Mobil Ilham melewati jalan depan rumah Kakek Atmo. Pintu rumah Kakek itu tertutup rapat, mungkin sengaja pintu itu ditutup sebab tak ingin Kakek Atmo pergi-pergi lagi seperti kemaren.
Sejatinya, Ilham ingin sekali menemui Kakek itu malam ini, dia ingin menanyakan tentang kelanjutan kalimat yang diucapkan kakek Atmo tadi.
Ke rumah Ambu tak dapat info apa-apa, mungkin dari kakek Atmo dia bisa mendapatkannya.
Dia memberhentikan mobilnya, niatnya untuk bertanya tentang Dela sudah bulat, sebulat empat ban mobilnya.
Saat tangannya sudah memegang handle pintu mobil, mendadak dia urung.
Ah, tapi rasanya sungkan kalau Ilham harus mengetuk pintu rumah itu sekarang. Barangkali pemiliknya sudah beristirahat.
Lagi pula, Ilham harus buru-buru kembali ke wisma agar Dela tidak curiga.
Rumah Kakek Atmo sudah tertinggal jauh di belakang, sekarang mobil Ilham ada di jalanan yang minim penerangan. Ada gubuk terbuat dari bambu di pinggir kiri jalannya. Di sana, terdapat tiga orang nongkrong yang ketiganya tampak tak asing bagi Ilham.
Itu orang-orang yang tadi manggil Dela di restoran. Mereka tampak bermain kartu sembari ketawa-ketawi.
Apa aku turun aja trus sapa mereka?! Siapa tau aku bisa dapet info soal Dela.
Ilham menghentikan mobilnya lagi, setidaknya dengan bertanya dia bisa tahu walau sedikit tentang masalah antara Ambu dan Dela.
Kembali Ilham memegang handle pintudi sebelah kirinya, namun lagi-lagi dia urung turun, sebab tak sengaja matanya menangkap beberapa botol minuman keras yang ada diantara tiga orang itu.
Sepertinya mereka tengah berpesta dengan ditemani botol minuman haram itu. Pantesan, mereka ketawa-ketawa seperti itu.
Melihat orang-orang itu, Ilham jadi kepikiran Dela. Sebenarnya apa hubungan istrinya dengan orang-orang pemabuk ini?
Bagaimana orang-orang ini bisa mengenal istrinya?
Kini, semakin bertumpuklah pertanyaan di benak Ilham tentang istrinya. Namun bertambahnya pertanyaan itu tak berarti membuat Ilham berani turun dan menghampiri orang-orang itu.
Tau, kan gimana kalau orang sedang mabuk? mereka bisa berbuat sesuatu di luar kesadaran mereka. Ilham hanya mengantisipasi sesuatu yang buruk yang tidak diinginkan. Lebih baik dia melanjutkan perjalanannya.
Ilham pun menyalakan kembali mesin mobilnya. Menjauhi gubuk yang ternyata adalah tempat orang kampung melakukan dosa.
Seperginya mobil Ilham, ternyata datang seorang lelaki dengan penutup kepala dan jaket hitam yang berjalan ke arah gubuk itu. Lelaki itu langsung disambut dengan suka cita oleh tiga orang yang sudah nongkrong sejak sebelumnya.
Sementara Dela, perempuan itu mondar-mandir gelisah di depan pintu kamarnya. Bahkan sapaan orang-orang yang melintas hanya dia tanggapi dengan senyuman dan anggukan.
Kemana suaminya? Orang-orang yang sholat ke masjid sudah berdatangan sejak tadi. Tapi suaminya belum juga tampak batang hidungnya.
Dela semakin gelisah, terlebih saat dia hubungi nomer suaminya, tapi nomernya malah tak aktif.
Sekali lagi Dela mencoba, tapi jawaban dari seberang masih sama, dijawab oleh perempuan yang hanya selalu Dela dengar tapi tidak pernah tahu seperti apa wajahnya.
Aaahhh, Dela baru ingat sekarang. Secanggih apapun ponsel yang dimiliki seseorang, hanya di tempat-tempat tertentu saja yang ada sinyal. Sehingga saat Dela menghubungi nomer Ilham, nomer itu tidak bisa dihubungi.
Huft ... Dela tahu betul bahwa di masjid, jaringan akan langsung X.
Tidak tahu saja dia kalau tadi Nomer suaminya ditelepon Pak Faris saat sedang di dalam masjid, bisa bisa aja, kok.
Sudah lelah mondar-mandir di luar, Dela pun masuk dan mencoba sekali lagi menelpon nomer suaminya. Tapi masih seperti sebelumnya, nomer itu tidak bisa dihubungi.
Kemana sih kamu, Mas?
Semua orang yang tinggal di wisma, mayoritas sholatnya ke masjid, tapi beberapa dari mereka sudah pada balik.
Hal itulah yang membuat perempuan dengan rambut sebahu itu menjadi makin khawatir. Khawatir kalau Ilham malah salah jalan dan bukan kembali ke sini.
Ah, harusnya tadi nggak aku izinkan Mas Ilham sholat ke masjid.
Dela sekarang menyalahkan dirinya sendiri. Tentu saja, kalau saja Dela menahan suaminya agar sholat di rumah saja, pasti Ilham tak akan nyasar dan sudah kembali ke wisma ini sekarang.
Mulai frustasi memikirkan suaminya, Dela duduk meremas rambutnya frustasi, duduk selonjoran di atas lantai di samping kasur. Dia sungguh akan sangat merasa bersalah bila suaminya sampai nyasar dan kenapa-kenapa.
Dan kalau itu sampai terjadi, Dela tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
"Dela ...." Suara yang sejak tadi dia tunggu seolah terdengar di telinganya. Dia mendongakkan kepala, melihat semua sisi ruangan namun tidak ada siapa-siapa.
Dela bahkan sampai berhalusinasi.
Apa memang terjadi hal yang buruk pada suaminya?
Pikiran Dela semakin tak terkendali.
Lebih baik dia susul suaminya ke masjid, daripada cuma duduk dan mondar-mandir seperti tadi. Lagi pula, jalan dari wisma ke masjid hanya ada satu jalan, jadi tak mungkin mereka tak bertemu kalau memang Ilham tak salah jalan pulang dari masjid.
Namun, begitu dia membuka mata, netra nya menangkap punggung bidang berbungkus kemeja yang tadi dipakai suaminya tengah menutup pintu mobil, lelaki itu berdiri membelakanginya.
Dela mengucek matanya, takut dia berhalusinasi lagi seperti tadi.
Dia mirip Mas Ilham.
Begitu dia melihat lagi, lelaki itu membalikkan badan dan ternyata benar, dia tidak sedang berhalusinasi.
Mas Ilham!
Dela langsung menghambur memeluk Ilham. Dia tak peduli dengan adanya beberapa penghuni wisma di teras kamar mereka.
Adegan itu tentu menjadi tranding objek untuk mereka nikmati sebelum pergi tidur.
"Del, neng e delem, Del. Been agebeyen jomblo agili Cheil*." Seseorang nyeletuk, menggoda Dela.
Seketika gadis itu tersipu dan langsung menarik tangan Ilham masuk ke dalam kamarnya.
Dan hal itu sukses menjadi gelak tawa, karena Dela ternyata menuruti apa yang dikatakan oleh Lila -orang- yang ternyata menggodanya tadi.
Sementara di dalam kamar, Dela langsung menyerbu Ilham dengan pertanyaan. Padahal kalau boleh Ilham berkata jujur, dia lebih suka kalau Dela memeluk nya saja seperti tadi, daripada ngasih pertanyaan yang justru mengharuskannya menjawab bohong.
"Kok lama banget sih, Mas?"
Ilham menjawab bahwa dia masih mengobrol dengan salah seorang warga di sana.
Tentu saja Dela percaya, karena penduduk kampung ini pasti akan menyapa dan berbasa-basi menanyakan tentang Ilham tentunya. Hal itu sudah biasa mereka lakukan untuk mengenal orang baru yang mereka lihat ada di kampung ini.
Sebenarnya bukan bermaksud untuk mengintrogasi, hanya saja mereka berniat menjalin hubungan baik dengan berbasa-basi mengobrol tentang dari mana dengan siapa dan sekarang tinggal di mana?
Mendengar jawaban Ilham, perempuan itu lantas memeluk tubuh sang suami sekali lagi.
Ilham menerimanya dengan senang hati, dengan begini dia bisa leluasa mencium ceruk leher Dela.
Mungkin sekarang lah saatnya.
Otak kotor Ilham kembali meracuni, pikirannya yang semula penuh dengan pertanyaan tentang apa yang terjadi antara Dela dengan Ambu di masa lalu, juga tentang alasan Dela tidak menerima suami baru ambunya mendadak sirna. Berganti bayangan liar nan menggoda untuk Ilham lakukan dalam nyata.
Ilham melepaskan pelukan itu, memandang wajah sang istri lekat lalu mengunci wajahnya dengan kedua tangannya.
This is the time!
Dela diam, melakukan hal yang sama dengan memandangi wajah suami yang tadi sempat membuat dia nyaris terkurung dalam ketakutan dan kegalauan. Huft ... kalau saja Ilham tidak datang mungkin Dela sudah menyusulnya ke masjid.
Rupanya, waktu dan suasana yang ada sedang memihak Ilham.
Dela seolah tak menyadari bahwa wajah suaminya kian dekat dan terus mendekat, sampai pada akhirnya permukaan bibir mereka saling bersentuhan.
Dan sekarang, bukan lagi karena tak sadar, Dela justru ikut andil menikmati permukaan bibir suaminya yang kenyal, bak permen yupi yang sering dimakan anak-anak muridnya.
Dua insan yang sudah saling terikat itu bergerak seirama mengikuti kata hati dan naluri masing-masing.
Hingga dari saling bersentuhan, berubah menjadi gerakan lembut perlahan, baik Dela maupun Ilham ternyata saling suka dengan pertemuan ini.
Dari gerakan perlahan tadi, berubah menjadi lumatan dan ajang pertukaran Saliva.
Ilham yang paling merasa bahagia dalam hal ini, ini adalah awal dari pergumulan nikmat yang akan dia raih sebentar lagi.
Akhirnya, yang dia tunggu-tunggu dan dia inginkan sejak malam pertama kemarin, akan segera terwujud malam ini.
Tak mengapa ini bukan malam pertama, bagi Ilham malam ke berapa bukanlah sesuatu yang penting. Yang paling penting adalah akhir dari penyatuan itu nantinya.
Sukses melepaskan keperjakaan bibirnya, Ilham mulai naik step ke langkah yang berikutnya. Bukan dia menghafal step by step langkah untuk menggapai nikmat surga itu, tapi memang tubuhnya sendiri yang membuat langkah demi langkah dengan sendirinya.
Tangan Ilham mulai berani menyusup ke balik baju Dela yang longgar, sembari masih saling memagut, tangan Ilham bergerak nakal menyusuri punggung mulus Dela, tangannya berhenti di atas pengait besi kecil bersusun tiga di sana.
"Emh ... Mas, aku lapar." Dela mendorong tubuh Ilham, menghentikan penyatuan bibir mereka secara sepihak.
Dan itu sukses membuat Ilham merasa terhempas ke jurang yang sangat dalam.
Tak bisakah Dela menahannya sebentar?
Ilham terlanjur menempuh perjalanan menuju nikmat itu. Dia tak ingin berhenti apalagi hanya karena lapar. Ilham tidak lapar, dia sudah makan tadi di rumah Ambu.
Didorong tubuhnya oleh Dela bukan lantas Ilham langsung menerima.
"Tanggung, Del." Ilham menundukkan wajahnya hendak menggapai bibir Dela dengan bibirnya sekali lagi.
Namun, kembali Dela mendorongnya. Bersamaan dengan itu, terdengar bunyi 'kruuk kruuuk krruuuk' dari perut rata Dela.
Shit, kalau sudah begini, Ilham tak tega kalau harus memaksa!