“Del, Dela, Sayang bangun.” Ilham mengguncang tubuh Dela yang masih terlelap setelah tadi sholat subuh.
Bahkan perempuan itu tidur masih mengenakan mukenah dan tidur di atas gelaran sajadahnya.
Padahal sudah semalaman, perempuan itu tidur lelap dan tak diganggu Ilham. Kenapa masih tidur lagi habis subuh?
Apa jangan-jangan, istrinya tidak benar-benar tidur semalaman? Begitu Ilham berpikir saat mencoba membangunkan istrinya tapi tidak kunjung bangun.
Atau memang kebiasaannya begitu? Tidur lagi sehabis subuh?
Ah, sudahlah. Ilham tak terlalu ingin tau lebih. Toh, setiap hari ke depan, dia akan hidup berdua dengan istrinya dan pasti sedikit demi sedikit akan tahu semua kebiasaan Dela, baik dan buruknya nanti, dan apapun itu, Ilham akan berusaha untuk menerima dan bahkan akan memperbaikinya jika Dela mempunyai kebiasaan buruk.
Ilham memutuskan untuk turun lebih dulu. Meninggalkan istrinya yang dia lihat masih terlelap.
Di ruang makan, sudah menunggu Bu Ningsih dengan Pak Rosid yang saat ini menoleh memandang ke arahnya.
“Ayo duduk, Ham. Istrimu mana?” Bu Ningsih berkata lembut. Membalikkan piring yang ada di atas meja depan anaknya dan lalu menyendokkan nasi lengkap dengan lauknya untuk Ilham.
“Eng ... Masih tidur, Bu.” Ilham menjawab.
Mendengar jawaban anaknya, Bu Ningsih cekikikan. Membayangkan kegagahan anaknya yang ternyata sama persis seperti Bapaknya.
Jawaban singkat Ilham barusan, mengingatkan Bu Ningsih pada malam pertamanya dengan Pak Rosid dulu.
Tepat ketika itu, Bu Ningsih sedang melepaskan aksesoris pengantin di kepalanya. Dan Pak Rosid yang memang kala itu gagah dan berbadan besar lantas dengan tak sabar hendak menarik istrinya ke kasur.
“Belum selesai, Bang. Aku kelarin bentar, ya.” Bu Ningsih yang merasa berat dengan sanggul di kepalanya berniat melepaskan sanggul rambutnya terlebih dahulu.
Tapi Pak Rosid yang sudah tak sabar hendak membuat Bu Ningsih berteriak keenakan itu lantas memeluk dan menciumi ceruk leher istrinya.
"Sabar, ya, Bang. Bentar lagi selesai, kok." Bu Ningsih mengusap pipi Pak Rosid yang sedikit bopeng tapi masih terlihat tampan.
"Nggak. Aku udah ga sabar." Pak Rosid lantas membelokkan kursi yang di duduki istrinya untuk menghadap padanya.
Tak membuang waktu lama, Pak Rosid menghujani ciuman di bibir istrinya dengan tangannya yang nakal menyusup liar masuk ke dalam kebaya yang dibukanya secara paksa.
Bu Ningsih dibuat mendesah dan berteriak hampir semalaman hingga dia tepar dan melupakan sarapannya karena pertempuran yang mengenakkan, persis seperti Dela, yang menantunya alami sekarang ini.
“Bu, aku kan alergi udang.” Ilham berkata saat melihat ibunya hendak mengambilkan pepes udang untuknya.
Seketika, Bu Ningsih tersadar dari bayangan malam pertamanya yang mengasyikkan dan tentunya mengenakkan itu.
“Oh iya, ibu lupa.”
Padahal untuk urusan udang dan Ilham, Bu Ningsih tak pernah lupa.
“Kamu tuh harus banyak makan, biar energi kamu pulih dan bisa kuat tempur lagi.” Bu Ningsih berkata dengan selingan tawa, bermaksud mencandai anaknya.
Ilham hanya cengengesan dengan tengkuknya yang terasa gatal sebab dia menyadari bahwa tak ada pertempuran sama sekali seperti yang ibunya katakan.
Haih ... Jangankan tempur, megang aja belum.
Dengan menutupi rasa kecewanya, Ilham menyendok nasi lalu menyuapkan ke mulutnya.
Tak ada suara saat mereka bersantap sarapan itu. Hanya dentingan sendok beradu dengan piring yang menjadi pemecah keheningan diantara mereka.
Belum selesai makan, tiba-tiba saja Dela muncul dengan koper besar yang berisi barang-barang suaminya dan tas kecil berisi barangnya.
“Ayo, Mas. Kamu udah selesai, kan, makannya?” Dela berucap tepat ketika sudah berada di sisi kursi yang diduduki Ilham, suaminya.
“Loh, sarapan dulu dong, Del. Ibu udah masak banyak ini, sayang kalau gak dimakan.” Bu Ningsih menatap pada menantunya.
Tak habis pikir, barusaja dia berpikiran bahwa Dela kecapean karena tempur semalam, tapi tak berselang lama, menantunya muncul dan tak ada angin tak ada hujan, mengajak anaknya untuk berangkat, entah kemana.
Tangguh juga menantuku!
Dulu, mau makan aja aku minta dibawain ke kamar karena takut ngangkang pas jalan!
“Iya, makan dulu biar kamu ada tenaga saat nanti Ilham di rumah.” Pak Rosid yang bersuara. Berpikir bahwa anaknya itu sama seperkasa dirinya. Akan meminta jatah setiap waktu melebihi waktu minum obat.
“Nggak deh, Bu. Dela gak biasa sarapan terlalu pagi gini.” Dela menjawab dengan menatap Bu Ningsih.
“Ayo, Mas,” ajaknya lagi pada suaminya.
Ilham tentu saja bangkit sebab makannya kini sudah selesai. Dia berpamitan pergi untuk tinggal di rumah sendiri, terpisah dari orang tuanya dan juga orang tua Dela.
Mereka berjalan menuju mobil sedan silver yang terparkir di halaman depan rumah. Itu adalah mobil pemberian kantor, sebab kinerja Ilham yang tak pernah mengecewakan.
Ilham memasukkan koper ke bagasi mobilnya. Lalu kemudian, membukakan pintu untuk Dela dan lalu berbalik ke pintu di samping kemudi.
Ingin rasanya Ilham bertanya kenapa Dela begitu buru-buru untuk pindah dari rumah orangtuanya. Tapi hal itu urung, sebab dia melihat wajah Dela yang tampak gelisah.
“Kamu kenapa, Sayang?” Ilham bertanya sembari matanya fokus ke depan. Sesekali dia lirik istrinya yang tampak tegang.
Kenapa sih sama Dela?
“Kamu laper?” Ilham bersuara lagi. Dela menjawab dengan anggukan kecil yang disambut dengan lelehan oleh suaminya.
“Lucu banget sih, kamu, Sayang.” Ilham mengusap puncak kepala istrinya, gemas.
Memang sejak dulu, Dela itu pemalu. Tak disangka, sampai menjadi istrinya-pun, Dela masih seperti itu.
“Kenapa tadi nggak mau waktu bapak sama ibu ngajak sarapan?” tanya Ilham masih dengan sedikit menahan tawa.
“Eng ... Aku nggak enak, Mas. Aku kesiangan bangun dan gak bantuin ibu masak juga,” jawab Dela dengan menggigit bibir bawahnya.
Ilham gemas melihat pemandangan di depannya. Hasratnya sebagai seorang lelaki melihat wanita halalnya bertingkah demikian, membuat dia ingin memakannya, eh, menciumnya.
Tapi tunggu sampai di rumah dulu dan Dela kenyang dulu. Nggak mungkin, kan, dia melakukan malam eh pagi pertamanya dengan Dela di mobil. Bisa-bisa mobilnya juga harus dimandikan.
Ilham menepikan mobilnya tepat di restoran yang bertuliskan Nai-food. Keduanya turun meski sebenarnya Ilham sendiri ingin di mobil saja. Dia sudah kenyang, tapi demi menemani istrinya, dia memilih ikut turun dan bahkan ikut memesan minum.
“Kok nggak temenin aku makan, Mas?” Dela bertanya.
God, serius Dela nanya begini?
“Kamu, kan tahu aku abis sarapan tadi.” Ilham mengingatkan. Siapa tau saja, istrinya lupa atau malah ga ngeuh kalau tadi suaminya yang tampan ini sudah sarapan.
“Yah ... Makan sendiri dong aku,” keluh Dela memasang tampang sedih. Ah, Ilham tentu tak tega. Seumur kenal Dela dan mendapat wasiat untuk menjaganya, Ilham tak pernah sekalipun tidak menuruti kemauan Dela.
Kali ini pun, dia mengalah, memakan makanan pesanan Dela sepiring berdua.