Pembukaan

1238 Kata
Mobil Ilham masuk ke halaman rumahnya, rupanya dia mengantarkan Dela persis sampai di depan rumah. Padahal Dela sudah meminta turun saat mobil Ilham akan masuk gerbang komplek. Biasa ... Pengantin baru, Ilham ingin memastikan si tuan Puteri sampai dengan selamat. Kalau perlu, dia akan mengantarkan Dela masuk ke dalam. Syukur syukur kalau bisa dapat jatah sebelum pergi. Tapi tentu itu hanyalah khayalan tak berarti. “Del ...” Ilham meraih tangan istrinya saat Dela akan membuka pintu mobilnya. “Makasih ya ....” Udah ngizinin aku ke rumah Didi. Dela menatap suaminya, menganggukkan kepala dengan disertai senyum yang hampir saja membuat Ilham lupa kalau dia sudah berjanji akan ke rumah Didi. Heuhhh ... hampir saja Ilham akan ikut masuk karena dimabukkan oleh senyum manis istrinya. Bayangan yang tadi nyaris dia realisasikan, tapi dia keburu tersadar sebab suara istrinya. “Kamu hati-hati ya, Mas.” Ilham mengangguk, lalu Dela akan membuka pintu tapi lagi-lagi ditahan tangannya oleh Ilham. “Sun dulu, dong.” Ilham memiringkan kepalanya memberikan akses untuk Dela bisa mendaratkan ciuman di pipinya. Cup ... “Udah sana buruan jalan. Kasian loh, Didi nunggu kelamaan.” Ah ... Kalau saja Ilham tidak terlanjur ngasih tahu kalau akan ke rumah Didi tadi, sudah tentu dia akan memilih tinggal di rumah, berdua dengan Dela. Semakin banyak waktu berdua, maka akan semakin baik tentunya. “Mas ... Kok malah bengong, sih?” Dela melihat suaminya melamun, entah apa yang dia pikirkan. “Ah, ya. Mas tuh sebenernya ga pengen ke mana-mana, pengennya di sini aja temenin kamu.” Ilham menatap Dela. Ingin sekali dia di rumah saja, karena barangkali dengan terus bersama Dela di rumah mungkin dia bisa dapat jatah. Sungguh memalukan! Sudah hari ke delapan pernikahan mereka, tapi Ilham belum melakukan tugasnya memecahkan misteri kenikmatan yang berada pada diri Dela. “Loh, Mas ini gimana sih, katanya tadi mau ke rumah Didi.” Dela sedikit heran, suaminya ini gampang sekali berubah pikiran. “Mas Ilham tuh kalo udah bikin janji, harus ditepati. Kasian Didi-nya, ntar dia nungguin.” Ah, paling-paling nunggunya juga sambil bikin bininya merem melek di atas kasur. Arkh ... Ilham, Ilham! Kenapa setelah nikah, pikiran Lo jadi ga jauh dari s**********n. “Eng, anu, eng ....” Ada yang lebih Ilham inginkan sekarang, berdua dan menikmati surga dunia dalam rumahnya bersama Dela. Cup ... “Ang eng Mulu, ga gelem jalan.” Dela memberi kecupan di bibir Ilham, barangkali suaminya ini banyak pikiran dan memang butuh melupakannya sejenak dengan bersama teman-temannya. Aahh ... Jadi malah tambah pengen di rumah aja. “Oke, Mas jalan dulu, ya. Kamu baik-baik di rumah, kalo ada apa-apa, telepon mas," ucap Ilham akhirnya. Begitu Dela turun, Ilham langsung menancap gas menuju rumah temannya, Didi. Akhirnya, Ilham memutuskan untuk dia pergi sekarang, meski sebetulnya dia ingin mengeram di rumah sampai kenikmatan surga itu benar-benar dia rengkuh dan dia rasakan. Huft ... Baiklah! Jernihkan pikiran lo, di depan ada es kelapa. Beli dulu! lalu habiskan di tempat. Ilham menepikan mobilnya sebentar, membeli es kelapa lalu menenggaknya sampai tak bersisa. "Haus, Mas?" Penjual itu sedikit heran dengan aksi pembelinya. "Eheheh, iya nih, Pak. AC mobil saya mati," kilahnya. Padahal AC mobilnya sama sekali tak bermasalah. malah otak Ilham yang perlu di service karena sejak mengucapkan Ijab qobul, pikirannya selalu saja jauh dari kata bersih. Setelah membayar, Ilham tak langsung masuk ke dalam mobilnya, terlebih dahulu dia mengeluarkan ponselnya, menelepon Didi. "Elu ngapain, sih, Bro? Ganggu guah tau nggak akhh!" Suara Didi seperti orang kegenjet pintu. Ditekan dan sedikit mendesah. Jangan bilang si libido ini sedang main dan makan jatah di luar. "Elu udah di rumah belum, sih? Gua udah otewe, nih." Ilham memberitahu. "Auh ... Di situ aja, Sayang. Jangan ubah-ubah lagiih." "Oey, lu denger gua nggak?" Ilham semakin yakin si Didi Fuadi ini sedang main kesenangannya. "Iyaa ... Ini gua udah mau selesai, kok." Didi menjawab dengan suara yang diselingi desahan. Kampret! Ilham jadi tegang. "Jangan bilang kalo tadi elu ke restoran itu karena ketemu lawan main elu," tebak Ilham. Suaranya dibuat se biasa mungkin, karena takut Didi tahu kalo dia ikut tegang karena ulahnya. Ternyata dugaan Ilham tak salah! sedikitpun pemikirannya tentang Didi tidak salah. Lantas, dia berjalan dan lalu masuk ke dalam mobilnya. Ngarepnya sih, masuk surga dia, wakakak. Dasar sial! Gua bela-belain ninggalin bini gua, dia malah enak-enakan makan siang pakek tambahan bonus masuk surga. "Bacot lu. Ntar kabari aja kalo elu udah sampe." Didi menutup telepon. Sepertinya, dia terganggu dengan teleponku. Berarti tak hanya di xxx.com saja yang terlihat enak, itu aslinya emang beneran maknyus. Ilham menyalakan mesin mobilnya dan berbalik arah. Dia akan pulang, biarlah si Didi rese itu nungguin. Toh, salahnya juga bikin otak Ilham menjadi kotor lagi. Mana ga cuma membuat otak Ilham kotor, dia juga membangunkan bapa conda yang sedang tidur. Padahal tadi sudah sempat bersih pakai es kelapa. Dan sekarang, memakai Es kelapa tak akan mempan untuk menjernihkan Pikirannya. Ilham butuh yang lebih dari es kelapa untuk kembali membersihkannya. Satu-satunya cara adalah mendatangi istrinya dan membawanya serta menikmati kenikmatan surga dunia yang hanya Ilham lihat di situs yang ada di bio grub perkasa, grub yang hanya berisikan empat orang, Ilham dan tiga orang kawan kantornya. Dela baru selesai membersihkan rumah, dia sempatkan juga untuk mencuci beras dan memasukkannya ke dalam magic com, untuk perkara lauknya, nanti setelah ashar biasanya ada ibu-ibu pedagang sayur yang lewat. Brak ... Ilham masuk tanpa mengetuknya terlebih dahulu. "Loh, Mas Ilham udah pulang? Kok sebentar ...." Belum selesai Dela bicara, bibirnya sudah dibungkam Ilham dengan ciuman dadakan. Serangan itu membuat Dela terdorong mundur hingga sampai di meja ruang keluarga. Meja dengan sofa yang biasa dipakai Ilham dan Dela menonton televisi di sana kini menjadi saksi pertemuan dua benda kenyal yang sedang reunian. Iya, kan mereka udah pernah ketemu pas di kampung Dela kemaren. Dela menepuk pundak suaminya saat dia merasa pasokan oksigen dalam paru-parunya sudah habis. "Kamu ...." belum selesai Dela bicara, Bibirnya kembali dibungkam oleh sang suami. Kali ini ritmenya lebih cepat. Dan Ilham menekan miliknya pada Dela. "Ini udah hari ke delapan pernikahan kita. Aku mau itu, Del." Ilham memimpin jalan agar Dela bisa duduk dengan nyaman di sofa. Setelahnya, Ilham menyusuri ceruk leher istrinya yang saat bersih-bersih tadi, rambutnya disanggul ke atas. "Aku keringetan, Mas, abis beres-beres rumah." Ilham tak menjawab, mau Dela dalam kondisi seperti apapun, Ilham tak masalah. Dia menyerbu bibir istrinya lagi sembari tangannya tak bisa diam di tempat. Baju santai longgar yang Dela kenakan, membuat tangan Ilham bebas masuk ke baliknya. "Mas ... Aku ga bisa sekarang." Dela menahan tangan suaminya. Ilham tak mendengarkan. Dia sudah cukup sabar menunggu hingga delapan hari. Lalu apa lagi yang harus dia tunggu? "Kenapa?" Ilham menghentikan aksinya. Wajahnya kusut tampak frustasi. "Badan aku lengket, ga enak banget, Mas." Oh, Astaga ... Rasanya Ilham ingin langsung memakan Dela sekarang. Bahkan keringat Dela membuat Ilham menjadi semakin bernafsu. "Nanti kan semuanya dibuka, badan kamu bakal kena angin, kringet nya juga bakal ilang sendiri kalo udah dibuka. Lagian, kamu emang bakalan keringetan nanti, Sayang." Ilham masih membujuk. Wajah istrinya dia kunci menggunakan kedua tangannya. Dela menatap lekat bulatan gelap milik suaminya. Hingga tanpa dia sadari, bibir Ilham sudah kembali meraup lembut bibirnya. Keduanya saling memagut dengan tangan Dela yang dibawa Ilham untuk melingkari pinggangnya, maksud Ilham agar di antara dia dan Dela tak ada jarak sedikitpun. Pembukaan sekaligus pemanasan resmi dibuka. Ilham seperti mendapat lampu hijau saat Dela membiarkan dirinya menyusuri bagian dalam mulutnya dengan lidahnya. Belah duren euyy!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN