Pindah rumah

1002 Kata
"Akhirnya ... sampai juga!" Dela merentangkan tangan seolah baru merasakan bebas dari penjara. Eh, emang Dela tahanan? Melihat wajah istrinya yang tampak bahagia itu, Ilham mendekat. Barangkali ini waktunya. Baru sampai di dekat Dela, istrinya justru bertindak lebih dulu dengan memeluk Ilham. "Makasih ya, Mas. Kamu mau nurutin kemauan aku buat segera tinggal di sini," ucap Dela masih dengan posisi memeluk suaminya. "Iya, Sayang, sama-sama. Apapun akan Mas lakuin buat bikin kamu bahagia." Ilham balas memeluk sang istri. Dia amat bahagia karena kini, dia telah memiliki Dela seutuhnya, dengan begitu ... sesuatu yang nikmat yang sering dia dengan dari cerita teman-teman kantornya akan dia alami sendiri. Sesuatu yang dia nantikan sejak selesai acara pernikahannya kemaren. Akhirnya! bentar lagi belah duren, Ilham berkata dalam hatinya. Namun dia harus bersabar, dalam artian tidak boleh gegabah, takutnya malah mendapat penolakan lagi dari Dela. Bukan apa-apa, kata teman kantornya, perempuan saat malam pertama akan susah ditaklukkan karena yang pertama itu sakit, sebab itu ... banyak perempuan masih belum siap melakukannya. Mungkin Dela termasuk diantara perempuan-perempuan itu, pikir Ilham. Sebab itulah, dia harus sabar bin tahan. Sabar untuk mencapai tujuan, dan tahan menghadapi godaan yang kini mendapat sentuhan dari benda lembut di dadanya. Cukup lama mereka berpelukan, Ilham melepas lebih dulu penyatuan sederhana yang baru sebatas saling nempel antara dirinya dan Dela. Berharap, ada penyatuan yang lebih tinggi levelnya setelahnya. "Berarti, Mas udah boleh dong ...." Ilham mengedipkan sebelah matanya seraya tersenyum menggoda. Penyatuan dengan level di atas saling nempel yang dia harapkan tidak juga terlaksana, sebab itulah dia memberi Dela kode. Apa maksud Mas Ilham, ya? Dela mengangkat sebelah alisnya, tanda tak mengerti. Haih ... Yang diberi kode, malah menggaruk kepala, sebab tingkah Ilham yang dirasa aneh menurutnya. Dia lantas memiringkan wajahnya hendak mencium bibir Dela. Tapi belum sampai bibirnya menyentuh bibir ranum istrinya, tiba-tiba Dela menyentuhkan telunjuknya ke bibir Ilham. "Aku belum mandi," akunya malu. Ya, saat tadi Dela bangun tidur, dia mendapati kamar tidak ada siapa-siapa, hingga kemudian dia memilih langsung mengemasi barang-barang suaminya. Dia harus segera pindah ke rumah baru mereka dengan harapan bisa mandiri dan tak bergantung pada orang tua, begitu yang selalu bersarang di pikirannya. Mengarungi bahtera hidup hanya berdua dengan suaminya. Dan keinginan itu sudah terwujud kali ini, Dela sangat senang. "Nggak usah, Sayang ... Mas suka kok sama aroma tubuh kamu." Ilham mengakui bahwa sedikitpun tidak ada yang dia tak suka pada diri istrinya, termasuk aroma tubuh sang istri meski Dela tidak mandi sekalipun. Terlebih, kali ini ada sesuatu yang sudah menelisik di bawah celananya, pengap merasa butuh dibebaskan. "Hilih ... gombal." Dela mencubit d**a Ilham lembut. Shit, yang dicubit d**a, yang nge-respon malah pesawat tempurnya. Makin sempit aja pusaka yang masih berbungkus rapi dalam sarungnya. "Aku serius, Sayang." Ilham menyerbu leher istrinya yang sedikit berkeringat dan membuatnya tertarik untuk menjelajah ke sana. "Ih ... Mas Ilham mah, aku bau ... Jangan gini, ah." Dela menggeliat, menepis kepala Ilham dengan menggerakkan pundaknya agar Ilham menjauh dari lehernya. Ck! Baiklah! Ilham menahan diri. Melepaskan aktifitas yang baru saja akan menuju tahap pembuka. Ilham pun memilih mengalah, melepaskan sang istri yang sejatinya sudah tak sabar untuk dia rengkuh di bawah kungkungannya. Sabar ya ... Orang sabar disayang istri. Ilham berucap dalam hati seraya memandangi bawah celananya yang sudah penuh sesak. Lagi pula sisa waktu cutinya masih bersisa enam hari lagi. Ilham yakin di sisa waktunya itu, dia bisa menaklukkan Dela, membuat perempuan itu akan merengek dan meminta jatah duluan pada akhirnya, persis seperti yang sering teman-temannya ceritakan di kantor. Dengan sabar, dia menunggu Dela selesai dengan aktifitas mandinya. Lama banget! Tak ada suara air terdengar dari dalam. Mungkin sang istri lagi gosokan di dalam, biar seluruh tubuhnya dalam keadaan bersih tanpa ada setitik pun noda yang menempel. Ilham memilih keluar kamar, mengambil gelas dari rak lalu menuang air ke dalamnya hingga penuh. Dalam sekali tegukan, air itu raib tak bersisa. Ilham sangat kehausan rupanya, terlebih ... Saat menemani Dela makan tadi, dia tak sempat minum. Bukan tak sempat, memang dia sengaja tak minum sebab perutnya sudah terasa sangat penuh, bahkan untuk tempat air saja sudah tak ada tempat. Dela masih belum menunjukkan tanda-tanda bahwa perempuan itu sudah selesai dengan ritual mandinya saat Ilham kembali ke kamar. Huft ... Padahal tadi Ilham sudah membayangkan memeluk Dela dari belakang ketika perempuan itu sedang sibuk memilih baju, dengan latar depan lemari dan kondisi Dela yang cuma memakai handuk saja. Arkh ... Rupanya semua itu hanyalah khayalan Ilham yang tak bisa terwujud kali ini. Entah nanti sore dan nanti malam ... Bukankah masih banyak waktunya bersama Dela di rumah ini selama dia cuti? Lagi, meski masa cuti sudah habis pun, Ilham memiliki kesempatan penuh untuk merengkuh Dela di hari-hari berikutnya. Secara kan, mereka udah tinggal berdua. Aaah ... Ilham tahu sekarang, kenapa Dela selalu maksa untuk segera pindah rumah. Ternyata tinggal berdua seperti ini, sensasinya beda. Pikiran liar Ilham membuat lelaki itu senyum-senyum sendiri di atas pembaringannya. Keasyikannya berkhayal membuat dia melupakan sang istri yang sampai detik ini belum juga keluar. Bahkan, dia sampai ketiduran dan melupakan hajat pengantin baru yang selalu dia impikan. Dela baru keluar tepat setelah lima menit Ilham tertidur. Eh, udah tidur aja. Pasti karena kekenyangan plus kecapekan! Dela tersenyum melihat suaminya yang tampak lelap dalam tidurnya. Sepertinya, menyiapkan makan siang untuk Mas Ilham akan menyenangkan. Segera dia ambil baju ganti dan mengenakannya dengan senyum yang terus terukir di bibirnya, tak lupa celemek baru yang sudah dia siapkan sejak tujuh hari sebelum hari pernikahannya, pun dia kenakan hari ini. Memasak adalah salah satu hobby Dela, tak ayal masakannya menjadi favorit sang Ambu sebelum akhirnya dia memutuskan untuk tinggal di kontrakan. Ah, menyebut Ambu ... Dela jadi kangen Ambu. Dia ingin sekali Ambu-nya datang ke kota menghadiri acara pernikahannya kemarin. Namun, karena alasan yang bagi Dela sangat tidak masuk akal, Ambu-nya menolak datang, dia hanya mengatakan bahwa restu dan doa dari sang Ambu akan selalu menyertainya. Dela hanya bisa mengiyakan, menyimpan sejuta tanya yang dia pendam dalam hatinya. Saat libur sekolah nanti, Dela akan pulang dan bawa Mas Ilham buat jenguk Ambu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN