Minta ditemani

1060 Kata
Ilham memejamkan mata, berharap pikiran panasnya bisa mereda, namun meski sudah menarik nafas berkali-kali rupanya tidak sepenuhnya berhasil mengademkan pikiran Ilham. Bagaimana bisa berhasil, lha wong kulit mulus Dela bak bulu halus nan lembut yang membuat Ilham terpancing karenanya. Meski begitu, dia mempertahankan dirinya untuk tidak menuruti apa yang nafsunya inginkan. Akal sehatnya terus terjaga mengingatkan Ilham untuk membuat Dela tersenyum terlebih dahulu. Ga asik kan kalau lakuin itu dengan istri yang moodnya buruk? Huft ... Tenang! Bikin Dela senyum dulu baru main perang-perangan! "Kalo kurang ambil sendiri di kulkas." Dela berucap dengan mata tidak teralih dari piringnya. Dia melihat Ilham menghabiskan segelas air dengan sekali tegukan saat dia melirik sekilas tadi, dipikirnya Ilham sedang haus dan mungkin saja masih mau minum. Sebab itulah dia berkata demikian. Ilham menoleh dengan senyum dipaksakan. Iyalah, lha wong dalam hal ini yang seharusnya marah kan Ilham. Tapi ya sudahlah, demi pusaka tumpul keramat miliknya bisa berlabuh nanti, Ilham rela mengalah. "Nggak kok, Sayang. Mas udah ga haus, Mas cuma laper," akunya dengan senyum semanis mungkin. Tentu saja itu hanya pengakuan palsu, sebab sampai detik ini, perut Ilham tidak merasakan lapar sama sekali. Secara kan, pagi tadi dia sudah sarapan. Tapi menjelang siang, dia menemani Dela sarapan dengan sepiring berdua. Tentunya jumlah makanan yang masuk diantara keduanya banyakan Ilham kemana-mana. Hmm ... Tak apalah. Mungkin di saat begini, Ilham harus berpegang pada kata pepatah lama, 'berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.' Ilham menguatkan hatinya, dirinya dan keinginannya yang sudah menggebu. "Ya udah makan." Dela berkata acuh. Hih ... Kesel banget dia tampaknya. Entah apa yang ada di benak Dela sekarang. Ilham sendiri nyaris menyerah sebab kali ini Dela ngambek nggak jelas. Serius, seumur pacaran Dela tak pernah menunjukkan sikap seperti ini sebelumnya. Apa dia menyesal menikah denganku? Ilham menyendok nasi dengan tatapan kosong. Tangannya menyendok apa saja yang tersaji di depannya. Hingga bumbu kacang yang oleh Dela dikasih cabe rawit sepuluh biji itu pun tak luput dari sendokan nya. Kenapa sih, Del? Semalem kamu bilang capek, tadi waktu sampe sini, kamu pengen mandi. Lalu sekarang, eh tadi ... Kamu langsung marah dan ngambek sampe sekarang. Ilham mematung dengan lamunannya sendiri. Sedangkan tangannya terus saja mengaduk makanan yang sudah hampir penuh di piringnya. "Katanya laper, ya makanlah." Dela tertawa jahat dengan tanpa bersuara. Dia tahu betul kalau suaminya tidak suka pedas. Tapi karena aksi Ilham di kamar tadi, membuat Dela ingin memberinya sedikit pelajaran. Ilham menoleh sesaat lalu menyuapkan makanan yang sejak tadi dia aduk-aduk. "Hmmpp ...." Ilham hampir memuntahkan semua makanan yang kini ada dalam mulutnya. Namun, tak jadi sebab ia takut malah Dela tambah marah. Dia berlari ke kamar mandi. Memuntahkan semuanya di sana, lalu ia langsung berlari ke dapur dan menenggak air langsung dari botolnya. Menenggaknya hingga hanya bersisa setetes dua tetes saja. Jahat banget, sih! Ilham kembali ke meja makan. Hendak melampiaskan kemarahannya yang sudah tidak bisa lagi dia tahan. Namun sesampainya di meja makan, dia melihat Dela yang tertawa lepas sampai tersedak makanannya sendiri. Ilham yang melihat itu ikut tertawa. "Jahat deh, kamu!" ucapnya dengan mata memelas, seolah mempertontonkan pada Dela bahwa dia telah menjadi korban yang paling dirugikan karena keisengan sang istri. "Uhuk uhuk ... Kamu sih, makan sambil ngelamun." Dela menjawab dengan masih ada sisa tawa di sana. "Ngambek nih aku." Ilham membalikkan badannya, berakting marah dengan melipat tangan di dadanya. Tawa Dela mulai mereda sedikit demi sedikit. Perempuan itu lantas memeluk sang suami dan mencium pipinya, cup .... "Jangan marah, ya ... Habis kamu duluan sih, ngeselin." Ilham sejenak kaku sebab ciuman singkat di pipinya, namun cepat dia tersadar begitu mendengar apa yang Dela ucapkan. Eh ... Di bagian mana aku sudah membuatnya kesal? Au ah ... Kalau diperpanjang ga bakal selesai urusan. Lagian ini bukan SIM atau STNK atau apalah itu surat-surat yang perlu diperpanjang. Ilham kali ini tersenyum. Ah ... Emosinya langsung luruh hanya karena sebuah kecupan manis, sedap meski singkat di pipinya. Eh, tapi tiba-tiba ... Pipinya terasa sedikit perih sebab bumbu kacang yang istrinya makan masih tersisa sedikit di bibir Dela. Kalau ia bangun, maka adegan romantis ini akan langsung terhenti. Jadi ... Daripada kehilangan moment indah ini, Ilham menahannya. Tangannya dia usapkan di pipi Dela yang kini kepala sang istri tengah bertengger di pundaknya. Mungkin inilah saatnya .... Ilham akan mengutarakan keinginannya yang sejak selesai ijab qobul kemaren, dia sudah ngebet menginginkannya. Apakah itu? Apalagi kalau bukan belah duren alias menjebol gawang yang menyimpan harta Karun kenikmatan bila sebuah pusaka berhasil memasukinya. Tapi ... Belum sempat dia mengucapkan apa yang diinginkannya, Dela bersuara lebih dulu. "Mas temenin aku, yuk," ajaknya dengan kepala masih bertengger di pundak sang suami. Temenin? Pikiran Ilham yang sejak tadi penuh dengan seranjang berdua plus adegan acikiwir-acikiwir ala pengantin baru, langsung mengangguk penuh semangat. Dela kembali mendaratkan ciuman di pipi Ilham, kali ini pipi sebelahnya menjadi sasaran bibir Dela yang tebal menggoda. Dela lantas bangkit dan langsung berlari ke kamar. Sementara Ilham, dia menyentuh kedua pipinya yang sudah menjadi bulan-bulanan bibir Dela barusan. Ilham berjingkrak senang. Memang selama pacaran bahkan bertunangan, mereka tidak pernah berciuman. Jangankan berciuman, saling berpegangan tangan pun bisa dihitung dengan jari berapa kali mereka melakukannya. Menjaga jarak aman, itulah yang selalu Ilham dan Dela lakukan sebab hampir setiap hari Indun, Ambu Dela menelpon dan memperingatkan anak dan calon mantunya. Sebab itulah, kini Ilham sebahagia itu mendapat ciuman dari Dela. Tak menunggu waktu lama, Ilham lantas menyusul Dela ke kamar. Rupanya sang istri sedang ada di kamar mandi, terdengar suara gemericik air dari dalam. Masa iya Dela mandi lagi? Pikir Ilham. Efek ciuman tadi, membuat Ilham semakin menggebu. Dengan tak sabar, dia mengetuk pintu kamar mandi. "Del kamu mandi lagi ya, Del?" Ilham bertanya setelah tiga kali mengetuk pintu tadi. "Iyalah, Mas," sahutnya dari dalam. Aih ... Dela. Ga perlu mandi lagi pun pasti Mas temani. "Kamu ga mau mandi juga emang? Mandi dulu deh mending." Suara Dela terdengar lagi. Mandi bareng boleh ga, Del? Ilham melontarkan keinginan terselubung yang tentunya hanya berani dia ucapkan dalam hatinya saja. Aaahhh Ilham benar-benar ga sabar untuk menemani Dela lalu endingnya bakal main perang-perangan sambil jebolin gawangnya. Akh, nikmatnya! "Iya deh. Kamu buruan dong, Mas udah ga sabar." Ilham menjawab. Dia sudah yakin seribu dua persen bahwa kali ini, dia benar-benar akan belah duren. Huaa ... ga sabarnya! Dela tersenyum mendengar suara suaminya. Segera dia selesaikan ritual mandi yang biasanya sangat lama dia lakukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN