"Mau oleh-oleh khas Bandung ga? Kalo mau, ke rumah gua sekarang ... telat dateng ga bakal kebagian, keburu abis sama gua." Pesan masuk dari Didi di grub chat Perkasa.
Pesan itu langsung centang dua biru sebab tiga member yang lain sudah membacanya tak terkecuali Ilham.
Karena tak ada kegiatan di rumah, Ilham lantas memberi tahu Dela untuk pergi ke rumah Didi.
"Ya udah, tapi nanti pulangnya jangan kemaleman kayak kemaren, ya." Dela masih ingat bagaimana khawatirnya dia kemaren saat Ilham pergi dan tak kunjung pulang.
Ilham mengangguk, memberikan senyum terbaiknya untuk istri tercinta.
Ilham mengusap puncak kepala Dela lalu mengecup keningnya dengan penuh cinta. "Aku sayang kamu, Del."
"Me too." Dela mencium tangan suaminya. Entah kenapa perasaannya menjadi campur aduk mendapat perhatian dan cinta yang begitu tulus dari Ilham.
Dia sungguh beruntung memiliki suami yang begitu pengertian seperti Ilham. Mana ada laki-laki yang mau bernegosiasi untuk urusan ranjang? Mereka akan bilang bahwa perkara itu adalah hal utama yang harus dilakukan saat seorang lelaki dan perempuan telah sah menjadi suami dan istri.
"Aku akan berusaha untuk melayani kamu, Mas." Dela memegang dadanya. Ada sesak yang amat menyiksa membayangkan tubuhnya ditelanjangi lalu dinikmati. Kepuasan yang pasti akan terdengar dari lelaki itu seolah menjadi irama siksaan yang sungguh menyesakkan.
Dela menangis sendirian, tak punya tempat berbagi seperti saat masih di kampung.
Dia lari untuk melupakan kenangan pahit yang dia alami di masa lalu. Tapi ternyata, nasib sial dan neraka dunia yang Dela hindari, masih terus mengikuti.
Ilham sudah tiba di rumah Didi. Dia langsung masuk seperti biasa layaknya rumah sendiri. Suasana ramai mirip pasar kaget yang hanya buka beberapa jam saja.
Riuh tawa juga guyonan terdengar dari spot favorit Ilham di dalam rumah sahabatnya. Di mana lagi kalau bukan di depan TV di ruang tamu yang disulap menjadi basecamp member grub perkasa.
Ilham masuk tanpa mengetuk pintu, ternyata di sana sudah lengkap semua personil perkasa. Grub yang hanya terdiri dari empat orang itu memang akan ramai dan rusuh saat ketiga orang yang tak lain adalah Didi, David dan Joni sudah kumpul.
Ilham?
Dia adalah member paling saleh yang selalu menggeleng kepala melihat tingkah konyol tiga sahabatnya.
"Wuihhh ... Bintang utama kita udah masuk lokasi." David menyambut. Menaburkan kentang goreng yang dia pegang seolah-olah benda itu adalah bunga yang biasa ditabur saat sang bintang sudah masuk dan berjalan di atas karpet merah.
"Mubazir, Lo." Ilham merampas kentang yang ada di tangan David dan langsung melahapnya.
"Nyet, Nyet. Elu lupa kalo dia tadinya mau jadi ustad, tapi gara-gara deket sama Didi, doi jadi berubah haluan." Joni menyenggol lengan David.
"Kok jadi bawa-bawa gua, Gorila air," seru Didi tak terima.
Tak lama, Areta datang dengan empat kantong plastik hitam.
"Ini oleh-oleh dari kampung aku, ya, bapak-bapak semua." Areta membagikan kantong plastik yang dibawanya kepada David, Joni dan Ilham tentunya.
Istri dari Didi Fuadi ini terbiasa memanggil ketiga teman suaminya dengan sebutan bapak-bapak, tak hanya kepada David, Joni dan Ilham. Kepada suaminya pun kalau sedang bersama dengan tiga temannya, Reta juga menyebut bapak Didi.
Alasannya cukup sederhana, hanya karena mereka berempat tidak menyukai K-Pop yang sekarang menjadi trending dan idola hampir semua orang dari berbagai kalangan.
"Etapi, kalo yang bungkus item itu bukan dari aku. Itu dari Bapak Didi Fuadi." Areta berucap seraya menyipitkan kedua matanya.
Tadinya Areta menolak saat Didi akan memasukkan benda menjengkelkan itu ke dalam kantong hitam yang berisi oleh-oleh darinya.
Tapi berhubung Didi memaksa, dan Areta tahu bagaimana gilanya ketiga teman suaminya, pada akhirnya dia pun mengalah dan mengizinkan Didi memasukkan benda keramat itu.
"Eits ... Jangan dibuka di sini. Dibukanya ntar aja kalo udah pada nyampe di rumah masing-masing. Atau elu-elu pada udah ga sabar pengen buka?!" Didi menunjuk satu persatu dari ketiga temannya.
Semuanya mengangguk kecuali Ilham. Dia tak terlalu ingin tahu apa yang ada dalam plastik hitam di tangannya.
"Kalo gitu, elu berdua buru-buru balik," lanjut Didi kemudian.
"Anjirrr ... Dia ngusir kita, Nyet." Joni memandang David yang saat ini menganga, tampaknya lelaki itu masih loading dengan kalimat yang Didi ucapkan.
"Iya. Gua kangen ama bini gua, jadi mendingan elu pada balik." Didi menjawab. Dia sebenarnya ingin berbicara berdua dengan Ilham yang sejak datang tadi, wajahnya tampak sedikit murung.
"Ya udah, elu ajak bini lu ke kamar aja sono. Biar kita kita nongki di sini, ya gak, Jon?!" David berucap, dia sama sekali tidak paham bahwa saat ini Didi tengah meminta mereka pulang.
"Ini elu serius?" Joni yang awalnya menganggap perkataan Didi hanyalah guyonan, lantas bertanya untuk memastikan.
Kalau sudah begini, yang loading sebenarnya siapa? David ataukah Joni?
Ilham memukul kepala Didi, "elu jangan suka bikin dua monyet pusing. Kualat tau rasa, lu."
"Eh, ngomong-ngomong gimana perkembangan elu sama itu janda, Nyet?" Kalau sudah membahas janda, sudah tentu arah pembicaraan ini tertuju pada Joni. Si jomblo yang suka banget numpahin s**u dari batangnya.
"Gua kayaknya mesti ruqyah deh, Did. Kayaknya ada setan baik yang merasuki tubuh gua," sahut Joni dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Ketiga temannya yang mendengarkan, lantas saling pandang, tak mengerti dengan maksud ucapan Joni.
"Maksud elu gimana, sih? Jadi intinya elu udah dapetin tu janda apa belum?" Didi mulai melakukan wawancara eksklusif sebagai pimpinan dari grub perkasa.
"Udah ... Tapi ada yang aneh sama gua, Did." Joni berucap sembari memandang satu persatu kawan gilanya dengan amat serius.
"Ini gua beneran ga bohong, jadi kemaren kan Jeni udah tidur, Nah ... Gua sama emaknya Jeni ini udah naik ke ranjang, tapi pas gua naikin emaknya Jeni, hati gua malah gak tega, lutut gua rasanya lemes gitu loh, Gess." Joni memulai ceritanya dengan kalimat bahwa dia sungguh-sungguh dan tidak berbohong. Karena pasti teman-temannya tidak akan percaya setelah mendengar ceritanya.
Reaksi Didi, David dan Ilham justru berbeda dari yang diperkirakan Joni, mereka bertiga tertawa lalu kemudian si Didi berucap, "gua percaya, Nyet. Itu elu kudu tobat, karena kalo lutut udah lemes pas baru naek, itu tandanya elu bakalan jadi aki-aki."
Semua tertawa lagi.
"Anying ... Gua serius, gajah jangkung."
"Jadi gini, Si Talia ini pernah cerita ke gua kalo dia sama mantan lakinya itu adalah hasil perjodohan. Nah si Talia berusaha nerima, meski sebenarnya dia ga cinta. Ehhh ... Pas udah beberapa tahun nikah dan udah punya anak, ketahuan kalo lakinya ternyata suka main cewek di belakang dia. Udah gitu, Talia ga pernah dikasih nafkah. Jangankan ngasih uang belanja, malah lakinya yang setiap hari minta duit sama dia. Kasian banget, kan?"
Joni asyik bercerita, David dan Didi malah asyik bermain game. Ilham seperti biasa, dia menjadi pendengar setia.
"Anying ... Gua cerita malah dicuekin." Joni melempar bantal ke arah dua temannya yang ga ada akhlak itu.
"Menurut lu gimana, Il? Ini gua udah jatuh cinta apa ini murni karena gua kasihan?" Joni mulai meminta pendapat pada Ilham.
"Ha?" Ilham lah yang sekarang tak mengerti dengan pertanyaan Joni.
Darimana ada unsur jatuh cintanya, coba?
"Ntar gua jelasin. Pindah dulu, yok. Di sini berisik." Joni memandang ke arah David dan Didi yang asyik nge-game.
Ilham sebenarnya tak terlalu kepo dengan persoalan cinta Joni, tapi mendengar cerita bahwa Talia, si janda itu menikah sebab perjodohan, dia jadi teringat dengan dirinya dan Dela.
Talia belajar mencintai, begitupun dengan dia dan Dela. Mereka resmi pacaran lalu kemudian bertunangan bahkan pada akhirnya menikah. Persis seperti yang diwasiatkan nenek.
"Apa suami Talia juga mencintai Talia?" Ilham memberi Joni pertanyaan bahkan meski mereka belum tiba di taman, tempat ternyaman untuk Joni berbagi cerita petualangannya menaklukkan janda.
"Itu yang bikin gua kasihan, Il. Lakinya bilang kalo dia juga cinta sama Talia. Sampai pada akhirnya, Talia dengan sukarela melakukannya bersama suaminya dan mereka punya Jeni."
Apa Dela juga berbuat begitu pada Ilham seperti yang dilakukan suami Talia?