Pembalasan kecil

1231 Kata
"Kalau kamu masih mau ngajar di sini, ayo nikmati saja permainan ini. Tapi kalau tidak ...." Pak Rido masih saja ingin bernegosiasi. Dia ingin bisa bermain secara sukarela, agar perjalanan meniti kenikmatan itu menjadi seru dan menyenangkan. Tapi tidak akan! Dela tak Sudi untuk itu. Sekolah bukan hanya di sini, Dela pastikan akan mendapatkan tempat yang jauh lebih baik dari di sini sekalipun dia akan dikeluarkan. “Tidak,” putus Dela. Dia sudah tahu apa yang akan Pak Rido ucapkan. Keterkejutan terlihat jelas di wajah laki-laki di depan Dela. “Jadi saya minta, lepaskan saya!” Dela ingin sekali mendorong tubuh lelaki biadab ini. Tapi apalah dayanya? Kedua tangannya terkunci di atas tubuhnya. Ah, iya. Dela masih punya kaki, dan begitu Pak Rido akan menyerang Dela dengan ciuman lagi, Dela menendang perut Pak Rido dengan lututnya. Tubuh mereka berjarak, lalu Dela menendang kasar perutnya dengan kakinya. “Kalau Pak Rido tidak mau melepaskan saya, maka saya yang akan paksa Pak Rido untuk melakukannya.” Dela sungguh muak, benci dan sangat ingin melimpahkan semuanya pada Pak Rido. Dia sudah bosan, tubuhnya terus terusan dijadikan pemuas birahi para lelaki b******n. Dela rasa sudah waktunya untuk mengakhiri keterpurukannya. akan dia buat sejarah baru dalam hidupnya. Tak perlu menjadi laki-laki untuk melawan, perempuan pun kalau mau berusaha pasti akan bisa bebas dan melawan. Itulah Yang Dela lakukan sekarang. Tubuh Pak Rido tersungkur ke belakang. Dan saat Pak Rido akan menyerang Dela balik, Dela tendang batang senjatanya, benda itulah yang telah membuat para laleki bersikap sombong, angkuh dan seringkali tak tahu kata sopan. Mereka memburu kepuasan untuk benda kecil diantara banyak benda lain yang melekat di tubuh mereka. Jangan harap Dela akan mengampuni, ini adalah pembalasan atas masa lalunya yang sudah suram dan hancur. Dela begitu menikmati kesakitan yang dirasakan Pak Rido. Wajahnya pucat pasi memegangi area diantara kedua pahanya. "Sakit? Itu tidak lebih sakit dari perbuatan Kalian para laki-laki!" Dela terlanjur sangat marah, dia ambil segala apapun yang ada di atas meja dan dia lemparkan pada Pak Rido. Di ruangan itu juga terdengar dering ponsel yang berasal dalam tas Dela, tapi Dela sama sekali tidak memedulikannya. Dia terus berkutat dengan penganiayaan agar kepala sekolah ini jera. kemarahan Dela dia jadikan alat untuk memberi pelajaran yang tidak didapatkan Pak Rido saat dia masih ada di bangku sekolah dulu. Pak Rido harus diberi pelajaran. Dia harus terus diserang agar dia tak lagi berbuat m***m dan bertobat. Perempuan itu terus menyerang Pak Rido dengan semua benda yang terambil oleh tangannya. Entah itu buku, dokumen penting, pulpen, penggaris dan bahkan gelas yang biasa Dela pakai untuk minum pun menjadi korban kemarahan Dela. Tak ayal, pelipis Pak Rido berdarah terkena pecahan beling dari gelas yang Dela lemparkan. Di atas meja, di bawah tumpukan buku yang sekarang sudah berserakan di dekat Pak Rido, terdapat sebuah cutter berwarna biru. Benda kecil panjang itu pun tak luput dari jangkauan tangan Dela. Terlebih, di atas meja hanya bersisa benda itu satu-satunya. Gua kerjain lo biar jera! Dela mengambil cutter itu dan mengeluarkan ujung isinya yang mengkilat. “Mau saya potongkan burungnya kalau masih sakit?” tanya Dela dengan wajah yang amat seram menurut Pak Rido. Menyesal dia sudah mencari perkara dengan perempuan desa yang dia anggap lemah. Tapi ternyata dia bak psikopat yang seolah tidak takut hukuman dari polisi. “T-tidak! Jangan, saya mohon jangan!” Pak Rido menggelengkan kepala, mengangkat kedua tangannya menutupi wajahnya untuk melindunginya. Entah apa yang sebenarnya ingin dia lindungi, tapi karena kebanyakan serangan dela tadi terarah ke mukanya, Pak Rido reflek terus menerus menutupi wajahnya. Padahal batang yang di bawah jauh lebih sakit sekarang. Uratnya seolah putus sebab Dela menendangnya dengan sekuat tenaga. Rasanya batang senjata Pak Rido berkedut kedut, nyeri dan panas. Dela menyeringai. Sekarang dia merasa bahwa keadaan sudah berbalik. Jika tadi dia lah yang dikuasai Pak Rido, maka sekarang Dela lah yang berkuasa penuh atas diri Pak Rido. “Sudah lama, saya tidak pernah makan batang burung goreng,” ucap Dela menundukkan kepala dan menatap lurus ke arah celana Pak Rido. Hal itu sukses membuat Pak Rido semakin ketakutan. Jadi dela benar-benar psikopat. Sudah lama artinya sebelumnya dia pernah memakan batang burung orang. Hii ... Membayangkannya saja membuat Pak Rido rasanya pengen pingsan saja. Tapi kalau dia pingsan, ditakutkan pas dia bangun, burungnya sudah tak ada di tempatnya. Tidak! itu adalah barang paling berharga yang dia punya. Pak Rido lebih baik terus berjaga, "Tapi kayaknya, saya pengen yang dibakar aja. Dibikin sate aja, gimana menurut bapak?" Dela sebenarnya ingin tertawa melihat ekspresi Pak Rido sekarang. Rupanya dia sudah sukses menakuti kepala sekolah pecundang ini. Baru digertak begitu, sudah langsung keok dan mati kutu. Dering ponsel masih terdengar. "Biar saya bukain pintunya. Ibu Dela boleh pergi, saya janji tidak akan bilang siapa-siapa soal yang terjadi di sini," ucap Pak Rido dengan suara bergetar. Dela tertawa mengejek, “bukan bapak yang nentuin sudah boleh keluar atau tidak. Oh, lagi pula, semua orang harus tahu dong, karena saya berencana untuk membuat restoran dengan menu itu. Biar semua laki-laki jera dan ga berani macam-macam.” Dela menahan tawa, sakit hatinya terbayar hanya dengan melihat raut ketakutan di wajah Pak Rido. Pak Rido semakin pias. Wajah pucat pasi membayangkan dia hidup tanpa senjata. “I-ini kuncinya, Bu. Saya mohon lepasin saya.” Tangan Pak Rido bergetar mengangkat kunci pintu tinggi-tinggi. “Kasih saya satu alasan yang masuk akal kenapa saya harus melepaskan Pak Rido?!” Dela menginjak paha Pak Rido dan menekannya dengan pantofel yang dia pakai. “Saya janji ga akan berbuah seperti itu lagi,” ucap Pak Rido kemudian. “Tadi aja waktu saya minta dilepasin, bapak ga dengerin saya. Kira-kira saya harus dengerin bapak nggak, ya?!” Cutter yang di tangan Dela, dimainkan. Diputar-putar diantara paha Pak Rido yang kini semakin bergetar karena ketakutan. Pak Rido sungguh menyesal, dia pikir perempuan kampung adalah orang lemah yang bisa dia ambil manfaat dari mereka. "Ngomong-ngomong apa reaksi istri Pak Rido kalo dia tiba-tiba tahu suaminya udah ga punya burung?!" Dela sungguh sengaja sekali, mengejek dan membuat Pak Rido semakin terbayang dan pada akhirnya memohon-mohon untuk dilepaskan. Kunci yang ada tangannya sampai jatuh ke lantai sebab takut yang teramat. Dela memalingkan mukanya, bukan bermaksud apa-apa, dia tertawa diam-diam karena ternyata kepala sekolah yang m***m ini rupanya hanyalah seorang pecundang. Baru digertak dan ditakut-takuti saja dia sudah sampai seperti itu. Dela kembali akan melanjutkan aktingnya, namun kemudian terdengar pintu ruangannya diketuk. Tok tok tok ... Lama-lama ketukan itu berubah menjadi gedoran yang cukup keras. Wajah Pak Rido berubah cerah, dia merasa mempunyai harapan untuk bisa lepas dari guru psikopat ini. Ketukan pintu berhenti, namun kemudian terdengar dering ponsel dengan ringtone yang sama seperti tadi. Itu bunyi ponsel Dela. Perempuan mengabaikannya, sebab dia merasa ini bukan waktu yang tepat untuk menerima telepon. Dela masih harus melanjutkan pembalasan dendam sekaligus memberi pelajaran agar Kepala sekolah m***m ini jera. Dela lantas mendekatkan cutter di tangannya ke leher Pak Rido, "tapi gimana muka bapak ya kalau seandainya cutter ini saya goreskan sedikit demi sedikit di leher ini?!" Pak Rido menegang, dia tidak menggerakkan kepalanya sedikitpun, sebab takut lehernya tergores oleh benda tajam yang dipegang Dela. Gedoran di luar kembali terdengar, namun bagi Dela itu merupakan sebuah keuntungan baginya. Dela rasa yang sedang berada di luar adalah orang yang tadi mengunci pintu ruangan ini dari luar. Pasti orang itu tidak akan berani berbuat kurang ajar lagi pada Dela kalau dia melihat Pak Rido saja bisa Dela taklukkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN