Tanpa Dela

1374 Kata
"Aku suami kamu, apapun yang kamu rasain bisa kamu bagikan sama aku. Aku bersedia nampung beban yang buat kamu terasa berat. Kita ini sudah menjadi satu, Del. Apapun yang kamu alami, kamu rasain, sudah seharusnya aku mengetahuinya.” Ilham tak henti membujuk istrinya. Dia ingin sekali mendengar Dela menceritakan alasan kenapa dia tampak tak suka kalau diajak ke rumah ambunya. Bukankah sebagai anak, harusnya dia bahagia ketika suaminya mengajaknya pulang ke rumah orang tuanya? Dela diam, pikirannya terlalu kalut untuk mencerna kalimat demi kalimat yang Ilham ucapkan. Perempuan itu terlalu takut untuk menceritakan kenyataan yang selama ini selalu dia tutupi. Tidak! Dela tidak pernah menutupi semua itu sebelumnya. Hanya saja saat Dela menceritakannya dulu, justru banyak orang yang menghujat dan tidak memercayainya. Dia dianggap membual dan bahkan mencari perhatian orang-orang. Dela takut bila hal itu terjadi lagi, lebih baik tidak dia ceritakan saja daripada endingnya dia dianggap sebagai pendusta. Sejak itulah, perempuan yang sudah ditinggal pergi oleh bapaknya sejak masih bayi itu tak lagi mau terbuka pada siapapun. Dan Ilham, laki-laki itu menjadi korban trauma Dela yang sampai detik ini tak pernah bisa melupakan kejadian itu. Ketika itu, pertengkaran besar terjadi antara dia dan ambu Indun, perdebatan panjang itu bahkan sampai didengar oleh warga sekampung dan Dela mendapat cap buruk sebagai anak tak tahu diuntung, anak durhaka dan anak tak tahu balas budi. Dela yang ketika itu tak punya siapa-siapa selain ambu, memilih pergi karena merasa ambunya tak lagi menyayanginya. Dia pergi ke wisma yang kebetulan pemiliknya adalah orang tua dari sahabatnya, Lila. Ah ... mengingat itu, hati Dela kembali merasakan sayatan yang teramat menyakitkan, luka yang semula mulai mengering seolah terbuka kembali. Mobil sudah masuk ke jalanan kecil yang menuju wisma, jalan yang hanya bisa dilalui oleh satu mobil. Mereka benar-benar urung untuk pergi ke rumah Ambu. "Mas ... Besok pagi aja kita ke rumah Ambunya. Aku benar-benar nggak bisa kalau harus pergi sekarang." Terdengar kumandang azan dari penjuru masjid yang baru mereka lalui tadi. Rumah-rumah penduduk yang berjarak itu sudah mulai terang dengan penerangan lampu di teras rumah mereka. "Kenapa?" Ilham sungguh masih sangat penasaran dengan diri istrinya yang seolah menghindar dan menjauhi ambunya. "Aku males aja sama suaminya Ambu. Aku ...." Dela terisak. Sakit itu sudah sukses terbuka lagi. Perih dan sangat menyesakkan. Ambu terlalu banyak menyayangi suaminya hingga tak menyisakan rasa sayangnya untuk Dela. Dela benci! Nangis lagi! Ilham kebingungan, satu sisi dia ingin sekali Dela menceritakan semua yang dia rasakan dan yang sudah terjadi sebelumnya. Tapi sisi lain, dia tak tega kalau melihat Dela menangis seperti ini. Pasti yang sudah dilalui istrinya sangatlah berat, hingga dia sampai menangis seperti itu. Tapi Ilham tak bisa menghibur istrinya sekarang, dia masi harus fokus nyetir sebab takutnya ada warga melintas. Tak berapa lama, mobil Ilham sudah masuk di halaman wisma. Sepertinya di waktu Maghrib begini, para penghuni wisma sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Semua pintu tertutup dengan cahaya lampu dari dalam yang terlihat dari celah jendela yang terbuka tirainya. "Kamu masuk aja, Mas mau sholat di masjid." Ilham berucap sembari memandang Wajah sang istri. Dela mengangguk, sementara tangisnya tak juga mereda. Terlebih saat dia melihat suaminya yang hanya diam menatap Dela. Mas Ilham ga peluk aku. Biasanya dia peluk aku kalo aku nangis! Aku jadi makin ragu buat cerita. Dela membuka pintu lalu turun tanpa mengucapkan apa-apa. Ilham pun demikian, dia langsung memutar balik mobil dan pergi meninggalkan halaman wisma. Dela berdiri di teras sembari menenteng plastik merah yang berisi makanan di dalamnya, setelah mobil suaminya tak terlihat di pandangan matanya, barulah Dela masuk ke dalam. Ilham sendiri masih menyetir, saat malam seperti ini ternyata jalanan desa menjadi sedikit seram karena penerangan di sisi jalannya tak terlalu terang. Pun jarak antara satu lampu dengan lampu lainnya berjarak cukup jauh. Huft ... Tenang! Nggak bakal ada apa-apa. Ilham terus mengirimkan sinyal positif ke otaknya. Hingga pada akhirnya mobil yang dia kemudikan sudah tiba di halaman masjid. Ilham memarkirkan mobilnya dan langsung menuju ke tempat wudhu'. Setelahnya dia menggelar sajadah di dalam. Sebab penduduk yang sholat di sini tidak terlalu banyak, maka sajadah yang digelar hanya satu baris di belakang imam. Ilham jadi harus menggelar sajadah sendiri karena barisan di belakang imam sudah penuh. Saat baru selesai sholat, ponselnya bergetar, sangat terasa dari saku celananya. Ilham cepat-cepat merogoh dan mengambilnya, sebab mungkin saja yang menelpon adalah Dela, istrinya. Tapi ternyata dia salah, tertera rentetan nomer di sana. "Siapa, ya?" Ilham memutuskan untuk tidak menerimanya sebab dia masih harus dzikir dan berdoa mengikuti imam yang masih membaca dzikir. Barulah setelah semuanya selesai, Ilham mengambil kembali ponselnya dan menghubungi balik nomer yang tadi. "Halo, Ham." Suara lelaki yang terdengar tak asing. "Iya, Halo," sahut Ilham. "Ini bapak, Ham. Ambu katanya udah nelpon Dela, udah kirim pesan juga buat nyuruh kalian ke sini tapi kalian ga datang, padahal Ambu udah masak banyak lho." Terdengar sedikit nada kecewa di sana. "Maaf, Pak. Tapi ...." "Iya iya. Bapak paham, Dela-nya yang nggak mau, ya?" tebak Pak Faris memutus kalimat Ilham. Ilham jadi merasa bersalah karena tak berhasil membujuk istrinya. "Anak itu belum berubah sama sekali. Semoga kamu bisa lebih sabar ngadepin dia," ucap Pak Faris lagi. Mendengar kalimat Pak Faris, Ilham jadi bertanya-tanya, apa yang tidak Dela suka dari orang tuanya? Bapak barunya yang dia sebut-sebut sebagai suami Ambu (tidak pernah mau mengakui sebagai bapak sambungnya) itu sangat amat baik sikap dan ucapannya. Bahkan dia tampak begitu sabar menghadapi tingkah Dela yang seringkali mengecewakan. Lalu Ambu, perempuan itu apalagi. Dia lembut dan begitu baik. Tidak pernah berbicara dengan nada tinggi, dan sabar menyikapi perlakuan Dela yang terkadang keterlaluan. Shit, Ilham jadi kasihan pada ibu dan bapak mertuanya. "Iya, amin, Pak. Tapi kalau boleh tau, apa yang membuat Dela seperti itu?" Tak dapat jawaban dari Dela, dari mertuanya pun jadi. "Sebaiknya kamu ke sini, Ham. Panjang kalau harus bapak ceritain di telepon." Pak Faris menjawab. Sejenak, Ilham melirik arloji di lengannya. Mungkin masih keburu kalau dia pergi ke sana sekarang. Patokan jalan untuk ke rumah Ambu adalah pertigaan yang juga dijadikan tempat menunggu angkutan. Lalu setelahnya Ilham hanya perlu lurus dan akan melewati rumah Kakek Atmo, barulah setelah itu dia akan sampai di rumah Ambu. Semoga ingatannya nggak salah! "Masih ingat, kan, jalannya?" tanya Pak Faris kemudian. Dia khawatir menantunya malah tersesat karena jalanan di kampung sangat beda jauh dengan jalanan di kota. Tapi bagi Ilham, merepotkan mertua adalah pantangan. Berbekal ingatannya, dia berucap dengan penuh keyakinan, "Iya, saya rasa saya masih ingat, sih, Pak." Ilham menjawab dengan tenang. Sejujurnya, ada keraguan di dadanya, khawatir kalau patokan yang dia ingat salah dan malah membawanya ke tempat yang salah. "Ya sudah kalau begitu, kamu tinggal telepon bapak kalo misalkan kamu nyasar," ucap Pak Faris, mengirimkan seinyal ketenangan sedikit ke dalam hatinya. Sambungan pun terputus setelah pak Faris mengatakan bahwa dia siap menjemput Ilham, kalau nanti Ilham lupa kemana arah jalan ke rumahnya. Berbekal pengalaman sebelumnya, Ilham mulai melajukan mobilnya menuju kediaman Ambu, kali ini dia pergi tanpa Dela. Satu harapannya adalah dia bisa tahu kejadian di masa lalu yang menyebabkan sang istri seolah menjaga jarak dari perempuan yang sudah berjasa melahirkannya yaitu Ambu. Ilham tak suka kalau istrinya bertingkah seperti itu, sebisa mungkin Ilham sebagai suaminya harus menasehati jika Dela bertingkah tanpa alasan. Ah, tapi alasan apapun itu, tidak seharusnya Dela bersikap seperti itu. mengabaikan permintaan ambunya yang hanya meminta datang untuk makan siang bareng. Ilham terus mengemudi. Patokan demi patokan yang dia ingat sudah dia lalui satu persatu, hingga tibalah dia di depan rumah yang ditujunya, rumah Ambu. Huft, akhirnya sampai juga. Syukur ngga nyasar! Dia sampai dengan selamat dan tak tersesat, juga tak perlu dijemput oleh Pak Faris, mertuanya. Dan seperti ketika datang ke rumah ini tadi pagi, di depan rumah sudah berdiri Pak Faris dengan Ambu Indun yang tengah menunggu dan menyambut kedatangannya. Lalu apa yang Dela tidak suka? Apa yang membuat perempuan itu selalu malas datang ke tempat sehangat ini? Ilham tak habis pikir pada sikap dan perilaku istrinya. Memiliki orang tua yang menyayanginya, harusnya Dela senang dan bersyukur. Apalagi bapak tiri, sangat sulit mencari laki-laki yang bisa menerima anak hasil pernikahan istrinya dengan suami sebelumnya. Harusnya Dela banyak bersyukur untuk itu. Kalo ini sinetron, judulnya bukan lagi nasib anak tiri, tapi nasib bapak tiri. Kalau mau mirip sinetron ikan terbang, bisa ditambahkan lagi kata dalam judulnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN