Ke kamar yuk!

1007 Kata
Setelahnya, Dela keluar lalu menyuruh Ilham untuk segera mandi. "Cepetan gih, nanti keburu malem." Dela berucap seraya menuju lemari, tempat baju-bajunya tersimpan di sana. Ilham tersenyum kecil. Girang di hatinya bukan main. Dela pun sepertinya tidak sabar untuk segera beradu perang dengannya, begitu yang Ilham pikirkan. Lelaki itu mandi dengan tempo yang sangat singkat, bak capung mandi saking singkatnya. Kayak apa capung mandi? Ada lah ... Hanya Ilham yang tahu. "Eh ... Cepet banget, Mas?" seru Dela yang barusaja mendaratkan pantatnya di depan kaca rias. Ilham hanya nyengir kuda memandang ke arah Dela yang kini sibuk menyapukan bedak di wajah cantiknya. Ya Ampun, Dela ... Ga nyangka mau anu doang kamu ampe dandan. "Kamu ngapain masih dandan, Sayang? Begini aja udah cantik kok." Ilham melangkah mendekat ke arah Dela. Ilham Memeluk tubuh Dela dari belakang dengan memandang ke arah cermin. Ebuset ... warna kulit gua sama Dela bedanya jauh banget, yak. Si cantik dan si gelap muka terpampang di kaca. Namun ... Seperti apapun kondisi mereka, tetap saja antara keduanya sudah saling terikat dalam ikatan suci pernikahan. Dela mengusap pipi Ilham. "Nanti kita beli lulur juga buat kamu." Eh, apa katanya? "Iya, apapun Mas nurut deh sama kamu, Sayang." Ilham hendak mencium leher Dela yang sejak tadi amat menggoda untuknya. Wangi sabun yang Dela pakai, sepertinya menjadi candu yang tak bisa tercium sedikit saja oleh Ilham. Sebab, karena wangi itu, pusakanya mendadak tegak. Mana sekarang, Ilham ga pakai sarung pengaman di dalamnya. "Makanya buruan pakek baju." Dela berucap lagi. Seraya mendorong kepala Ilham menjauh dari lehernya. Entah kenapa, Ilham selalu terlihat bak vampir yang akan menggigit lehernya kalau dia ada di dekatnya. Hii ... Serem. Ilham langsung berdiri tegak dengan wajah yang susah diartikan. Kok pakek baju, sih? Kan kalo mau anu, biasanya kan ga pakek apa-apa. Jangankan baju, daleman aja dicopotin semua. "Buruan! Nanti pasarnya tutup." Dela bersuara lagi melihat sang suami yang cuma bengong di belakangnya. "Pasar?" Ilham mengulang apa yang Dela ucapkan. Jadi maksudnya dia minta ditemenin ke pasar? Ilham berseru dalam hatinya. Jadi sejak tadi, dia hanyalah korban salah tangkap atas perkataan Dela? Shit, k-cong aku dari habis ijab qobul sampe sekarang belum pernah masuk kandang, sesalnya dalam hati. "Mas ... Buruan!" desak Dela seraya bangkit sebab aksi moles memoles sudah selesai dia laksanakan. Dela menggeleng pelan melihat suaminya yang planga plongo di depan lemari baju. Wajarlah Ilham planga plongo, lha wong dia terlanjur ngarep nyoblos tadi. Sekarang pun kalau Dela mau, Ilham ingin pusakanya nyicip barang sebentar sebelum pergi. Tapi tentu tidak! Tidak bagi Dela yang sudah tak sabar ingin ke pasar untuk membeli keperluan sehari-hari mereka. "Aku tunggu di bawah ya, Mas." Dela menoleh sebentar. Melihat pemandangan eksotis yang terpampang karena Ilham melepaskan handuk dari tubuhnya dengan tanpa rasa malu sedikitpun. Ish ... Mas Ilham kok gitu, sih? Ga malu apa sama aku? Dela lantas pergi setelah dia sempat melihat ujung benda tumpul nan panjang milik Ilham yang ternyata tegak di balik tubuhnya. Buru-buru Dela keluar ruangan, sebab hari telah akan beranjak gelap. Takut pasar dekat komplek mereka keburu tutup. Namun siapa sangka, niatnya untuk ke pasar ternyata harus ia tunda sebab tetiba saja terdengar telepon rumahnya berdering. "Iya, Halo." Dela yang mengangkat telepon itu. "Halo, Del. Ilham kemana, ya? Bapak telepon dia nggak angkat." Ternyata yang menelpon adalah Pak Rasyid, bapaknya Ilham. "Mas Ilham di kamar, nanti Dela kasih tahu kalau bapak telepon." Selepas bicara begitu, Dela langsung mematikan telepon. Sepertinya, waktunya untuk ke pasar betul-betul harus dia tunda, sebab samar dia mendengar sayup-sayup suara adzan yang menandakan bahwa sekarang sudah masuk waktu Maghrib. Hmm ... Ngga jadi belanja deh. Udah adzan ini. Dela lantas menghempaskan tubuhnya di sofa. Wajahnya tampak lesu, sebab rencananya untuk membuatkan Ilham makan malam harus tertunda. "Loh, Del. Kok mukanya lesu gitu? Ayo, Mas udah siap." Ilham berkata seraya tersenyum penuh semangat. Wajah loyo yang tadi sempat menguasainya saat di kamar, ternyata bisa langsung sirna begitu melihat wajah cantik sang istri. "Ayo kemana? Mas ga denger udah adzan itu?" "Emang tadinya mau ngapain ke pasar?" tanya Ilham. Siapa tahu, mereka bisa mencarinya di tempat lain. "Mau sholat." Dela menjawab asal. Sudah tahu mau ke pasar yang belanja lah, memang kalau ke pasar mau ngapain lagi?! Huh ... Gagal deh masaknya! Dela masih sangat ingin membuatkan masakan yang enak untuk Ilham. Dia ingin Ilham mencicipi semua makanan yang biasa Dela masak selama ini. "Kalau mau sholat tuh ke masjid. Masa ke pasar." Mohon maap, ini kayaknya otak Ilhan masih terinfeksi oleh hal-hal panas yang sejak kemaren bersarang di otaknya. "Iih ... Mas Ilham nyebelin deh. Kalo ke pasar ya mau belanja lah. Emang mau apalagi?!" sungut Dela. Sabar, Ilhaam ... Perempuan kalo belum disuntik anunya memang begitu, suka marah-marah. Nanti pas udah ngerasain, bakal ngerengek minta lagi dan lagi. Itulah yang selalu dipetuahkan oleh teman-temannya di kantor saat dulu Ilham pernah curhat waktu Dela ngambek. Hal tersebut tentu tidak hanya berlaku saat masih pacaran ataupun tunangan. Di saat sudah seperti ini pun, kata-kata itu menjadi penyemangat untuk Ilham bersabar. Bahkan dia tak kan menyerah untuk bisa mendaratkan pusaka tumpul miliknya ke dalam sarang yang tepat. Itu pasti akan terjadi, tunggu aja! Dela melirik Ilham, sebab lelaki itu tetiba diam dengan kepala manggut-manggut. Telinga aneh bukan? Apalagi ini waktu surup. Kata Ambu, kalau waktu surup, sebisa mungkin pikiran jangan sampai kosong, karena kalau pikiran tidak ada isinya alias kosong, bisa mudah kerasukan. "Mas." Dela menyenggol lengan suaminya. Yang disenggol nangkepnya lain lagi. Masih sama seperti tadi, menangkap bahwa Dela sekarang sedang ngasih kode untuk memulai malam dengan sesuatu yang panas mengenakkan. "Mas. Ke kamar yuk, aku takut deh di sini." Dela berucap serata mengapit lengan sang suami. Dia sangat takut kalau suaminya sampai kerasukan seperti yang sering Ambu ceritakan waktu di kampung. Lebih baik, dia diajak ke kamar untuk sholat Maghrib berjamaah, begitu yang Dela pikirkan. Tapi tentu berbeda bagi Ilham, otak panasnya justru semakin panas karena ajakan Dela. Ke kamar? Ahhh ... Sebentar lagi bakal bener-bener sukses belah durennya. Ilham tentu bersemangat dengan itu. Tanpa ba-bi-bu dia langsung menggenggam erat tangan Dela yang melingkar di lengannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN