"Dela!" Seorang lelaki yang duduk di kursi sudut restoran melambai-lambaikan tangannya. Dia ditemani oleh dua orang -mungkin- temannya, sebab mereka berpenampilan sama dengannya. Baju lusuh dan kucel penuh dengan noda tanah dan adonan semen.
Wajah mereka tampak bersemangat melihat si Dela muncul setelah sekian lama seolah menghilang dari peradaban.
Dela sendiri tak mendengar, lebih tepatnya dia sibuk mengenang tempat yang dulunya hampir setiap Minggu dia makan di sini, entah itu sendiri atau bareng Lila.
Dela tak kan pernah lupa bahwa di tempat ini dia menemukan nafsu makannya lagi setelah hampir dua Minggu dia hanya minum dan tak berselera makan.
"Del, kayaknya orang-orang itu manggil kamu, deh. Mungkin kamu kena mereka." Ilham, suami Dela menepuk pundak sang istri yang sepertinya tidak mendengar panggilan yang ditujukan tiga bapak-bapak di sana untuknya.
Dela menoleh ke arah yang ditunjuk suaminya. Seketika wajahnya berubah pias, di sana ... Salah seorang dari ketiganya tampak menghubungi seseorang sembari ketawa-ketawi, tangannya melambai ke arah Dela.
Dela tak kan pernah lupa wajah tiga orang itu, meski jujur ... sudah sejak lama dia ingin mengalami amnesia cuma demi bisa melupakan tiga orang di sana.
Ada rasa tak enak dalam hatinya, muncul dari pikirannya lalu kemudian turun membentuk reaksi tak enak dan berdebar di dadanya. Perlahan, perutnya terasa mau muntah dan Dela tak bisa lagi menahan ini lebih lama.
"A-aku ke belakang bentar, Mas. Tolong aku titip ini, ya. Kamu langsung pesen aja, tapi dibungkus ya. Kayaknya perut aku ga enak nih." Dela berucap sembari memberikan tas miliknya kepada sang suami.
Buru-buru dia melangkah ke kamar mandi yang letaknya ada di pojok belakang.
Dela sungguh tak menyangka, kepulangannya bisa tanpa sengaja bertemu dengan para b******n yang bahkan saat dia masih tinggal di kampung ini, dia tak pernah lagi melihat mereka.
Kenapa saat Dela pulang kampung setelah lama di Jakarta secara kebetulan bertemu mereka. Bukankah takdir seolah membuatnya selalu kesulitan bernapas?
Ilham menerima dengan senang hati tas yang diberikan Dela, dan langsung berjalan menuju tempat pemesanan. Restoran desa ternyata berbeda dengan restoran kota.
Meski tempat ini tergolong ramai, tapi Ilham tidak melihat adanya pegawai yang seliweran di sini.
Pantas saja, mau pesan saja mesti ke tempat khusus. Tidak bisa langsung duduk lalu waiters datang dan mencatat apa-apa saja pesanannya.
"Meja nomer berapa, Mas?" tanya si mbak yang merupakan satu-satunya karyawan di sini.
"Eng ... Bungkus aja, Mbak."
"Oh, kalau begitu Mas langsung ke sebelah sana. Jadi nanti tinggal pilih sendiri mau lauk apa saja." Perempuan yang menurut Ilham tak terlalu cantik itu menunjuk ke sebuah tempat yang desainnya hampir sama dengan tempat dia berdiri sekarang. Hanya saja, di atas meja di sana, terdapat etalase yang penuh dengan makanan di dalamnya. Bahkan karyawan yang berjaga di sana sampai tak kelihatan saking banyaknya menu yang tersedia di etalase.
"Oke, terimakasih," ucap llham lalu setelahnya di berjalan menuju tempat yang ditunjuk si mbak tadi.
Dela memandang pantulan dirinya di cermin, tersenyum mengejek dirinya sendiri yang begitu pengecut menghadapi persoalan hidupnya sendiri. Harusnya Dela bisa melawan dan maju, tidak kabur, toh ... tetap saja kehidupan gelap yang dia lewati tak bisa dia lupakan meski dia telah pergi sejauh itu.
Jakarta-madura bukanlah jarak yang dekat. Perjalanan yang ditempuh hampir dua puluh empat jam menggunakan transportasi darat. Tetap saja bayangan kelam itu mengekor dalam pikirannya.
Dan sekarang, takdir kembali membuat Dela merasa jatuh terjerembab ke lembah gelap nan menakutkan itu. Dela tak bisa terus terusan seperti ini. Tak bisa!
Perempuan itu lantas membasuh mukanya, biasanya saat kepalanya terkena dinginnya air, sedikit ketenangan akan merasuk dalam pikirannya, lalu berlanjut dengan hatinya.
Sekarang, efek air baginya tidak berubah sama sekali. Menenangkan sedikit dan membuatnya bisa mengontrol diri untuk beberapa saat.
Kembali dia lihat pantulan dirinya di cermin. Ada sisa sesak dalam hatinya, tapi sudah tak separah tadi. Dela lantas menarik napas dalam-dalam dan menghembusnya perlahan-lahan, begitu dia lakukan berkali-kali sampai debaran di jantungnya perlahan berubah normal.
Sementara di depan etalase, Ilham dibuat kebingungan karena terasa ada getaran dan terdengar dering ponsel juga.
Dia merogoh celananya mengecek HPnya sendiri, tapi tak ada panggilan apapun di sana. Dia baru ingat bahwa dia memegang tas Dela.
Lantas, dia buru-buru mencari ponsel istrinya dan langsung menggeser ikon telepon hijau saat begitu dia menemukan benda pipih milik sang istri.
"Assalamu'alaikum, Ambu." Rupanya Ambu Indun yang menelepon.
"Waalaikum salam, Ham. Kalian ada di mana? Ambu tunggu kok gak datang-datang?" Sebuah suara yang sangat Ilham kenali, sebab hampir sama dengan suara neneknya terdengar. Suaranya lembut dan sedikit serak.
Itu adalah suara Ambu Indun, ternyata dia menunggu kedatangan anak dan menantunya untuk makan siang di gubuk kecilnya.
"Eng ... Maaf, Ambu. Nunggu kita bagaimana? Dela ga ada ngasih tau apa-apa sih sama saya," tutur Ilham terus terang.
Terdengar Ambu Indun menghela napas, "ya sudah gapapa. Ternyata Dela belum berubah sama sekali." Suara Ambu terdengar parau dan kecewa.
Panggilan pun berakhir sepihak. Ilham baru mau bilang kalau nanti dia akan ajak Dela ke rumah Ambu. Tapi sayang, sambungan telepon terlanjur dimatikan oleh Ambu.
Ilham berniat menelpon balik nomer Ambu.
"Mas, mau pesan apa?" tanya seorang lelaki yang berdiri di balik etalase makanan. Itu membuat Ilham urung menekan call di nomer Ambu.
Ilham asal tunjuk saja menu yang ada di dalam etalase. Pikirannya masih tertuju pada Ambu yang katanya sudah menunggu kedatangannya. Dia memang paling tidak bisa kalau menolak permintaan orang tuanya. Bagi Ilham, Orang tua Dela adalah orang tuanya sendiri. Dia akan bersikap sama seperti dia bersikap pada ibu dan bapaknya.
Saat ponsel Dela dimatikan, layar benda pipih itu langsung menyala dan ternyata menunjukkan pesan yang ada di aplikasi hijau.
Tertera nama Ambu di atasnya, "Del, makan siang di rumah, ya. Ajak suami kamu juga. Ambu masakin sayur lodeh kesukaan kamu."
Ilham langsung menekan tombol off yang terletak di sisi samping benda tipis di tangannya begitu dia menyadari bahwa ada seseorang yang datang menuju ke tempatnya.
"Gimana, Mas? Udah pesen?" tanya Dela tiba-tiba ada di belakang Ilham.
"Iya. Tadi Mas salah pesen, sama mbak yang jaga suruh pesen di sini kalo mau dibungkus."
Dela sudah tahu itu, karena sebelum dia pergi ke Jakarta, dia sudah beberapa kali datang ke tempat ini bersama dengan Lila atau teman-teman gurunya yang lain.
Pesanan sudah siap dan diterima Ilham. Keduanya pun keluar dari restoran yang semakin memperlihatkan aslinya Dela yang cuek.
Ya, terbukti dari panggilan tiga orang yang tadi memanggil Dela, perempuan itu mengabaikannya dan bahkan langsung pergi ke kamar mandi.
Tak hanya itu, Ilham juga tak sengaja membaca chat Ambu yang menyuruh Dela makan siang di rumahnya tapi juga diabaikan oleh perempuan itu.
Entah perempuan seperti apa yang sudah Ilham nikahi ini. Padahal di dua tahun selama mereka punya hubungan, dari pacaran hingga tunangan, tak ada sifat-sifat buruk yang Ilham lihat dari Dela.
Mungkin ini maksud dari ucapan Ibu Tumini, bahwa Ilham harus bisa membimbing Dela, memberinya nasehat sebab Dela sudah menjadi tanggung jawabnya.
Tak ada obrolan diantara keduanya, sebab Ilham larut dalam pikirannya sendiri. Sementara Dela tampak masih sama seperti sebelumnya, menatap kosong ke depan seolah memikirkan sesuatu, namun tentu Ilham tidak dapat mengetahuinya tanpa diberitahu oleh si empunya pikiran.
"Mas ... Gimana kalau makanannya kita makan di rumah Ambu aja?" usul Dela saat suasana dalam mobil seolah menjadi kaku.
Tidak tahu saja dia kalau sekarang Ilham tengah memikirkannya.
Tapi, begitu mendengar usulan Dela barusan. Seketika wajah Ilham berubah cerah. Ternyata Dela tidak seperti yang sempat dia pikirkan.
Tentu laki-laki kota yang sudah berstatus suami itu mengangguk dengan semangat.
"Etapi jangan deh. Mending besok aja. Aku pikir lagi, nanti kita di sana bakalan disuruh nginep lagi pasti."
Huft ... Oke Ilham, calm!
Dela kan memang paling bisa kalau nge-bolak-balik perasaannya.
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang. Masih tak terdengar obrolan diantara sepasang suami istri itu.
Hingga mobil mereka kembali memasuki jalanan desa yang rusah dan berlubang. Kecepatan kembali turun dan mobil melaju dengan sangat pelan.
"Maaf ya, Mas. Sikap aku pasti ngecewain kamu, kamu perlu tahu, aku sayang Ambu tapi ada sesuatu yang membuat aku kayak gini. Dan itu tidak bisa aku ceritain sama kamu." Dela sangat mengerti dengan perubahan sikap suaminya.
Sebab itulah, dia berinisiatif untuk meminta maaf.
"Sebenarnya Mas gak apa-apa. Cuma kasihan aja sama Ambu. Mas juga nggak kecewa kok, karena Ambu pasti jauh lebih kecewa. Kamu pasti tau kepada siapa kamu seharusnya meminta maaf," ucap Ilham sembari terus fokus mengemudi.
Dela diam, ingin sekali dia ceritakan semuanya tapi rasa takut kehilangan membuat dia tak bisa bicara. Lidahnya terasa kelu dan hanya air matanya yang bicara dan tumpah saat itu juga.
Nah, kan ... Selalu aja nangis. Akutuh paling ga bisa kalo udah kek gini!
Ilham memukul setir kemudi lalu menghentikan mobilnya.
Setelahnya dia meraih tubuh sang istri dan membawanya masuk dalam dekapannya.
"Aku suami kamu, apapun yang kamu rasain bisa kamu bagikan sama aku. Aku bersedia nampung beban yang buat kamu terasa berat."
"Kita ini sudah menjadi satu, Del. Apapun yang kamu alami kamu rasain, sudah seharusnya aku mengetahuinya." Ilham berusaha meyakinkan sang istri. Karena memang sudah seharusnya dia tahu apapun tentang Dela.