Di dalam kamar, Ilham langsung memeluk tubuh Dela dari belakang, tak memberi ruang untuk sang istri bergerak ke mana-mana.
Kegagalan sebelum-sebelumnya membuat Ilham kini bersikap lebih berani, dia tak ingin gagal, gagal dan gagal.
Dela yang dipeluk dengan sangat erat oleh sang suami lantas menggeliat. Pikirannya yang sejak tadi mengira Ilham kesurupan semakin diperkuat dengan aksi Ilham saat ini.
"Mas jangan kayak gini, dong. Aku takut sumpah."
Dela memelas, sebab pergerakannya menjadi sangat minim karena pelukan Ilham yang begitu kuat di tubuhnya.
"Ga usah takut, Sayang. Nanti Mas pelan-pelan kok. Mas udah ga kuat, Del." Sementara Ilham kini semakin tak sabar untuk segera mencapai puncak nikmat seperti yang sering dia dengar dari teman-teman kantornya. Memohon
Pusakanya kini sudah penuh sesak sebab suara seksi Dela yang ketakutan.
Akh ... Ilham sungguh tak sabar, masa iya udah mau malam kedua tapi mereka belum ngapa-ngapain? Wajar saja kalau sekarang Ilham bak orang kehausan dan butuh air kenikmatan untuk dia teguk di tengah gersangnya hasrat hewaniyah yang menguasainya.
Malam ini, tak kan dia biarkan Dela terlepas darinya walau sedetik pun sampai pusakanya yang menyerah dan memilih masuk ke dalam sarung pengamannya. Jika ia bisa kuat semalaman, maka selama itulah Dela tak Ilham lepaskan.
Uhhh ... Pokonya malam ini harus belah duren, itu yang tertanam di pikiran Ilham sekarang.
Detik selanjutnya, Dela yang menyadari ada benda keras menyentuh pangkal pahanya mendadak kaku. Pikirannya seketika berantakan sebab ia kini menyadari bahwa sang suami bukan kesurupan jin karena ngelamun di waktu surup.
"Mas lepasin Dela, Please! Ini tuh udah Maghrib. Ayo sholat dulu." Dela berucap dengan suara bergetar. Di matanya ada muara bening yang seketika penuh dan siap terjun bila Dela mengedipkan matanya sedikit saja.
"Nggak mau, Del. Dari semalam Mas udah nahan semuanya, Mas ga kuat." Ilham kini mengeratkan pelukannya, menekan sedikit bokongnya yang di sana, pusakanya melesak ingin segera keluar.
"I-ini waktu sholat maghrib, Mas. Aku mau sholat dulu." Dela justru berusaha melepaskan kedua tangan suaminya yang melingkar kuat di perutnya.
"Sebentar doang, Sayang." Kini Ilham semakin menggebu. Suara seksi Dela semakin membuat nafsunya meningkat. Leher Dela menjadi sasaran untuk dia jelajahi terlebih dahulu.
"Jangan, Mas." Dela kini mulai meronta.
Tidak ingin rasanya Dela melalaikan kewajibannya pada sang pencipta. Terlebih, waktu Maghrib adalah waktu yang paling sedikit.
Dela menggeliat namun tidak membuat Ilham berhenti, tangan Dela dengan kuat berusaha melepaskan kedua tangan Ilham yang saling menggenggam satu sama lain di atas perutnya.
"Lepasin!" Tak berhasil dengan usahanya, Dela bersuara keras. Namun itu tidak bisa menghentikan sang suami.
Ilham tidak terima kegagalan untuk malam ini, malam pertamanya gagal maka malam kedua harus berhasil sebab ia sudah tak bisa menahan hasratnya lagi. Kalau sampai gagal, maka cap laki-laki gagah akan langsung musnah darinya. Dia tak mau itu terjadi.
Kedua tangan Ilham yang semula diam dengan kuat melingkar di perut Dela, kini sedikit mulai melakukan pergerakan. Tapi jangan harap Dela bisa melepaskan diri, Ilham tak akan membiarkan itu terjadi. Sebelah tangannya masih menguasai Dela untuk tetap diam dengan posisinya. Sementara sebelahnya lagi, mulai menelisik masuk mengusap perut rata nan mulus milik sang istri.
"Lepasin," teriak Dela dengan sekuat tenaga berusaha untuk bebas dari kungkungan sang suami.
Kriiiing .... Dering ponsel terdengar dari atas nakas. Didengar dari ringtone-nya, itu adalah bunyi ponsel Dela.
Barangkali Ambu!
Dela semakin kuat berusaha untuk melepaskan diri. Menggeliat, meronta, lalu kemudian menarik tangan Ilham untuk saling menjauh dengan tujuan melepaskan kedua tangan besar Ilham dari tubuhnya, semuanya Dela sudah lakukan, namun tenaganya ternyata kalah jauh dibandingkan tenaga Ilham yang amat kuat. Sangat sesuai dengan bentuk tubuh lelaki yang hobby nya nge-gym setiap senggang kantor.
Ya, dibandingkan pergi ke rumah surga yang tak jauh dari kantornya. Ilham memang selalu memilih ke gym ketika teman-temannya mengajak ke club saat pekerjaan di kantornya sudah selesai.
"Mungkin itu Ambu, Mas. Lepasin!" Kini suara Dela meninggi.
Ilham tak peduli, hal yang pertama kali dia lakukan dalam hidupnya pada Dela, tidak menuruti apa yang gadis itu ucapkan. Namun di detik selanjutnya, Dela berhasil melepaskan diri. Dia membalikkan badannya lalu mendorong Ilham dengan seluruh tenaga yang dia punya.
Bukan berlari ke arah nakas, tempat ponselnya berdering, Dela justru berlari ke kamar mandi dan langsung menguncinya dari dalam.
Ilham hampir terjengkang ke belakang saking kuatnya Dela mendorong tubuhnya, namun dia berhasil menyeimbangkan tubuhnya. Setelahnya, dia berjalan santai ke arah ponsel Dela berada.
"Bapak?!" Ilham membaca nama penelepon di layar pipih milik Dela.
Tumben ngga nelpon ke nomer aku!
"Halo, Pak." Tanpa membuang waktu sedetikpun, Ilham langsung menerima panggilan itu.
"Kamu ini gimama to, Ham. Bapak telepon dari tadi ga diangkat. Kamu ngapain? Ha?" Terdengar suara sang bapak meninggi lebih dari biasanya.
Ck! Bapak ganggu aku tau, nggak!
"Mau sholat, bapak ganggu banget nelpon jam segini." sahut Ilham dengan suara ketus.
Jatahnya gagal, malah mau diomelin. Bisa gila dia kalau membiarkan semuanya.
"Sepertinya bapak perlu atur ulang peletakan telepon rumah kamu kalau begitu, masa bunyi telepon rumah ga kedengaran ke kamar kamu?!" Sementara Pak Rosyid kini benar-benar habis kesabarannya karena memang sudah hampir dua puluh kali dia menelpon sang anak.
"Kenapa nggak menelpon ke nomer Ilham?" Ilham masih tak terima disalahkan.
"Kamu cek hape kamu. Udah bapak telepon sampe batere hape kamu abis mungkin." Pak Rasyid sungguh marah kali ini perkara telepon.
Menelpon ke nomer anaknya tidak diangkat lalu kemudian ga aktif. Menelpon ke telepon rumahnya, pun tidak diangkat. Bahkan menelpon ke nomer sang istri, ketika akan dimatikan, baru diangkat.
Sungguh Pak Rosyid sangat heran dengan anak dan menantunya. Masih sama-sama muda kok ya udah budeg, pikirnya.
Dela mendengar suara Ilham yang bicara di telepon, bapak sudah menyelamatkannya dari kelalaian akan kewajibannya untuk menghadap Sang Pencipta.
Sementara Ilham, meraih ponselnya yang bersebelahan dengan ponsel Dela, mati.
"Bapak ada perlu apa?!" Ilham memilih mengalihkan pembicaraan. Mungkin memang kali ini dia salah. Terlalu berhasrat untuk merengkuh nikmat impian semua pengantin baru, membuat Ilham lupa segalanya, bahkan ia tuli pada apa yang didengar nya.
Dela yang mengingatkan sholat pun tidak dia hiraukan.
Astaghfirullah ... Ilham berseru dalam hatinya.
"Ibu ngundang kalian buat makan malam. Ajak istrimu juga." Selesai bicara begitu Pak Rosyid mematikan telepon secara sepihak.