Sedikit lagi sukses

1030 Kata
Dela memasak dengan perlengkapan yang biasa dia makan selama tinggal di rumah ini sebelumnya. Oh ya, hampir terlupa, bahwa sejak satu bulan sebelum pernikahannya, Dela sudah lebih dulu menempati rumah ini. Rumah dengan gaya minimalis modern ini dihadiahkan Ilham sebagai kado pernikahan untuk sang istri. Di kulkas hanya ada sayuran saja. Dela tak sempat mengisinya sebab sibuk dengan persiapan acara pernikahannya kemaren. Pun, dia masih harus mengurus proses cutinya yang ternyata jauh lebih ribet dari minta cuti di desa. Gapapa, nanti sore ajak Mas Ilham belanja di pasar. Dela memotong sayuran-sayuran itu dan menumisnya. Daripada sayurannya dimasak satu macam, mending aku rebus beberapa biar ada varian. Dela tak terlalu suka sayur yang ditumis, dia lebih suka sayur yang direbus lalu dilumuri dengan sambel kacang. **** Sementara di dalam kamar, Ilham terbangun. Si petarung di bawah sana rupanya sempat ikut terlelap karena sang tuan yang tertidur saking asyiknya berkhayal tadi. Dia terbangun karena dering ponselnya yang membuatnya tersentak dari mimpi indah yang dia damba-dambakan dalam nyata. "Didi." Ilham menyebutkan nama yang tertera di layar ponselnya. Dia menerima panggilan itu meski sebenarnya dia sangat malas. Pasti teman kantornya itu mau nanya gimana malam pertama Ilham, huh ... Ilham jadi resah sendiri begitu suara Didi terdengar di seberang. "Halo, Il ...." Didi menyapa dengan suara yang terdengar sedikit memantul. Pasti teleponnya di loud speaker. Ilham mengklaim bahwa Didi melakukan telepon dengan rame-rame di kantornya. Huh ... Dasar messum semua Kelen! "Halo, Il." Kali ini suara David, si bujangan lapuk tapi jangan ditanya untuk urusan menaklukkan wanita, dia ahlinya. Dia bujangan karena tak laku, pacarnya ada banyak di tiap tikungan. "Halo, Il." Ini suara Joni. Si jomblo lapuk yang baginya tiada hari tanpa kencing s**u kental. Itu ibarat untuk sebuah pencapaian nikmat yang dia sebut s**u kental. Memang teman-teman yang dekat dengan Ilham di kantornya kebanyakan Libido. Terutama Si Didi, lelaki yang sudah berstatus suami itu masih saja mencari kepuasan di luar meski sang istri sudah memberikan pelayanan terbaiknya. Kata dia, daripada aku beristri lagi mending aku nyari kepuasan sementara. Kesalahan yang selalu dia benarkan oleh dirinya sendiri. Coba kalau istrinya tahu, pasti dia akan langsung ditinggal pergi dengan ditinggalkan surat cerai pastinya. Tiga orang lelaki dengan otak yang hampir seluruhnya hanya berisi selangkaangan. Apakah Ilham pun memiliki sifat yang sama? Apa otaknya juga menyaingi otak teman-temannya? Sejauh ini tidak, sebab Ilham selalu berhasil mengendalikan nafsunya atas dasar cinta dan kesetiaan. Ya, rasa cintanya yang begitu besar pada Dela membuat lelaki itu bisa menahan diri meski hasrat mencari pelepasan begitu besar. "Ciyeee yang udah jadi penganten. Udah belah duren, dong." Didi menggoda dengan maksud bisa mendapatkan berita panas terkait malam pertama sahabatnya yang terkenal alim dan pandai mengendalikan nafsu. Alim dan pandai mengendalikan nafsu? Cih, udah mirip pak ustadz dia. Ilham menelan ludahnya berat. Benar, kan dugaannya. Tapi itu tidak akan mereka dapatkan. Berita panas atau apapun itu, Ilham tak akan memberitahukannya. "Hal-loo ... Hal-ll-loo ...." Ilham membuat suaranya seolah putus-putus. "Il, halo ... " "Suara elo putus-putus. Ha-l-o." Ilham langsung mematikan telepon. Menyelamatkan diri dengan cara itu, pasti akan berhasil sebab memang sejak dulu jaringan di rumahnya tidak pernah bener kalo siang. Biarlah mereka mengira kalau Ilham masih di rumah orang tuanya, dengan begitu kalau ada salah satu dari mereka menelpon lagi, dia bisa memakai jaringan sebagai alasan. Di kota, namun posisi pasnya di pinggiran, sebab itulah terkadang sinyal naik turun. Jangan pikir hidup di kota jaringan dan sinyal akan lancar terus. Ilham menghela napas, teringat bagaimana cerita teman-temannya ketika malam pertama ternyata membuat Ilham serasa terdampar dalam jurang kesedihan terdalam. Arkh ... Sudah gagal belah duren, ditambah lagi akan jadi bahan bullyan nanti. Tidak! Ilham akan merahasiakan apapun tentangnya dan Dela dari teman-temannya, apalagi soal malam pertama dan malam-malam selanjutnya yang Ilham harapkan akan berubah panas dan nikmat. Detik selanjutnya, Ilham sadar bahwa Dela tidak ada di dalam kamarnya, perempuan itu ... entah kemana dia pergi? Ilham pun bangkit dari tidurnya, mencoba memanggil nama sang istri namun tidak ada jawaban. Dia membuka pintu kama mandi, sebab mungkin saja Dela masih belum selesai dengan rutinitas mandinya. Kamar mandi kosong, Ilham mencium aroma bumbu khas tumis sayuran menyeruak di hidungnya. Hmm ... Pasti dia di dapur. Ilham tersenyum kecil, lagi-lagi dia membayangkan akan mendapatkan jatah malam pertamanya di dapur nanti. Aah ... Membayangkannya saja membuat Ilham tak henti mengukir senyum. Dia lantas membuka pintu kamar, namun sesuatu membuatnya terkejut. Dela tiba-tiba muncul dan berada di depan pintu kamar. Perempuan itu tak kalah terkejutnya dengan Ilham, dia bahkan hampir saja terjengkang ke belakang kalau saja Ilham tidak dengan segera menangkapnya. Beberapa saat mereka saling berpandangan. Ini bahkan lebih intens dari saat mereka masih berpacaran sebelumnya. Dela menatap manik gelap milik Ilham. Begitupun Ilham, buah khuldi di lehernya bergerak naik turun memandang kecantikan sang istri yang begitu menggoda iman. Syukurlah, dia sudah halal. Jadi Ilham tidak berdosa sama sekali sebab sudah bernafsu hanya karena adegan saling pandang dengan tangan saling mengapit pada tubuh masing-masing. Pun, mungkin pertempuran nikmat yang pahalanya sama seperti membunuh empat puluh orang kafir akan terjadi detik ini. Ilham butuh pahala sekaligus muara untuk sang pusaka beristirahat, menumpahkan sesuatu yang sejak semalam selalu membuat sesak dan rasa nyeri tak enak. Glek ... Sekali lagi Ilham menelan ludahnya, bersiap menyerbu bibir sang istri yang digigit kulit bawahnya. "Jangan digigit, Del ... Nanti luka." Ilham berucap dengan manik gelapnya tertuju pada benda kenyal yang menjadi sasaran Dela saat perempuan itu sedang gugup. Detik selanjutnya, Dela mendorong tubuh Ilham yang sudah condong hampir menggapai wajahnya. Perempuan yang statusnya sudah menjadi istri itu masih saja merasa gugup saat berada di dekat suaminya. Maklum lah, ya ... Pengantin baru. Dela membetulkan posisi berdirinya seraya menarik bagian bawah bajunya yang sedikit tersingkap ke atas. "Eng ... Makasih ya, Mas. Hampir saja aku jatuh," ucapnya dengan malu-malu. Ilham semakin gemas melihatnya. Lelaki itu sudah tak bisa lagi menahan hasratnya terlalu lama. Dia lantas menarik tangan Dela ke dalam kamar. Menguncinya dengan tangan sang istri masih dalam genggamannya. Pokonya ... Ilham yakin, kali ini dia akan berhasil. Terlihat dari rona wajah Dela yang malu-malu tapi mau. Kayak lirik lagu, yak. Intinya Ilham sudah yakin seribu satu persen bahwa kali ini pertempuran nikmat dengan pahala sebesar orang berjihad akan segera dia tunaikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN