"Masih perlu gua tanya?" tanya Didi sebab sejak tadi Ilham hanya diam dan asyik main saja.
"Apa?" Ilham sebenarnya memang tak ingin menceritakan masalahnya. Lelaki itu tentu tak mau kalau membuka aibnya sendiri.
"Kalo elu ga ada masalah, ga mungkin elu ada di sini sampe malem begini," ucap Didi. Menunjuk ke arah jam yang terpajang di dinding dengan isyarat kedua matanya.
Ilham menghela napas, "gua cuma males aja di rumah."
"Bro, elu tuh pengantin baru. Seminggu buat pengantin baru tuh sama kek sehari. Rasanya waktu menjadi sangat singkat saat gua baru married dan menikmati masa-masa indah berumahtangga," ucap Didi. Lelaki itu tersenyum sembari mengenang saat dia dan Areta baru menikah.
"Gua bete sama Dela, Nyet." Ilham menghela napas lagi. Rasanya berat menceritakan aib rumahtangganya, tapi masih jauh lebih berat ketika Ilham memendamnya sendirian.
Didi diam tak merespon, matanya tertuju pada layar game sementara tangannya semakin aktif melakukan serangan sebab sedikit lagi dia bisa mengalahkan Ilham.
"Elu bete karena ga dapet jatah," tebak Didi dengan tanpa menatap ke arah Ilham.
Plak ... Stik game mendarat di kepala Didi. Melayang tepat sasaran dari tangan Ilham, "elu tuh kalo ngomong bisa lebih alus dikit ga. Makin nyesek nih." Ilham menjatuhkan tubuhnya ke belakang. Dan kepalanya mendarat dengan tepat di atas bungkus camilan yang isinya masih bersisa seperempat.
"Anjir, segininya idup lu kalo ga ada bini lu, Nyet." Ilham melempar benda yang tadi ada di bawah kepalanya ke sembarang arah.
"Yes ...." Didi menang dan melempar stik ke atas bantal yang ada di depannya.
"Itu elu. Bukan gua," ucap Didi lagi lalu ikut merebahkan tubuhnya ke belakang.
"Gua rasa, Dela nggak sayang sama gua."
Didi tergelak mendengar keluh kesah sahabatnya.
"Nyet, Nyet. Pas udah nikah, elu mikir begitu. Lu kira Dela bakalan mau nikah ma elu kalo dia kaga cinta, kaga sayang?!"
Apa yang Didi ucapkan ada benarnya. Tapi ....
"Trus kalo dia cinta sama gua kalo dia sayang sama gua, kenapa dia selalu nyari-nyari alesan pas gua mau, mau ...." Ilham tergagap.
"Mau nyoblos," ucap si Didi memotong ucapan Ilham dengan bahasa nyelenehnya.
"Hemmm." Ilham berdehem. Matanya menatap lurus ke langit-langit rumah Didi yang berwarna putih.
Didi tergelak lagi, tawanya pecah melebihi tawanya yang tadi.
"Jadi seminggu nikah, tapi elu belum sama sekali?" Ilham menggeleng.
"Bwahahah ...." Didi semakin terbahak.
"Anying. Malah diketawain." Ilham melempar stik yang ada di dekat tangannya. Kali ini, Ilham dengan sigap menangkap benda yang dilemparkan Ilham.
"Ya elu sendiri kan yang bilang, kalo Dela SELALU nolak elu." Didi memakai isyarat dengan dua jarinya saat mengucapkan kata selalu.
"Gini, ya. Elu emang mesti belajar naklukin betina tuh sama gua." Didi duduk, bersila menghadap pada Ilham yang masih saja berbantalkan tangannya sendiri memandang ke atas langit-langit.
"Bangun, Nyet." Kali ini si Didi yang memukul perut Ilham dengan stik yang dia pegang.
Dua lelaki itu berhadapan, satu berperan sebagai guru. Dan satu lagi sebagai murid.
"Gini, Il. Hampir semua betina tuh emang mengedepankan rasa malu. Jadi pas elu ajak, mereka sok-sokan nolak. Sok-sokan ga mau." Si guru Didi memulai petuahnya yang menurut Ilham sedikit tak masuk di akal sehatnya.
Memangnya ayam, dikata betina.
"Elu dengerin bener-bener kalo guru lu lagi ngasih ilmu." Didi memotong petuahnya sendiri.
"Buktinya nih, bini gua. Areta itu pas awal-awal gua ajak, dia tuh emang nolak. Ya, gua ga paksa, dong. Gua maklumi, karena emang begitu kata bokap gua. Mesti diambil hatinya dulu biar mereka mau kita apain aja." Untuk yang ini, Ilham percaya. Karena seumur kenal Didi, lelaki itu tak pernah bercerita bohong apalagi tentang dirinya sendiri.
Untuk perkara mengambil hati doi, Ilham rasa dia sudah melakukannya. Dia sudah membawa Dela pulang ke kampungnya dan menjenguk ambunya yang benar-benar bagai pinang di belah dua dengan neneknya.
"Nah, Areta dulu gua ajak belanja seharian. Eh, pas gua ajak dia, itu bini gua bilang capek. a*u ga tuh?!"
Jadi tak cuma Ilham yang mengalami ini.
"Ini cerita elu beneran, kan? Ga ngadi-ngadi?!" Ilham menyela.
Hampir saja dia mendapat jitakan di kepalanya dari Didi.
"Iyalah, beneran. Makanya gua bilang elu mesti berguru sama gua."
"Nah, pas hari ke tiga, nih. Gua malas-malesan di hotel. Secara dua hari jadi pengantin tapi belum nyicip apa-apa." Didi melanjutkan ceritanya.
"Areta tiba-tiba nyemperin gua. Dia ngajak gua pulang padahal waktu itu belum sampai tujuh hari dari tiket bukan madu yang dikasih bokap gua."
"Gua Gedeg, dong. Ya udah gua serang doi waktu itu," ungkap Didi mengakhiri ceritanya.
Hari itu menjadi hari paling bersejarah dalam hidup Didi. Karena seumur menjadi laki-laki, dia belum pernah mendapat penolakan apalagi saat wanitanya dia ajak mengacak-acak ranjang.
Didi yang sejak sebulan sebelum pernikahan, dia memutuskan semua selingkuhannya. Dia ingin setia dan hanya memiliki satu wanita.
Areta adalah satu-satunya wanita yang berhasil menaklukkan Didi. Ibarat buaya, Didi sudah ketemu pawangnya waktu itu.
Dia berharap dengan menikahi Reta, dia bisa mendapatkan Areta seutuhnya, tak hanya hatinya tapi juga tubuh moleknya.
Tapi begitulah, seperti yang lelaki itu sudah ceritakan pada Ilham, ternyata Areta menolaknya untuk dia sentuh bahkan hingga hari kedua pernikahan mereka.
Barulah di hari ketiga, Didi yang sedang kacau pikirannya itu dibuat kesal karena Reta tiba-tiba merengek meminta pulang.
Didi tersenyum, senyum menipu agar wanitanya berpikir Didi mau dia ajak pulang. Didi menggandeng tangan Reta masuk ke dalam kamarnya yang masih seperti hari-hari sebelumnya, penuh kelopak bunga, bedanya kelopak-kelopak itu sudah layu.
Begitu mereka masuk, Didi langsung menyerang Reta. Menekannya ke dinding dan menyerbu bibirnya.
Reta sempat memberontak saat tangan Didi bergerak liar di dalam helaian bajunya. Apalagi saat Didi berhasil melucuti pakaian yang Reta kenakan.
Saat tubuh Dela hanya tertutup kain dengan dua tonjolan di dadanya, baru lah Didi mendorong Reta ke ranjang.
"Oke oke, fine. Aku nyerah, tapi pelan-pelan, pliiis ...." Reta menyerah dan pada akhirnya mau melanjutkan ke step selanjutnya. Jeans yang dia kenakan pun dengan suka rela dia buka untuk memuluskan langkah demi langkah suaminya.
"Aku janji bakal pelan-pelan," ucap Didi lembut, sembari mencium kening perempuan yang sudah berhasil membuat dia jatuh cinta.
"Jadi awalnya, gua mau paksa dia. Eh, tapi baru gua paksa lepas baju, doi udah nyerah duluan, ya udah .... Gua mainnya pelan-pelan, sesuai permintaan tuan Puteri," tutup Didi akhirnya.
Sayangnya, saat Reta sudah melahirkan satu anak untuknya, kepuasan itu tidak lagi dia dapatkan dari Reta. Permainan cinta mereka bagai jalan tol yang bagi Didi tak lagi panas dan menantang.
"Lalu?"
"Lalu apa? Ya gua sama Reta ga jadi balik. Malah dia yang minta bulan madunya diperpanjang sampai dua Minggu." Didi menjawab dengan bangganya.
"Jadi cewek tuh kalo belum ngerasain emang gitu, takutnya mereka itu kayak ketemu setan naga." Didi lagi-lagi membuat perumpamaan nyeleneh.
"Tapi emang wajar sih, cewek takut pas mau begituan pertama kali, karena itunya ampe berdarah," cerita Didi lagi.
"Ha?" Ilham baru tahu. Apa itu sebabnya Dela selalu menghindar dan pada akhirnya terang-terangan menolaknya.
"Jangan ha ho doang, lu. Ayo makan, gua mau tidur soalnya abis ini." Didi bangkit dan langsung berjalan ke dapur.
Ilham ikut bangkit dan menyusul ke sana.
"Ngomong-ngomong, elu jangan niru yang di video si David. Karena kan elu sama Dela masih pemula banget." Didi memberi nasehat. Ternyata dia sudah membaca pesan di grub itu.
Wajar saja kalau dia langsung nebak soal Ilham tadi.
"Yang kayak gitu, tuh kalo udah mahir. Kayak gua." Didi berucap dengan bangganya.
"Iyee ... Yang udah ahli." Ilham malas sekali kalau harus berdebat soal keahlian. Karena dia akui, untuk yang satu itu Ilham memang belum pernah mempraktekkannya. Tapi jangan salah, dia cukup hafal berbagai gaya dan tempat-tempat yang biasa menjadi tempat berburu kenikmatan itu. Karena apa? Hal yang Ilham sukai saat ngerem di kamarnya setiap hari Minggu adalah nonton apa yang sering dipraktekkan ke empat teman kantornya.
Saat menunggu Didi memasak mie instan, ponsel Ilham berdering.
Siapa lagi kalau bukan Dela yang menelepon. Tapi Ilham tidak menerima panggilan itu. Dia abaikan telepon istrinya untuk memastikan apakah Dela-nya akan khawatir atau tidak kalau dia tidak di rumah.
"Kenapa ga lu angkat, Nyet? Dela, ya?" Didi meniriskan mie yang sudah matang itu dan menuangnya ke piring yang sudah berisi bumbu, kecap, saos dan bawang goreng.
"Hmmm ...."
"Elu angkat, bego ... Dia nelpon elu pasti karena dia khawatir." Kalimat Didi menyadarkan Ilham.
"Nih, lu makan, abis itu pulang." Didi memberikan satu piring yang sudah terisi dengan mie goreng kepada Ilham.
"Elu ngusir gua?"
"Iya, biar elu bisa masuk surga malam ini." Didi mengambil tempat di kursi yang ada di sebelah Ilham.
"Elu apa gua?" Ilham tahu betul sahabatnya ini tak pernah bisa berpuasa walau hanya semalam, jadi sudah pasti dia sedang mengundang pemilik surga lain selain surga istrinya.
"Haha ... Kita berdua," sahut Didi lalu kemudian menyuapkan mie ke dalam mulutnya.
"Dela itu sayang sama elu, Nyet. Gua bisa liat kok dari cara dia natap elu. Lagi pula, kalo dia udah neleponin elu pas elu ga ada di rumah, itu berarti dia khawatir. Ini kesempatan elu, Bro." Didi memberi nasehat meski dengan mulut penuh.
Bersamaan dengan nasehat itu, ponsel Ilham kembali berbunyi.
"Tuh ... Kalo ga sayang, ga mungkin maksa ditelepon." Didi memandang layar ponsel Ilham yang di sana tertera nama Dela-ku.
"Angkat, begooo ...." Didi berucap dengan sedikit berteriak saat melihat Ilham seolah masih enggan menerima telepon itu.
"Iya, nanti gua telepon balik pas di jalan," ucap Ilham melanjutkan makannya tanpa sedikitpun terganggu dengan dering ponselnya yang terus berbunyi tanpa henti.