Sesuai yang sudah dikatakan Ilham, lelaki itu menelepon balik istrinya dan langsung diangkat saat baru terdengar nada tut yang pertama.
"Mas, kamu kemana aja? Seharian ga pulang, aku khawatir tau, nggak?!" Suara istrinya terdengar serak.
Apa Dela menangis?
"Sorry, aku ke rumah Didi. Kamu mau dibeliin apa?" tanya Ilham bermaksud mengusir kekhawatiran yang dia tangkap dari nada suara istrinya.
"Aku ga perlu apa-apa. Kamu pulang sekarang." Kali ini terdengar isakan juga dari suara istrinya.
Ilham jadi merasa bersalah. Dia mempercepat laju mobilnya agar bisa cepat sampai di rumah.
Ternyata dia tak bisa berlama-lama marah pada Dela, apalagi meninggalkannya, rasanya Ilham sendiri yang tak sanggup melakukannya.
Dia ingin segera sampai di rumah, ingin segera memeluk dan menciumi tubuh istrinya yang selalu wangi terasa.
Dan di sinilah Ilham sekarang, turun dari mobil dan langsung disambut dengan pelukan dan tangis Dela.
"Aku minta maaf. Aku cuma takut, aku ga siap." Dela memeluk dan langsung meminta maaf begitu Ilham masuk ke dalam rumahnya.
"Ya, aku ngerti. Tapi ... Maukah kamu mencobanya dulu?" Ilham berucap sembari menciumi rambut istrinya yang digerai dan tak sengaja mengenai wajahnya.
Dela diam, entah apa yang dia pikirkan, tapi bagi Ilham itu adalah sebuah persetujuan.
Lelaki itu lantas membawa Dela masuk ke dalam kamarnya. Memberinya kecupan lembut di kening perempuan itu sembari berlanjut turun ke bawah.
Ilham kembali menyesap benda kenyal yang membuatnya kecanduan dengan kelembutannya. Bibir kenyal Dela menjadi favorit Ilham sekarang, entah nanti saat dia sudah merasai keseluruhan bagian dari surga dunia yang telah sah menjadi miliknya.
Perpaduan mereka menjadi pembuka yang begitu membuat iri, terutama buat author (emot nangis).
Pembuka sekaligus pemanasan untuk berlanjut ke step selanjutnya itu begitu pelan Ilham lakukan, sedikitpun dia tak ingin membuat Dela kesakitan.
Apalagi mendengar cerita Didi tadi, bahwa nanti milik Dela akan berdarah, Ilham akan melakukannya dengan sangat hati-hati.
Kini, step yang sudah Ilham tempuh akan menginjak ke yang kedua. Tangannya seperti sudah ada remote control yang memandu pergerakannya. Kemana dan harus apa?
Tangan Ilham menyusup masuk ke balik baju Dela dan mengusap permukaan kulit istrinya yang lembut mulus kayak perosotan anak TK.
Sayang, begitu tangan Ilham bergerak semakin ke atas Dela kembali mendorongnya, tepat saat tangannya sudah menyentuh pembungkus berisi busa di sana.
"Aku ga bisa, Mas." Dela menatap suaminya, ada genangan yang sudah siap tumpah begitu pemiliknya mengedipkan matanya.
"Aku janji bakalan pelan-pelan, Sayang. Kita coba dulu, ya." Ilham berucap lembut. Dia usap lembut pipi istrinya sembari kemudian dia kecup bibir istrinya yang dingin dan basah sebab ulah Ilham sendiri.
Dela diam, pikirannya tak tentu arah sekarang. Tubuhnya menegang diikuti keringat dingin.
Bukan tegang karena terangsang, sebab sekarang tubuh Dela gemetaran namun mencoba untuk tenang agar dia bisa mencoba seperti yang suaminya katakan.
Kancing baju tidur Dela sudah terbuka seluruhnya. Sekarang, Ilham dengan sangat hati-hati, menggapai pengait yang ada di belakang tubuh Dela.
Karena belum mahir melakukannya, Ilham kesulitan dan tak sengaja menindih tubuh istrinya.
Dela menahan nafas, suaminya pasti akan melakukannya dengan sangat hati-hati. Dia kan cinta Dela.
"Del, bisa kamu buka sendiri?" Ilham kerepotan membuka pengait di belakang.
Dan Dela pun membukanya meski sebenarnya dia tak ingin.
"Makasih ya, Sayang. Udah mau nyoba." Ilham mengecup kening Dela lagi. Dia teramat mencintai istrinya itu dan tak akan membuat Dela kesakitan dengan memaksanya.
Lekukan tubuh istrinya sejenak membuat Ilham terlena. Dia merasa seolah ini hanyalah mimpi.
Tapi begitu melihat air mata Dela, Ilham jadi sadar bahwa ini bukanlah mimpi.
"Aku bakalan pelan-pelan, oke!" Ilham menyeka air mata Dela yang mengalir ke samping.
Step by step yang dia lakukan tadi akan dia lanjutkan. Tapi saat dia baru berjelajah di leher istrinya, Dela mendorongnya. Padahal, dia tadi sudah mau membuka sendiri pengait bra miliknya.
"Aku ga bisa, Mas." Dela menangis.
Cewek tuh kalo belum ngerasain emang gitu, takutnya mereka itu kayak ketemu setan naga.
Kalimat Didi terngiang.
Haruskah Ilham memaksa Dela? Barangkali setelah sang istri merasakannya, dia tak akan lagi menolak.
Ilham pun memilih melanjutkannya, tak memedulikan tangis Dela yang semakin menjadi. Selain itu, kedua tangan Dela yang dikunci Ilham diantara kepalanya, bergerak-gerak melakukan perlawanan.
"Aku cuma pengen kamu ngerasain aja dulu. Aku pelan-pelan kok, Del." Ilham menenggelamkan wajahnya diantara dua bukit Dela yang padat dan kenyal.
Dela semakin histeris, gerakannya semakin menjadi menggelinjang di bawah Ilham.
Mungkinkah Dela mulai merespon yang Ilham lakukan?
Berpikir istrinya sudah menerima, Ilham lantas melepaskan tangan sang istri. Sementara Ilham, kembali berlanjut dengan kesenangannya yang baru.
"Akh ...." Ilham mengaduh, menghentikan aksinya sebab Dela mencakar punggungnya.
Karenanya Ilham berhenti dan bangkit.
"Aku ga bisa, Mas. Maafin aku." Dela menangis, dia buru-buru mengancingkan kembali baju yang belum sepenuhnya terlepas dari tubuhnya itu. Istri Ilham itu lantas duduk memeluk lututnya sembari terus menangis.
"Jadi awalnya, gua mau paksa dia. Eh, tapi baru gua paksa lepas baju, doi udah nyerah duluan, ya udah .... Gua mainnya pelan-pelan, sesuai permintaan tuan Puteri."
Cerita Didi tadi kembali terngiang. Apa Ilham harus melakukannya dengan paksa?
Tidak tidak! Ilham ingin melakukannya dengan suka sama suka.
Suka sama suka?
Kenapa Dela menolak seakan tidak suka padanya?
Ilham melirik ke arah istrinya. Keadaan Dela kacau, rambutnya berantakan bahkan kancing bajunya pun tidak terpakai pada tempat yang tepat. Terlihat dari kerah bajunya yang rendah sebelah.
Ilham lantas bangkit, dia keluar dari kamar namun tidak pergi dari rumah seperti tadi siang.
Dia hanya pindah ke kamar satunya, membersihkan badan dan membuang sesuatu yang perlu dia buang. Sesuatu yang membuat senjatanya sesak sakit bila dia mendiaminya.
Dengan masih mengenakan bathrob, Ilham merebahkan tubuhnya di kasur. Pikirannya tertuju pada istrinya yang masih menolak meski Ilham berjanji akan melakukannya dengan sangat hati-hati.
Ilham tidak bisa bertindak seperti yang Didi sarankan, dia tak bisa memaksa Dela, apalagi melihat istrinya menangis seperti tadi. Ilham sungguh tak bisa.
Pak Rido. Ilham teringat dengan kejadian saat dia datang ke sekolah pagi itu. Saat di mana dia melihat istrinya menginjak d**a Pak Rido dan memainkan cutter di leher kepala sekolah tempat istrinya mengajar.
Apa Dela berbohong soal itu?
Apa Dela sebenarnya mengajak Pak Rido berbuat sesuatu, dan Dela tak terima karena Pak Rido menolak? Prasangka yang sudah Ilham kesampingkan waktu itu muncul dan kembali menggiring opini bahwa istrinya sebenarnya mencintai pria lain.
Mungkin karena itu Dela menolak dan selalu mengatakan tak bisa saat Ilham akan melakukan kewajiban sekaligus keinginannya.
"Tapi emang wajar sih, cewek takut pas mau begituan pertama kali, karena itunya ampe berdarah."
Di waktu yang bersamaan, kalimat Didi muncul dan mematahkan semua pemikirannya tentang Dela yang suka sama Pak Rido.
Tapi kan Ilham udah janji untuk pelan-pelan.
Arkh ... Memikirkan semua itu, membuat kepala Ilham serasa mau pecah.
Lelaki itu pun memilih untuk tidur, dia menutup kepalanya dengan bantal, menghentikan aksi menduga-duga dan pengembaraan yang otaknya lakukan.
Baru akan terlelap, ponselnya berdering.
"Didi." Ilham membaca nama yang tertera di sana.
Dia pun menerima panggilan itu, "gimana, Nyet? Udah?"
"Belum." Ilham menjawab singkat.
"Ha? Belum? Serius? Berarti gua kalah perkasa dong dari elu."
Didi tersentak kaget, dia jadi minder karena sudah diangkat menjadi leader grub perkasa padahal ada yang lebih perkasa darinya.
"Belum ngapa-ngapain," lanjut Ilham memperjelas kalimat yang dia ucapkan sebelumnya.
"Ha? Kok bisa? Kenapa?" Kali ini, Didi jauh lebih terkejut.
Jelas-jelas, Didi sudah memberitahukan ilmu yang belum pernah dia bagikan pada siapapun.
Hanya pada Ilham, Didi menceritakan bahwa dia berhasil menggauli Reta setelah pernikahan mereka menginjak hari ke tiga.
"Entahlah. Gua aja yang ga bisa paksa dia keknya." Ilham menjawab tak bersemangat. Bayangan wajah Dela yang penuh basah oleh air mata membuat hati Ilham jadi luluh. Dia tak tega memaksakan kehendaknya pada Dela.
"Aelaaa ... Emang awalnya kayak ga tega. Tapi pas elu udah bisa naklukin Dela, elu bakal terimakasih pada diri elu karena udah berbuat tega." Nasehat seorang Didi yang kini dicerna pelan-pelan Ilham.
"Sayang, lanjut main, yuk."
Obrolan mereka terhenti sebab di seberang terdengar suara perempuan yang bagi Ilham sedikit membuat iri.
Ilham kembali merenungi nasibnya yang sungguh nelangsa. Sejenak, dia melihat angka di layar ponselnya yang menunjukkan angka dua puluh tiga: lima puluh enam, artinya sekarang sudah jam dua belas kurang empat menit lagi.
Sudah sangat larut untuk Ilham yang tidur sendiri, tapi akan sangat menyenangkan untuk Didi yang ada teman.
Daripada merenungi nasibnya, lebih baik Ilham pergi tidur.
Dia pun meletakkan ponselnya dan berusaha untuk memejamkan mata. Tidak di alam nyata, barangkali dia bisa merengkuh kenikmatan surga bersama Dela di alam mimpi.
Sayang, tidak di alam nyata, dalam mimpi pun Dela tetap menolak.
Ya, Ilham terjebak dalam sepetak ruang gelap. Dia mendengar suara istrinya, Dela. Perempuan itu berteriak bahkan meminta tolong untuk dilepaskan.
Sejenak setelah mendengar teriakan Dela, Ilham juga mendengar Dela-nya mengumpat dan mengatainya.
"b******n! Kamu gila! Ga waras, tinggalkan rumah ini lalu hiduplah dengan kegilaan mu di tempat lain."
Kalimat yang Dela ucapkan terus menerus.
Ilham tersentak bangun dari tidurnya. Dia mendapati dirinya ada dalam kamar yang baginya ini pertama kalinya dia ada di sini.
Ah ... Ilham baru ingat sekarang, kalau dia tidur di ruang tamu rumahnya.
Lalu yang tadi?
Tadi itu cuma mimpi!
Ilham menghela napas sembari mengusap d**a.
Kenapa di alam mimpi pun Ilham mendengar Dela menolaknya dan bahkan memakinya.
Sayang sekali, tempat itu gelap dan dia tidak melihat wajah istrinya.
Tapi apapun itu, tetap saja Dela menolaknya.
Ilham jadi semakin yakin bahwa sebenarnya Dela mencintai orang lain, namun terpaksa menikah dengannya karena wasiat nenek.
Lelaki itu melihat jam di ponselnya. Sekarang sudah menunjukkan pukul lima dua puluh enam.
Ilham membersihkan diri, lalu berwudhu dan melanjutkannya dengan sholat subuh. Tentunya itu dia lakukan di dalam kamarnya, kamar Ilham dan Dela maksudnya.
Di dalam kamar, Ilham tidak melihat Dela. Entah kemana istrinya itu di pagi-pagi buta seperti ini.