Gara-gara Ibuy

1687 Kata
Dela dan Lila mengobrol dengan aneka topik. Mulai dari cerita masa kecil, bahkan hingga cerita keseruan masa SMA. Mulai dari cerita melow hingga cerita seru nan mengasyikkan. Mereka bahkan sampai lupa waktu, lebih tepatnya Dela melupakan keberadaan suaminya yang dia tinggalkan di dalam kamar. Begitu dia mengingat bahwa suaminya belum makan siang, Dela langsung bangkit. Bahkan panggilan Lila tidak dia hiraukan sebab dia tak ingin membuat Ilham menyesal telah membawanya ke kampung yang –sebenarnya- dia rindukan ini. Jujur, Dela masih ingin bercerita dengan Lila. tapi sekali lagi, dia tak bisa mengabaikan suaminya yang sedang tidur di dalam kamarnya karena ini sudah waktunya jam makan siang. Dela masuk ke kamarnya dengan mengendap-endap, sayangnya ... suaminya sudah bangun dan tengah menonton aksi Dela yang menutup pintu dengan sangat hati-hati. "Dari mana?" Ilham berdiri tepat di belakang istrinya seraya melipat tangan di depan dadanya. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan Dela, makanya dia ngendap-ngendap masuknya. dan bahkan terkejut saat Ilham menyapanya. “Astaga, Mas Ilham!” Dela kaget bukan main. Mirip adegan pas pencuri ketahuan sama pemilik rumah. Dela mengusap dadanya, menghela napas berkali-kali, menenangkan irama jantungnya yang tak terkendali. "Ngagetin aja, tau nggak?!" Dela masih terus mengusap dadanya saking terkejutnya saat melihat suaminya yang sudah berdiri di belakangnya. Rasanya kalau Dia punya riwayat penyakit jantung, sudah tentu kumat dan harus dilarikan ke rumah sakit detik ini juga. “Kenapa, sih?” tanya Ilham sembari memandang wajah istrinya tajam. Kedua tangannya masih terlipat di depan dadanya yang bidang. Pandangannya membuat Dela merasa sedang dihakimi. “K-kenapa apanya sih, Mas?” Dela gugup bukan main. Dia tidak berbuat apa-apa padahal, tapi begitulah ... Dela seringkali ketakutan saat Ilham menatapnya intens begitu. Belum pernah suaminya bersikap seperti ini bahkan dari saat mereka masih pacaran dulu. Dia membayangkan aksi suaminya seperti dalam novel, yang kalau marah menarik istrinya ke ranjang dan memberi pelajaran lewat sodokan kasar. Hii ... Serem sekali bayangan Dela. Dia sampai tak sanggup membayangkannya lebih lama. Suaminya seakan mencurigai Dela. Tapi entahlah, ini karena Dela yang ketakutan atau malah sebenarnya Suaminya hanya menunggu karena ingin makan siang. Dela tak terlalu pandai menebak raut wajah orang sekalipun itu suaminya sendiri. “Kenapa nutup pintunya kayak begitu? Nggak lagi nyembunyiin sesuatu, kan?” Ilham bertanya. “Kamu dari mana? Kenapa ga bangunin aku?” Ilham bertanya lagi, oafalah pertanyaan sebelumnya belum dijawab oleh Dela. Ilham menyerbu Dela dengan pertanyaan. Dan itu sukses membuat Dela semakin gugup sekarang. “Aduh, bentar ya. Aku kebelet banget sumpah!” Dela melewati tubuh Ilham dan langsung masuk ke kamar mandi. Perempuan itu memang dari dulu begitu, kalau sedang gugup dia akan kebelet. Huh ... pasti itu cuma alasannya aja. Ilham kembali mendaratkan pantatnya di kasur yang tak begitu lembut itu. Sepertinya usia kasur yang ada di kamar ini melebihi usia Ilham sekarang. Sudah keras dan sedikit sakit bila duduknya tidak berhati-hati, seperti yang barusan Ilham lakukan. Lelaki itu menunggu dengan sejuta pertanyaan yang belum semuanya dia tanyakan pada istrinya. Tak sampai dua menit, Dela keluar dari kamar mandi. Ilham lantas menepuk sisi kasur tepat di sebelahnya ia duduk, dan Dela tak punya alasan untuk menghindar. Perempuan itu pun menurut duduk dengan sensasi gugup yang terus mengusik. Shit, kalo begini terus, aku bisa keluar masuk kamar mandi. Dela tak kan biarkan keadaan terus begini, lebih baik dia katakan terus terang saja kalau dia habis dari kamar Lila. Toh, tidak ada yang salah kan dengan yang dia lakukan?! Dia hanya mengobrol dan saling bertukar cerita. “Kamu dari mana? Kenapa ga bangunin aku? Terus kenapa masuknya kayak ngendap-ngendap tadi?” Ilham mengulang pertanyaan yang sudah dia tanyakan pada Dela namun belum dijawab satupun. “Akutuh dari rumahnya Lila. Itu loh yang pintunya paling gede dan ada di tengah-tengah semua kamar di wisma ini. Aku ga bangunin kamu karena kasihan sama kamu, Mas. Aku liat kamu tidurnya pulesss banget tadi. Terus kenapa aku ngendap-ngendap? Aku nggak ngendap-ngendap, aku cuma pelan-pelan doang karena kupikir kamu belum bangun, takut ngeganggu tidur siang kamu aja, Mas." Dela menjawab satu persatu pertanyaan suaminya dengan panjang lebar. Ilham diam, sebenarnya dia tidak tidur tadi. Dia tahu saat Dela keluar kamar namun Ilham sengaja tidak mencegahnya karena ingin tahu kemana istrinya akan pergi diam-diam tanpanya. Ilham percaya dengan semua yang Dela katakan, karena tadi dia sempat mengintip dan melihat sendiri saat Dela dan Lila masuk ke kamar yang pertama kali Dela datangi saat dia dan Dela tiba di wisma ini. Tapi, apa yang mereka lakukan di dalam? Itulah yang Ilham ingin tahu. “Kenapa lama banget?” tanya Ilham lagi. Dela semakin gugup, bagaimana suaminya bisa tahu kalau dia pergi sudah cukup lama. “Eng ... Lila tadi curhat kalo Ibuy udah meninggal, padahal masakan buatannya tuh enak-enak.” Dela tak bohong tentang ini. Namun untuk yang satu ini, Ilham sedikit kurang percaya. "Siapa Ibuy?" "Cowok atau cewek? Udah tua atau masih muda?" "Arkh ... satu-satu, dong nanya-nya. Aku jadi kebelet lagi, arkh ...." Dela bangkit dan langsung masuk ke kamar mandi. Dela memang akan seperti itu saat dia gugup. Ilham justru semakin menaruh curiga pada melihat tingkah istrinya. Akan aku tanyakan langsung soal ini pada Lila. Ilham tak lagi menunggu istrinya seperti tadi, dia keluar kamar dan pergi ke rumah Lila, lebih tepatnya ke kamar yang paling besar yang ada di wisma ini. Sebuah pintu yang paling besar dan berada di tengah-tengah pintu lainnya itu tampak tertutup rapat. Ilham tak lagi pakai kata sopan santun, meski dia ada di kampung orang. Langsung dia buka saja pintu kamar berwarna cokelat berukuran besar itu. Di dalam yang dia dapati hanya keadaan rumah yang kosong. "Ibuuuy ... Awas aja kalo kamu laki-laki, akan ku buat kamu membayar apa yang sudah kamu lakukan padaku dan pernikahanku." Ilham berpikir bahwa Ibuy adalah laki-laki muda yang memiliki hubungan spesial dengan istrinya. Bisa jadi mereka dulu pacaran dan sekarang mereka bertemu dan melakukan sesuatu yang bahkan Ilham sendiri belum melakukannya sebagai suami Dela. Ada dua gelas kosong di atas meja. Artinya benar, tadi Dela berduaan dengan seseorang. Lila? Tak mungkin. Perempuan itu kan, katanya pergi ke rumah saudaranya yang meninggal. Api kemarahan Ilham semakin membara. Padahal semua belum terbukti benar. Ilham berjalan dengan emosi yang sudah sampai di ubun-ubun kepala. Sebentar lagi akan meledak dan tentu, Ibuy itu akan menjadi sasarannya kalau sampai suami Dela itu menemukannya. "Mas ...." Dela tiba-tiba muncul di belakangnya. Menegurnya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kamu ngapain?" tanya Dela lagi. "Ibuy itu cowok, kan? Dan kamu pasti dulunya punya hubungan spesial sama dia. Dan sekarang, kalian ketemuan di sini di belakang aku. Iya, kan?" Dela tertawa. Saking lucunya asumsi yang baru saja didengar dari mulut suaminya. Mendengar ada keributan, Lila yang tadinya akan mandi, lantas keluar dari dalam kamarnya untuk melihat. "Dela, Ilham, kalian ngapain?" tanya Lila dengan bahu yang tertutup handuk. Kepalanya hanya memakai ciput berwarna ungu. Lila! kapan dia balik? bukannya tadi .... Dela dan Ilham tak menjawab. Si suami melongo sedangkan si istri masih tak bisa berhenti tertawa. "Del ... Ada apa?" Lila selaku tuan rumah merasa terheran karena kedatangan sepasang suami istri yang baginya adalah keluarga sendiri. Ya, Lila sempat mendengar Ilham yang menyebut nama Ibuy. "Ibuy ... Aku cerita soal Ibuy ke Mas Ilham tadi. Tapi dia ...." Dela tertawa lagi. Ilham dibuat menganga karena reaksi istrinya. Apa ada sesuatu yang lucu? "Ham ... Kamu mau tau soal ibuy?" tanya Lila kemudian. Ilham tak merespon. Dia hanya diam tak menjawab, tidak juga dia mengangguk. Lila masuk kembali ke dalam kamarnya lalu kemudian keluar dengan membawa album foto bersampul biru di tangannya. Dia membukanya lalu memberikannya pada Ilham, "ini Ibuy. Dia tetanggaku yang sebatang kara, makanya ibu aku mengambilnya sebagai pembantu. Bukan pembantu sih, tepatnya mengajaknya tinggal bersama di sini. Karena dia jago masak, ibu meminta untuk urusan dapur untuk dia yang tangani. Dan karena ibu kasihan, ibu menggajinya setiap bulan. Sayang, Ibuy udah meninggal." Dela menunjuk ibu-ibu memakai baju biru gelap yang tengah dipeluk oleh Dela dan Lila. "Serius ini Ibuy?" tanya Ilham. "Kenapa namanya Ibuy? Temen SMP aku dulu bernama Ibuy dan dia cowok." Ilham masih kekeuh dengan pemikirannya. Orang kota susah banget dikasih tau! "Namanya bukan Ibuy, tapi Yuyun. Cuma aku dan Dela biasa panggil dia Ibuy artinya ibu Yuyun." "Udah percaya?" tanya Lila, sungguh dia tak pernah menyangka bahwa sahabatnya, Dela akan mendapatkan suami yang ternyata juga bucin akut padanya. Sampai-sampai Ibuy yang cuma seorang ibu-ibu tua bisa dia pikir selingkuhan istrinya. "Trus kamu ngapain handukan kek gitu? Nggak habis ngapa-ngapain, kan?" Lila geleng-geleng kepala melihat sifat posesif laki-laki kota ini. Di kampung ini ... Nggak ada orang seperti suami sahabatnya. Bahkan sama sahabat istrinya pun dia curigai. Memangnya Lila dan Dela gay? "Aku mau mandi udah mau azan ashar. Kamu ngga liat jam?" "Mending kamu ajak dia ke kamar kamu deh, Del. Kasih service biar darahnya turun." Lila berucap sembari masuk ke dalam kamarnya. Sepasang suami istri yang sangat serasi. Satu mengatakan kalau dia tak suka mendengar ada perempuan lain memuji suaminya tampan. Lalu si suami, saking posesifnya bahkan Ibuy dan Lila yang seorang perempuan dikira punya hubungan dengan istrinya. Sungguh luar biasa garis takdir manusia di dunia ini. **** "I'm sorry!" Ilham memeluk Dela dari belakang saat mereka sudah sampai di dalam kamar. Dela mengusap punggung tangan suaminya yang melingkar di perutnya. Setelahnya, dia usap pipi suaminya yang bertengger di bahunya. "Aku seneng ngeliat kamu cemburu kek tadi. Artinya, kamu takut kehilangan aku." Arkh ... Manisnya pengantin baru ya di sini. Selalu bisa mengalihkan setiap problem kepada hal positif. Sayang, saat nanti sudah bersama cukup lama, biasanya sikap posesif pasangan akan menjadi sumber petaka, "Oh iya, Mas. Kamu nggak laper? Kita kan belum makan siang." Dela berucap lagi. Aish ... Baru juga romantis-romantisan. Dela emang suka banget bolak balik suasana. "Belum, aku masih pengen peluk kamu." Sapa tau habis pelukan, dapat service kek yang Lila bilang. Otak Ilham mulai bertingkah! Baru dapet hati udah ngarep jantung. "Tapi aku laper." Dela melepas paksa tangan Ilham dari perutnya. Tuh kaan ... Tadi romantis sekarang nyebelin. Aku masih pengen peluk! "Ya udah mau makan apa?" Ilham lagi-lagi dibuat harus mengalah. Apalagi alasannya? Cinta. Kekuatan cintanya kepada Dela membuat dia selalu mengesampingkan keinginannya sendiri dan lebih mengutamakan keinginan sang istri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN