Malam pertama tanpa melakukan apa-apa.
Ah, pasti Ilham akan jadi bahan tertawaan teman-temannya di kantor.
Dia menjambak rambutnya menyadari bahwa malam panjangnya benar-benar tidak ada yang patut dibanggakan.
Jangankan bergesekan dengan kulit mulus istrinya, saling memandang dengan rona bahagia pun tidak terjadi semalam.
Yang nampak di wajah istrinya hanya kegelisahan sejak pertama masuk ke kamar miliknya yang sudah disulap menjadi kamar pengantin.
Kelopak bunga bertebaran di atas sprei kasur, awalnya semua terlihat indah. Tapi mendapati dirinya yang sekarang ditinggal tidur oleh Dela, semua kelopak itu seperti sampah yang hanya merusak pemandangan matanya.
Ilham terbangun dari tidurnya karena teringat bahwa dia belum melakukan sholat isya’. Buru-buru dia bangkit ke kamar mandi dan berwudhu’, lalu setelahnya dia melaksanakan sholat isya tepat di sepertiga malam.
Ilham hendak melakukan sholat tahajud sekalian, tapi dia merasakan ada yang berbeda dalam dirinya saat melihat tubuh istrinya yang miring ke arahnya. Belahan d**a yang besar menonjol di sana, membuat anak buahnya menegang.
Ah, ini kan malam pertamanya.
Buru-buru Ilham melepaskan kopiah beserta baju Koko yang dia kenakan. Sarungnya tidak dia lepaskan, sebab kain penutup di bawah ini adalah benda termudah yang bisa dia copot sesukanya, saat nanti istrinya mempersilahkan dirinya untuk berbuat yang semestinya pengantin baru lakukan.
Yeaaay ... bakal pecah telor ini!
Ilham naik ke ranjang tepat ke sisi istrinya yang terlelap.
Tangannya hendak menyentuh benda menonjol milik istrinya yang terlihat kenyal lembut gimana, gitu.
Ilham ingin merasakan bagaimana rasanya menyentuh benda itu?
Dia meraba tubuh istrinya, melingkarkan tangannya di pinggang istrinya sebelum dia beranikan tangannya menyentuh ke bagian yang menonjol di d**a Dela.
“Yank, aku pengen,” lirih Ilham di telinga istrinya.
Dela menggeliat, belum sepenuhnya sadar pada sentuhan Ilham di pinggangnya.
Ilham merasa mendapatkan lampu hijau saat kepala Dela sedikit terangkat, menampakkan leher jenjangnya yang sedikit tertutup rambut panjangnya.
Ilham menyibak rambut istrinya sembari kemudian menciumi area itu.
Aromanya membuat Ilham ingin menikmati lebih.
“K_kamu mau ngapain, Mas?” Dela terbangun dan langsung mendorong tubuh Ilham.
“Mau itulah, Yank. Ini malam pertama kita,” ucap Ilham penuh gairah di matanya.
Dia tahu, istrinya kecapean. Seharian penuh tidak istirahat. Ilham pun merasakan hal yang sama, tapi saat ini Ilham menginginkannya. Menginginkan sesuatu yang biasa dilakukan oleh pengantin baru pada umumnya.
Dela menggeleng, raut wajahnya berubah. Yang tadinya lesu dan terlihat sangat mengantuk langsung cerah namun tampak gusar. Dia bahkan sekarang berdiri dengan tangan menutupi tubuhnya.
“A_ku capek, Mas.”
Dela menahan napas setelah sepersekian detik berdiri mematung menatap suaminya.
“Ya udah, tidur lagi sini,” seru Ilham kemudian.
Dia menggerakkan tangannya meminta Dela kembali ke tempat tidurnya.
Dela merebahkan tubuhnya dengan perasaan was was. Menarik selimut dan tidur membelakangi Ilham.
“Yank. Aku boleh peluk, kan?” Ilham tak mau menyerah, karena sungguh dia sangat menginginkan ini sejak melihat Dela mengenakan kebaya yang terlihat belahan dadanya tadi siang.
“Hemmm.”
Ilham langsung saja merapatkan tubuhnya dengan posisi dipunggungi oleh Dela. Tubuh keduanya sudah saling menempel dan tentu, Ilham yang sejak tadi ingin sesuatu yang pahalanya seperti membunuh empat puluh orang kafir itu, miliknya menegang. Bukan karena tergiur dengan besarnya pahala yang dijanjikan Tuhan, melainkan memang Ilham sedang ingin menerobos dan mencoba seberapa tangguh dirinya dengan di malam pertama pernikahannya.
Ya, selama ini di kantor, dia hanya menjadi bahan olokan karena tak kunjung melepas perjakanya yang memang dia jaga untuk Dela.
Ah, secinta itu Ilham pada Dela. Dia bahkan selalu menolak ajakan teman kantornya yang kebanyakan senang bermain di club malam.
Awalnya Ilham hanya memeluk, tapi beberapa detik, berganti gesekan halus yang sengaja Ilham lakukan demi memancing gairah istrinya.
Huft ... Sumpah aku pengen banget, Yank.
Ilham menggesekkan miliknya pada pinggul Dela dengan tempo yang semakin cepat dan keras.
Ck! Dela berdecak, tapi tidak Ilham pedulikan karena saat ini dia sungguh menginginkan pelepasan. Dia tekan pinggul Dela dengan miliknya yang sudah siap tempur.
“Aku mau kita main dulu, Yank. Shhh ....” Ilham tak peduli lagi seperti apa wajah kesal istrinya sekarang.
Tangannya bahkan sudah bergerak liar hampir menyusuri lekukan di d**a Dela, membuat Dela meregang dan kemudian berbalik badan.
Ilham senang bukan kepalang.
Yess! berhasil.
Brak ... bukan balas b******u, malah Dela mendorong Ilham dengan kakinya hingga jatuh ke lantai.
Shhh ... auwhh ... Dede gua kegencet!
“Aku capek, kan aku dah bilang, Mas.” Dela merengut, kesal.
“Ayolah, Yank. Ini, kan malam pertama kita,” rayu Ilham seraya bangkit masih penuh nafsu di matanya.
“Ck, aku bilang capek ya capek.” Dela akhirnya bangkit sebab merasakan tubuh Ilham naik lagi ke kasur.
Dela lantas berjalan ke kamar mandi, dia membanting pintu kasar sesaat setelah tubuhnya masuk ke dalam.
Ah ... beneran bakalan diketawain sama anak sekantor kalau mereka tahu aku dibentak di malam pertama.
Milik Ilham terlanjur menegang, dia butuh pelepasan walau tidak dengan masuk ke puncak gua yang belum pernah dia datangi seindah apa gua itu?
Dia memilih ke dapur, membuka kulkas lalu menuang air ke dalam gelas yang langsung habis dengan sekali tenggak.
“Baru kelar, Ham? Sampek kehausan gitu.” Pak Rosid, bapaknya mengagetkannya.
Dia tiba-tiba muncul dan bertanya baru kelar, memang apa yang dilakukan Ilham?
Heuh ... Pasti kebanyakan orang mengira Ilham dan Dela sudah membunuh orang kafir di malam pertama mereka.
Tak apa, bukankah ini bagus? Begitu Ilham berpikir. Jadi dia tidak perlu malu ditertawakan orang sekantor atau bahkan orang se kecamatan kalau mereka semua berpikir seperti bapaknya.
“Iya, Pak. Bapak kenapa belum tidur?” tanya Ilham mencoba mengalihkan pembicaraan.
Pak Rosid berdehem, berpikir apakah dia perlu menjawab pertanyaan Ilham dengan jujur atau tidak.
“Iya, sama seperti kamu, bapak juga haus.”
“Kamu tidur lagi, gih. Barangkali besok istrimu minta jatah lagi. Pengantin baru, kan, begitu.” Pak Rosid berucap dengan menepuk pundak Ilham.
Ilham hanya mengangguk menampakkan kebodohannya sebab dia sadar diri, bahwa besok tak akan ada kata minta jatah lagi seperti yang bapaknya katakan.
Jangankan minta jatah lagi, yang sekarang aja belum terlaksana.
Ah, miris sekali kisah malam pertama Ilham. Nelangsa seperti seorang anak yang ditinggal ibunya di pinggir jalan.
Ilham berbalik menuju ke kamarnya. Panglima perangnya sudah tunduk sebab banyaknya tekanan yang dipikirkan oleh Si pemimpin pasukan.
Dia masuk ke kamar, menutup pintu dengan perlahan karena di atas ranjangnya sudah terdapat Dela yang sepertinya kembali melanjutkan tidurnya.
Ilham tak ingin berbuat khilaf pada istrinya, eh, maksudnya dia tak ingin bertindak diluar kemauan istrinya. Dia tak ingin memaksakan kehendaknya yang sama sekali tidak disetujui oleh Dela.
Ilham memilih tiduran di sofa sembari menunggu azan Subuh berkumandang.