Balik dong!

1753 Kata
Ilham menyesap rokok di tangannya. Tidak dia pedulikan ocehan Dela sebab dia tak mau ribut sekarang. Dia hanya ingin menikmati sebatang rokok di tangannya agar pikirannya bisa teralihkan. sungguh rasanya Ilham mau mati penasaran karena reaksi Dela yang berlebihan membuat Ilham bertanya-tanya. Ambu pun begitu, dia diam saja meski anaknya bertindak kurang ajar. seolah perempuan itu ikhlas menerima perlakuan buruk Dela terhadapnya. Harusnya Ambu memarahi Dela, memberi nasehat dan bahkan memukulnya kalau anak perempuannya tak mau bersikap baik pada orang yang sudah menerimanya dengan tangan terbuka sebagai anak tiri. Sungguh, kepala Ilham serasa penuh dengan benang kusut yang membuat otaknya ikut kusut karenanya. Dela tergugu di tempatnya. Emosinya semakin naik melihat Ilham yang diam tak merespon. “Ya udah, biar aku balik ke Jakarta naik bus,” ucapnya kemudian. Sungguh, dia ingin segera meninggalkan tanah Madura ini, meninggalkan luka hatinya agar suasana hatinya bisa berubah baik. Dela hanya tak ingin terus mendekam dalam kegalauan, dia juga ingin bahagia dan dicintai dengan tulus. Cinta tulus yang seharusnya dia dapatkan dari sang Ambu, harus Dela relakan untuk yang lain. Ambu berpaling mencurahkan ketulusannya pada orang yang Dela benci. Itu semakin melukainya. Ilham menyesap sekali lagi rokok di tangannya. Sejatinya dia tak ingin berhenti, tapi mendengar kalimat Dela, mau tak mau Ilham harus membuang batang rokok yang masih panjang itu dan berbalik pada istrinya. Setelahnya dia masuk ke kamar, istrinya tampak sibuk memilah baju miliknya dan baju milik suaminya. Saat dirasa semuanya selesai, Dela mengambil koper yang berisi bajunya dan tas selempang yang berisi peralatan perisai muka. Kenapa perisai? Karena katanya peralatan di dalamnya bisa melindungi wajah dari efek sinar ultraviolet. Melindungi wajah agar tidak kusam dan berjerawat dan sebagainya. “Kita berangkatnya bareng pulangnya juga bareng,” ucap Ilham. Meraih tangan Dela yang berjalan hendak melewatinya. “Buat apa?” Dela masih dikuasi amarah. lebih tepatnya dia tak ingin kehilangan cinta dari Ilham, seperti saat dulu dia kehilangannya dari sang Ambu. Dela tak ingin mengalami kekecewaan yang sama. “Kok buat apa sih, Del? Kamu istri aku loh, Del. Jangan karena aku nganterin makan siang ke bapak tadi kamu jadi kek gini.” Ilham mulai tak bisa mengontrol dirinya. Akhirnya perdebatan itu terjadi juga. Padahal Ilham sudah berusaha menghindarinya. “Iya. Gara-gara itu, aku udah bilang ga boleh kenapa masih dianterin?” “Kasih aku satu alasan, kenapa nggak boleh?” “Karena aku benci sama orang itu. Aku benci Ambu masih selalu baik sama dia. Aku benci dia melebihi apapun yang ada di dunia ini. Aku bahkan ingin orang itu mati.” Dela berurai air mata. Dadanya sesak, bibirnya bergetar pun begitu juga tangan dan kakinya. Tapi kenapa? Ilham ingin sekali tahu alasannya, tapi dia tak bisa kalau harus melanjutkan perdebatan ini terlebih kalau harus melihat Dela menangis seperti ini. Ilham tak sanggup. Emosi yang tadinya sudah naik dan hampir meledak, langsung turun dan sirna seketika, tubuh Dela mulai goyang dan nyaris jatuh namun Ilham meraihnya. "Maaf. Tadi aku cuma kesel karena kamu sama sekali ga hargai aku.” Ilham berucap terus terang. kali ini nada suaranya lembut dan tak terdengar emosi sama sekali. Ilham kesal karena dia berbuat baik pada orang tua Dela, tapi tidak mendapat respon baik dari istrinya. Bukankah itu amat menjengkelkan? “Gimana caranya aku hargai kamu, Mas, sama orang yang tadi kamu anterin makan itu aja aku benci.” Suara Dela menurun, bahkan kali ini dia seperti sedang berbisik sebab disertai isakan. Arkh ... Ilham justru jadi lebih penasaran kenapa Dela membenci ayah angkatnya? Pak Faris begitu baik. Bahkan Ambu Indun terlihat sangat menyayangi suaminya, begitupun sebaliknya. Keduanya saling memeluk satu sama lain. Yang satu ingin rasanya menyelami kedalaman hati pasangannya sebab sejauh yang dia ketahui sangat berbalik dengan kenyataan yang sering dia lihat. Ya, Ilham ingin sekali tahu apa yang ada dalam hati istrinya sebenarnya. “Ambu lebih sayang orang itu daripada aku, anaknya. Orang itu sudah merebut Ambu dari aku. Ambu lebih percaya dia daripada aku. Aku kehilangan semuanya, harta yang paling berharga dalam hidupku direbut sama dia.” Dela menangis dalam pelukan suaminya. Oh, Tuhan ... Bagaimana caranya Ilham memberikan pengertian pada istrinya? Cukup lama Dela menenggelamkan kepalanya dalam dekapan suaminya. Getaran di dadanya masih terasa, getaran yang membuat sakit seluruh badannya, tidak hanya hatinya. Tok tok tok ... Sebuah ketukan terdengar. Di sela ketukan itu juga terdengar suara perempuan memanggil llham juga Dela. Sepasang manusia itu lantas saling melepaskan satu sama lain, saling pandang selama beberapa saat seolah saling bertanya siapa yang bertamu siang-siang terik begini? “Kayaknya Ambu,” ucap Dela kemudian saat terdengar panggilan ke tiga dari luar. “Ya udah, dibuka, dong. Suruh masuk,” ucap Ilham berisyarat dengan matanya. Dela tampak masih berpikir. Heuh ... Entah apa yang masih dipertimbangkan olehnya? Ilham sungguh tak mengerti. Pada akhirnya, Ilham lah yang berjalan ke pintu, membukanya dan lalu dia keluar dari kamar. Benar saja, yang datang adalah Ambu dengan satu kotak kardus mie di tangannya. “Ambu?! Ayo masuk,” ucap Ilham setelah sebelumnya dia menyalami tangan ibu mertuanya. Kardus mie yang Ambu bawa pun Ilham ambil alih. Mereka masuk ke dalam dan langsung disambut dengan pertanyaan tak menyenangkan dari Dela. “Ambu ngapain ke sini? Kenapa nggak Ambu urus aja suami Ambu?!” Dela memandang ke dinding yang terdapat lukisan abstrak di sana. Bukan dia suka karya seni, hanya saja sekarang dia akan terus memandang sesuatu yang letaknya berlawanan dengan keberadaan ambunya. Dia akan memandang ke manapun asal tidak pada ambunya. Huft ... Di saat seperti ini, Ilham memang hanya bisa menonton. Tingkah buruk Dela, entah kenapa Ilham masih tak berani menegurnya apalagi menasehatinya. Ambu dengan sabar berbicara pada anak perempuannya, “Dela ... Ambu ke sini cuma sebentar kok. Ambu cuma mau kasih kamu oleh-oleh. Kamu bagikan juga sama mertua kamu di Jakarta. Ambu minta maaf sekali belum bisa main-main ke Jakarta. Ambu belum punya cukup uang buat ke kota besar.” Dela diam, tak bergeming sama sekali. Hatinya mulai sedikit goyah namun mengingat bekal makan siang tadi, membuat Dela terus mempertahankan ego dan kemarahannya. Deeel ... Bisa ga sih kamu jangan keras kepala untuk hari ini? Melihat istrinya yang masih mempertahankan sesuatu yang salah, Ilham pun memberanikan diri mendekat. “Del, jangan kayak gitu sama Ambu. Kamu kan udah mau balik ke Jakarta. Nanti kamu nyesel loh udah berbuat begini.” Tapi kalimat itu tentu tak kan bisa mengubah hati seorang Adelia yang keras. Sampai pada akhirnya, Ambu sendiri lah yang berpamitan sekarang. Ilham sungguh tak enak, dia mengatakan akan mengantar Ambu ke rumah, tapi sayang, niat baik itu ditolak Ambu. “Kalian kan sudah mau balik. Lebih baik istirahat,” ucap Ambu mengusap lengan menantunya selayaknya anak sendiri. Ambu sudah pergi, dan sekarang tinggal sepasang suami istri itu yang sedang berkemas untuk perjalan mereka sebentar lagi. Tak ada obrolan yang tak berarti diantara keduanya, hanya seperlunya saja, sebab pikiran mereka masih saling menyalahkan satu sama lain. Dela masih menyalahkan Ilham sebab dia mau saja disuruh antar makan siang ke tempat kerja proyek Pak Faris. Sementara Ilham menyalahkan istrinya yang berbuat buruk pada ambunya sendiri. Itulah yang disebut kesalah pahaman. Dan salahnya, dua orang itu tak mau saling bicara. Tapi meski Dela kesal, perempuan itu ternyata masih menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan Ilham untuk menyetir. Sebab perjalanan kali ini akan berbeda dari perjalanan sebelumnya. Jika sebelumnya, Ilham bisa membeli kopi di jalan. Maka di sini tidak, bukan karena di Madura ini tak ada yang jula kopi. Tapi untuk urusan kopi, Ilham ini sangat pemilih. Dia sama sekali tak menyukai kopi orang desa karena menurutnya rasanya terlalu pekat. Sedangkan perjalanan mereka masih harus melewati tiga kabupaten atau kota untuk sampai di Surabaya. Sebab itulah, Dela secara khusus menyiapkan kopi untuk Ilham. Kopi yang dia seduh meski tidak memakai perasaan. Dia aduk dengan mata memandang kosong entah kemana? Pikirannya mengembara tidak pada kopi yang sedang dia seduh. Saat semuanya sudah siap, mereka langsung bergegas detik itu juga. Tak lupa, Dela menemui sahabatnya, Lila terlebih dahulu. "Kamu tunggu aja di sini, Mas. aku mau ke tempat Lila dulu." Dela meminta suaminya menunggu sembari memasukkan barang-barang. "Hmm ...." Dela menghela napas mendapat jawaban tak mengenakkan dari suaminya. Meksi begitu, dia tetap meneruskan langkahnya untuk mengembalikan kunci kamar juga membayar biaya sewa wisma pada Lila. Tok tok tok ... pintu Dela ketuk dengan perasaan yang sedikit tak enak. rasanya berat meninggalkan kampung ini, terutama Dela sadar bahwa setelah dia pergi, dia akan jauh Dari Lila sahabatnya. Tempat ia berkeluh kesah selama mereka bersahabat bahkan hingga sekarang. "Dela. ayo masuk," ajak Lila begitu dia membuka pintu. Dela masuk dan langsung memeluk Lila begitu dia sudah ada di dalam. "Aku udah mau balik ke Jakarta, La." Dela masih ingin lebih lama sebenarnya. tapi mengingat banyak sekali beban yang tak kunjung berkurang meski sudah seringkali dia tinggalkan, Mau tak mau Dela harus pergi lagi ke Jakarta. terlebih, dia sudah mempunyai suami yang pekerjaannya juga di kota. "Kapan?" Lila sedikit terkejut. dia tak punya apa-apa untuk diberikan pada Dela sebagai oleh-oleh. "Sekarang. nanti kalo kamu udah punya hp android, kabarin yaaa biar bisa video call," ucap Dela dengan tersenyum. Jarak boleh berjauhan, tapi itu tidak akan memutus hubungan dan komunikasi diantara mereka. Dela bisa saja bertukar kabar lewat pesan biasa, tapi Dela terlalu sibuk untuk itu. dia lebih suka langsung video call atau pakai voice. Dia malas kalau harus ketak ketik pesan. Lila mengangguk, senyumnya juga mengembang di sana. Mereka berpelukan lagi, "hati-hati ya, Del. nanti kalo uangku udah kekumpul, aku bakal kabari kamu kalo udah beli HP android." Di kampung belum banyak yang memakai Hp android, kebanyakan dari mereka masih memakai Hp jadul yang cuma bisa nelepon dan SMS. "Oh, iya." Dela teringat sesuatu. segara dia cari benda cokelat yang sudah dia isi dengan tiga lembar serarus ribuan. "Ini buat biaya sewa kamar kami. Aku tambahin, karena kan yang makek ga cuma satu orang," ucap Dela lagi. "Nggak, nggak usah. Aku ga mau minta uang sewanya, kok. Kamu kan sahabat aku, Del." "La, kalo dulu kamu udah sering bantuin aku, sekarang gantian aku ngebales. Ya nggak banyak, sih tapi mungkin bisa nambah-nambah buat beli Hp android," ucap Dela sembari tertawa. Uang tiga ratus ribu mana cukup buat beli HP Android?! Lila pun pada akhirnya mau menerima, itupun setelah Dela paksa. Keduanya berpamitan lagi dan berpisah di sana. "Aku harap, aku bakalan sempat ke sini lagi." "Kamu mah, meski sempet pasti bakal pergi ke tempat lain." Lila menjawab. Dia mengantarkan Dela sampai ke tempat suaminya yang ternyata menunggu dalam mobil. Dua sahabat itu melambaikan tangan, saling berucap pisah, namun sama-sama menaruh harap bahwa suatu saat mereka masih bisa bersua lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN