Kini, sepasang suami istri itu sudah berada dalam kamar dengan pintu yang dikunci oleh si suami.
"Eh, Mas. Kok dikunci?" tanya Dela dengan polosnya.
Kejadiannya begitu cepat, dari ketika Dela yang datang hendak memanggil Ilham namun dibuat terkejut karena sang suami yang tiba-tiba membuka pintu, saking terkejutnya, dia sampai hampir terjengkang ke belakang namun tubuhnya ditangkap Ilham dengan cepat.
Sejenak Dela terpana, dan ketika Dela masih terbuai dengan kekagumannya pada sosok sang suami, secara tiba-tiba Ilham menariknya masuk ke dalam kamar.
Kejadiannya begitu cepat, namun bunyi klik ... yang berasal dari suara pintu yang dikunci membuat Dela tersadar dari buai kekagumannya.
"Ee ... Anu, Sayang. Mas tuh ga mau ada yang ganggu kita." Ilham berucap terus terang. Hembusan nafasnya menerpa wajah Dela sebab jarak mereka sangat dekat sekarang.
Ilham sudah tak sabar untuk segera mencicipi bagaimana nikmatnya surga kecil dunia yang tersimpan di balik dress berbunga milik sang istri. Dress tanpa lengan dengan panjang hanya sampai setengah paha sang istri yang putih mulus tanpa cela.
"Ganggu apa sih, Mas? Kita kan cuma berdua." Dela menjawab dengan tersenyum, geli melihat tingkah Ilham yang menurutnya sedikit aneh.
Memangnya siapa yang akan mengganggu mereka di rumah ini? Mereka hanya tinggal berdua. Siapapun yang datang bertamu pasti akan mengetuk pintu depan terlebih dahulu, tidak akan langsung menerobos masuk ke dalam kamar mereka.
Lagi pula, apa yang akan mereka lakukan di dalam kamar yang terkunci siang-siang begini? Kalaupun Mas Ilham akan mengobrol, bukankah akan lebih nyaman kalau mengobrol di ruangan depan TV?
Dela kini tersentak sadar dari lamunannya begitu wajah Ilham menguyel-uyel di lehernya.
"Kamu wangi banget deh, Yank."
"Wangi apa, Mas? Dela keringetan loh, abis masak." Dela berucap jujur. Saat ini, meski tidak sekecut bau tadi, tubuhnya berkeringat sebab aksi memasak tadi.
Namun bagi Ilham, yang tercium justru aroma semerbak syurga yang sudah tak sabar untuk dia jelajahi. Dia terus menelusuri leher jenjang sang istri, kebetulan rambut panjang Dela dicepol ke belakang, memberikan akses untuk Ilham bebas bersenang-senang di sana.
"Mas geli, ih." Dela menggeliat. Terlebih ... Lidah Ilham kini menjilati area itu, membuat Dela merasa jijik sendiri sebab dia merasa betul bahwa dirinya saat ini tengah berkeringat.
Memasak sayur memang tidak memakan waktu yang lama, tapi mengulek sambel kacangnya itu loh ... Dela sampai keringetan karena blender miliknya justru tidak bisa digunakan di saat Dela sedang membutuhkannya.
"Nikmati aja, Sayang ...." Ilham tidak menghentikan aksinya.
Baginya kepalang tanggung berhenti menuruti kegelian yang Dela keluhkan, geli tapi nikmat pastinya. Pusaka di bawah sana sudah kembali dengan ketegangannya. Ilham tidak akan berhenti sebelum pusaka itu mendapatkan tempat surga dunia ciptaan Tuhan yang bertempat di diri Dela.
Namun tiba-tiba Dela mendorong Ilham. Kemarahan tersirat di mata bening sang istri.
"Kamu ga jijik apa? Aku keringetan gini. Lagian, akutuh udah masak, nanti malah keburu dingin," ucap Dela dengan nada suara agak tinggi.
Selesai berkata demikian, dia meraih gagang pintu yang berada di dekatnya. Memutar kunci yang menggantung di sana lalu membukanya.
Dela menghentakkan kakinya keluar dari kamar.
Dela kenapa, sih? Kok kayak kesel? Yang harusnya marah kan aku!
Ilham memandang dengan sejuta tanya memenuhi ubun-ubun kepalanya. Sebuah sabit besar seolah menyala di atas kepalanya yang masih penuh dengan bayangan Dela yang mendesah sebab ulahnya.
Shit, Dela ngeselin deh!
Mau gak mau, Ilham keluar kamar menyusul Dela yang sudah Ilham ketahui pasti pergi ke dapur.
Dia berjalan dengan benda di tengah kedua pahanya yang berdenyut. Benar-benar penyiksaan yang teramat bagi Ilham. Namun ... Begitu melihat wajah sang istri duduk di ruang makan dekat dapur, hati Ilham yang semula kesal mendadak beku. Ya, hatinya seperti diserang dua kekuatan berlainan. Kekuatan jahat bak api, yakni kemarahan sebab Dela yang main pergi dari kamar tadi, namun menjadi beku seketika melihat wajah cantik Dela.
Ilham menghentikan langkahnya, mengontrol emosi yang meletup dalam dadanya. Dua emosi yang membuat langkah kakinya ikut terhenti karenanya.
Huft ... Dia menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan, matanya ikut terpejam agar otaknya tidak terus mempengaruhi kesehatan pikirannya.
Oke, Ilham ... Buang dulu pikiran anu-nya. Nanti pas dapet timing yang tepat, baru di eksekusi. Mungkin aja Dela lagi laper.
Ilham menghibur hatinya sendiri, mengusap-usap dadanya berulangkali seraya mengucapkan kata-kata penenang.
Setelahnya, dia lantas mendekati Dela. Duduk dengan emosi yang sudah tak terlihat sama sekali di wajahnya.
"Sayang ... Kamu makan apa?" Ilham sengaja berbasa-basi. Dia sudah lihat dong kalau yang dimakan Dela adalah sayur dibumbui pecel. Hal itu tercium oleh Ilham sebab pecel memiliki aroma khas di penciumannya. Ilham tidak suka, tapi berhubung kali ini yang makan adalah Dela, seperti biasa ... Ilham akan maklum dan bahkan mungkin setelah ini, dia juga akan menyukai pecel.
Dela tidak menjawab, masih asyik dengan sayurnya yang kini ditambah sedikit nasi di piringnya.
Udah tahu makan pecel, masih nanya.
"Oke, Mas minta maaf, ya ...."
Begitulah seharusnya menyikapi perempuan, meski lelaki tidak salah sekalipun kalau sudah menyangkut perempuan maka, lelaki yang harus minta maaf, biar apa???
Biar cepet kelar urusannya. Lagi pula, sudah kodrat alam begitu, perempuan yang bersalah sekalipun, yang minta maaf malah lelaki. Sedikit aneh, bukan?
Dela berdehem dengan tatapan masih menghindar dari Ilham.
Baru hari kedua menikah, Ilham mendesah dalam hatinya. Belum seminggu, loh ... Belum perang juga.
Shit, Ilham ... Pengen banget perang kayaknya.
Dia menjambak rambutnya kasar. Sedikit frustasi karena mengucapkan kata maaf pun, tenyata tidak berhasil membuat mood Dela baik.
Lalu Ilham harus bagaimana? Bahkan untuk kejadian barusan, bukankah Ilham yang seharusnya marah dalam hal ini?
Sekali lagi kembali pada kodrat sebagai perempuan di alam semesta.
Huft ... Baiklah, Ilham akan membujuknya. Barangkali setelah ini, Ilham dapat belah duren kayak di pilm-pilm.
Detik berikutnya, Ilham menggeser kursinya hingga lengannya menempel penuh dengan kulit lengan Dela.
Tapi yang terjadi justru, si doi di balik penutupnya meronta sesak, ingin segera dilepaskan.
Shit, sebesar itu reaksi bersentuhan dengan kulit mulus Dela.
Kalau begini, bukan meminta maaf dan membujuk, malah ujungnya nanti Ilham merengek minta jatah.
Tidak boleh dibiarkan!
Ilham memejamkan mata, menetralisir racun panas yang memenuhi otak dan pikirannya. Namun hal itu tidak berhasil, dia lantas meraih gelas yang terisi penuh dengan air dan menghabiskannya hingga tandas tak bersisa.
Lalu ... Apakah otak panas Ilham jadi dingin setelah ini?
Kepoin di next episode..