Bicara baik-baik

1220 Kata
Ilham memilih duduk di teras depan rumahnya. Kursi besi dengan meja bundar memang dia persiapkan untuk dia bisa duduk di sana, bersantai melepas penat saat lelah sehabis bekerja seharian. Tapi rupanya kali ini kursi itu dia pergunakan saat suasana hatinya sedikit kacau. Padahal sejak Dela menelpon mengatakan dia sudah memesan makanan untuk Ilham tadi pagi, Ilham sudah mulai melunak. Huft ... Mana Ilham jadi ga bisa ngantor gara-gara wabah yang sekarang belum juga mereda. Tadi pagi, setelah Dela menelpon, Ilham juga mendapat telepon dari atasannya, Pak Yaya' bahwa perusahaan kembali melakukan sistem WFH (work from home) dan hanya pegawai yang langsung terjun ke lapangan saja yang diperbolehkan masuk. Untuk pegawai lain yang pekerjaannya masih bisa dilakukan via online, mereka bisa mengerjakannya di rumah saja. Mendapat telepon itu, Ilham teringat dengan Dela yang berada di sekolah. Kantor Ilham saja ditutup, masa sekolah masih aktif? Begitu yang dia pikirkan. Lantas, Ilham berinisiatif untuk menjemput Dela sekaligus memberinya kejutan di sekolah. Dia akan mengajak Dela makan siang bersama nanti kalau pun istrinya masih ada kelas. Namun, begitu dia sampai di sekolah, keadaan sekolah terlihat sepi tak ada siapa-siapa. Sejak itulah, kekhawatiran melanda di hatinya. Dia mencoba menelepon Dela tapi perempuan itu tak mengangkat teleponnya. Beruntung, Ilham pernah diajak Dela mengambil berkas jawaban murid-muridnya yang tertinggal di ruangannya, jadi sekarang Ilham tak perlu repot-repot mencari di mana ruangan istrinya itu. Pintu cokelat kemerahan itu tertutup bahkan terkunci, membuat Ilham semakin didera kekhawatiran. Dia pun menelepon istrinya sekali, namun lagi-lagi tidak ada jawaban. Dia ketuk berulangkali, tapi tak terdengar suara dari dalam. Ilham hampir saja pulang meninggalkan sekolah itu, tapi dia sempat melihat istrinya yang keluar dari kamar dengan seragam sekolah, meski samar dan kesadaran Ilham tak sepenuhnya kembali, Ilham merasa perlu mengecek ke dalam, lagi pula Ilham perlu memastikan apakah istrinya benar-benar pergi ke sekolah tadi pagi atau tidak. Dia mencoba sekali menelpon nomer istrinya, sembari dia tempelkan telinganya di pintu. Samar, Ilham mendengar dering ponsel di dalam. Kenapa istrinya tidak membukakan pintu? apa jangan-jangan dia sedang bersama seseorang di dalam? Entah kenapa Ilham jadi mudah curiga sekarang. Dia merasa sikap Dela-nya berbeda jauh dari saat sebelum dia nikahi. Dan alangkah terkejutnya Ilham, saat melihat istrinya memegang sebuah benda tajam yang diarahkan ke leher kepala sekolah di sekolah itu, Pak Rido namanya. Ilham tahu dia sebab dulu, dia pernah meminta izin cuti untuk Dela secara langsung. Dan yang lebih mengejutkan lagi, kancing baju Dela terbuka. Menampakkan isi di balik bungkusan berbentuk bukit di sana. Ilham rasa, istrinya mencoba merayu kepala sekolah yang sudah berumur itu, lalu kemudian karena Pak Rido menolak, Dela mengancamnya dengan benda tajam yang ada di tangannya. Arkh ... Tidak! Dela tak pernah dekat dengan lelaki manapun kecuali Ilham. Dela pernah mengatakan bahwa dia tak suka lelaki, terkecuali Ilham. Bahkan bapak kandungnya pun, Dela membencinya. Ilham yang sejak tadi duduk dengan muka frustasi itu lantas masuk ke dalam rumahnya. Dia merasa perlu berbicara dengan Dela daripada berspekulasi sendiri, yang belum tentu semua itu benar. Dia berjalan ke kamarnya, masuk lalu mengunci pintu. Rupanya istrinya sudah suci sekarang, maksudnya Dela sudah selesai haid dan sudah mandi hadas besar. Ilham melihat istrinya sedang sholat, Ilham duduk dengan sabar di sisi ranjang, menunggu istrinya selesai sholat. Ini juga yang dulu Ilham sukai dari Dela, dia rajin beribadah, tak hanya perkara wajibnya saja. Bahkan yang sunah pun jarang Dela tinggalkan. Sholat Dela selesai, dan dia melanjutkannya dengan doa setelah selesai sholat Dhuha. Ilham rasa, sholat Dela kali ini bukan pura-pura seperti sebelumnya. Karena dia mendengar samar semua doa yang Dela baca. Terdengar isakan di sana. Istrinya menangis dalam doanya. Ilham masih diam hingga pada akhirnya, Dela selesai dan melepaskan mukenahnya. "Del ...." Ilham memanggil istrinya. Sungguh indah ciptaan Tuhan di hadapannya ini. Perempuan itu terlihat sangat cantik, rambutnya masih terlihat basah. Kecantikan wajah Dela memang terlihat saat dia tidak menggunakan apa-apa, maksudnya meski tanpa makeup, Dela tetap terlihat cantik dan bahkan dia tampak lebih cantik dengan tampil natural seperti ini. Sementara Dela tampak acuh, dia meneruskan melipat mukenahnya dan lalu memasukkannya ke dalam lemari. Sembab di kedua matanya juga tak luput dari pandangan Ilham, membuat lelaki itu bangkit dan memeluk tubuh istrinya dari belakang. “Lepasin, Mas. Aku mau masak buat makan siang,” ucapnya menggeliat agar Ilham melepaskan tangannya dari tubuhnya. “Nggak usah. Nanti kita makan di luar. Aku ....” Ilham butuh mendengar penjelasan Dela. Tapi bagaimana dia mengatakannya. “Aku ingin minta maaf karena udah daftarin kamu ke grub ibu-ibu pengajian di komplek ini ga bilang-bilang dulu,” ucapnya mulai berbelok dari niat awalnya. Dela mulai luluh dan tak lagi memberontak, ada kegelisahan yang tak bisa dia bagikan namun sekarang, berada dalam pelukan suaminya ternyata membuat dia merasa sedikit nyaman dan aman. “Sayang, Maaf juga Mas berpikiran buruk tadi, tapi bisakah kamu jelasin biar ga ada salah paham diantara kita?” Ilham menemukan kalimat yang tepat dan telah dia utarakan keinginannya pada Dela. Perempuan itu menghela napas, seolah dia memikul beban yang amat berat. Ilham melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Dela untuk menghadap padanya, “mas cuma pengen tahu apa yang sebenarnya terjadi, Mas capek menduga-duga, Sayang.” “Sini, duduk dulu.” Ilham membawa Dela duduk di tepi ranjang. Dia sendiri bangkit, keluar dari kamar dan mengambilkan air untuk istrinya lalu kemudian membawanya ke kamarnya. “Minum dulu,” ucap Ilham. Dia seolah bisa merasakan bahwa hati istrinya saat ini sedang tidak baik-baik saja. "Lagi pula, Mas takut apa yang Mas pikirkan ini salah." Ilham mulai membujuk lagi. Dia harus bisa membuat Dela membuka suara, setidaknya memberi penjelasan agar Ilham tidak semakin berpikiran buruk. karena jujur, Ilham sendiri capek kalau harus mencurigai istrinya. Terlebih, rasanya tidak mungkin Dela berbuat seperti itu sebab umur pernikahannya masih terbilang baru. Masih manis-manisnya! “Sayang, kalau kamu mau cerita apapun, kamu bisa cerita sama Mas. Kita sekarang udah jadi satu, masalah kamu akan jadi masalah Mas juga.” Ilham tak tahu apa yang sebenarnya Dela pikirkan, dia hanya ingin tahu apa yang terjadi tadi pagi di sekolah. Ilham harap, dengan meyakinkan Dela seperti ini, Dela nanti akan bercerita padanya. Perempuan itu masih mengunci mulutnya, bahkan meski air di gelas itu sudah tandas tak bersisa, Dela masih belum mau bercerita. Ilham hampir kehilangan kesabarannya, berbagai upaya dia lakukan untuk meyakinkan istrinya. Bahkan status pernikahan mereka rupanya tidaklah mampu meluluhkan hati sang istri. "Memangnya kalau kamu ga cerita ke Mas, mau cerita ke siapa lagi?! Ambu ada jauh di kampung, lagi pula kalau kamu cerita ke Ambu, itu cuma bakal bikin Ambu kepikiran." Ilham masih terus meyakinkan istrinya agar mau membuka suara tentang kejadian pagi tadi. Dela menggeleng, air matanya menggenang di pelupuk matanya. Sekali dia mengedipkan matanya, maka akan langsung banjir pipi mulusnya itu. Ilham memeluknya dari samping, mengusap tubuh istrinya dengan penuh kasih sayang. Benar kata Ambu Indun bahwa butuh ekstra kesabaran menghadapi Dela. Dan sekarang, Ilham tengah mencoba mempraktekkannya. Dia harus mendengarkan penjelasan Dela dulu, daripada menyimpulkan sendiri dan ternyata itu hanya kesalah pahaman. Ilham tak ingin rumah tangganya jadi goyah karena sesuatu yang tidak dilakukan istrinya. Begitupun nanti kalau Dela melihat suaminya terjebak dalam sesuatu yang seolah buruk, dia ingin Dela juga mendengarkan penjelasannya. Apa yang Ilham lakukan adalah bentuk dari cintanya, dan perlakuannya sekarang adalah karena Ilham juga ingin diperlakukan sama oleh Dela. Tidak dihakimi dan tidak dituduh meski sebenarnya jauh dalam hatinya yang terdalam, Ilham menyimpan kecurigaan pada istrinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN