“Mas, Mas Ilham ... Bangun, Mas. Mandi udah siang.” Dela membangunkan Ilham yang ternyata masih tidur setelah Dela pulang dari pasar.
Ilham menggeliat, matanya masih terasa ada perekat yang kuat sekali mengelem kedua matanya.
“Mas bangun, aku juga udah belikan pisang goreng buat kamu. Mas ....” Dela mengguncang tubuh suaminya yang masih enggan membuka mata.
Baru sekarang dia begitu susah membangunkan Ilham, karena sejak awal kebanyakan Ilham lah yang membangunkan Dela.
“Kalo kamu ga bangun, aku bakalan ke rumah Ambu sendirian,” ucap Dela. Dia tahu kalimat yang ini akan membuat suaminya langsung melek meskipun dia masih ingin tidur seharian.
“Hish ... Ga sholat subuh pula,” sungut Dela begitu Ilham bangkit dari tidurnya. Matanya masih terpejam namun posisinya sudah bisa disebut bangun sebab dia duduk seraya mengucek matanya.
Dela yang sudah mandi dan bahkan sudah berpakaian rapi itu lantas mengambil pisang goreng yang sudah dia siapkan di atas piring. Sayang, dia tak sempat membeli kopi untuk suaminya. Sebab tadi, Ambu menyuruhnya untuk buru-buru balik.
“Kamu buruan pulang terus nanti ajak Ilham ke rumah Ambu. Kita masak bareng,” ucap Ambu tadi.
Ah ... Sudah lama sekali Dela tak masak bareng Ambu. Dela rindu.
Sayang, kepala batu yang sudah menjadi tabiat Dela membuat perempuan itu menolak tawaran menarik dari ambunya. Dia sungguh tak ingin Suami ambunya ini memiliki kesempatan mengobrol dengan Mas Ilham. Dela tak suka.
“Bapak kerja. Ini juga Ambu nanti mau anter makan siang ke sana,” ucap Ambu lagi.
Mendengar kalimat itu, seketika raut wajah Dela berubah. Dela mengangguk mau. Bahkan terlihat binar di wajahnya menunjukkan bahwa perempuan itu sedang bersemangat dan senang atas ajakan ambunya.
Mas Ilham yang sudah berhasil dia bangunkan sekarang sedang mandi. Bahkan pisang goreng yang diberikan Dela tadi, sudah dia comot satu dan dia makan utuh satu ke dalam mulutnya.
Hmm ... laper apa rakus?
Pagi ini, sepertinya akan beda tanggapan dari Ilham tentang Dela.
Apalagi Dela yang tadi mengatakan akan ke rumah Ambu, hal itu membuat lelaki yang tengah mengguyur badannya itu menjadi tak fokus.
Ada apa, ya? Tumben banget Dela mau ke rumah Ambu.
Dua hari di Madura, yang Ilham lihat hanya muka jutek dan tak suka di wajah istrinya. Berbeda sekali dengan hari ini.
Dia mempercepat mandinya agar bisa bergegas pergi, takut istrinya malah berubah pikiran.
Kasihan Ambu soalnya.
Sisa pisang goreng pun tak dia sentuh lagi, padahal rasa dari pisang goreng itu sungguh memanjakan lidahnya di pagi hari begini. Itu juga mengobati rindunya pada sang ibu.
Tak berapa lama, mobil Ilham sampai di rumah Ambu. Ini adalah kedatangan kali ketiga bagi Ilham semenjak menginjakkan kakinya di tanah Madura. Sedangkan bagi Dela, ini merupakan yang kedua kalinya sejak suaminya mengajaknya pulang ke kampung halamannya.
Ambu seperti biasa, menunggu kedatangan anak dan menantunya di beranda rumahnya. Dela bergegas turun, diraihnya tangan sang Ambu lalu kemudian dia cium punggung tangan yang sudah mulai keriput itu.
“Jadi masaknya?” tanya Dela merangkul pundak ambunya membimbingnya masuk.
Ah, padahal Ambu tidak sedang sakit. Dia masih sanggup berjalan masuk tanpa bantuan Dela. Tapi begitulah, Ilham yang melihat tingkah istrinya hanya tersenyum, dalam hati dia senang melihat perhatian kecil yang istrinya berikan pada perempuan yang sudah melahirkannya.
“Ceritanya, aku ga boleh Salim nih sama Ambu?!” goda Ilham sembari mengekor masuk.
Dela tertawa, dia baru sadar bahwa sejak melihat Ambu tadi, dia melupakan keberadaan suaminya di sana.
“Bercanda, kok. Udah sana kalau mau masak, Mas laper banget ,” ucap Ilham lagi seraya mengusap perutnya yang sebenarnya tidak lapar-lapar banget.
Sembari menunggu sang istri di dapur, Ilham duduk di kursi kayu yang ada di tengah-tengah ruangan kecil ini. Tak jauh di belakang kursi yang Ilham duduki, ada dua pintu kamar yang isi di dalamnya sama sekali tidak Ilham ketahui, sebab apa? Sampai detik ini, Dela belum pernah mengajaknya masuk untuk sekedar melihat-lihat isi di dalam salah satu kamar itu.
Sementara Dela, dia memasak masakan kesukaan ambunya. Tentunya itu dimasak berdua bersama dengan ambunya. Ambu yang memotong, Dela yang mengulek.
Terong balado adalah makanan kesukaan ambunya.
Mereka akan memasak dua macam lauk untuk mereka sarapan pagi ini. Ada terong balado dan ayam goreng telur.
“Aduh.” Ambu mengeluh seraya melepaskan pisau dan terong dari tangannya.
“Ambu, asatagaaaa ... Hati-hati dong,” ucap Dela langsung mematikan kompor dan mendekati ambunya yang tergores pisau.
“Bentar bentar, Dela ambilin obat, ya.” Dela keluar dari dapur, mengambil kotak P3K yang letaknya tak pernah berpindah, di kolong meja tempat Ilham duduk.
“Kenapa, Del?” Melihat istrinya mengambil kotak P3K, Ilham langsung bangkit, mengikuti sang istri yang terburu-buru masuk ke dapur.
Darah di jari telunjuk Ambu menetes. Menandakan bahwa luka di jarinya lumayan lebar.
Dan benar saja, saat Dela membersihkan darah di jari telunjuk ambunya, terlihatlah luka memanjang melewati garis tangan Ambu yang teratas.
“Mas, di sini ga ada obat merah, gimana dong?” Dela sungguh khawatir, kasihan juga pada ambunya yang telah lama dia tinggalkan ke Jakarta.
“Kamu langsung pasang aja plesternya, Del. Ini mah luka kecil doang.” Ambu berkata dengan santainya.
Tapi Dela tak bisa percaya itu. Luka sepanjang itu pasti sakit banget.
“Waktu kamu di Jakarta, kaki Ambu ini pernah kena cangkul. Lukanya segini.” Ambu membuat jarak antara tangan kiri dan tangan kanannya mengisyaratkan seberapa oanjang luka di jari kakinya.
“Nih, bekasnya masih keliatan.” Ambu memperlihatkan kaki kanannya yang di sana, di jari jempol, jari telunjuk dan jari tengah kakinya terdapat bekas luka.
Dela tiba-tiba terisak, tak bisa dia bayangkan bagaimana ambunya saat itu. Perempuan itu lantas menghambur memelas sang Ambu.
“Maafin Dela, Ambu ... kenapa Ambu ga kasih tau Dela?” tanya Dela masih merangkul tubuh kurus ambunya.
“Waktu itu, kamu masih ngajar. Ambu juga ga mau bikin anak kesayangan Ambu ini khawatir.” Ambu melepaskan pelukan Dela dan lantas mengusap pipi mulus anak perempuannya.
Dari dulu sampai sekarang, rasa sayang itu tak pernah berubah. Tak ada seorang pun ibu di dunia ini yang tidak menyayangi anaknya. Hanya saja mereka memiliki cara berbeda menunjukkan kasih sayang itu.
Seperti halnya Ambu, yang selalu membiarkan Dela mengambil keputusannya sendiri. Meskipun itu menyakitkan hatinya harus jauh dari anaknya, tapi Ambu tak pernah melarang Dela saat anaknya itu mengatakan akan tinggal di wisma.
Begitu pula saat Dela mengatakan akan pergi ke Jakarta, Ambu sepenuhnya mendukung keputusan anaknya, hingga pada akhirnya sang anak menemukan jodohnya di ibu kota sana.
“Ya udah, Ambu istirahat. Biar Dela yang lanjutin sisanya.” Dela membimbing ambunya untuk berdiri.
Ambu menggeleng, "nggak, Del. udah lama banget kita ga masak bareng begini, Ambu kangen." Ambu tak bisa meninggalkan Dela sementara masakannya belum siap. Apalagi, jauh dalam hati kecilnya dia rindu bersama Seperti ini dengan putrinya.
"Ya udah, nanti kapan-kapan kita bisa masak bareng lagi, kok," ucap Dela menenangkan.
Ilham yang melihat itu, tak henti tersenyum melihat kebaikan dan perhatian sang istri pada ambunya. Ini adalah sisi Dela yang membuat Ilham makin jatuh hati.
Eh, author lupa kalo kedua pasangan ini memang selalu saling jatuh cinta setiap hari.
“Mas, titip Ambu, ya,” ucap Dela pada suaminya. Dia ingin melanjutkan masaknya yang sempat tertunda tadi.
“Ambu perlu saya belikan obat?” tanya Ilham. Luka di telunjuk Ambu, tidak tertutupi semuanya. Plester yang Dela pasang terlalu kecil untuk luka Ambu yang panjang.
“Ga usah, Ham. Nanti waktu Ambu mandi plester ini juga bakalan Ambu lepas. Luka di beginiin malah bikin lukanya ga kena angin, perih," keluh Ambu meringis.
Haish ... Apa emang kalau orang kampung begini, ya?
Ilham diam mendengar jawaban mertuanya.
“Makanan siaaap. Ayo sini, Mas, ajak Ambu sekalian.” Dela berteriak dari meja makan yang berada tak jauh dari pintu dapur.
Dua orang yang dipanggil lantas bangkit memenuhi panggilan Dela.
“Ambu aku siapin ya.” Dela sungguh tak tega kalau melihat ambunya makan pakai tangan kiri.
Ambu tersenyum lalu mengangguk.
Aaahhh ... Ilham merasa jadi obat nyamuk diantara dua perempuan di depannya ini. Ibu dan anak yang dia pikir mereka memiliki hubungan yang kurang baik. Tapi melihat hal semanis ini pagi ini, Ilham berpikir bahwa yang dia pikirkan tentang hubungan keduanya sudah salah.
Selesai disuapi Dela, Ambu gantian ingin menyuapi Dela. Dia sungguh bahagia sekarang. Sudah lama sekali dia dan Dela tidak seperti ini, tidak saling memberi kasih sayang.
Bukan bukan! Lebih tepatnya, Ambu yang tidak mendapat kasih sayang dari Dela. Dan juga, setiap kali Ambu memberikan kasih sayangnya untuk putrinya, Dela memilih menghindar dan menolaknya.
Tapi tidak! Sekarang bukan saatnya Ambu mengenang sesuatu yang buruk. Dia ingin menikmati kebersamaannya dengan putrinya, juga menantunya yang telah begitu baik membawa putrinya pulang ke Madura ini.
Acara sarapan berlangsung hangat, penuh kasih sayang dan taburan kebahagiaan di hati tiga manusia itu.
Sampai sebuah kalimat Ambu, membuat suasana hati Dela berubah buruk.
“Aku ga izinin. Dan sekarang, kita udah mau balik ke Jakarta.” Dela berucap ketus.
“Tapi, Del ....” Ilham merasa tak ada yang salah dari permintaan ambunya.