Kalimat Ibu Tumini

1257 Kata
Jakarta, adalah tempat pelarian bagi kebanyakan orang termasuk Dela. Pelarian saat seseorang terlilit hutang, pelarian ketika seseorang tak mau dijodohkan, pelarian kala hati seseorang tak kunjung berdamai dengan luka dan nasib buruk yang menimpanya. Dan itulah yang sedang Dela lakukan sekarang bahkan saat pertama kali datang ke sini dahulu. Masih seperti saat pertama kali datang sebelumnya, kedatangannya kali ini pun masih dengan luka yang sama. Dela ingin melupakannya dan mengusir nasib buruk itu dengan kejutan kebaikan yang kan membuatnya terus bersyukur terlahir ke dunia. Sayangnya, luka itu hanya dia pendam seorang diri dalam hatinya. Status suami dan status istri yang dia sandang, bukanlah alasan untuk dia bisa terbuka dan bebas bercerita pada Ilham. Dela amat takut kalau Ilham sampai pergi meninggalkannya begitu mengetahui semuanya. Dela cinta Ilham, dia tak ingin Ilham menampakkan muka marah, jijik apalagi sampai membencinya. Sungguh itu adalah mimpi buruk yang sebisa mungkin, selalu Dela hindari. Sepasang suami istri itu belum menunjukkan keharmonisan sejak berpulang dari Madura. Tak terdengar mereka mengobrol sama sekali. Mereka mirip pengantin yang dinikahkan secara paksa. Padahal, mereka menikah pun karena telah menjalin hubungan dua tahun lamanya. Itu bukan waktu yang sebentar. Keduanya dekat karena hampir setiap hari Ilham mengantar dan menjemputnya ke sekolah, atas pesan terakhir sang nenek. Ilham tengah menjalankan wasiat itu. hingga pada akhirnya benih cinta itu tumbuh dan mekar dalam hati keduanya. Dela merasa aman dan dilindungi saat berada di dekat Ilham. dan karena lelaki itu pula, ketakutannya perlahan menyusut dan pada akhirnya hilang dari hatinya. Dela tak lagi terjebak dalam bayang-bayang masa lalu yang kelam dan menyakitkan. “Aku bukan anak kemaren sore, Del. Kalau emang ada yang ingin kamu ceritain, kamu cerita aja.” Itu adalah kalimat Ilham yang lelaki itu ucapkan saat mereka baru sampai di rumah mereka di Jakarta. Sejak mengucap itu, Dela tak pernah lagi mendengar suaminya bicara pada nya. Lelaki itu sedikit kesal, karena oleh istrinya sendiri tidak dipercaya. Lalu bagaimana nasib rumah tangganya nanti kalau tidak ada kepercayaan dari istrinya? Berdiam di rumah, hanya membuat Ilham semakin suntuk. Apalagi mengingat kondisi Dela yang sedang kedatangan tamu yang tak tahu sikon (situasi dan kondisi) itu. Ilham pun memilih masuk kerja. Tidak! Lebih tepatnya dia hanya berpamitan akan masuk kerja padahal sebenarnya dia hanya keluar tak tentu arah, lalu pulang saat sore sudah mulai akan mengundang malam, seperti jam pulang kantor biasanya. Huft ... Rumah tangga Ilham yang baru seumur biji wijen itu terkena perang dingin. Dan tentu Ilham sendiri lah yang memulai. Dia ingin Dela bicara, seenggaknya meski tak semuanya. Ada yang begitu mengganjal dalam kalimat Dela yang membuat Ilham sungguh sesak karena tak diberitahu alasannya, “ga ada sesuatu yang penting untuk aku ceritain, Mas, aku cuma ga mau ke Madura lagi. Mas Ilham juga jangan pernah bawa-bawa aku ke sana, ya.” Itu adalah jawaban Dela yang justru membuat Ilham semakin didera rasa penasaran. Tapi kenapa? Itu yang Ilham butuhkan. Alasan dari kalimat yang terucap oleh Dela itu masih terus mengusik ketenangan pikirannya. Dan sialnya, justru kalimat Dela terus terngiang, membuat Ilham yang duduk di bangku taman tak jauh dari restoran dekat kantor menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan isi kepala istrinya. Terjebak dalam kalimat istrinya, Ilham sungguh dibuat seperti orang linglung. Kerjanya hanya keluar rumah tanpa tujuan. Lalu saat dia sudah di luar rumah, hanya duduk diam sembari mengingat pertemuannya dengan perempuan itu. Tak ada yang salah dari itu, tak ada yang janggal sebab memang Dela berasal dari keluarga baik-baik. Kenapa Ilham sampai seperti ini? Karena bagi Ilham, mencintai dan mengasihi kedua orang tua itu adalah hal paling utama. Dan sekarang, itu justru berlawanan dengan tingkah istrinya pada orang tuanya sendiri. Kepada orangtuanya sendiri, Dela berbuat seperti itu, apalagi pada orang tua Ilham. Ah ... Rasanya rumah tangga yang seharusnya manis di awal dan akan mulai asam pahit di pertengahan justru dirasakan Ilham pahit asam sejak awal. Ilham jadi teringat dengan perkataan Ibu Tumini tempo hari. “Jangan diam saja kalau kamu melihat istrimu berkata tak sopan pada orang tuanya, sudah menjadi tugas kamu sebagai suami menasehatinya.” Apa ini maksud dari kalimat Ibu Tumini waktu itu? Sejenak Ilham terpikir untuk menyuruh Dela ikut pengajian. Bukan dia tak sanggup memberi nasehat sendiri, tapi dia tahu betul bahwa Dela orangnya keras, keras kepala juga keras hatinya. Saat dulu Ilham mendekatinya saja, itu butuh waktu berbulan-bulan untuk Dela luluh dan menerimanya. Belajar dari pengalaman itu, Ilham terpikirkan akan mendaftarkan Dela di komunitas ibu komplek yang ada acara pengajiannya seminggu sekali. Secercah harapan mulai tampak, dan itu sukses membuat semangat Ilham kembali. "Hei, Ham. Elo ngapain di sini?" Seorang perempuan menyapa dan langsung duduk di sisi Ilham. Tadinya Ilham akan bangkit dan pulang. Tapi berhubung ada teman kantornya yang datang, dia urung. "Eh, iya, nih. Suntuk banget aku abis dari pasar," jawab Ilham berbohong. Tak mungkin dia menjawab suntuk banget di rumah. Bisa langsung heboh satu kantor kalau pengantin baru yang baru lima hari menikah tapi sudah mengatakan suntuk di rumah. Keduanya mengobrol dengan akrab, karena memang perempuan ini adalah bawahan Ilham di kantor. Mulai dari acara pernikahan Ilham, hingga bulan madu yang tentunya hanya Ilham yang membuat-buat, Lelaki itu ceritakan pada teman kantornya. "Makanya kamu buruan nikah," ucap Ilham kemudian. "Pengen sih, tapi keknya gua ga punya peluang sama sekali buat masuk di hati cowok yang gua suka." Perempuan itu menghela napas. Perasaannya bertepuk sebelah tangan, atau lebih tepatnya dia mencintai dalam diam. Lelaki yang dia suka sama sekali tak tahu bahwa Luna -nama perempuan itu- mencintai lelaki itu. Bahkan hingga sekarang, hatinya masih berharap pada lelaki itu. Harapan itu tersusun rapi dalam hatinya tanpa ada seorangpun yang tahu termasuk lelaki itu sendiri. Cukup lama mengobrol, Ilham pun berpamitan untuk pulang lebih dulu. Luna mengangguk, ternyata membagikan sedikit beban hatinya pada orang lain, rasanya sangat melegakan. Padahal dia belum ceritain semuanya, Loh. Apakah memang begitu seharusnya? Terlalu tertutup hanya membuat hatinya justru sesak dan makin sakit. Luna memandang punggung Ilham dengan nestapa. Lelaki itu berjalan tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya. Huft ... Bagaimana bisa Luna setangguh ini? Mencintai dalam waktu yang lama dengan hanya diam tak pernah berani mengutarakan. Sekarang, lelaki itu sudah memiliki istri dan Luna masih berkutat dengan rasanya sendiri. Rasa yang sampai detik ini belum membawanya pada tingkat yang lebih tinggi. Semuanya masih sama seperti biasanya, seolah tak ada apa-apa. Bagaimana caranya dia menemukan bahagia? sedangkan pada orang yang dia cinta saja, Luna lebih suka membahas hal yang lain. Luna tak pernah berani berkata jujur, tentang isi hatinya, perasaannya dan segala hal yang telah dia pendam selama empat tahun. Ya, Luna dan Ilham sudah saling kenal sejak empat tahun yang lalu. Jauh sebelum Dela datang, Luna sudah lebih dulu menyimpan rasa untuk Ilham. Kalau saja nanti takdir berkata lain, semisal Ilham bercerai, Luna ingin menjadi orang pertama yang mendaftar sebagai istri barunya. Atau bahkan jikalau Ilham memintanya menjadi yang kedua, Luna akan dengan senang hati menerima untuk menjadi istri keduanya. Rasa cintanya sungguh besar untuk Ilham. Cintanya buta namun dia terlalu pengecut untuk sekedar mengakuinya di depan Ilham. Dia tak hanya pengecut, tapi juga kelewat bodoh karena tak pernah mau berkata jujur meski pada dirinya sendiri. Bahkan hingga lelaki yang dicintainya menikah, dia belum juga memiliki keberanian untuk berterus terang. Alhasil, hanya sakit yang dia rasakan karena mengetahui kenyataan bahwa cintanya sudah tak bisa lagi dia gapai. Dia hanya mampu menyimpan harapan itu rapat rapat dalam hatinya. Tanpa perlu ada satu orangpun yang tahu. Toh, Luna juga sudah terbiasa seperti ini. Memendam adalah satu keahlian yang dia miliki sejak dulu. dia hanya perlu memperpanjang masa simpanan perasaannya agar cinta yang ia miliki tidak membunuhnya dengan perlahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN