Pembukaan sekaligus pemanasan sudah selesai, tangan Ilham mulai bergerak nakal, masuk ke balik baju Dela yang kedodoran.
Punggung istrinya sangat mulus terasa di permukaan tangannya.
Dengan masih memagut bibir Dela, Ilham perlahan merebahkan tubuh sang istri di sofa. Dan sekarang, tangannya mulai berpindah ke depan, menyusuri perut rata istrinya yang lagi, lembut dan mulus terasa di permukaan kulitnya.
Tangan Ilham memang tak bisa diam, seolah tergerak untuk naik dan semakin ke atas.
Ghairah nya semakin memburu bersama dengan satu demi satu tangannya yang semakin dekat dengan bukit indah yang tersembunyi di balik baju yang dipakai Dela.
Bunyi penyatuan bibir mereka seolah menjadi sangat nyaring sebab hanya mereka berdua yang ada di dalam rumah. Keadaan rumah yang sepi membuat Ilham bisa leluasa menyerang saat dia baru datang tadi.
Sekarang, ga boleh ada kata gagal.
Ilham harus bisa masuk dan merasakan seperti apa nikmat surga yang disediakan dunia untuknya.
Decapan bibir mereka menjadi nada yang terasa merdu dan indah, sangat pas menjadi soundtrack perjalanan tangan Ilham yang kini semakin naik untuk mendaki bukit di atas sana.
Bug ... Dela mendorong Ilham, hingga tubuh suaminya jatuh terjerembab ke lantai. Tepat, saat tangan Ilham baru menyentuh gundukan bukit yang bertahta di d**a istrinya.
"Kenapa?"
Dela bangkit, dia tak menjawab pertanyaan Ilham dan langsung masuk ke kamarnya.
Jangan ditanya bagaimana buruknya kondisi Ilham. Wajahnya melongo sebab baru sedikit dia mencapai pintu Nikmat itu, dia langsung terhempas dan jatuh.
Ilham bangkit, menyusul istrinya yang ternyata masuk ke kamar mandi.
Ilham mencoba berbaik sangka, mungkin istrinya malu kalau harus melayani Ilham dengan keringat yang sebenarnya sama sekali bukanlah masalah bagi Ilham.
Lelaki itu menunggu dengan cemas, takut si pendekar tempur tertidur, Ilham lantas mengambil ponselnya.
Dia masuk ke grub chat yang hanya berisikan empat orang itu dan meng-klik link yang ada di bawah foto mereka berempat.
Server sedang diperbaiki.
Begitu yang muncul setelah Ilham mengklik link nya.
Karena kepalang tanggung, Ilham lantas mengetik pesan, "Oey, itu link di atas kenapa udah ga bisa?"
David mengetik ....
"Buset ... Dateng-dateng nanyain link. Ketahuan kalo elu sering buka link itu." Pesan David yang diikuti emoticon tertawa.
Joni ikut membalas dengan emoticon yang sama. "Jangan elu godain, Nyet. Dia pengantin baru, pasti mau nyoba sensasi yang beda-beda." bunyi pesan Joni.
"Kasih yang baru, Nyet." Joni lagi.
"Elu aja, gua lagi repot bantuin bini gua." David.
Bini dari mana coba? menikah aja belum.
"Gua lagi momong. Link nya juga ga ada di gua." Joni men-tag Didi karena biasanya bocah itu yang selalu memperbarui link nya.
"Btw, elu udah sejauh mana mainnya, Il?" Bunyi pesan David.
Haih ... Bukan dapet link, malah dapet gojlokan.
"Gua udah ga ada. Kalo mau, gua kirim videonya langsung." Dari David lagi.
Tak sia-sia Ilham menahan diri, karena biasanya saat dia menjadi bahan Bullyan seperti sekarang, dia akan langsung mengetik bahwa Ilham meninggalkan pesan.
"Ya udah, cepet kirim," kata Ilham dalam pesannya.
"Buru-buru amat, Bro. Sabar ... Gua ada yang baru banget, dapet dari ipar gua." David yang membalas.
Ilham seperti biasa, dia membaca doang tak berminat sedikitpun untuk membalas.
Sementara Joni, dia mengatakan lagi momong, pantesan sudah Ngilang itu bocah. Tapi anak siapa yang dia momong?
Pasti anak tetangga yang tempo hari baru pindah itu. Dia adalah janda beranak satu, dan Joni tengah menjalankan misi untuk menaklukkan si janda cantik itu.
"Jangan di read doang, atau nggak gua kirim, nih!" ancam si David dalam pesannya.
Padahal sebenarnya video itu sudah dikirim tapi masih loading.
Huft ... Kalau bukan demi kelanjutan perjalanan indah tadi, mungkin Ilham akan mengabaikan pesan beruntun dari David.
"Iya udah, kirim. Elu bawel amat kek emak gw." Begitu Ilham membalas.
"Udah tuh, tapi masih load. Biasa akhir bulan, paketan numpang WiFi tetangga." Pesan David diikuti emoticon tertawa.
Memalukan sekali tingkah teman Ilham yang satu ini. Menikah saja belum, tapi baru beli paketan saja sudah tak mampu di akhir bulan.
"Gegara kebanyakan jajan. coba elu langsung nikah, Jan kawin Mulu." Ilham membalas. dia tak sabar menunggu video yang belum juga muncul di ponselnya.
Bahkan cuma mau nonton saja, Ilham masih harus menunggu.
Mungkin untuk perkara satu ini, Ilham memang harus banyak bersabar.
Tak sampai lima menit, video berdurasi tiga puluh enam menit itu masuk dan sudah terdownload otomatis dalam ponsel Ilham.
Hasrat Ilham masih menggebu, apalagi sekarang semerbak wangi shampo menguar dari dalam kamar mandi.
Itu wangi istrinya yang seringkali membuat Ilham terpancing untuk menikmati aromanya langsung di tubuh penggunanya.
Ilham baru saja akan membuka video kiriman David, tapi karena ternyata Dela sudah selesai mandi, dia urung membuka video itu.
Ilham menutup ponselnya, dan bangkit menghampiri Dela.
Ilham sudah tak sabar untuk melanjutkan penjelajahan nikmat yang tertunda tadi.
"Jangan sekarang, Mas. Aku lagi ga mood," ucap Dela tanpa menatap ke arah Ilham. Dia menatap ke lantai, menghindari tatapan Ilham yang sekarang sudah tak karuan.
Tubuh Ilham seolah terhempas masuk ke dalam jurang tanpa dasar.
Apa barusan Dela menolaknya?
Ya, memang sejak pertama kali meminta jatah, Dela selalu saja menghindar. Apa maksudnya ini semua?
"Tapi, Del ... kita kan udah ...." Belum sempat Ilham menyelesaikan kalimatnya, Dela memotongnya lebih dulu, "aku ga bisa. jangan paksa aku!"
Tak ingin memaksakan kehendak, Ilham lantas bangkit dan keluar kamar. Mendengar kalimat jangan paksa aku yang keluar dari mulut istrinya, entah kenapa hati Ilham mencelos sakit. Dia belum melakukan pemaksaan loh, padahal.
Dia tak ingin melakukan sesuatu pada Dela, apalagi istrinya jelas-jelas sudah menolaknya untuk itu.
Ilham mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas lantai. Mungkin saat dia dan Dela sibuk memulai pemanasan tadi, benda itu jatuh dari tangan Ilham.
Lelaki itu keluar dari rumah, sama sekali dia tak marah. Hanya saja dia sedikit kesal karena ternyata waktu satu minggu ditambah satu lagi hari ini, ternyata belum cukup untuk membuat Dela siap diajak berburu kenikmatan olehnya.
Ilham menyalakan starter dan melajukan mobilnya keluar dari halaman rumahnya.
Tujuannya adalah rumah Didi. Rumah yang tadi dia tuju tapi dia memutuskan untuk berbalik karena sebuah hasrat yang lebih menguasai.
Ilham mengemudi dengan memutar adegan saat tadi tangannya sudah hampir menyentuh puncak bukit milik Dela.
Tapi semua itu tiba-tiba lenyap, diusir oleh dering ponselnya yang dia letakkan dalam dashboard.
Awalnya Ilham enggan mengambil ponselnya, sebab dia pikir itu adalah istrinya yang mau bertanya Ilham hendak ke mana.
Tapi karena ponsel itu terus berdering, Ilham akhirnya menyerah, dia mengambil ponselnya, baru lah setelah melihat nama Didi di sana, Ilham menerima telepon itu.
"Elu di mana? Gua udah nyampe dari tadi, elu kaga nongol nongol," protes Didi begitu telepon tersambung dengan Ilham.
"Gua kejebak macet. Ini udah mau masuk gang rumah lu," sahut Ilham. Suaranya terdengar tak bersemangat, dan itu tentu ditangkap oleh Didi selaku sahabat Ilham.
Ya, mereka berteman sudah dari saat masih SMA. Jadi wajar, kalau Didi bisa menangkap sinyal kacau dari nada suara sahabatnya.
"Oke. Gua udah ready buat dengerin curahan hati pengantin baru." Didi berucap lalu menutup telepon secara sepihak.
Sengaja Didi berucap demikian, agar nanti saat Ilham sampai di rumahnya, sahabatnya itu tak perlu sungkan atau masih berpikir ribuan kali untuk bercerita apa yang terjadi padanya. karena meski Ilham tak memberitahu bahwa dia punya masalah, Didi sudah lebih dulu mengetahuinya.
Didi bukan cenayang, tapi hubungannya yang teramat dekat dengan Ilham, membuatnya bisa membaca bahasa tubuh dan raut wajah sahabatnya. tidak hanya Itu, Didi juga bisa tahu bahwa Ilham punya masalah hanya dengan mendengar suaranya saja.
Benar saja, tak berapa lama, mobil Ilham sudah tiba. Ilham turun dengan wajah yang jauh lebih bersih dari sebelumnya. Tapi meski wajahnya tak se kusam sebelumnya, wajah sahabat Didi itu terlihat tak bersemangat hari ini.
Didi langsung menyambutnya dengan merentangkan tangan, bermaksud menggoda sahabatnya yang datang dengan membawa beban masalah yang belum Didi tahu apa.
"Gila lu." Ilham memukul tangan Didi dan langsung masuk seolah di rumah sendiri.
"Udah dari dulu, kan," sahut Didi menyusul Ilham masuk ke dalam rumahnya.
Dua lelaki itu lantas duduk lesehan di atas karpet depan TV. Ada beberapa bungkus camilan berserakan di sana.
"Bini elu pasti ga ada," tebak Ilham begitu melihat spot favoritnya di rumah sahabatnya yang kotor berantakan.
"Hihi, tau aja lu." Didi langsung duduk, menyambar stick PS yang ada di sana. Sedikitpun dia tak merasa risih meski di lantai ada beberapa sampah bekas dia nyemil dengan dua kawan gilanya tadi pagi.
Ya, sebab kantor yang tiba-tiba ditutup tadi pagi, Didi mengajak dua kawan gilanya untuk menghabiskan waktu di rumahnya.
Kebetulan, Areta, istri Didi sedang mengunjungi orang tuanya di Bandung. Jadi memang sejak kemaren Didi hanya tinggal sendiri di rumahnya.
"Kapan bini lu balik?" tanya Ilham sembari ikut duduk dan mengambil PS yang satu lagi.
"Katanya sih, besok. Ngapa? Jan bilang elu pen nginep di sini. Gua ga nampung laki orang di mari." Didi langsung menebak. Matanya terus tertuju ke layar game yang makin sengit karena sejak dulu Ilham memang lawannya yang tersulit.
Haish ... Padahal emang gitu niat Ilham sekarang.
Sejujurnya, Ilham sendiri tak mau seperti ini, apalagi umur pernikahannya baru bisa dihitung dengan jari.
Tapi, mendapat penolakan dari Dela tadi, rasanya tak hanya menyakitkan senjata tempurnya, tapi juga hatinya. Rasanya untuk yang satu itu, Ilham dibuat merasa seakan Dela tidak benar-benar mencintainya.
Dan Ilham butuh waktu untuk menenangkan pikirannya agar tak terlalu jauh menduga-duga.