Huft ... Dela bisa bernapas lega sekarang. Kalimat Ilham sungguh membuat hatinya tenang dan tak perlu lagi khawatir. Dia tak henti berucap syukur sebab Tuhan mempertemukan dirinya dengan lelaki sebaik Ilham.
Bukan hanya tidak menuntut, tapi Dela juga merasa aman dan dilindungi saat bersamanya.
Andai Nenek Hindun masih hidup, dia akan sangat berterimakasih padanya sebab sudah menjodohkan cucunya dengannya.
Selesai melipat mukenah plus sajadahnya, tak sengaja matanya menangkap kantong plastik hitam yang ada di atas tikar, pun piring kotor bekas ia makan masih tergeletak di sana, di dekat kantong itu.
"Mas Ilham pasti lapar, aku siapin dulu aja makanannya."
Makanan yang merupakan bagian Ilham, Dela pindahkan ke piring agar nanti saat suaminya selesai dari kamar mandi bisa langsung makan.
Dela tak henti tersenyum, bak jatuh cinta untuk yang kedua kalinya sebab kalimat Ilham begitu menenangkan untuknya.
Perempuan itu merasa rumah tangganya akan terus baik-baik saja bila suaminya bisa terus sabar menghadapinya.
Lagi pula, Mas Ilham emang beda dari cowok-cowok di luar sana.
Dela tak perlu selalu khawatir.
Setelah selesai dengan kerjanya, Dela lantas bangkit, berjalan menuju kasur dan merebahkan tubuhnya di sana.
Suara air dari dalam kamar mandi masih terdengar.
Ini serius Mas Ilham mandi lagi?
Malam-malam begini mandi dua kali, padahal cuaca sedang dingin. Hatinya sedikit terheran dengan kelakuan suaminya.
Dela mencoba memejamkan mata, tapi entah kenapa kekhawatiran yang sebelumnya berdiam di hatinya belum mau enyah sepenuhnya.
Alhasil, dia hanya bolak-balik di atas tempat tidur, bahkan hingga Ilham keluar dari kamar mandi, perempuan itu belum juga bisa memejamkan mata.
"Kok belum tidur?" tanya Ilham melihat Dela tidur menghadap ke samping, posisi tidur Dela tepat mengarah ke arah Ilham yang baru keluar dari kamar mandi.
"Ga tau, emang gini sih kalo baru datang bulan," aku Dela.
Sejujurnya, bagian bawah perutnya sedikit nyeri sekarang. Mungkin karena itu dia tak bisa tidur dengan nyenyak.
Ilham cepat-cepat mengenakan pakaian. Lalu setelahnya, dia mengambil tempat di sisi Dela.
Menyadari suaminya naik ke ranjang, kegelisahan Dela semakin menguat. Jantungnya berdebar kencang, pikirannya langsung kemana-mana, melupakan kalimat meneduhkan yang baru diucapkan suaminya tadi.
Kasur kecil yang dipakai berdua, membuat sepasang suami istri itu saling merapatkan badan kalau tidak ingin salah satunya jatuh ke lantai.
"Sini aku peluk, biar cepet bobo." Ilham mendekap tubuh istrinya ke dalam dekapannya.
“K-kamu nggak makan, Mas? Udah aku piringin loh makanannya," ucap Dela. Nada suaranya bergetar pun sedikit tergagap karena ketakutan masih mendominasi.
Dela masih sedikit ragu, takut dan khawatir semakin menggebu di hatinya melihat Ilham yang sekarang tidur dan menghadap padanya.
“Aku lebih suka dekep kamu begini ketimbang makan.” Ilham tak bisa terus terang bicara kalau dia sudah makan, apalagi mengakui kalau dia makan di rumah Ambu. Bisa-bisa dia akan melihat wajah masam dari sang istri.
Aah ... Mas Ilham sweet banget, sih!
Dela tersenyum, senyum kecil yang nyaris tak terlihat.
Ilham tak suka kalau harus melihat Dela cemberut. Dia lebih suka wajah Dela yang terus tersenyum seperti ini. Ya ... Meski kelihatannya dia masih menyembunyikan sesuatu dari Ilham.
“Aku janji ga akan ngelakuin yang aneh-aneh. Ya, meskipun sebenarnya aku sudah bebas mau ngapain aja. Tapi aku ga akan ngapa-ngapain kamu untuk satu minggu ke depan,” ucap Ilham kemudian. Rasanya sedikit tak nyaman melihat wajah khawatir di wajah Dela.
Padahal saat tersenyum tadi, wajah istrinya ini begitu cantik menggemaskan. Kalau saja dia tidak ingat bahwa Dela sedang kedatangan bulan, akan dia bawa Dela mengarungi telaga kenikmatan untuk menggapai puncak kesenangan yang kata orang adalah surga dunia.
Dela mengangguk, mendengar kalimat yang terselip janji di sana, dia pun menelungkupkan wajahnya di d**a bidang suaminya.
Selama ini, Mas Ilham-nya tak pernah ingkar janji.
Syukurlah. Aku beneran leg sekarang.
Dela bisa beristirahat dengan tenang, tanpa perlu gelisah akan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan suaminya terhadapnya.
Ilham lantas mendekap tubuh istrinya hingga tak terasa gerakan dari istrinya lagi. Dela telah benar-benar terlelap sekarang, begitu Yang Ilham pikirkan.
Sekarang, waktunya Ilham untuk memandangi wajah cantik istrinya sepuas yang dia mau. Dia singkap rambut Dela ke belakang telinganya agar dia bisa leluasa melihat keseluruhan wajah Dela yang mulus, cantik tanpa cela.
Melihat wajah istrinya, Ilham seperti melihat pahatan Tuhan yang paling indah di dunia. Dan beruntungnya Ilham menjadi pemilik dari hasil karya indah itu.
Hatinya tak henti berucap syukur.
"Entah kenapa, aku selalu nurutin mau kamu. Mungkin karena kamu adalah amanah nenek yang harus aku jaga." Ilham jadi teringat saat di rumah sakit ketika nenek akan menghembuskan nafas terakhirnya.
Itu menyakitkan, namun ternyata menjadi pembuka dan awal bahagia baginya.
Ilham Tak Henti memandangi wajah cantik istrinya yang berada dalam dekapannya. Hingga pada akhirnya, dia ikut terlelap.
Ilham memang sudah tertidur, tidurnya pulas sekali sebab dia memang sangat capek sekarang. Waktu tidurnya banyak tersita sejak berangkat ke Madura dari Jakarta kemaren.
Sementara Dela justru membuka mata. Rupanya dia tidak benar-benar tidur. Bukan dia tak ingin tidur, tapi kegelisahan kekhawatiran dan ketakutan kalau Ilham akan menuntut haknya membuat Dela menahan diri untuk tidak terlelap.
Melihat suaminya sudah terlelap, Dela lantas turun. Dia memindahkan piring berisi kaldu yang tadi dia siapkan untuk suaminya.
“Besok aku harus beliin nasi buat Mas Ilham. Kasihan dia, dia pasti kelaperan banget besok saat bangun.”
Dela merebahkan tubuhnya di sana, berbantalkan ransel kecil miliknya yang berisi pakaian dalam. Selimut yang sebelumnya dia jadikan bantal, sekarang dia gunakan sebagaimana fungsinya, untuk menyelimuti tubuh mungilnya.
Sekarang, Dela bisa tidur dengan tenang. Tak butuh waktu lama, dia langsung terlelap. Melupakan kegelisahan, kekhawatiran dan ketakutan yang selalu menggangu kenyamanan berumahtangga.
****
Gema takbir yang berkumandang dari penjuru masjid terdengar begitu nyaring. Takbir itu merupakan awal dari panggilan muadzin untuk mengajak siapapun yang mendengarnya segera bangun dari tidur dan segera mendirikan sholat subuh.
Saat itulah Dela terjaga. Dia bangkit dan langsung mencuci wajahnya. Tadinya dia akan mandi, tapi mengingat suaminya belum makan sejak siang kemaren, membuat Dela urung mandi.
Dia harus buru-buru ke pasar, membelikan makanan untuk bisa mengganjal perut suaminya sampai nanti masakan buatannya selesai.
Dela keluar tanpa membangunkan suaminya, dia akan membeli pisang goreng dan bahan makanan untuk dia masak sebagai sarapan pagi.
“Dela.” Seseorang memanggilnya saat dia baru turun dari ojek.
“Ambu.” Dela menghampiri ambunya, meraih tangan yang sudah keriput itu dan menciumnya.
“Del ... kamu ngapain ke pasar? Ilham mana?” Ambu menanyai putrinya sebab ini kali pertama dia melihat anak perempuannya pergi ke pasar. Pagi-pagi sekali pula!
“Ini, Bu. Dela mau beli makanan buat Mas Ilham. Kasihan dia nggak makan dari siang,” aku Dela. Sesungguhnya dia malu untuk mengatakan itu. Bisa-bisa ambunya menganggapnya sebagai istri yang tidak becus mengurus suami.
“Dela Dela ... Ya sudah, ayo bareng Ambu.” Ambu Indun mengusap rambut Dela, tersenyum penuh kasih lalu menggandeng tangan anaknya untuk ikut bersamanya.
Sejujurnya, Ambu Indun ingin sekali memberitahu Dela bahwa Ilham sudah makan semalam di rumahnya. Tapi itu tidak dia lakukan sebab nanti hanya akan menimbulkan pertengkaran. Ya, ambu tahu betul bahwa Dela-nya paling tidak suka kalau dibohongi. Sebab itulah Ambu Indun memilih untuk ikut diam dan menutupi kedatangan Ilham ke rumahnya semalam.
Dua perempuan itu berjalan masuk ke pasar. Dela membeli pisang goreng seperti yang sudah dia niatkan sejak keluar dari wisma tadi.
“Mending kamu bawa pulang sekarang aja pisang gorengnya. Nanti untuk sarapannya, kamu ajak Ilham ke rumah Ambu,” ucap Ambu Indun pada Dela.
Dia rindu putrinya. Dia ingin sekali mengobrol bersama dengannya seperti layaknya ibu-ibu lainnya dengan anak-anak mereka.
“T-tapi, Bu ....” Tak ada niatan dalam hati Dela untuk pergi ke rumah ambunya lagi.
Dia sungguh muak melihat Suami ambunya itu mengobrol dan sok dekat dengan Mas Ilham.