Ilham melakukan sholat dan keluar dari kamar begitu dia selesai berzikir dan berdoa.
Aroma makanan tercium, rupanya istrinya sedang memasak di dapur.
Ilham memilih duduk bersantai di teras rumahnya. Saat dia melewati ruang tengah, tentu bayangannya terlihat oleh Dela yang kala itu sedang membawa makanan ke meja makan yang dekat dengan ruang tengah, pun bersebelahan dengan dapur.
Ilham menyesap rokoknya dalam-dalam, rasanya sedikit bebannya jadi berkurang berkat kandungan nikotin yang dia hisap dalam rokoknya.
"Mas, kopinya." Dela membawakan Ilham secangkir kopi dengan kepulan asap yang melambung di atasnya.
"Makasih, Del. Ngga ada camilannya?" Ilham paling suka kalau pagi disuguhi kopi dengan teman minum yang juga masih hangat, semisal pisang goreng.
"Mas mau?" Dela bertanya, suaranya terdengar masih sedikit takut.
"Mau sih, tapi kalo kamunya ga nolak buat bikinin," cibir Ilham.
Perasaannya belum sepenuhnya normal sejak semalam, apalagi perkara mimpi yang membuat dia terbangun dengan debaran aneh di dadanya.
Sesungguhnya, Ilham tak mau memperpanjang masalah semalam. Tapi hatinya bersikeras agar Ilham mau menuntut hak yang seharusnya dia dapatkan dari sang istri.
"M-maaf," ucap Dela lirih.
"Kamu ga mau?" Ilham salah sangka. Hampir saja dia naik pitam dan menaikkan level curiga bahwa istrinya tidak mencintainya menjadi seratus persen.
"Bukan. Soal semalam, aku minta maaf." Dela memperjelas kalimatnya.
"Lupain lah. Nanti kamu juga bakal mau kalo udah sadar apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab dan tugas seorang istri." Ilham menyesap kopinya.
"Eng ... Ya udah, aku buatin." Dela buru-buru masuk dan mengambilkan pisang goreng untuk suaminya.
Sebenarnya, dia sudah menyiapkan itu sejak subuh tadi. Tapi berhubung dia sadar bahwa dia sudah berbuat salah semalam, Dela jadi was-was untuk membawanya pada suaminya.
Dia takut disangka menyogok agar suaminya tak lagi marah kepadanya.
Huft ... Dela menghela napas. Pikirannya makin ke sini makin ruwet. Belum lagi persoalan di sekolah kemaren.
Entah apa yang akan terjadi dengan pekerjaannya, apakah Pak Rido masih akan menerimanya mengajar? Atau bahkan dia langsung diberhentikan.
Sampai saat ini belum ada kabar dari Pak Rido.
Dela mengusap wajahnya, mencoba mengusir gelisah akan nasib karir mengajarnya yang bagai diujung tombak.
Segera dia bawa sepiring pisang goreng yang sudah tidak hangat itu ke luar, ke tempat suaminya berada.
"Ini, Mas. Udah ngga anget, apa mau aku angetin?" tawar Dela sembari meletakkan piring putih itu di meja dekat lengan suaminya.
"Nggak usah, Makasih ya. Ngomong-ngomong kamu masak apa?" Ilham tak bisa kalau harus acuh apalagi mendiami Dela. Dia terlalu cinta, hingga rasa cintanya membuatnya tak sadar bahwa dia menjadi korban dari rasa cintanya sendiri.
"Masak seadanya yang ada di kulkas. Cuma sayur bening sama telor dadar, Mas."
Tak ada yang menggugah selera dari dua menu yang disebutkan Dela. Tapi, meski begitu Ilham tetap memperlihatkan semangat seolah dia suka pada apa yang Dela masak.
"Wah, kalo gitu ayo makan. Aku laper," ucap Ilham kemudian.
Sebelum masuk, terlebih dahulu Ilham membawa piring berisi pisang goreng itu ke dalam, sementara kopi miliknya dibawa Dela masuk juga.
Sepasang teman bersantai Ilham diletakkan di meja depan TV. Sementara si empunya dengan istrinya menuju meja makan dan sarapan pagi.
"Mas, aku boleh bicara sesuatu?" Dela mulai menyendokkan makanan ke piring Ilham.
"Boleh, sih. Tapi nanti aja setelah makan."
Dela mengangguk dan lantas duduk kembali setelah selesai mengisi piring Ilham berikut piringnya sendiri.
Keduanya makan tanpa bersuara. Ilham akui, ini adalah sayur bening terenak yang pernah dia makan.
Jujur saja, Ilham paling tidak suka kalau makan dengan sayur bening. Tapi saat ini, pertama kalinya dia merasa jatuh cinta pada sayur kuah bening yang disajikan istrinya.
Saat mereka telah selesai makan, Ilham berjalan menuju tempat kopinya berada. Sementara istrinya membersihkan piring dan perabotan yang tadi dia pakai untuk memasak.
Ilham beruntung memiliki Dela, perempuan itu pandai memasak, pandai merawat diri bahkan suaminya. Dia membeli kebutuhan mandi yang cocok dengan jenis kulit Ilham, hanya saja masih ada satu yang belum Dela tunaikan hingga keberuntungan itu belum juga terasa bagi seorang Ilham.
"Mas ...." Dela menegur suaminya yang tampak sibuk dengan ponsel pintarnya.
Ada laporan yang harus Ilham selesaikan dan dia kirim hari ini juga. Barusaja Pak Ferdi mengiriminya email.
"Hmmm ... Ngomongnya ntar aja, ya. Aku masih ada kerjaan nih." Ilham memberitahu.
"Pakek hp? Mau aku ambilin laptop kamu?" tawar Dela kemudian.
Sejenak Ilham mengangkat wajahnya, pandangannya teralihkan dari layar ponselnya mendengar tawaran istrinya.
Lelaki itu lantas mengangguk, "nggak ngerepotin, kan?"
"Nggak lah, Mas. Sekalian aku mau ambil laptop aku juga. Hari ini aku jadwal pagi." Dela tersenyum, mengusap punggung suaminya yang sudah begitu pengertian.
Dia sama sekali tak terlihat marah, padahal semalam Dela sudah mengecewakannya.
Ketakutan yang tadi saat menyuguhkan kopi masih terpancar di wajah istrinya mulai sirna. Berganti senyum manis yang membuat Ilham mulai kembali bertanya-tanya.
Ini dia kayak gitu bukan karena mau google meet sama Pak Rido, kan?
Pikiran buruk Ilham mulai kambuh.
Tak berapa lama, Dela datang dengan laptop di kanan dan kirinya.
"Aku boleh duduk Deket kamu?" tanya Dela.
Haih ... Apa sih maksudnya?
Jangankan duduk, dia ngajak tidur bareng pun bakal aku jabani.
Ilham mengangguk, dia terima laptop yang ada di tangan kanan Dela.
"Emang ga papa kalo murid-murid kamu liat aku?" Ilham mulai menyalakan laptopnya.
"Ya bakalan apa-apa, sih. Tapi mereka kan ga bakalan bisa liat kamu, Mas. Kan laptopnya ga ngarah ke kamu. Paling ininya kamu doang yang keliatan." Dela menyentuh pundak Ilham.
Perempuan itu lantas menyalakan laptopnya dan memastikan nya denhan mengecek melalui kamera di sana, yang terlihat memang hanya sedikit dari pundak dan lengan Ilham.
Dela memulai daring saat siswa-siswinya sudah aktif semua. Dia menggunakan zoom dan menutup pembelajaran mereka dengan tugas yang harus dikirim besok.
Meski terlihat wajah keberatan dari siswa-siswinya, tapi Dela tidak terlalu memedulikannya. Karena apa yang Dela lakukan saat ini, adalah untuk kebaikan dan masa depan murid-muridnya.
Sejujurnya, Dela adalah satu-satunya guru yang kurang setuju dengan sistem belajar yang di lakukan online seperti ini. Selain anak muridnya masih kecil, dia memikirkan kesehatan mata anak-anak muridnya, bisa jadi mereka memanfaatkan kesempatan untuk bermain ponsel lebih lama dengan alasan daring. Tak hanya merugikan diri mereka tapi mereka bisa menghancurkan impian mereka hanya karena benda berbentuk pipih itu.
Jaman sekarang, baru berumur setahun pun seorang anak sudah bisa membuka dan menonton yukiub sendiri. Huft ... Apalagi sudah SD. Mereka pasti sudah tak asing dengan game online dan lainnya.
Sayang, pendapat Dela tak mendapat tanggapan serius karena hanya dia yang memiliki pemikiran seperti itu.
Ilham melirik ke arah layar laptop istrinya. Di sana hanya ada wajah murid-muridnya dengan beragam pose. Ada yang tampak sibuk dengan mainan dinosaurus, ada yang menopang dagu tampak lesu. Namun tak sedikit dari mereka yang tampak bersemangat mengikuti daring dari ibu guru mereka yang cantik dengan semua kondisi.
Ya, Dela yang rambutnya dicepol ke atas itu tetap terlihat cantik. Bahkan jauh lebih cantik dari saat rambutnya digerai.
Dela adalah guru yang paling santai dan disukai anak-anak. Jarang ngasih tugas kecuali setelah ada sistem daring ini.
Huft ... Dela bernafas lega, karena tidak melihat wajah kepala sekolah di layar laptop Dela.
Dia teruskan pekerjaannya yang sedikit lagi akan selesai.
Buru-buru Ilham menyelesaikannya agar bisa cepat mengobrol berdua dengan Dela. Harap-harap, setelah mengobrol berdua, bisa melanjutkan yang semalam.
Arkh ... Ilham masih menginginkan Dela mengajaknya b******u. Namun dia tak kan lagi memulainya lebih dulu, takutnya saat akan sampai pada puncaknya, dia ditolak lagi dan lagi.
Untuk sekarang, Ilham masih jauh lebih ingin tahu pada hal apa yang Dela ingin bicarakan dengannya.
Laporan sudah selesai, tapi tidak langsung dia kirim. Ilham masih perlu mengeceknya lagi nanti saat pikirannya sudah tenang dan bisa fokus.
Apa sekarang Ilham tak fokus?
Tidak! Dia bukan tak fokus, hanya sedikit kurang fokus karena pikirannya masih memburu topik apa yang sebenarnya akan Dela bicarakan dengannya.
Ilham menutup laptopnya, lalu beralih memandangi istrinya yang kini tampak gugup dan kebingungan.
"Kamu mau ngomong apa tadi?" Ilham menangkap kegelisahan di wajah istrinya.
Sebentar-sebentar wajah Dela tenang dan bersemangat setelah tadi sempat terlihat ketakutan. Lalu kemudian tampak gelisah dan kebingungan, setelahnya lagi malah tampak gelisah.
"Aku minta maaf buat yang semalam." Dela berucap sembari memilih bajunya tanpa sadar.
"Its oke, gak papa. Mas ngerti, kok. Aku cuma mau, lain kali kamu jangan kayak gitu, ya. Maksud aku, lain kali kamu usaha dulu, ya." Ilham menyentuh punggung tangan istrinya dan menggenggamnya.
Jika sekarang Dela meminta maaf, maka artinya dia mengakui bahwa tindakannya semalam itu salah dan dia merasa bersalah karenanya. Ilham sedikit lega. Artinya, tidak ada laki-laki lain dalam hati istrinya seperti yang semalam dia pikirkan.
Dela tersenyum, menganggukkan kepala.
"Kalo sekarang mau nyoba, nggak?"
Glek ... Dela menelan ludahnya yang terasa tercekat di tenggorokannya.
"Jangan buru-buru ya, Mas. Kasih aku waktu." Dela menatap penuh permohonan.
"Tiga hari cukup?"
Dela menggeleng, "sebulan."
Ha? Ga salah? Sebulan lagi itu adalah waktu yang sangat lama. Apalagi Ilham tahu dia akan terus berada di rumah setiap hari karena dia tidak masuk kantor. Bisa mati kejang-kejang dia kalau setiap hari harus menahan diri untuk tidak meng apa-apakan Dela.
"Seminggu. Ga boleh ditawar lagi." Itu adalah keringanan yang levelnya sudah platinum dari Ilham.
Dela tahu itu, karena tak semua lelaki bisa menahan diri berpuasa dari perkara yang bagi Dela sendiri dia tak pernah ingin melakukannya.
Sementara Ilham, dia sendiri dibuat tak mengerti dengan kesepakatan yang dia lakukan dengan istrinya.
Padahal harusnya untuk hari ini dan sebelumnya, adalah masa paling sering-seringnya mereka berjelajah, itu hal yang umum dan biasa dilakukan semua pengantin baru.
Tapi ternyata itu tidak berlaku bagi Dela dan Ilham.
Sepasang suami istri yang satu ini selalu mengedepankan keinginan pasangannya, tanpa mengutamakan keinginan mereka sendiri.