Gara-gara adik

1236 Kata
Ilham menunggu dengan riangnya, terlukis senyum di bibirnya sebab bayangan di atas langit-langit begitu indah memanjakan mata dan pikirannya. Membayangkan sang istri menari dengan tubuh yang tanpa penutup membuat senjata tempurnya kembali tegak di sana. Seperkasa itu kah Ilham? Berarti nggak salah dong Si Didi masukin dia di grub perkasa. Ya meski sampai detik ini, Ilham belum membuktikan bahwa dirinya benar-benar perkasa. "Assalamualaikum warohmatullah ...." Terdengar samar suara Dela mengucapkan salam, menandakan bahwa sholatnya sudah selesai. Ilham langsung bangkit dan segera turun dari kasur. Dia mendekati Dela yang sekarang duduk mengangkang kedua tangannya. Bayangan di atas langit-langit kamar yang tanpa asbes seketika sirna, berganti warna kecokelatan dengan bercak hitam dari warna genteng di sana. Haih ... tarian itu menghilang seiring dengan minggatnya si pembuat yang sekarang duduk di samping istrinya yang sedang berdoa, Dela mengangkat kedua tangannya, tak menyadari bahwa suaminya sudah menunggu sejak tadi. Entah apa yang gadis itu pinta dalam doanya, Ilham tidak mendengarnya meski posisinya ada tepat di samping Dela. Yang pasti, Dela tampak khusyuk dengan doanya hingga terlihat ada aliran bening yang jatuh di pipinya. Oh, Tuhan ... Khusyuk banget istriku! Ilham yang tadinya akan memeluk, langsung kaku, diam dan hanya memandang pahatan Tuhan yang begitu indah di hadapannya. Ilham tak berani bersuara. Tapi dalam hatinya, dia teramat sangat penasaran siapa yang Dela sebut dan apa yang perempuan itu pinta dalam doanya. Lama sekali Dela berdoa, Ilham bahkan sudah tak bisa bersabar untuk menunggu lebih lama lagi. "Del ... Perkara yang wajib itu harus diutamakan loh." Ilham berucap dengan suara yang sedikit pelan. Dia sengaja berbisik sebab takutnya Dela masih belum selesai doanya. "Melayani suami itu wajib," ucap Ilham lagi saat tak terlihat reaksi dari sang istri. Doa apaan sih, sampe lama banget kek gitu! Ilham lantas meraih tangan Dela yang masih terangkat di depan dadanya. Hal itu membuat Dela tersentak dan menepis kasar tangan itu. "Kamu ga liat aku lagi doa?!" Dela berucap dengan nada tinggi, matanya merah entah sebab dia menangis atau karena dia marah tangannya disentuh Ilham saat sedang berdoa. "Del ... Aku udah duduk di sini hampir setengah jam. Kamu doa apa sampe segitu lama?" Ilham berucap, sedikit meninggi sebab Dela yang lebih dulu ngegas padanya. "Aku sambil dzikir, memangnya apalagi," sahut Dela ketus. "Perkara wajib yang bisa menggugurkan yang sunah itu berlaku sekarang, Del. Aku lagi mau kamu sama aku." Ilham berucap. Emosinya mulai bisa dia kontrol, tapi sekarang justru dia kebingungan bagaimana mengucapkan keinginannya. "Kita kan udah di satu kamar, udah sama-sama, kan?!" Dela menjawab masih dengan nada tinggi. Tuh, kan ... Nggak bakal paham emang dia! "Aku lagi pengen itu, Del. Pengen pengantinan sama kamu. Dari malam pertama kita gagal terus," ucap Ilham akhirnya. "Pengantinan juga udah." Dela membuang muka. Ngomong sama Dela memang tak bisa hanya pakai bahasa lain, alias bahasa yang hanya menjurus saja. Langsung pada intinya akan jauh lebih baik. Tapi diucapkan terus terang malah respon Dela yang lain, "aku gak bisa," tolak Dela pada akhirnya. Malah Dela yang sekarang kebingungan menjelaskan. Dan itu baru Ilham sadari sekarang. Bukankah Dela mengatakan kalau dia datang bulan?! Lalu kenapa dia sholat? Dela masih menatap lurus ke depan, menghindari tatapan suaminya yang sekarang jauh lebih kebingungan daripada dirinya sekarang. "Aku mau tanya sesuatu sama kamu." Ilham berucap setelah sebelumnya dia menghela nafas sembari memejamkan mata, mengontrol perasaannya sendiri. Jangan-jangan Dela cuma boongan datang bulannya. Sejujurnya, Ilham merasa dipermainkan lagi. "Apa?" Dela menunduk, air matanya semakin deras saja berjatuhan bak hujan yang kemaren mengguyur tanah tempat author. Kalo ga percaya, ayo main sini. Sampe sekarang tanah di sini masih basah kok. Ilham meraih dagu istrinya, membuat Dela mau tidak mau mengangkat wajahnya dan memandang wajah suaminya yang kini menatapnya lekat. "Kamu kenapa? Aku baru ingat kalau tadi siang kamu minta dibelikan pembalut, lalu kenapa kamu masih sholat? Itu haram, Dela." Dela tak menjawab, dia justru terisak. "A-aku tadi nggak betul-betul sholat, Mas. Aku tadi cuma pura-pura, aku ga baca bacaan apapun, cuma gerakan aja. Aku ...." Dela tersedu hingga tak mampu meneruskan kalimatnya sendiri. What? pura-pura sholat? Ilham baru mendengar dan melihat hal yang seperti itu. Ada apa dengan istrinya? Ilham semakin dibuat heran sekaligus geleng-geleng kepala sebab ulahnya. Namun Ilham tak pernah tega untuk memarahi istrinya, dia lantas memeluk sang istri dan berkata, "kenapa?" "Maafin aku," ucap Dela masih terus menangis dalam pelukan suaminya. Piaraan yang menjadi senjata andalan Ilham masih tegak di dalam sana, tapi melihat istrinya berbuat sesuatu yang sangat mengejutkan membuat Ilham mengesampingkan nafsunya. "Ada apa, Del? Tapi kamu beneran datang bulan?" tanya Ilham sembari melepaskan pelukannya. Kedua tangannya beralih memegangi kedua pipi istrinya hingga mata mereka beradu dalam satu pandangan. Ilham tak ingin ada kejadian seperti ini lagi, dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan istrinya. Kenapa dia sampai berbuat seperti ini? Dela mengangguk, lagi-lagi air matanya mengiringi setiap jawaban yang dia berikan. "Maaf, aku tadi lupa. Makanya ajak kamu begituan," ucap Ilham akhirnya. "Maafin aku juga, Mas. Aku pikir kamu bakalan paksa aku, makanya aku pakek alasan sholat buat menghindar," jawab Dela menyentuh punggung tangan suaminya yang masih bertengger di pipinya. Keduanya lagi-lagi saling memeluk. Service senjata ketemu senjata boleh gagal, tapi bukankah Ilham masih bisa mendapat service dari tubuh Dela yang lain?! "Mas, aku juga takut kamu bakalan paksa aku buat makan punya kamu. Aku ga suka, sumpah demi Allah." "Ha?" Nggak sih! Ilham tidak berpikir seperti itu. Dia hanya berpikiran cara yang lain, seperti pijatan tangan dari Dela mungkin. Ah, tapi tidak! Ilham lebih baik mengalah dan tidak meminta apapun dari Dela sekarang. Kondisinya sedang tidak kondusif untuk meminta walau sekedar usapan. "Kamu liat di mana begituan?" Ilham mengucapkan itu sembari melepaskan pelukannya dari Dela. Tak disangka, istrinya yang dia pikir polos dan lugu ternyata sudah tahu banyak hal. "Nggak nggak! Aku ga sengaja nonton, kok. Waktu itu, aku pinjem laptop temenku buat kerjain tugas. Aku penasaran ada video yang namanya si krucil yang nakal. Pas aku buka isinya ceweknya ngisep punya cowoknya," ungkap Dela. Ilham terkekeh, ternyata istrinya masihlah Dela yang polos. Ilham kembali memeluknya. "Kamu tenang aja, Sayang. Aku nggak bakalan paksa kamu buat makan punyaku, kok. Takut juga aku kalo dipaksa ntar punyaku kamu gigit," seloroh Ilham. Dela memukul d**a bidang suaminya. Ternyata dia sudah salah menilai Ilham. Lagi-lagi dia berucap syukur karena Ilham lah yang menjadi miliknya dan memiliknya. Huft ... Tak disangka, tingkah absurd istrinya membuat mereka menjadi jauh lebih dekat sekarang. Meski sudah berpacaran lama, tapi bukan berarti keduanya sudah pernah melakukan begituan. Bahkan membahasnya saja baru sekarang. Dan itu sudah cukup melegakan karena dia bisa tahu hal yang tidak disukai Dela. "Ya udah, kamu bobo gih. Aku mau ke kamar mandi," ucap Ilham sembari melepaskan pelukannya. "Lagi?" Dela terheran-heran dengan suaminya. Baru beberapa menit yang lalu Ilham ke kamar mandi. Bahkan dia mandi dan keramas tadi, memangnya suaminya sudah gerah lagi? Ilham mengangguk, "adikku perlu dikasih pengertian kalo untuk satu minggu ke depan, dia masih harus puasa." "Sejak kapan kamu punya adik?" Dela kebingungan mendengar jawaban yang diberikan Ilham. Tanpa sadar, dia mengerutkan alisnya. Dan itu sukses membuat Ilham tertawa, dia usap puncak kepala Dela gemas. "Aku bukan anak kecil," ucap Dela menggerakkan kepalanya, menghindari tangan suaminya. "Ya ya, kamu istriku. Dan seorang istri memang bukan anak kecil." Ilham menjawab sembari berjalan menuju kamar mandi. Mas Ilham mulai aneh. Dela bangkit, melipat mukenah yang dia gunakan sebagai pelarian saat tadi dia ketakutan kalau Ilham akan memangsanya. Setelahnya, Dela melihat kantong makanan yang ternyata kepunyaan suaminya masih belum disentuh sama sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN