Gara-gara Didi

1331 Kata
Beberapa kemungkinan mulai bermunculan di benak Ilham. Pertama adalah kemungkinan seperti yang pernah Didi bilang, bahwa hampir semua perempuan memang merasa takut saat mereka akan digauli di malam pertama. Dari cerita Didi, Ilham menyimpulkan adalah hal yang wajar bila Dela ketakutan saat Ilham berulangkali akan lanjut ke step yang lebih tinggi. Dan kemungkinan kedua semakin diperkuat dengan kemungkinan yang Ilham dapat dari cerita Joni kemarin, bahwasanya hati istrinya adalah mencintai kepala sekolah tempat dia mengajar. Cerita Joni, membuat Ilham berpikir bahwa istrinya berbuat sama seperti yang dilakukan suami Talia. Jika Dela benar berbuat itu, maka dipastikan bahwa kemungkinan kedua menjadi semakin kuat. Dela menyukai Pak Rido dan mengajaknya b******u kemaren. Arkh ... Kepala Ilham rasanya mau pecah, saking rumitnya semua yang Ilham pikirkan, dia sampai tak sadar bahwa ini sudah hari ke tujuh dari perjanjiannya dengan Dela. Beruntung, Ilham sempat memasang alarm dan mengaturnya di tanggal yang seharusnya dia sudah bisa mengajak Dela mencobanya lagi. Tanggal itu jatuh pada hari ini, karena alarm diatur di jam setengah delapan, Ilham baru menyadarinya saat sudah selesai sholat isya, tepat ketika ponselnya berdering diikuti getaran. Senyum merekah di bibirnya. Inilah saatnya dia membuktikan kemungkinan yang mana tentang Dela yang benar? "Del, mau makan malem di luar ga?" tanya Ilham saat dia sudah mematikan alarm di ponselnya. Dela menggeleng, dia tahu bahwa hari ini akan segera tiba. Rasanya hati dan pikirannya menjadi tak karuan. "Aku ... Aku ga enak badan, Mas." Dela berucap. Ilham menghela napas, dia semakin yakin bahwa Dela-nya tidak benar-benar mencintainya. Lantas dia beranjak dan akan keluar dari kamar, tapi kemudian Dela menahan tangannya, "tapi aku mau kok nyoba kayak yang kamu bilang." Deg ... Hati Dela jauh lebih sakit melihat wajah kecewa suaminya. Ilham tersenyum sembari mengusap lembut pipi istrinya. Beginilah seharusnya, sepasang suami istri memadu kasih dengan hati yang sama-sama sudah menerima. Tak terasa jarak diantara mereka sudah terpangkas banyak, menyisakan beberapa centi saja. "Kamu yakin?" Ilham berbisik, membuat Dela bergidik ngeri membayangkan step yang sempat tertunda kemaren. Pergulatan itu sudah di depan mata. Sedikit lagi, Ilham akan bisa melihat keindahan yang surga dunia tawarkan. Dua bukit yang kata teman-temannya adalah candu saat mereka berjelajah. "Mas." Dela menahan tangan Ilham saat lelaki itu akan membuka kain pembungkus di atasnya. Dengan sekali tarikan maka gundukan di dalamnya akan langsung terlihat sebab pengaitnya sudah dilepas oleh pemiliknya. "Kenapa?" Ilham memandang istrinya. Jangan tanya bagaimana gugupnya Ilham saat ini, selain otaknya yang mulai cerah, dia seperti sudah melihat sumber mata air saat tenggorokannya terasa kering dan sangat kehausan. "Aku ...." Ilham menangkap kegelisahan di wajah istrinya. Jangan sampai dia menggagalkan sesuatu yang sudah terlanjur mereka mulai. Ilham tak menanggapi, lebih tepatnya mengabaikan Dela. Namun perempuan itu langsung mendorongnya saat wajahnya akan ditenggelamkan di dadanya. "Del. Aku ...." s**t, Ilham kesulitan mengatakan bahwa miliknya sudah tegang dan siap bertempur. Sayang sekali kalau masih harus mundur lagi dan lagi. Dela menggeleng, dia akan bangkit namun ditahan oleh Ilham. Lelaki itu tak bisa menunggu lebih lama. Dia mengunci tangan Dela ke samping kepalanya. Apa yang Selama ini hanya selalu ada dalam bayangannya, dia realisasikan dalam nyata. Ilham berhasil menjebol milik Dela malam ini. Berakhir dengan letih dan nikmat yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Ilham terlentang di sisi Dela yang sudah tak berbusana, kondisinya berantakan penuh dengan bekas kemerahan, ulah Ilham. Dari sudut matanya, mengalir cairan bening yang membuat bantal di bawah kepalanya ikut basah karena sejak Ilham memulai serangan tadi, Dela terus menangis. Ilham tersenyum karena sudah berhasil memberikan Dela petualangan pertama yang kata Didi, pasti akan membuatnya ketagihan. Dela terisak, menyadarkan Ilham dari bayang keindahan yang masih terus berkeliaran dalam pikirannya. Lelaki itu membalikkan badannya, menghadap pada istrinya. "Makasih, ya. Aku sayang kamu banget." Ilham meraih tubuh Dela, mendekapnya untuk mengurangi perih yang katanya dirasakan perempuan setelah pertahanan mereka jebol. "Jangan sentuh aku!" Dela menepis tangan Ilham. Bahkan dia mengubah posisinya membelakangi Ilham. Sudah puas menangis, Dela pun bangkit dan mengambil beberapa helai baju ke kamar satunya, kamar yang kemaren di pakai Ilham. Sementara Ilham, sudah pulas tidur sebab lelah bertempur. Bangun bangun, istrinya sudah tak ada di sampingnya. Terdengar pengeras suara dari masjid yang tak jauh dari rumah mereka mengumandangkan azan, Ilham bangkit dan masuk ke kamar mandi. Suasana hatinya sedang amat baik hari ini. Dia jadi teringat dengan plastik hitam pemberian istri Didi beberapa hari yang lalu. Hmmm ... Ternyata jatah dari istri memang membuat pikiran menjadi jernih dan fresh. Setelah mandi, Ilham keluar kamar, berjalan menuju bagasi mobilnya lalu mengambil benda yang masih tersimpan rapi dalam mobilnya. "Apa, sih yang dikasih Reta? Jadi penasaran," gumam Ilham membungkukkan badan mengambil plastik yang masih tak berubah seperti saat dia meletakkan. "Reta siapa, Mas?" Dela tiba-tiba sudah berada di belakangnya. Sengaja dia mengikuti suaminya sebab pagi-pagi buta sudah keluar rumah, tak seperti biasanya. "Eh, Sayang, ngagetin aja." Ilham mengangkat sedikit benda berwarna hitam di tangannya, "Reta itu istrinya Didi. Ini oleh-oleh dari dia." Ilham memberikannya pada Dela. Lalu menggandeng istrinya untuk kembali masuk ke dalam. "Kopi kamu udah siap di meja ruang tengah, Mas. Aku mau lanjut masak," ucap Dela begitu kakinya sudah masuk di dalam rumah. "Del ...." Ilham meraih tangan istrinya. Sesaat pandangan mereka bertemu tapi Dela menghindarinya. "Makasih, ya. Kamu udah kasih kesempatan buat kita nyoba." Dela tersenyum, lalu melangkah pergi menuju dapur. Sementara Ilham menuju ruang tengah tempat kopi hitamnya menunggu di sana. Ada sepiring pisang crispy dengan taburan keju di atasnya. Ilham tersenyum mendapat suguhan nikmat di pagi hari yang baginya amat indah ini. Sepertinya mulai hari ini ke depan, dunia Ilham akan berubah penuh warna. Renyah dan nikmat terasa memenuhi mulutnya begitu Ilham menggigit pisang crispy buatan Dela. Rasanya sangat enak hingga mampu membuat Ilham tak henti tersenyum karenanya. Tapi berbeda dari Ilham, Dela justru berteriak dari dapur, dengan nada kesalnya dia memanggil suaminya. "Ada apa, Sayang? Aku baru aja nyicipin pisang crispy buatan kamu." "Apa ini? Sekarang anda bisa menikmati kepuasan seksual dengan aman." Dela membaca bagian belakang bungkus kotak berwarna hitam di tangannya. "Reta istrinya Didi ngasih ini?" Dela mengangkat benda itu, menggerakkannya dengan ekspresi marah yang baru pertama kali Ilham lihat. Anjir ... Gua lupa kemaren Reta ada bilang kalo bungkusan item bukan dari dia, tapi dari Didi. Monyet itu kan kalo ngasih hadiah emang ga jauh dari urusan ranjang. "B-bukan, Sayang. Yang ini bukan dari Reta." Ilham mengambil kotak hitam kecil di tangan Dela. "Jadi dari siapa? Dari Didi? Aku jadi ragu loh kalo oleh-oleh ini dari temen-temen kamu. Atau jangan-jangan ini dari pacar kamu, iya?" "Ha?" Ilham jadi gagap sendiri. Dia dituduh memiliki simpanan padahal menikah dengan Dela masih perlu sejuta kesabaran untuk bisa benar-benar merengkuhnya seperti semalam. Bagaimana bisa Dela berpikir begitu? "Oh, aku tahu. Reta itu nama pacar kamu, kan?" Shit, makin kacau aja tuduhan istrinya. "Gini aja, kita ke rumah Didi, mau? Nanti kamu kenalan langsung sama istrinya dia." Ilham mencoba mencari solusi agar tak terjadi kesalahpahaman berkelanjutan. "Nggak. Kamu yang selingkuh kenapa mesti aku yang repot. Lagian bisa aja kamu selingkuh sama istri temen kamu sendiri." Semakin menjadi-jadi saja tuduhan Dela. Mau tak mau, Ilham harus menunjukkan pada istrinya isi obrolan Didi di grub, saat dia meminta datang ke rumahnya ketika istrinya baru pulang dari Bandung. Tak banyak bicara lagi, Ilham lantas berlari ke kamar. Dia mengambil ponselnya yang ternyata sedang di charge. Otomatis, ponselnya menyala saat kabelnya dicabut. Ada notifikasi dari grub perkasa yang belum terbaca oleh Ilham. Haih ... Ilham baru sadar bahwa sudah beberapa hari dia tidak memegang ponsel. Dan rupanya sudah beberapa hari pula ponselnya dengan kondisi di charge. Sembari berjalan, Ilham membuka grub chat Perkasa. "Anjirrr ... Gua ga butuh tisu magic, Nyet @Didi Fuadi." Pesan dari Joni. "Gua juga, anying banget, asu." David ikut membalas. Seketika grub rame dengan obrolan unfaedah dari tiga temannya. Beruntung pada akhir chatingan mereka, ada chat dari Didi yang bilang bahwa sebelumnya Reta melarangnya memasukkan tisu magic ke dalam plastik yang berisi oleh-oleh darinya. Ilham bernapas lega. Meski chat mereka kebanyakan unfaedah, tapi dari chat ini Ilham bisa memberikan bukti bahwa tisu magic luknut itu bukan dari selingkuhannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN