulit ditebak. Toh, nanti istrinya itu pasti akan keluar saat akan jam makan siang nanti. Menyebut makan siang, Ilham jadi teringat dengan nasi goreng putih yang dia makan saat sarapan barusan, rasanya seolah tak bisa dia lupakan. Dela, istrinya tak hanya cantik tapi juga jago masak, istri idaman banget. Ilham mesti banyak bersyukur memiliki istri secantik dan sepintar Dela. Meksi masih bertanya-tanya, tapi Ilham menghibur dirinya dengan Mengingat kejadian indah semalam yang sudah dia lalui bersama dengan Dela. Itu adalah penjelajahan terseru yang Ilham rasakan. tak Hanya seru tapi juga nikmat, dan yang persis sama seperti penjelajahan biasanya, juga membuat Lelah bagi pelakunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN