Di kamar

1332 Kata
Ilham lagi-lagi mendapat kegagalan. Dia selalu saja kalah kalau sudah berurusan dengan Dela. Tidak tidak! Lebih tepatnya dia selalu mengalah. Dia tak ingin memaksa Dela berbuat sesuatu yang diinginkan tapi dengan kondisi perut yang kosong. Dan sekarang, Ilham membiarkan Dela mengisi perutnya sementara dirinya masuk ke kamar mandi. Membuang hal yang seharusnya dia buang. Ah, membuangnya bersama-sama dengan Dela pasti akan terasa lebih nikmat. Sayang, Ilham hanya bisa membayangkannya sembari terus memberi pijatan dengan gosokan super cepat pada senjata perangnya. Dela memang selalu berhasil membuat Ilham mendesah di kamar mandi. Sekali-kali dibantu kek, Del. **** Dela menyantap makanan yang tadi dibelinya bersama dengan Ilham. Makanan itu sudah dingin, tapi tidak apa! Dia memakannya karena memang makanan dari restoria itu selalu enak. Rasanya bahkan tak pernah berubah sampai sekarang. Kaldu sapi yang merupakan menu favorit Dela, seolah mampu memanjakan lidahnya, saking enaknya, kaldu sapi yang masuk ke perutnya bahkan mampu mengubah mood dan suasana hatinya. Wow, seenak apa, sih rasa kaldu yang Dela makan? Btw ... kalau Kaldu di Madura berbeda dengan kaldu pada umumnya. Dia dibuat dengan kacang ijo yang diberi isian kikil dan daging sapi yang dipotong kecil-kecil, rasanya gurih dan tentunya enak di lidah. Makanan satu itu juga kegemaran author pas sedang kulineran di pulau garam. Hmm ... untuk rasa tidak diragukan lagi. Mantab jaya! Ehh, saking serunya membahas kaldu, jadi lupa sama Dela. wkwkwk. Isi mangkok di depan Dela sudah nyaris habis. Tinggal beberapa suapan lagi dan tentu tidak Dela sia-siakan. Hatinya memang sudah berubah suasananya. Tapi tahukah kamu? bahwa tadi Dela sempat merasa gelisah dan akan memilih untuk pergi keluar dari kamar ini saat Ilham masuk ke kamar mandi tadi. Tapi mengingat perutnya yang kosong, Dela memilih untuk mengisinya terlebih dahulu. Dan beruntung, rasa kaldu yang dia beli ternyata tak hanya bisa mengisi perutnya yang kosong keroncongan, tapi juga mampu menenangkan pikiran dan kondisi hatinya yang nyaris buruk. Benar kata orang, kalau perut terisi akan mengubah kondisi hati. Terdengar guyuran air dari dalam kamar mandi. Mas Ilham pasti mandi! Dela menyuapkan makanan yang sudah hampir habis itu ke dalam mulutnya, lalu akan bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu sebab tadi belum sempat sholat isya saking khawatirnya pada Ilham. Dan sekarang, kaldu di piringnya sudah tinggal suapan terakhir. Bersamaan dengan dering ponsel miliknya yang berbunyi dari atas meja dekat lemari. Dela masih menyuapkan makanan terakhirnya, lalu bergegas menuju meja dan mengambil ponselnya. Layar menyala menunjukkan panggilan video dari nomer tak dikenal. Profilnya pun hanya bergambar donat yang sudah digigit. Tak ada sedikitpun niatan di hati Dela untuk menerima telepon itu. Lantas dia mematikan data dan meletakkan kembali ponselnya. Berbeda dari Dela, Ilham kini menyelesaikan mandinya, dan lalu keluar dari kamar mandi dengan handuk menutupi separuh badannya yang bagian bawah. Perut rata milik Ilham terpampang nyata dengan hiasan roti sobek di atasnya membuat ngeces siapapun yang melihatnya, tapi tidak untuk Dela, dia justru menutup matanya dan berucap, "kamu ngapain sih, Mas keluar dari Kamar mandi cuma pakek handuk? ga malu emang?" Pertanyaan Dela sukses membuat dahi Ilham berkerut, bagaimana tidak? Istri yang seharusnya sudah melihat semua bagian milik Ilham sejak malam pertama, tapi masih saja mempertanyakan kemaluan -eh rasa malu- kepada Ilham? Dela sayang ... bahkan Mas sebenarnya pengen kasih liat lebih dari ini ke kamu, biar kamu naksir! Ilham melangkah mendekati istrinya, dia ingin menggapai tubuh Dela untuk dia bawa mengarungi samudera kenikmatan yang selalu gagal mereka arungi. Meski Ilham sudah membuang yang tadi, tapi itu hanya sebagian dari sekian banyak yang tersimpan di dalam miliknya. Dan membuangnya sedikit, tidak serta Merta membuat Ilham urung mengajak Dela berlayar. Terlebih, Ilham melihat sebuah piring kosong bekas makan Dela di atas tikar, itu menambah semangat untuk dia mengajak Dela berlayar sekarang. "No! jangan dekat-dekat! aku masih kebelet." Dela berucap, menghentikan langkah Ilham yang sudah berada beberapa centi di depannya. Haish ... sabar, Ilhaaam ... kata Doni, perempuan kalo belum ngerasain emang gitu! nanti pas udah sekali nyobain bakal minta terus! Ilham tak ingin memaksa, masih banyak waktu untuk dia mengajak Dela berlayar hingga sampai di pelabuhan impian. Meski bukan sekarang, mungkin besok! Ilham lantas membuka koper yang berisi baju-baju miliknya. Diambilnya piyama yang ada di dalamnya dan Ilham memakainya. Dia lantas naik ke kasur untuk pergi tidur. Ilham ingin membayar hutang istirahat yang tak semuanya terpenuhi sejak kemarin. Sementara Dela, dia berlama-lama di kamar mandi dengan harapan sang suami sudah tidur dan tak akan mengajaknya berbuat itu. Ah, entah kenapa sejak tangan Ilham menyusup ke dalam tubuhnya tadi, Dela mulai berpikir buruk tentangnya. Lelaki yang merupakan suaminya itu berani sekali menyentuh pengait bra miliknya. Padahal saat berciuman tadi, Dela sudah merasa terbang dengan perlakuan Ilham yang begitu lembut terhadapnya. Setelah dirasa cukup lama dia di kamar mandi, Dela mengintip keluar. Terlihat tubuh suaminya terlentang di kasur dengan sebelah tangannya berada di atas dahinya. Tak hanya itu, terdengar dengkuran halus dari sana membuat Dela yakin bahwa suaminya sudah benar-benar tidur. Lantas dia pun mengenakan handuk lalu kemudian dia ambil pakaian dari koper dan berlari lagi ke kamar mandi. Ilham yang mendengar suara langkah kaki Dela terbangun dari tidurnya, lelaki itu belum benar-benar tidur. Dia melihat semua yang Dela lakukan saat mengobrak-abrik isi kopernya lalu berlari masuk ke kamar mandi. Ikham tersenyum diam-diam sembari menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya. Dela Dela! padahal nanti semua yang ada di kamu bakalan aku liat dan bakal aku rasain semuanya! Kenapa masih malu-malu coba?! Ilham lantas menutup kembali matanya, berpura-pura tidur saat melihat pintu kamar mandi terbuka. Dari sana, muncul bidadari cantik dengan rambut basah. Tetesan air dari rambutnya mengenai dua gundukan bulat di d**a Dela. Ilham bisa melihat kalau istrinya tidak memakai bra. Kain yang basah memperlihatkan bulatan kecil yang berada di atas gundukan. Astaga, s**t! senjata yang baru dia sarungkan setelah tadi berhasil dia kendalikan kini terbangun dan siap bertempur. Dela ... kamu paling bisa goda aku! Ilham bangkit, dan itu sukses membuat Dela yang berdiri di sisi kursi kayu terlonjak kaget dibuatnya. Ilham tadinya akan menyerang Dela, tapi melihat tangan Dela yang memegang mukenah yang tersampir di sandaran kursi membuatnya urung dan duduk kembali. Calm Ilham! Dia masih mau sholat, ntar kalo udah selesai, baru diserang. Tidak tidak! Ilham tak suka pemaksaan. Jangan diserang, tapi ajak dan bawa Dela arungi bahtera nikmat nan berpeluh. "Mas Ilham nggak tidur?" tanya Dela memegang mukenah dengan agak tinggi hingga menutupi dadanya. "Ya, aku kebangun tadi." Ilham menjawab sembari duduk kembali di pinggiran kasur. Senjata perangnya yang terbangun tentu terlihat oleh Dela dan tanpa sengaja dia melotot ke sana. "Engh ... Sorry, wajar dia bangun." Ilham menatap lurus ke d**a Dela. "A-aku sholat dulu, Mas." Dela buru-buru menggelar sajadah dan segera dia pasang mukenah yang tadi dipegangnya. Ilham sedikit lega, senang dan bersemangat melihat Dela yang langsung buru-buru melaksanakan sholat saat perempuan itu tahu Ilham sedang sangat ingin itu. Ternyata dia juga nggak sabar! Nggak percuma elu tegak di dalam, Dela jadi tau seberapa gedenya elu! Arkh ... saat senjata tempurnya bangun, kenapa logat Ilham jadi persis Doni?! Lelaki itu lantas menunggu dengan senang hati, merebahkan tubuhnya dengan melipat kedua tangannya ke belakang kepalanya. Dia memandang langit-langit kamar yang beratapkan genteng di atasnya. Sebentar lagi, kalian semua akan menjadi saksi atas penyatuan yang bakalan terjadi di sini! Lelaki itu berceloteh dalam hatinya, berbicara pada genteng-genteng di atasnya seolah mereka akan menjawab apa yang dia ucapkan. Tak hanya genteng yang nantinya akan menjadi saksi pergumulan diantara sepasang suami istri itu, bahkan seisi kamar akan menjadi saksi kalau penyatuan itu benar-benar terjadi nanti. Penyatuan yang akan membawa pasangan suami istri ini ke pelabuhan nikmat impian semua pasangan. Ilham tersenyum sendiri memandang ke atas, seolah di atas sana ada sosok Dela yang menari dengan tubuh tanpa busana. Sungguh, itu adalah pemandangan terindah yang Ilham lihat di sepanjang dia menjadi laki-laki dewasa. Dan pasti akan lebih indah lagi kalau Ilham bisa menggapai tubuh itu dan menjelajah di atasnya. Menikmati setiap lekukan yang begitu indah di sana, lalu pada akhirnya Ilham terkulai pada akhirnya. Tak disangka, si cupu yang kata teman-teman kantornya selalu ngumpet di ketek emak, ternyata bisa berpikiran se liar itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN