Pada akhirnya, Dela memutuskan untuk bercerita. Itupun karena Ilham terus mengatakan bahwa dia tak ingin terus menduga-duga sesuatu yang belum tentu benar.
“Apapun yang kamu ceritain, tentu itu yang aku percaya. Kamu istriku, Del.” Kalimat itu begitu meneduhkan bagi Dela. Seolah menyembuhkan kegalauan yang sejak tadi mengusik di hatinya.
Ternyata suaminya jauh berbeda dari sang ambu. mungkin dia yang memiliki kasih sayang dan cinta yang tulus.
Dela pun menceritakan bahwa Pak Rido tadi hendak berbuat kurang ajar, “itu sebabnya kancing baju aku lepas tadi. Dan karena aku ga bisa kemana-mana, jadinya aku melawan. Ya, seenggaknya, buat melindungi diri sendiri aja, Mas. Aku ga ada niat ngelukain Pak Rido, kok.” Dela menutup ceritanya.
Ilham menjadi pendengar yang baik dalam hal ini. Dia memang sama sekali belum tahu siapa dan seperti apa watak Pak Rido. Tapi melihat pengalaman teman-temannya yang sudah banyak tahu dan kenal Dela, hampir semua dari teman-teman kantornya mengatakan bahwa Dela memang sangat menggoda.
Mungkin Pak Rido juga sudah tergoda oleh kecantikan Dela dan dia tak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Ilham lantas memeluk istrinya, “maafin aku ya, tadi udah mikir macem-macem. Aku percaya kok, kamu ga bakalan aneh-aneh. Lagi pula, wajar lagi Pak Rido kek gitu, karena istri aku ini memang cantik dan sangat menarik.” Ilham mengganti kata menggoda dengan kalimat yang tidak akan menyinggung perasaan Dela.
Ilham tahu betul bahwa istrinya ini tak suka kalau disebut menggoda. Dia tak pernah bermaksud menggoda lelaki manapun dengan penampilannya.
Sekarang, sepasang suami istri itu saling memeluk.
Wangi tubuh Dela membuat Ilham mulai berfantasi. Bolehkah kalau siang ini dia meminta jatah malam pertamanya yang selalu tertunda?
Tentu boleh, Dela, kan sudah selesai haid. Otak manusiawi miliknya menjawab.
“Del, tadi kamu sholat, itu kamu ... Udah, kan?” Ilham memainkan rambut Dela yang tadi bergerak di antara dua lubang hidungnya. Rambut yang bagi Ilham menjadi pemancing sesuatu yang hampir saja Ilham lupakan.
Dela melepaskan pelukannya, dia sedikit kurang paham dengan pertanyaan suaminya barusan.
“Iya, udah. Makanya ini bisa pelukan,” sahut Dela. Dia pikir Ilham menanyakan bahwa Dela sudah selesai sholat.
Padahal maksud Ilham, Dela udah selesai haidnya, itu maksud pertanyaan Ilham tadi.
“Mas udah boleh, anu kan, Del? Masa dari saat hari pertama nikah kita belum.” Ilham menatap wajah istrinya lekat.
Yang ditatap mengalihkan pandangan ke lain arah, entah kenapa mata suaminya membuat debaran jantungnya menjadi tak menentu. Dan kalimat yang Ilham ucapkan, justru membuat Dela kembali didera gelisah.
Perasaan ini persis seperti ketika Pak Rido mengunci pintu ruangannya tadi pagi.
Dela bangkit, “Mas Ilham katanya mau ajak aku makan di luar.”
Suasana langsung berubah seketika.
Huft ... Ilham memaklumi, mungkin istrinya masih butuh waktu, karena kata Didi, perempuan yang akan melepaskan keperawanannya itu hampir semuanya merasa takut. Mungkin itu yang Dela rasakan saat ini.
Keduanya lantas bersiap untuk pergi makan siang berdua di luar. Makan siang romantis tentunya.
Ilham perlu mencari restoran yang masih beroperasi di masa pandemi seperti sekarang.
Beruntung, tak semua restoran ditutup. Bahkan hampir semua restoran yang biasa Ilham kunjungi ternyata masih beroperasi. Hanya saja penataan kursi dan mejanya menjadi lebih berjarak.
Di pintu masuk depan restoran juga terdapat banner besar bergambar masker dan dua orang yang saling berjauhan. Di sana tertulis, “area wajib masker.” Di bawahnya tertulis, “patuhi prokes. Jaga jarak untuk menjaga yang tersayang.”
Senyum terlukis di wajah Ilham membaca kalimat terakhir.
Mereka memesan menu makan siang seperti yang biasa mereka pesan saat datang ke restoran ini.
“Del, maafin aku, ya.” Ilham menggenggam tangan istrinya sembari menatap dalam maniak mata istrinya.
“Untuk?”
“Aku udah batalin soal pengajian itu," ucap Ilham lagi.
Dela mengerti sekarang, kenapa Mas Ilham nya meminta maaf.
Dela tersenyum sembari menganggukkan kepala.
Sejak Ilham mengatakan bahwa dia percaya pada Dela, sejak itu pula, Dela sudah memaafkan Ilham.
Kepercayaan yang Ilham berikan untuknya, adalah bentuk kasih sayang yang Dela terima secara nyata.
Itu berbeda jauh dari yang Dela terima dari ambunya dulu.
Ah, tapi sudahlah ... Dela tak ingin mengenang yang buruk dan menyakitkan. Sebab apa?
Itu hanya akan merusak moodnya.
Pesanan datang, dan Dela menyantapnya, begitupun dengan Ilham.
Saat keduanya telah hampir akan selesai. Sebuah pesan masuk di ponsel Ilham.
Lelaki itu segera menyelesaikan makannya lalu mengeluarkan benda pipih itu dari saku celananya.
Dari Didi, “gua ada di arah jam tiga.” Itu bunyi pesan singkat dari Didi yang dikirim di aplikasi hijau.
Ilham menoleh ke arah jam tiga yang cukup berjarak dari meja tempat Ilham dan Dela duduk saat ini.
“Ngapain? Ga ngantor?” Ilham memberi pesan balasan.
“Kaga. Ngantor tiap hari, ga kaya-kaya gua. Gini-gini doang idup gua.” Balasan dari Didi masuk, dan iru sukses membuat Ilham terkekeh membacanya.
“Kamu ngeluh apa curhat?!” ledek Ilham dalam pesan balasannya.
“Kenapa, Mas?” Dela yang melihat Ilham tersenyum-senyum berbalas pesan lantas menegur suaminya.
“Ini, temen kantor Mas, dia juga ada di sini. Tuh ... Ada di arah angka tiga,” ucap Ilham sembari memberi kode dengan matanya, menunjuk ke arah meja di mana Didi berada.
Dela lantas menoleh, di sana terlihat seorang lelaki yang tampak tersenyum-senyum juga dengan ponselnya. Mungkin karena dia membaca pesan balasan dari Ilham.
“Kalian akrab banget?" tanya Dela. Dan itu dijawab dengan anggukan oleh Ilham
"Ya udah Mas ke sana aja, udah kelar kan makannya?” tanya Dela lagi setelah dia mengakhiri makannya sendiri dengan jus jeruk yang sudah dia pesan tadi.
“Kamu?” tentu Ilham tak kan pernah mau meninggalkan Dela cuma demi bisa mengobrol dengan teman kantornya itu.
“Aku mau pulang lah, Mas. Mas Ilham ngobrol aja ke sana. Udah seminggu ga ngantor, giliran masa cuti abis, malah PPKM." Apa yang Dela ucapkan semuanya benar, Ilham ingin sekali mengobrol meski sebentar, tapi tidak! Ilham tak pernah mau kalau harus me-nomer duakan istrinya dibandingkan teman-temannya.
Apalagi cuma seorang Didi fuadi, pantang bagi Ilham mementingkan laki-laki satu itu. karena apa? kalau sudah pergi sendiri ke restoran, maka tak kan lama lagi akan ada perempuan yang datang. Dan jangan sekali-kali kamu berpikir bahwa itu adalah istrinya. Karena jawabannya adalah Bukan.
"Ngak apa-apa, Mas. Mas pasti kangen kan sama suasana kantor, sama temen Mas," ucap Dela Lagi.
Ah, Dela memang pengertian. Tapi sekali lagi tidak! Ilham tidak mau membiarkan istrinya itu pulang sendiri. Ya, meski jujur, Ilham memang rindu bercakap ria dengan kawan-kawan sekantornya.
“Gini aja, aku anterin kamu dulu. Abis itu aku bakal ke rumah Didi, gimana?” Ilham memberi usulan.
Dela menimbang sejenak, “ngga ribet?” tanya Perempuan itu.
Ilham menggeleng sembari tersenyum.
“Baiklah,” putus Dela pada akhirnya.
Ilham menulis pesan lagi, memberi tahu Didi bahwa dia akan ke rumahnya, “lo jangan cuma makan sendiri. Pesenin juga buat yang di rumah, sama sekalian buat gua ntar. Gua mau ke rumah elo.” Isi pesan Ilham. Meski dia curiga temannya itu sedang menunggu seseorang, tapi dia yakin bahwa hati temannya itu sudah terikat dengan hati istrinya.
Setelahnya, Ilham memanggil salah satu waiters di sana.
Waiters cantik yang melihatnya mendekat, dia membawa nampan kecil dengan selembar kertas di atasnya, dia memberikan nampan itu pada Ilham.
Ilham mengambil sesuai jumlah yang tertera dalam kertas itu dan meletakkannya di atas nampan kecil tepat di atas Bill yang ada di sana.