Gedoran di luar kembali terdengar, namun bagi Dela itu merupakan sebuah keuntungan baginya.
Dela rasa yang sedang berada di luar adalah orang yang tadi mengunci pintu ruangan ini dari luar. Jika orang itu masuk, bisa dipastikan dia akan melihat Pak Rido sudah dia kalahkan.
Pasti orang itu tidak akan berani berbuat kurang ajar lagi pada Dela.
Hingga, dia pun mengabaikan suara berisik di pintu.
Lama-lama, gedoran keras itu berubah menjadi gebrakan keras diikuti dengan badan pintu yang bergerak.
“Dasar bodoh! Dia yang mengunci kenapa mesti didobrak kalo Cuma mau buka pintu!” Dela ngedumel.
Dobrakan itu beruntun dan keras, seolah orang di luar sudah tak sabar untuk masuk ke dalam.
Pak Rido merasa mempunyai harapan, siapapun yang ada di luar ... Dia sudah datang di waktu yang tepat sebagai penyelamat. Kalau saja ini cerita legenda, maka Pak Rido akan dibuat berkata, akan menjadikan saudara jika yang datang menolong adalah laki-laki, tapi kalau perempuan ... Maka akan Pak Rido angkat sebagai saudara perempuannya.
Nggak mungkin, dong Pak Rido bernazar akan menjadikannya sebagai istri kalau yang datang perempuan, bisa langsung babak belur dia dihajar sama istrinya yang gempal.
Untungnya, ini bukan cerita legenda ya, wakakak.
Dela kembali menundukkan kepalanya, menyondongkan nya sedikit ke arah Pak Rido yang sudah dia kuasai di bawahnya.
“Jangan senang dulu, jika dia datang untuk meminta bagian, maka tentu aku pun tidak akan melepaskannya.” Dela kembali memainkan cutter di dekat leher Pak Rido yang lagi-lagi uratnya di sana menegang sebab ketakutan.
Sengaja dia berkata begitu, sebab Dela sungguh benci dan tak suka melihat wajah Pak Rido yang seakan memiliki harapan. Dela lebih suka melihat Pak Rido ketakutan lalu pada akhirnya terkurung dalam penyesalan.
Sayang, itu hanyalah keinginan Dela yang tak bisa terwujud. Karena sekarang, pintu terbuka dan seseorang yang tak pernah Dela duga masuk dan melihat semuanya, Ilham datang dan langsung menghampiri istrinya dengan penuh keheranan.
“Dela. Kamu ngapain?” Diraihnya cutter dari tangan sang istri lalu dia tarik tangan Dela menjauh dari Pak Rido.
“Bapak nggak apa-apa?” tanya Ilham, dia meninggalkan Dela berdiri di sudut meja. Lalu dia beralih membantu Pak Rido berdiri.
Dela tak habis pikir dengan tingkah suaminya. Bukan menolongnya, dia malah menolong b******n itu.
“Saya Cuma syok saja, Pak. Ibu Dela tiba-tiba menyerang saya.” Pak Rido mengatakan seolah-olah dia yang teraniaya dan menjadi korban dalam hal ini.
Padahal, jika saja Dela tidak menemukan cutter itu, mungkin sudah sejak tadi Pak Rido lah yang berkuasa dan membuat Dela kehilangan harga dirinya.
“Oh astaga ... Maafkan istri saya, Pak. Dia lagi ada banyak masalah, makanya agak sensitif,” ucap Ilham seolah dia mendukung Pak Rido dan memercayai cerita buatan b******n itu.
“Mas.” Dela tak terima suaminya minta maaf, padahal sedikitpun Dela tidak melakukan apapun yang melukai Pak Rido.
Lagi pula, jika memang harus ada yang meminta maaf, maka Pak Rido lah orangnya. dia yang seharusnya meminta maaf pada Dela.
Ilham mendekati istrinya, “kamu apain Pak Rido?” tanya-nya dengan setengah berbisik.
Ini adalah kesempatan Pak Rido untuk keluar dan bebas dari kegilaan Dela.
Sementara, Dela masih tak menyangka kalau suaminya akan berkata begitu.
Ini persis seperti yang Ambu pernah lakukan padanya. Dan Dela benci itu.
“Aku ga apa-apain dia, Mas.” Dela mengangkat wajahnya, menatap kedua mata Ilham untuk memberikan keyakinan di sana.
“Tapi pisau tadi?!” Ilham melihat dengan mata kepalanya sendiri, istrinya menodongkan cutter ke leher Pak Rido.
“Itu bukan pisau, Mas.” Dela menjadi badmood. Seharusnya Ilham mengkhawatirkannya, dan bukan menuduhnya seperti ini.
Padahal, tadi Dela bahagia saat melihat yang datang adalah suaminya. Dela merasa dicintai, dikhawatirkan dan dijaga oleh orang yang tepat, suami pilihan saudara kembar ambunya.
Tapi ternyata dia salah, Ilham datang bukan karena khawatir, dia datang entah untuk apa, Dela sendiri tak tahu.
“Its oke, jangan bahas di sini. Ayo kita pulang.” Ilham menggandeng tangan istrinya, namun sebuah pemandangan di d**a sang istri membuat Ilham urung dengan niatnya.
“K-kamu.” Ilham tergagap. Pikirannya jadi berkelana ke sana ke mari melihat penampakan baju seragam Dela yang terbuka di bagian dadanya.
Kondisi kacau istrinya membuat pikiran Ilham ikut kacau. Dia melepaskan tangan Dela dan lalu berjalan terlebih dahulu, “aku tunggu di mobil.”
Dela tak berniat menjelaskan, ini sudah menjadi kali ke tiga dalam hidupnya, dituduh berbuat sesuatu yang tidak pernah dia lakukan.
Dela berjalan dengan malas, mengambil tas yang tergeletak di lantai. Langkah suaminya yang besar sudah membawanya masuk ke dalam mobilnya. Dela yang baru keluar dari ruangannya, tidak melihat di mana suaminya.
Karena sang suami sudah mengatakan akan menunggu di mobil, Dela langsung berjalan ke area depan sekolah. dan benar saja, di sana terparkir mobil suaminya plus orangnya di dalamnya.
Sesampainya di dalam mobil, Ilham menunggu dengan gundah. Dia tak ingin berburuk sangka pada istrinya, tapi keadaan yang dia lihat di depan mata tentang Dela, membuat pikirannya terseret dengan sendirinya ke arah hal yang buruk.
Apa dia sebenarnya suka sama bapak kepala sekolah itu?
Haih ... Ilham malah berpikir yang bukan-bukan. kenapa nggak mikir yang iya-iya aja, sih?!
Seumur pernikahan mereka yang sudah menginjak usia satu minggu lebih satu hari, Dela belum pernah menunjukkan sinyal ingin belah duren. Aih ... Jangankan ngajak belah duren, merayu Ilham saja dia tidak pernah.
Tapi kenapa sekarang, justru Dela seperti sedang merayu kepala sekolah itu? Terbukti dari kancing bajunya yang dibuka.
Pikiran buruk bermunculan. Bisa jadi tadi Pak Rido menolak, Lalu kemudian Dela mengancam dengan cutter, itu alur yang muncul dalam pikiran Ilham.
Ternyata Ilham ada bakat jadi pengarang cerita.
Tak lama, istrinya muncul. Penampilannya sudah jauh lebih baik dari yang tadi.
Bajunya terkancing rapi, hanya saja terlihat sekali kalau Dela tampaknya sangat malas sekarang.
Pasti dia malas karena gagal mendapatkan yang dia inginkan dari Pak Rido!
Huft ... prasangka buruk Ilham semakin menjadi-jadi. Sepertinya, dia perlu di service agar otaknya tidak terus menerus menarik kesimpulan secara sepihak.
Ah, tapi soal service, itu ada di tangan Dela, istrinya.
Ilham tak membuka suara, dia langsung menyalakan mesin mobilnya begitu Dela sudah duduk di samping kemudinya.
Sepasang suami istri itu saling mengunci mulut mereka, bahkan hingga mobil yang mereka tumpangi sampai di rumah tempat mereka tinggal, Dela dan Ilham masih tidak saling bicara.
Dela turun lebih dulu, pikirannya memang sangat kacau sekarang. Apa yang dia alami barusan membuat luka lama yang dia kubur dalam-dalam seolah muncul kembali ke permukaan. Terlebih, tatapan menuduh dari suaminya, itu adalah sesuatu yang amat menyakitkan, mengingatkan Dela dengan tatapan ambu kepadanya dulu. Dela sungguh benci keadaan ini!
huft ... Dela menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskannya dengan perlahan, dia sudah terbiasa seperti itu, hati dan perasaannya serasa sudah kebal mendapat tuduhan buruk dari orang-orang terdekatnya.
Sedikitpun, Dela tak berniat menjelaskan. Biarlah waktu yang akan bicara dan mengungkap semuanya.
“Sekarang jelasin,” ucap Ilham setelah dia sampai di dalam rumahnya, mengikuti langkah Dela.
Perempuan itu justru berjalan seolah-olah dia tidak mendengar apa yang suaminya ucapkan.
Sekali lagi, Dela memang tak berniat menjelaskan itu. Karena rasanya percuma, dia jelaskan semua kejadiannya dari awal sampai akhir, tapi nanti pada akhirnya, yang dia jelaskan tidak dipercayai.
Bukankah itu hanya buang-buang tenaga?
Dela berjalan acuh, masuk ke dalam kamarnya tanpa memedulikan ucapan Ilham.
Sementara lelaki itu, kini mendesah, menghembuskan napas dengan kasar melihat kelakuan istrinya yang semakin buruk saja menurutnya.
Tidak peduli, betapa lama saling kenal dan punya hubungan, tapi aslinya sifat seseorang itu hanya akan terlihat saat kita sudah bersama orang itu.
Itulah yang Ilham pikirkan saat ini.