Kepala sekolah m***m

1241 Kata
Pagi sekali Dela terbangun dari tidurnya. Dia teringat dengan ucapan Pak Rido semalam. Kepala sekolah itu menelepon dan meminta Dela untuk datang lebih awal karena harus memimpin apel. Huft ... padahal hari ini bukan jadwalnya. Tapi karena semalam Pak kepala sekolah menghubunginya secara langsung, mau tidak mau Dela menurutinya. Dia harus datang pagi-pagi sekali, karena untuk hari ini ada jadwal apel pagi yang diadakan untuk semua siswa dari berbagai kelas. Mereka akan mendapat pertanyaan yang berhubungan dengan materi hari ini, siapa yang bisa menjawab dia akan langsung masuk ke kelas, dan sebaliknya, yang tidak bisa menjawab akan kembali ke antrian terakhir. Yang bertugas bertanya berubah-ubah, tergantung siapa yang mengajar di jam pertama. Dan hari ini bukanlah jam pertama bagian Dela. tapi karena Pak kepala sekolah memberitahu bahwa yang piket di jam pertama sedang berhalangan, jadi Dela memutuskan datang dan menggantikannya. Di sini lah Dela berada sekarang, Menyusui lorong sekolah yang masih sepi. Dia berjalan dengan anggukan n, memakai setelan seragam berwarna cokelat tua yang membalut ketat di tubuhnya. Di sepanjang koridor, dia tidak melihat satupun siswa di sana. Padahal biasanya kalo jam apel, semua siswa sudah berdatangan. Apa Dela yang terlalu pagi berangkatnya tadi? Karena sekolah masih sepi, dia pun masuk ke dalam ruangan nya. Toh nanti kalau sudah waktunya masuk, akan ada bel berbunyi, pikirnya. Dela melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Di sana jarum arlojinya menunjuk angka enam empat puluh lima. Huft, memang Dela yang terlalu pagi berangkat. Bahkan karena ini, dia sampai tidak menyiapkan sarapan atau sekedar kopi untuk Ilham. Meski suaminya telah membuatnya dongkol, tapi bukan berarti dia bisa bertindak semena-mena, apalagi sampai melalaikan tanggung jawabnya. Lantas, Perempuan itu meraih tasnya yang terletak di atas meja, dia merogoh ke dalamnya mencari benda pipih pintar miliknya. Setelah ketemu, dia lantas masuk ke aplikasi orange, tempat dia biasa mengorder makanan untuk makan siang saat masih belum menikah dahulu. Dia mencari penjual makanan online yang sudah buka di pagi buta seperti ini. Untungnya dia di kota besar sekarang, jadi mencari penjual makanan di pagi seperti ini Dela bisa dengan mudah menemukannya. Dela lantas memesan satu cup kopi hitam dengan pisang goreng cokelat yang ternyata juga tersedia di etalase. Tak lupa, Dela membayar dan mengetikkan alamat rumah tempat ia tinggal dan Ilham. Selesai melakukan pemesanan, Dela masih disibukkan dengan penerima yang tidak dia ketahui apakah sudah bangun atau masih tidur di rumahnya. Lantas, Dela menghubungi Ilham namun tidak diangkat. Barulah pada panggilan ke tiga telepon Dela diangkat oleh sang suami. "Baru bangun ya, Mas?" tanya Dela begitu dia merasakan ponselnya bergetar menandakan bahwa teleponnya sudah tersambung dengan suaminya. "Iya, nih. Kamu ngapain nelpon?" tanya Ilham dengan suara serak. Bahkan matanya susah sekali untuk Ilham buka. Rasanya dia masih ingin melanjutkan tidurnya lebih lama. Dia belum sadar bahwa istrinya sudah tidak ada di sampingnya ataupun di dalam rumah ini. "Mas, aku udah pesenin kamu kopi sama pisang goreng juga. Sorry ya, aku gak bangunin kamu, habis kamu tidurnya kek puleeeees banget." Suara Dela terdengar begitu merdu. Ilham lebih suka Dela yang seperti ini daripada yang sering marah-marah. "Iya makasih, Sayang. Mas boleh minta yang lain, ga?" ucap Ilham dengan hati-hati. Dia tak ingin merusak mood istrinya yang sepertinya sedang bagus pagi ini. "Apa? " tanya Dela. Tangannya memainkan pulpen yang ada di atas meja. "Jangan ngambek lagi, ya," pinta Ilham. Dela berdehem tak langsung mengiyakan, "nanti bahas pas pulang kerja ya, Mas." Dan obrolan mereka terpaksa harus dihentikan karena terdengar bel berbunyi. Bukan bel sekolah, melainkan bel rumah Ilham. Lelaki itu mengakhiri sambungan telepon dan disetujui oleh Dela sebab di pintu ruangan nya, Pak Rido muncul dan memerhatikan Dela dengan tatapan tak suka. "Bagus, pengantin baru memang selalu bikin Iri." Pak Rido mengejek. Dia menetapkan aturan pada semua guru untuk tidak melakukan telepon yang tidak berkepentingan dengan sekolah di lingkungan sekolah saat proses belajar mengajar sedang berlangsung. "Loh, sekarang kan belum masuk waktu ngajar, Pak. " Dela membela diri. Lagi pula, tak ada yang setuju dengan aturan itu. Itu hanya peraturan yang dibuat Pak Rido dan hampir setiap hari dilanggar oleh guru yang merasa perlu menelepon dan menerima telepon dari keluarga mereka. Pak Rido melangkah masuk, guru muda wanita yang satu ini memang sejak lama selalu membuatnya menjadi laki-laki pengecut. Hampir setiap hari, Pak Rido hanya mengintip tanpa berani mendekat ataupun mengobrol face to face. Tapi tidak untuk sekarang, di sekolah tidak ada siapa-siapa, Pak Rido merasa bebas melakukan apapun sekarang. Dia duduk di sisi meja yang ada di hadapan Dela. Tangannya bersedekap dengan tatapan tajam yang seolah siap menerkam. Pak Rido bak harimau lapar yang menemukan mangsanya di tempat yang jauh dari kawanannya. Ini akan menjadi pagi yang sangat menyenangkan! "Sudah dari lama aku menunggu untuk ini," ucapnya sedikit mencondongkan badannya dengan suara yang sangat pelan, nyaris berbisik tapi tidak sepelan itu, kalau ada orang lain di ruangan ini, sudah tentu mereka bisa mendengarnya. Dela bangkit sebab mencium gelagat buruk dari kepala sekolah di depannya. Dengan cepat tangan Pak Rido menggapainya, "mau kemana?" Jangan tanya bagaimana takutnya Dela sekarang. Tapi mengingat di mana dia berada sekarang, membuat perempuan itu lebih tenang. dia melihat cctv yang berada di pojok ruangan ini. "Saya tahu kamu juga punya perasaan yang sama pada saya. Saat saya diam-diam memerhatikan kamu, mengikuti kamu, saya tahu kalau kamu mengetahui itu. Kamu merasa kalau kamu diikuti tapi kamu diam saja," ucap Pak Rido mulai bertingkah. "Kamu diam karena kamu juga suka kan saya ikuti." Omongannya semakin tak masuk akal. Bahkan Dela baru tahu kalau selama ini Pak Rido mengikutinya dan sering memerhatikan nya. Awalnya Dela berpikir bahwa cuma Pak Rido guru di sini yang jarang berinteraksi dengan lawan jenis, apalagi dengannya yang hampir menjadi idaman para guru lelaki di sekolah ini. "Maaf, Pak. Bahkan saya baru tahu kalau bapak sering ngikutin saya," aku Dela. "Alaah ... Ga usah pura-pura, Del. Kamu juga suka kan saya suruh masuk pagi, jadi kita bisa begini setiap hari." Pak Rido omongan nya semakin ngelantur. "Seperti ini gimana ya, pak?" Dela sungguh tak mengerti. Maksudnya hari ini tidak ada apel seperti yang Pak Rido bilang atau apa? Pak Rido bangkit dari duduknya, wajahnya menunduk dan miring sedikit untuk menjangkau wajah Dela, "jangan macam-macam, Pak. Atau saya bakal buat bapak malu kalau berani berbuat tidak senonoh di tempat ini." Pak Rido berhenti, wajahnya ada tepat di sisi telinga Dela, "coba saja kalau kamu bisa." Aish, Dela melupakan sesuatu bahwa sekolah ini adalah milik orang tua Pak Rido. Dan Pak Rido memiliki kuasa penuh di sini. "Semua cctv sudah saya matikan, semuanya. Jadi ayolah, tidak usah jual mahal. Saya tahu kok, kamu juga suka kan ketika ada laki-laki memuja kamu. Saya pastikan setiap hari kamu mendesah keenakan di bawah saya." Deg ... jadi cctv nya mati! Kalau bukan karena pak Rido adalah orang yang berkuasa di sini, Dela sudah pasti menamparnya. "Maaf, saya harus pulang. Suami saya meminta saya pulang karena katanya ada polisi mau menggerebek sekolah yang masih beroperasi." Huft, untung setelah teleponan dengan Mas Ilham tadi, Dela sempat melihat grup wa sahabat-sahabat gurunya, bahwasanya karena ada kasus corona varian baru, ppkm mulai diberlakukan lagi, dan itu akan dimulai pada hari ini. Kejadian pagi ini menandakan bahwa gunjingan para guru selama ini benar. Mereka mengatakan bahwa Pak Rido adalah kepala sekolah m***m. Dela adalah satu-satunya orang yang tidak percaya itu karena setiap hari yang dia Lihat Pak Rido selalu bersikap cuek, dingin dan bahkan tak segan-segan menghukum siapapun yang melanggar aturannya. "Tidak usah buru-buru." Pak Rido mencekal tangannya. Tak mengizinkan Dela berjalan selangkah pun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN