Ke rumah ambu

1306 Kata
Ilham disambut hangat oleh sepasang suami istri yang merupakan mertuanya. Meski tanpa Dela, tapi tak ada rasa sungkan sama sekali dalam hatinya untuk masuk ke rumah mertuanya. Sekali lagi, karena Pak Faris dan Ambu Indun sudah dia anggap sebagai orang tuanya sendiri. "Ayo masuk!" Pak Faris merangkul menantunya masuk ke dalam rumah. Karena tadi saat bareng Dela dia tak sempat memerhatikan sekeliling rumah, sekarang Ilham justru memanfaatkan ketiadaan istrinya untuk melihat keadaan rumah orang tua istrinya dengan seksama. Benar kata Dela, rumah ini kecil dan hanya cukup ditinggali berdua. Tapi benar juga kata Pak Faris, bahwa meski kecil tapi di dalam rumah terdapat dua kamar yang bisa dijadikan tempat tidur untuk mereka berdua, Dela dan Ilham menginap. Dan itu tak bisa dijadikan alasan untuk Dela menolak tinggal dan menginap di rumah ambunya. Bagaimanapun, di sini adalah tempat dia dilahirkan dan dibesarkan. Seharusnya, dia mau dan bahkan tak seharusnya dia langsung marah tadi. Dela istrinya benar-benar sudah membuat kesalahan besar dengan selalu mengabaikan kedua orangtuanya. Semoga saja Ilham bisa merubahnya menjadi lebih baik lagi. Ilham masuk dengan duduk lesehan di atas tikar yang ternyata sudah digelar di depan sebuah ruangan "Ini dulu kamar Dela." Pak Faris menunjuk kamar yang ada di belakang ia dan Ilham duduk. Ilham menanggapi dengan anggukan. Dia sungguh tak enak pada bapak mertuanya ini. Dia sudah gagal membujuk Dela untuk menginap di sini, setidaknya selama mereka ada di Madura, harusnya Dela mengajak Ilham tinggal di rumahnya. Tapi ya sudahlah, Toh ... Ilham masih bisa membujuk Dela menginap besok malam mungkin. "Dela itu anak yang baik, cuma mungkin karena pergaulan, dia menjadi seperti ini. Bapak paham, paham sekali dengan yang dia rasakan." Pak Faris mulai membuka obrolan tentang Dela. Sesuatu yang Ilham harapkan sejak mendapatkan telepon dari mertuanya. Ambu sibuk di dapur, sengaja dia berikan ruang untuk para lelaki bicara dari hati ke hati. Ambu tak ingin merusak suasana. "Dia marah pada dirinya sendiri karena mendengar omongan orang kampung kalau bapak kandungnya pergi itu gara-gara dia. Ambunya sudah menjelaskan, tapi katanya sejak itu Dela mulai berubah menjadi pendiam. Ditambah lagi, beberapa bulan setelah itu, Ambu menerima lamaran bapak. Dia terlihat semakin marah dan yaaa ... Bapak tidak terima olehnya di rumah ini," ucap Pak Faris terlihat menyayangkan kehadirannya yang tidak diterima oleh pemilik rumah. "Awalnya bapak mau ngalah, karena kasian, Dela merasa bapak merebut kasih sayang ambunya. Padahal semua yang kami lakukan semata-mata untuk dia." Pak Faris menundukkan kepala. Dia memang hanya bapak sambung Dela, tapi Ilham tahu bahwa lelaki dengan bulu di bawah hidungnya ini menyayangi putri sambungnya dengan sepenuh hati. "Nak Ilham, bapak minta tolong ... Tolong yakinkan Dela kalau kita, bapak sama Ambu sayang sekali sama dia." Pak Faris memohon. "Jujur ... Saya merasa Dela itu sangat merindukan ambunya. Jadi besok, saya akan pergi bekerja dan tidak akan pulang ke rumah sampai lusa biar Dela mau nginep dan puas-puasin bareng sama ambunya di sini." Ahhh ... Sebesar ini kasih sayang bapak sambung istrinya. Ilham sebenarnya kasihan, tapi tak tahu harus apa untuk memperbaiki hubungan mereka. "Tidak, Pak. Kalau bapak tidak pulang, bapak bakalan tidur di mana?" tanya Ilham khawatir. Dia tentu akan kepikiran kalau mertuanya tidak punya tempat untuk bermalam. "Tenang saja, bapak masih punya keluarga. Ada adik kandung bapak yang masih hidup, dia juga tinggal di kampung ini." Jawaban Pak Faris membuat Ilham yang mendengarnya merasa lega. Tak lama, Ambu datang dengan dua piring berisi makanan. "Ayo makan dulu!" "Pak, bantu bawain semuanya ke sini," ucap Ambu Indun kepada suaminya, Pak Faris. Dia meletakkan piring yang dibawanya di atas tikar. Sementara Pak Faris bangkit untuk membantu sang istri. Ilham tentu tak tinggal diam, dia ikut bangkit untuk membawa makanan yang telah dimasak oleh Ambu ke tempat mereka duduk lesehan. "Ambu, kenapa makannya tidak di meja saja?" tanya Ilham pada Ambu Indun. "Makan di bawah rasanya lebih nikmat, Ham. Itu nasinya tolong!" Ambu menunjuk sebakul nasi yang masih mengepulkan asap agar dia bawakan oleh Ilham. Diangkut rame-rame ternyata membuat pekerjaan mereka selesai dengan sekali angkutan. Mereka duduk berhadap-hadapan mengelilingi makanan yang sudah tersaji di atas tikar, makanan yang dimasak Ambu dengan susah payah tapi tak disambut oleh orang yang disayanginya. Tapi tak apa, karena malam ini, makanan hasil ia masak pasti akan habis oleh suami dan menantunya. "Maafin saya ya, Ambu, Pak. Saya ga berhasil bujuk Dela," ucap Ilham tak tega melihat wajah orang tua istrinya. Garis tua sudah terlihat di wajah keduanya, tapi orang yang mereka sayang ternyata sama sekali tidak menunjukkan kasih sayang yang sama pada mereka. Ilham kecewa, kali ini dia merasa kecewa pada istrinya. Kecewa yang teramat. Tapi tak apa, setidaknya malam ini dia bisa membayar rasa bersalahnya dengan datang ke rumah ini dan menyantap makanan yang Ambu buat. "Nggak apa-apa, Nak Ilham. Bapak sama Ambu sudah biasa kok hidup berdua seperti ini." Ambu mencoel lengan Pak Faris, dia tak ingin Dela-nya menjadi semakin buruk di mata Ilham, suami anaknya. "Sebaiknya kamu makan dulu, nanti kita lanjut ngobrol setelah makan," ucap Ambu pada Ilham. Kini, tak lagi ada obrolan diantara tiga orang itu. Mereka fokus pada piring mereka masing-masing. Terutama Ilham, lelaki itu belum makan lagi sejak tadi. Ya, dia hanya makan saat tadi pagi ke rumah ini. Masakan hasil olahan tangan Ambu tak kalah dibandingkan masakan ibunya sendiri, tentu Ilham memakannya dengan lahap, dia tak ingin kelaparan lagi seperti sejak siang tadi. Apalagi, saat pulang nanti, dia pasti akan diserbu Dela dengan pertanyaan-pertanyaan, Ilham butuh tenaga ekstra untuk membuat jawaban yang masuk akal dan bisa dipercaya istrinya. Setelah merasa kenyang, barulah Ilham menghentikan makannya dan mencuci tangan. Oh, ya. Ada yang terlupakan! Mereka makan pakek tangan. Jadi Ilham cuci tangan setelah menyelesaikan makannya. Sekarang mereka, hanya Ilham dan Pak Faris pindah ke kursi kayu yang lurus dengan pintu masuk rumah ini. Keduanya akan melanjutkan obrolan, namun dihentikan oleh Ambu Indun yang menyusul ke tempat mereka. "Ham, Ambu bukan mau ngusir, tapi sebaiknya kamu pulang karena takutnya Dela curiga kamu datang ke sini. Ambu ga mau anak sama mantu Ambu ribut karena perkara kecil." Sekalipun Dela tahu Ilham datang ke sini, memangnya kenapa? "Ambu yakin sekali, kalau dia tahu kamu datang ke rumah Ambu ini, dia bakalan marah sama kamu," ucap Ambu lagi. Harusnya dia senang karena suaminya bisa menjalin hubungan baik dengan orang tuanya. Itu yang akan Ilham rasakan kalau Dela berlaku sama sepertinya saat ini. Ah, tapi mungkin memang Ilham yang tidak begitu paham dengan situasi di rumah ini, bisa jadi ada masalah besar yang tidak Ilham ketahui hingga Dela berbuat seperti ini, melihat sikap Ambu pun, sepertinya dia sudah terbiasa dengan perlakuan Dela. Jadi lebih baik Ilham menuruti saja apa yang Ambu katakan saat ini. Dia bangkit, lalu kemudian berpamitan, menyalami satu persatu tangan mertuanya. Keputusannya untuk datang ke rumah ambu ternyata tak menghasilkan apa-apa, dia tak mendapatkan jawaban atas sejuta pertanyaan yang bersarang di benaknya. Meski dengan sedikit menyesal dia lantas kembali, pulang ke wisma, tempat sang istri berada. Ilham mengemudi dengan hati-hati karena jalanan sedikit ramai sebab banyak penduduk yang baru pulang dari masjid. Dia pun melihat jam tangan yang melingkar di lengannya. "Pantesan orang-orang udah pada pulang dari masjid, ternyata udah azan isya'. Apa aku sholat di rumah aja, ya. Takutnya kelamaan kalau aku sholat di masjid." Saat melewati rumah Kakek Atmo, Ilham melihat rumah itu seperti tak ada orang. Pintu rumah Kaket Atmo tertutup tak seperti rumah-rumah penduduk yang tadi Ilham lewati. Jalanan di sini pun jauh lebih gelap dari saat tadi dia berpapasan dengan orang-orang yang baru pulang dari masjid. "Pasti rumah itu ditutup karena Kakek Atmo sering keluar tanpa pamit," tebak Ilham. Tak jauh dari rumah kakek Atmo ada gubuk kecil dengan lampu teplok yang menyala di sana. Ada tiga orang nongkrong yang ketiganya tampak tak asing bagi Ilham. Itu orang-orang yang tadi manggil Dela di restoran. Mereka tampak bermain kartu sembari ketawa-ketiwi. Apa aku turun aja trus sapa mereka?! Siapa tau aku bisa dapet info soal Dela.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN