Tingkah berlebihan Dela

1284 Kata
Dela telah selesai membereskan piring kotor dan sisa makanan yang ada di atas meja. Sementara Ambu justru sibuk memasukkan nasi dan lauk ke dalam rantang dua susun. Satu rantang yang bawah berisi nasi dan yang atas berisi lauk yang tadi, terong balado dan ayam goreng telur. Dela tak terlalu kepo untuk siapa makanan itu, takutnya dia mendapat jawaban mengecewakan dari sang Ambu. Dela lantas keluar dari dapur, duduk bersama dengan Mas Ilham yang sedang sibuk bermain game. “Ham, Ambu minta tolong, boleh?” Seketika darah di tubuh Dela terkesiap. Dia sungguh akan sangat marah kalau sampai Ambu benar-benar berniat mengirimkan makanan itu untuk laki-laki itu. Sekalipun dia adalah suami ambunya, juga bapak sambung bagi Dela, tapi perempuan itu sama sekali sudah kehilangan rasa hormatnya pada laki-laki itu. Jangan harap Dela akan mengizinkan! “Tentu dong, Ambu. Minta tolong apa?” Ilham langsung menekan tombol off di ponselnya. “Tolong anterin ini ke perumahan Bintang. Kamu tinggal lurus aja nanti pas sampe jalan raya.” Ambu bahkan memberitahukan arah jalan yang harus Ilham tempuh untuk sampai ke perumahan yang dimaksud. “Aku ga izinin. Dan sekarang, kita udah mau balik ke Jakarta.” Dela menjawab ketus, mendahului Ilham yang sudah akan mengambil alih rantang dari tangan ibu mertuanya. Dela terlalu muak kalau harus berbaik hati pada laki-laki k*****t itu. dia sudah merebut Ambu dan kasih sayang miliknya. selain itu, semenjak menikah dengannya, Ambu jadi tak terlalu mengurus Dela. Dela benci, kalau saja dia punya keberanian besar, dia ingin sekali membunuh bapak sambungnya itu daripada terus terusan membuat Dela sakit hati dan jengkel. “Tapi, Del ....” Ilham merasa tak ada yang salah dari permintaan ambunya. Lalu kenapa Dela langsung marah? Bukan hanya merespon buruk, perempuan itu juga mengatakan akan kembali ke Jakarta. Ilham tak bisa diam saja melihat istrinya berbuat salah. “Nggak, Dela. Kamu ga boleh kayak gini. Biar aku antar dulu, setelah itu kita pulang.” Ilham melepas tangan Dela. Ini pertama kalinya dia menolak keinginan perempuan yang dia cintai. Tak hanya menolak, Ilham juga meninggalkan Dela di teras rumah ambu dan dia memilih masuk kembali ke dalam. “Ambu maaf ... Sini biar Ilham antar makanannya. Nanti sore baru kita balik ke Jakarta,” ucap Ilham meraih rantang di tangan ibu mertuanya. Setelahnya, lelaki itu keluar. Melewati istrinya yang berdiri angkuh dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya. Kembali dia merasa perhatian orang yang dia sayang dicuri. Pertama, Ambu. lalu sekarang suaminya, Ilham. Ilham melirik ke arah istrinya, menggelengkan kepala melihat sang istri yang sama sekali tidak mau melihat ke arahnya. Hatinya terlalu buruk untuk sekedar memandang kepergian suaminya. **** Setelah Ilham pergi, Dela masuk ke dalam rumah. Menemui ambunya yang ternyata sibuk membuka plester dari luka di jari telunjuknya. Tak ada rasa iba sedikitpun melihat itu. Dela dikuasai kemarahan hingga tak lagi merasa kasihan pada ambunya yang sedang terluka. “Aku pikir setelah aku ke Jakarta, setelah Ambu tidak ketemu aku dalam waktu yang sangat lama, Ambu akan memikirkan perasaan aku. Ambu akan mengutamakan aku daripada laki-laki itu. Tapi ternyata aku salah,” ucap Dela. Berdiri menatap tajam ke arah ambunya. Hatinya mengalami sakit seperti beberapa tahun yang lalu. Luka lama itu seolah terbuka lagi dan rasanya jauh lebih menyakitkan. “Nggak gitu, Nak.” “Satu lagi, Ambu. Aku nyesel udah ikut Mas Ilham ke sini. Aku nyesel udah balik ke kampung ini. Karena ternyata b******n-b******n itu belum ada yang mati satupun.” Dela tak bisa menahan genangan yang sudah sejak tadi dia tahan. Emosi yang dia tahan selama ini, pada akhirnya tumpah dan itu Dela tumpahkan pada ambunya, orang yang seharusnya membela Dela dan berada di garda depan demi anaknya, justru dia membela para b******n itu. Dela sakit hati dan tak kan pernah lupa itu. Air mata yang sejak tadi dia tahan saat mengetahui ambunya masih saja begitu perhatian pada laki-laki b******n itu, pada akhirnya tumpah juga. Bukan hanya emosi yang Dela tumpahkan, air matanya juga turut serta sebab kondisi hatinya teramat buruk. Dadanya serasa sesak dan butuh untuk diluapkan. “Astaghfirullah, Nak. Ambu tak pernah mengajari kamu berkata kasar seperti itu.” Ambu Indun jauh lebih sakit hatinya. Putri satu-satunya yang dia besarkan dengan kasih sayang bisa tumbuh menjadi pribadi yang keras. Keras kepala keras juga hatinya. "Ambu ngebela lagi!" Dela tertawa, menertawai kepiluan hatinya yang tetap tak mendapat pembelaan dari sang ambu. luka hatinya kian melebar dan mungkin akan membunuhnya dengan perlahan. Kemudian, Dela mengusap air mata di pipinya. Dia tak boleh terlihat lemah di depan semua orang apalagi di depan Ambunya. Dela tak suka dianggap lemah terutama oleh sang Ambu yang sudah menjadi penggali luka dalam hatinya. Dia sudah lelah berdebat dengan orang yang sama membahas masalah yang sama pula. Lebih baik dia pulang, lebih tepatnya dia kembali ke wisma, di sana dia bisa menangis sepuasnya. Bahkan mau melempar barang pun, Dela bisa di sana. Daripada di rumah sendiri tak terlalu diakui, lebih baik pergi mencari kesenangan sendiri. Tak lama setelah Dela pergi, Ilham datang namun sayang, rumah Ambu sudah sepi tak ada siapa-siapa. Ilham mencoba memanggil ambu namun tak ada sahutan dari dalam. Pintu rumah juga dikunci menandakan pemiliknya sedang tidak ada. Lelaki itu lantas memilih kembali ke wisma. Sebab pasti, Dela sudah menunggunya di sana. Entah dia menunggu untuk memarahi Ilham atau mungkin memaksanya balik ke Jakarta sekarang. Apapun itu, Ilham tak punya tempat lain untuk dia menghindari istrinya. Di sinilah Ilham sekarang, berdiri dengan was was di depan pintu kamar yang tertutup rapat. Wisma telah kembali sepi, seperti biasa di jam seperti ini hampir semua penghuninya keluar dengan beragam aktivitas dan keperluan. Tinggallah Ilham yang mematung di depan pintu kamarnya sendiri. Dia ragu untuk masuk tapi juga tak punya tempat lain untuk dia berpulang. Huft ... Memangnya salah kalau Ilham membantu Ambu mengantar makan siang untuk bapak? Meski Pak Faris hanyalah bapak sambung bagi Dela, tapi Ilham bisa merasakan betapa tulus lelaki itu menyayangi anak tirinya. Lalu apa yang perlu Ilham takutkan? Setelah menarik napas beberapa kali, Ilham memutar kenop pintu, membuat pintu yang semula tertutup rapat itu terbuka. Seolah memang menunggu kedatangan Ilham, Dela langsung bangkit dengan dua koper di tangan kanan dan kirinya saat dia tahu ada yang membuka pintu. “Del, kamu serius mau balik ke Jakarta sekarang?” tanya Ilham. Sekalipun mereka harus kembali hari ini, setidaknya tunggu sampai sore saja, biarkan Ilham beristirahat seharian sebelum nanti menempuh perjalanan panjang lagi. “Menurut kamu?” Dela menjawab dingin. Dia sungguh kecewa pada suaminya. Kenapa semua orang yang Dela sayangi justru mengasihi orang yang amat Dela benci. Itu sungguh menjengkelkan. “Oke. Kita balik hari ini, tapi nggak sekarang banget. Tar sore, ya. Aku mesti istirahat dulu soalnya, Del.” Suami istri itu saling pandang tanpa bersuara lagi. Ilham berkutat dengan rasa heran dan penasaran, Kenapa Dela bereaksi seperti ini? Tidakkah ini berlebihan? Sementara Dela, dia b******u dengan rasa kesal yang rasanya sekarang sudah sampai ubun-ubun kepalanya. Beberapa detik setelahnya, Ilham memilih meninggalkan Dela sendirian. Mungkin istrinya butuh waktu untuk menenangkan pikirannya. Dia keluar, duduk di teras wisma tepat di depan kamarnya sendiri. Ilham mengeluarkan sebungkus rokok yang tadi dia beli saat dalam perjalanan pulang dari mengantar makan siang untuk Pak Faris. Dibakarnya satu batang untuk dia hisap. Pikirannya yang kacau sebab melihat tingkah sang istri perlahan menyusut seolah terhempas oleh asap rokok. Siang yang mulai terik ini tak lagi terasa menyengat bagi Ilham. Dia tetap saja duduk betah di luar. “Katanya perlu istirahat, kenapa malah duduk di situ? Ga ada niatan mau balik, iya?!” Dela muncul. Lagi-lagi dengan nada ketus memancing keributan. Shit, Ilham yang mendengarnya rasanya mau meladeni itu. Dela ini sungguh menjengkelkan plus membingungkan sikapnya. Padahal Ilham berbuat baik pada orangtua Dela sendiri. Kenapa dia harus marah? Apakah ada yang salah dari itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN