“Pengajian?” Dela tercengang dengan kabar yang dibawa suaminya.
Sejak kemaren mogok bicara, datang-datang bilang sudah mendaftarkan Dela di grub ibu-ibu pengajian.
Apa maksudnya ini?
“Kamu mau aku diejek sama ibu-ibu komplek sini karena mereka tahu aku kalo ngajar ga pakek kerudung?” Pikiran Dela sedang kacau hingga suaminya berniat baik pun dia anggap buruk.
Wajar sih dia berpikir seperti itu, karena sejak kemaren Ilham mendiaminya, jadi saat Ilham datang dan tiba-tiba mengatakan itu, hatinya begitu terkejut dan tak terima.
Bisa jadi itu adalah bentuk bahwa Dela benar-benar tidak terima atau justru itu adalah bentuk dari kemarahan karena suaminya mendiaminya terlalu lama.
Itu adalah dua hal yang sulit dibedakan.
“Sama sekali nggak, Del. Aku Cuma kasian kalo kamu di rumah sendirian. Biar kamu ada kegiatan aja aku daftarin kamu. Kamu tau, kan, Del besok aku udah masuk kerja?” Ilham mencoba membujuk. Dia bisa saja menasehati sendiri istrinya, tapi tuntutan kerja dan kewajibannya untuk memberi Dela nafkah, membuat dia harus mengutamakan urusan kantor. Dan dengan ikut pengajian lah, Dela bisa belajar dan menimba ilmu sedikit demi sedikit.
Itulah yang direncanakan dan dipikirkan Ilham. Tak ada sedikitpun niat buruk dalam hatinya. apalagi dia teramat mencintai Dela, rasanya adalah mustahil kalau Ilham berniat mempermalukan istrinya seperti yang dituduhkan istrinya.
“Mas, aku juga udah mulai ngajar, ya. Kamu lupa kalo aku ini seorang guru?” Dela berucap dengan suara bergetar. Sesuatu yang diputuskan dan diambil tanpa sepengetahuannya, apalagi menyangkut dirinya, Dela tak suka yang seperti itu.
Entah apa yang sebenarnya ada dalam pikiran suaminya, kenapa belakangan ini dia sering sekali melakukan hal-hal yang tidak Dela suka?
Apakah dia sengaja agar Dela marah?
“Ya udah, oke, fine. Terserah kamu, mau batalin silahkan, mau ikut juga silahkan. Toh yang ngadain grub itu Bu RT, tetangga kita. Kamu bisa langsung batalin kalo emang ga mau,” ucap Ilham.
Dia malas kalau harus berdebat dengan istrinya, karena jujur ini tak pernah terjadi di antara mereka berdua sebelumnya. terlebih, istrinya memiliki prasangka buruk karena Ilham mendaftarkannya tanpa memberitahu lebih dulu.
Ilham tak ingin memperkeruh suasana. umur rumah tangganya masih bisa dihitung dengan jari, tapi berbagai Masalah datang dan membuat hatinya diliputi pertanyaan 'apa memang seperti ini yang disebut berumah tangga? penuh cobaan dan ujian.'
Tergantung bagaimana kita menyikapinya, karena masalah tak hanya datang pada orang yang sudah berumah tangga. sebab sejatinya hidup memang seperti itu, mereka diuji untuk menaikkan level hidupnya. Apakah nantinya dia layak masuk ke surga atau malah harus mampir dulu ke neraka.
Itulah hidup, harus pandai bersikap agar pas akhir, bisa menikmati kebahagiaan yang abadi.
Ilham lantas masuk kamar, mandi dan bersiap tidur sebelum akhirnya Dela datang dan mengatakan makan malam mereka sudah siap.
Keadaan semakin menegang saja.
Sebenarnya apa yang sedang kita ributin, sih?
Bukankah yang harusnya marah itu aku?
Dela tak habis pikir. Penolakan dari Ilham membuat Dela menurunkan ego dan keras kepalanya mulai lunak.
Eh tapi jangan salah! Bukan kepala Dela yang keras jadi lunak yaa. Kepala Dela tetap keras kok, tabiatnya saja yang mulai dia kondisikan.
Masalah di kampung tak seharusnya di bawa-bawa sampai Jakarta. Karena tujuan awal aku ke sini adalah meninggalkan segala hal, apapun itu yang menyangkut kampung.
Untuk itu, aku harus memintanya baik-baik pada Mas Ilham, begitu yang Dela pikirkan di meja makan sendirian.
Makanan sebanyak itu tidak tersentuh sama sekali.
Cuma yang buat aku kesal adalah kenapa Mas Ilham mendaftarkan aku di grub ibu-ibu pengajian?
Gimana kalau bentrok sama jadwal aku ngajar?
Dela meremas kepalanya, frustasi.
Bahkan hingga malam telah sangat larut, perempuan itu tak juga bangkit dari tempatnya duduk.
Mungkin besok pagi adalah waktu yang tepat buat bahas semuanya. Aku ga suka perang dingin kek begini.
Sebuah telepon membuat perempuan itu tersadar dari lamunan panjangnya.
“Pak Rido. Ada apa, ya?” segera dia angkat telepon itu.
“Malam, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”
“Malam juga, Ibu Dela. Maaf mengganggu malam-malam, saya barusan dapat kabar bahwa Pak Susilo ikut pertemuan di luar kota. Jadi bisa tidak kalau besok Ibu Dela datang lebih awal untuk mimpin apel?”
Rupanya Pak Rido meminta Dela untuk memimpin apel pagi di sekolah. Itu artinya, Dela harus berangkat lebih pagi.
“Ibu Dela sudah selesai masa cutinya, kan? Saya sudah tanya Pak Toto katanya sudah genap seminggu,” ucap suara di seberang lagi.
Huft ... Mungkin untuk urusanku dan Mas Ilham bisa aku tunda dulu sampai aku pulang ngajar.
“Iya, Pak, betul. Insyaallah besok saya akan berangkat lebih pagi,” sahut Dela kemudian.
“Oke, Bu. Terimakasih.”
“Sama-sama, Pak,” sahut Dela.
“Ngomong-ngomong, sudah selarut ini kamu belum tidur. Suamimu seperkasa itu?” Dela pikir, Pak Rido akan mematikan sambungan telepon lebih dulu, tapi ternyata ....
“Eng, iya. Karena mendengar bunyi handphone, saya terbangun. Dan sekarang, saya akan melanjutkan tidur saya.” Dela menjawab dan langsung memutus sambungan tanpa memberi tahu.
Tentu saja yang diseberang mengumpat di ruang tamunya.
Mencuri waktu untuk menelpon ibu guru muda adalah hobbynya. Sayangnya, itu hanya bisa dia lakukan saat di rumah sebab ketika di sekolah, dia begitu pandai menjaga sikap demi reputasi dan jabatan agar tidak turun.
Dela menghela napas. Apa yang sebenarnya para lelaki cari?
Hampir semua lelaki yang dia kenal, bahasannya adalah soal ranjang.
Apa ini yang dimaksud dunia Dela sudah masuk dunia dewasa?
Perempuan itu lantas memasukkan semua makanan yang tertata di meja ke dalam kulkas. Selain menghemat biaya, menghemat waktu tujuannya. Besok, Dela tak akan mungkin sempat masak jadi makanan ini hanya perlu dia panaskan untuk dia dan Ilham sarapan besok.
Setelahnya, Dela masuk ke kamar dan tidur di ranjang di sisi Ilham.
Ah, sejujurnya ... Dela ingin Mas Ilham-nya tak terus-terusan mendiaminya. Dela ingin Ilham yang selalu mengajaknya mengobrol berdua.
Tapi untuk sekarang, mungkin tidak. Dela tahu, Mas Ilham-nya kecewa karena Dela berbuat buruk pada ambunya. Tapi Dela juga kecewa, karena Mas Ilham-nya mendaftarkannya ke grub ibu-ibu pengajian tanpa bilang-bilang dulu padanya.
Tak berapa lama, Dela terlelap. Masuk ke alam mimpi setelah sejak tadi hanya memandangi punggung suaminya yang berbungkus selimut.
Ilham terbangun tengah malam, dia mendapati sang istri tertidur lelap di sampingnya. AC yang tadi dia nyalakan masih dengan posisi On. Mungkin tak apa untuk Ilham yang berbungkus selimut, tapi bagi Dela yang tak kebagian kain tebal itu, tentu saja pasti dingin.
Perempuan itu tidur melengkungkan badannya bak bayi dalam rahim ibunya. Kedua tangan Dela mengepal, disembunyikan di bawah dagunya.
"Kenapa nggak dimatiin coba AC-nya?" Ilham mengambil remote control lalu dia tekan tombol off di sana.
Dan tak lupa, sebelum Ilham beranjak untuk membuang hajatnya ke kamar mandi, selimut yang tadi dia pakai dia, dia pindahkan ke tubuh istrinya.
Ilham tidak marah, hanya saja dia terlalu syok karena ternyata istrinya membutuhkan perhatian lebih dan pelajaran lebih darinya agar menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi anak yang bisa menghormati orang tuanya.
Huft ... rasanya lega sekali Sekantong cairan yang tak keluar hampir semalaman sekarang sudah tak ada membebaninya. Namun bukan berarti sekarang Ilham bebas, menghilangnya cairan yang tadi seolah menggantung dan menyiksa rupanya menjadi awal timbulnya sesuatu yang baru. Krucukan di perutnya di mulai.
Ya, Ilham yang tadi tak ingin terlibat perdebatan lagi dengan Dela memilih untuk tidur lebih awal.
Dia tak ingin Dela justru membencinya karena terlalu sering berdebat.
Huft, hati Ilham memang sangat lembut. Untuk menegur atau menasehati istrinya saja, Ilham berpikir ribuan kali sebelum melakukannya.
Dan berdebat adalah sesuatu yang tak ingin dia lakukan dengan Dela.
Sejak awal, Ilham kan selalu menuruti mau Dela. Selain cinta, dia hanya tak ingin berdebat yang nantinya akan berujung marahan.
Itu sesuatu yang Ilham ingin hindari.
Dia tak ingin rumah tangganya yang baru seumur jagung retak lalu kemudian kehilangan kendali.
Ilham hanya ingin membina rumah tangga yang harmonis jauh dari pertengkaran dan masalah.