Ke restoria

1917 Kata
"I'm sorry!" Ilham memeluk Dela dari belakang saat mereka sudah sampai di dalam kamar. Ilham sungguh takut kehilangan istri yang amat dia cintai. Perasaannya begitu dalam, bahkan Ilham sendiri tak bisa menyelami sedalam apa rasa cintanya untuk Dela. Kejadian di dalam kamar Lila tadi membuat sepasang suami istri itu semakin mencintai satu sama lain. Dan berpelukan dengan posisi seperti ini, mengingatkan Ilham dengan adegan romantis di film Korea, kalau saja Dela tidak sedang kedatangan tamu bulanannya, mungkin Ilham sudah menariknya ke atas ranjang untuk menyuarakan cinta yang terpatri dalam hatinya. Rasa cinta yang bahkan sampai detik ini belum juga menemukan keindahan di balik ikatan suci yang namanya pernikahan. Cukup lama memeluk Dela dari belakang, Ilham pun melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Dela untuk menghadap padanya. "Aku cuma takut kehilangan kamu. aku takut ada laki-laki yang merebut kamu dari aku. Aku sayang kamu banget, Sayang." Dela tentu melayang mendengar pertanyaan cinta dari suaminya. Kalau saja Ilham tidak memegangi pundaknya sekarang, mungkin tubuh Dela akan melayang di udara saking bahagianya. Dela pun sama, Dia juga cinta Ilham. Hatinya sudah terkunci untuk yang lain karena baginya Ilham adalah lelaki sempurna yang dipilihkan Tuhan Untuknya melalui saudara kembar Ambu. Dela merasa aman dan terlindungi, dia merasa bahwa dengan bersama Ilham, hidupnya menjadi lebih tenang. Sebab cinta dan terbawa suasana, tanpa sadar kini hidung Ilham sudah menyentuh hidung Dela. Sedikit lagi, bahkan bibir mereka akan saling menyentuh sebab Ilham tak ingin membiarkan jarak memisahkannya dan Dela walau se centi pun. Cup ... Benda kenyal milik keduanya bersentuhan, bak magnet yang saling menarik satu sama lain, kondisi bibir mereka saat ini. Ilham suka ini, dia ingin menjelajah lebih jauh, tak hanya sekedar bertempelan bak cicak seperti ini. Tapi kemudian, krruuk ... kruuk ... perut Ilham yang tidak paham situasi itu tiba-tiba saja berbunyi, merusak suasana yang sedikit lagi akan sampai pada level yang disebut berciuman. Ah, kalau cuma nempel doang mah bukan ciuman. Sial banget. Otak perut sama hati kok ga ada kompak-kompaknya. Ilham mengumpat dalam hati. Padahal sedikit lagi, dia akan bisa menikmati kelembutan di bibir istrinya. Bagaimana kenyalnya benda yang kerap kali membuat Ilham menaik turunkan jakunnya terutama saat melihat Dela tersenyum. Bibir Dela bak magnet yang bisa menarik Ilham untuk mendekat dan menempel di sana. “Kamu laper?” tanya Dela memandang Ilham lekat. Ilham mengunci kepala Dela, menempelkan kedua tangannya di pipi sang istri lalu kemudian ia menariknya, mempertemukan keningnya dengan kening Ilham sendiri, “menurut kamu?” Istrinya ini memang sangat menggemaskan, sudah denger perut Ilham bunyi, dia masih dengan polosnya bertanya Ilham lapar. Dela tersenyum malu-malu, ada hal yang membuat hatinya amat bahagia sekarang. "Tapi aku gapapa nahan bentar. masih pengen cium kamu, Boleh?" Ilham mempertanyakan sesuatu yang seharusnya dia tak perlu menanyakannya. Dela dibuat semakin tersipu. Dela mengangguk sembari tersenyum. hanya mencium, kan? Dela sama sekali tak keberatan. Mendapat lampu hijau, Ilham lantas meraup bibir sang istri dan menikmatinya dengan lembut, dalam dan penuh perasaan. Bak benda kesayangan yang tak ingin dirusak meski oleh dirinya sendiri dia memperlakukan Dela. Dela pun berbuat hal yang sama. menyesap benda kenyal milik suaminya yang meski mereka berpacaran, tak pernah berbuat itu. Jangan harap Dela mau menikah dengan Ilham kalau lelaki itu sudah berani menyentuhnya sebelum sah. Rupanya, kata cupu karena Ilham yang masih perjaka itu membuahkan hasil manis di akhirnya. Dia mendapat istri cantik dan sholehah, amiin. Dela amat bangga dengan Ilham, suaminya sama sekali tidak berbuat apa-apa padahal mereka sudah berada di tempat dan waktu yang tepat, tak seperti kebanyakan laki-laki umumnya. Benar-benar laki-laki impian Dela! Dela bahkan jadi makin cinta! Cup ... sebuah kecupan terakhir mendarat di bibir Ilham dari Dela, “kalo gitu ayo siap-siap.” Dela langsung melepaskan dirinya dari kungkungan Ilham, perempuan itu lantas duduk didepan cermin. Mematut dirinya di sana lalu kemudian mengoles cream yang memang biasa dia pakai. Tak lupa, Dela juga memakai eye liner, itu adalah benda wajib pakai yang tak boleh diabaikan saat akan keluar rumah. Jangankan mau keluar, di rumah saja pun, Dela selalu menghias wajahnya. Tentu dengan riasan tipis dan natural. Ilham sendiri membatu karena ciuman mendadak dari Dela, istrinya. Pikirannya tak henti-hentinya me-replay serangan singkat dan mendadak dari Dela. Jantungnya serasa berhenti untuk beberapa saat. Tapi kemudian berdetak lagi dengan degup yang amat kencang. Kalau saja tidak ada Dela di kamar ini, mungkin Ilham akan berjingkrak saking senangnya mendapat kiss dari istrinya. Sayang, di dalam kamar juga ada Dela hingga rasa kaget sekaligus senang membuat lelaki itu menjadi bak patung, diam saja di tempatnya. “Mas, ih ... kok malah bengong, sih? Ayo buruan!” Dela menegur suaminya yang hanya berdiri di tempat yang tadi. Dela sudah selesai dan sekarang dia terlihat sangat cantik dengan riasan di wajahnya. Ilham yang sejak tadi membeo kini serasa mau limbung saking terpesonanya dengan kecantikan istrinya. Ah ... Dela memang selalu membuatnya jatuh cinta setiap hari setiap saat melihatnya. Tubuh Ilham terhuyung namun kemudian tegak lagi sebab dia sadar satu hal, perempuan cantik bak bidadari di depannya adalah miliknya. Dan ciuman tadi, itu nyata. nyata sekali! Ilham tidak sedang berkhayal. Jadi tidak seharusnya dia mematung begitu. “Mas!” Ilham tersentak, tubuhnya tak hanya tegap, kesadarannya pun naik berkaki lipat bahwa tadi Dela mengajaknya untuk makan di luar. Tak perlu mandi ataupun berganti baju, Lelaki itu langsung menyambar kunci mobil yang dia letakkan di atas laci dekat lemari. Dela menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya. Jadi tambah gemes! Dela tak henti bersyukur, bahagia telah menjadi milik Ilham. Tak hanya mengedepankan hasrat dan gairah, lelaki itu jauh lebih mengutamakan keinginan Dela. Itu yang membuat Dela terus menerus berucap syukur dalam hatinya. Keduanya lantas keluar dari wisma. Jangan heran bila mereka menjadi objek perhatian penghuni wisma yang tersisa, karena mereka keluar menuju mobil dengan tangan saling terikat satu sama lain. Dela Dan Ilham memang pasangan serasi meski perbedaan kulit mereka kentara terlihat. Tapi ibarat boba dan s**u putih yang berbeda warna, tapi mereka bisa menghasilkan rasa yang kelewat nikmat, begitu pula Ilham dan Dela, perbedaan warna kulit mereka menjadi pelengkap satu sama lain, sebab yang satu hitam manis dan satu yang lagi ayu dengan kulit putih beningnya. Mereka tak memerhatikan sekitar, lebih tepatnya tak mau mendengar tanggapan orang saat melihat mereka keluar bergandengan tangan. Toh mereka sudah sah, jadi apapun omongan orang kampung, Dela dan Ilham tak akan peduli. Bukan apa-apa, yang namanya mulut tetangga, entah itu di kampung maupun di kota, mulut mereka sama-sama mengandung bisa. Bisa ditambah-tambah, bisa juga dikurang-kurangi. Sudah menjadi rahasia umum sejak lama, tak ada yang namanya tetangga diam ayu memandang kemesraan tetangganya. Yang ada hanyalah mulut mereka berkomentar di belakang, sembari memberi bumbu agar bahan omongan mereka menjadi sedap diperbincangkan. Ilham sudah mengatakan sejak awal agar tidak memasukkan omongan orang lain dalam biduk rumah tangga mereka. Itu adalah kunci berumah tangga bebas mutebi, mulut tetangga berbisa. Penilaian orang belum tentu sama dengan yang kita pikirkan. Lantas, keduanya langsung masuk ke dalam mobil. Meksi samar, Dela dan Ilham mendengar grusak grusuk suara yang menyebut-nyebut nama mereka di dalam perkataannya. “Mau kemana kita?” tanya Ilham saat mobil mereka keluar dari halaman wisma. “Ke restoria. Ada makanan yang enak banget khas kampung ini." Dela berucap dengan semangat. Tak sabar rasanya memperkenalkan makanan khas Madura kepada suaminya. "Loh, bukannya kita mau ke rumah Ambu?" Ilham bertanya lagi. Dia pikir, Dela akan mengajaknya ke rumah Ambunya. Selain untuk makan siang, Ilham pikir mereka akan menginap semalam di rumah mertuanya itu karena besok mereka sudah harus kembali ke Jakarta. Dela diam, perubahan raut wajahnya kentara terlihat, dari yang bersemangat penuh senyuman, berubah diam tak berselera. "Del ... Emang kamu nggak kangen sama Ambu?" Ilham sungguh tak habis pikir dengan sikap istrinya. Padahal dia dan Ambu sudah bertahun-tahun tak bertemu. Kenapa ketika kesempatan itu ada, dia justru tampak selalu menghindar? "Kangen, Mas. Tapi besok aja deh kita ke rumah Ambu. Aku sekarang males banget kalo harus ke sana." Dela menjawab sembari memandang lurus ke depan. pikirannya mengembara mengingat kenangan indahnya di jalan ini. Saat dia pulang sekolah, berboncengan dengan Lila. Ah, semua itu amat indah untuk Dela kenang. Obrolan terhenti sebab Ilham tak ingin merusak mood istrinya. "Ya udah, oke. Mas ngikut kamu, tapi kalo kamu mau ke rumah Ambu, kamu tinggal kasih tau Mas aja, Mas bakal antar kamu kapanpun." Dela mengangguk dengan memandang lurus ke depan, dia tak ingin menatap netra suaminya. Mobil melaju dengan sangat pelan, lagi-lagi karena medan jalan di kampung yang jauh dari kata layak. Dela tampak asyik dengan ponselnya, sebuah notifikasi masuk, dan seketika matanya berkaca-kaca. Namun setelahnya, Dela justru memasukkan ponselnya ke dalam tasnya kembali. Ilham ingin sekali menanyakan siapa yang mengirim pesan. Tapi dia urung sebab setelahnya perempuan itu justru memasang headset dan menutup matanya. Huft ... lelaki itu menggeleng dalam diam. Ternyata, banyak sekali hal yang baru dia ketahui tentang Dela. Meski mereka sudah hampir dua tahun menjalin hubungan, ternyata waktu yang cukup lama itu tidaklah cukup untuk saling mengenal satu sama lain. Bukan Ilham menyesal, hanya saja dia tak pernah berpikir bahwa istrinya tidak menyukai orang tuanya sendiri. Kalau orang tua sendiri tidak dikasihi, bagaimana dengan orang tua suami? Mobil terus melaju, berjalan lurus hingga kemudian menemukan jalan raya yang di sini terdapat beberapa kendaraan berlalu lalang, motor dan mobil melintas di jalan ini, hanya saja tak seramai jalanan di kota. Dela menunjuk tangannya ke kanan, dan Ilham mengikutinya. Mobil berbelok ke kanan, di sini bisa melaju dengan menaikkan kecepatan karena jalanan yang mulus tak seperti jalanan sebelumnya. "Pelan-pelan aja, Mas." Dela bersuara. Headset yang dia pakai pun dia lepaskan. "Di depan ada pertigaan, nanti kamu nganan, tapi pelan-pelan karena di situ lah restorianya." "Oke. Kapan-kapan kita ajak ambu ke sana, gimana?" "Ide bagus. Ambu doang," sahut Dela. Mobil mulai memasuki area parkir restoria yang ternyata dipenuhi dengan kendaraan roda dua. Mobil yang parkir di sini hanya ada dua dan menjadi tiga dengan mobil Ilham. Ilham bisa memarkirkan mobilnya dengan leluasa karena tempat parkir di sini jauh lebih besar dari tempat parkir motor yang tadi dilewatinya. "Emang nggak ad abang parkirnya?" tanya Ilham melihat tak ada seorangpun yang mengatur keluar masuknya kendaraan. "Nggak ada, Mas. Ini tuh belum masuk kotanya, jadi aman. Ga pakek tukang parkir bakalan tetap aman," ucap Dela. Dan lagi, meski tanpa tukang parkir, kendaraan di sini teratur dengan rapi karena penduduk desa terbiasa dengan itu. Keamanan tak perlu diragukan, karena mayoritas yang masuk ke sini adalah orang-orang dari desa. Tidak ada orang kota masuk ke sini, karena letak tempat ini ada di jalan pedesaan. "Jadi kalau mau ke kota, lewat mana?" tanya Ilham lagi. "Ada jalan satu lagi, cukup jauh jaraknya dari sini. Jalannya lebih gede dan lebih banyak kendaraan. Aku belum pernah ke sana sendirian," tutur Dela. Mengingat dia adalah seorang perempuan, jadi Dela selalu menjaga dirinya dari melintas di jalan yang menuju ke kota. Bukan apa-apa, kriminal di sini jauh lebih tinggi dari kriminalitas di kota. Dan semenjak dia lulus SMA, semua hal yang berhubungan dengan kejadian di luar desa, Dela mengutus orang untuk mewakilinya. Dela terlalu takut untuk bepergian lagi ke sana. Sepasang insan yang telah terikat dalam hubungan yang sah itu masuk ke dalam restoria. Tempatnya sangat luas penuh dengan meja bundar dengan tiga empat kursi. Hampir semua kursi terisi. "Ini tuh jam istirahat pekerja proyek. Makanya rame. Kita nunggu bentar, nggak papa, kan?!" Ilham mengangguk sembari mengekor Dela yang berjalan mencari kursi kosong. "Dela. Del!" Sebuah suara memanggilnya berasal dari sudut cafe. "Del ... Kayaknya orang-orang di sana kenal kamu, deh." Ilham melihat tiga orang lelaki dengan pakaian lusuh dan penuh bekas adonan bangunan melambaikan tangan ke arah mereka, tepatnya ke arah istrinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN