Kekuatan Cinta

1171 Kata
Marah kali, ya. Padahal aslinya nggak. Dia cuma keingat bahwa karena sibuk nelponin Ilham, dia lupa untuk sholat Maghrib yang waktunya akan habis sebentar lagi. Ilham meletakkan ponsel sang istri, lalu mendekati pintu kamar mandi. Nafsu yang tadinya menggebu seketika sirna entah kemana?! Berganti rasa bersalah sebab sudah memaksa Dela menuruti kehendaknya. "Del ... Kamu belum selesai, ya? Mas juga mau sholat, nih." Ilham mengetuk pintu kamar mandi dengan sedikit ragu. "Mas ke kamar mandi di ruang tamu aja. Aku masih lama." Terdengar suara Dela dari dalam. "Ya udah Mas sekalian sholat di sana. Kamu jangan lama-lama wudhu'nya, waktunya udah mau abis," ucap Ilham. Sedikit lega karena ternyata istrinya tidak marah, tidak seperti yang ada dalam pikirannya. Tadinya Ilham tersulut emosi, pikirannya bak benang kusut sebab sudah tiga kali dia gagal merengkuh Dela dalam kuasanya. Kenikmatan yang dia bayangkan selalu berakhir dengan kegagalan penuh nestapa. Arkh ... Hampir saja dia melampiaskan kekecewaannya pada sang bapak. Tapi beruntung, dia segera tersadar dan menyadari salahnya. Tidak hanya pada Pak Rosyid, tapi juga pada Dela, perempuan yang dia cintai dan kini sudah sah menjadi miliknya. Toh, masih banyak waktu yang akan Ilham habiskan bersama Dela ke depan. Banyak kesempatan juga untuknya menikmati nikmatnya berumah tangga seperti yang selalu diceritakan teman-teman kantornya. Tapi tidak untuk sekarang. Sebab itulah Ilham memilih mandi dan sholat di ruang yang terpisah dengan Dela. Di ruang tamu dia menuntaskan sesuatu yang menyiksanya selama ini. Merekayasa rengkuhan nikmat dengan kocokan sabun yang tersedia di sana. Tak apalah, setidaknya Ilham tidak melakukan sesuatu yang hanya akan dia sesali sebab menyakiti Dela nantinya. Kini, dia telah selesai dengan sholatnya. Namun sedikitpun dia enggan beranjak dari atas sajadah. Bahkan meski dia ingat perkara undangan makan malam dari orang tuanya, Ilham sama sekali tidak berniat datang. Pernikahannya baru seumur wijen. Bagaimana bisa dia dan Dela berada di kamar berbeda? Ah ... Entahlah, Ilham butuh menenangkan diri untuk sekarang, mungkin dengan menjauhi Dela, pikiran panasnya perlahan bisa mendingin. Lagi pul, dia masih sedikit takut untuk berdekatan dengan Dela sekarang, takut ga bisa ngontrol dirinya sendiri. Pun Ilham memiliki pemikiran bahwa Dela saat ini pasti sedang marah. Ya, itu pasti. Sebab kalau bukan karena telepon Pak Rosyid, mungkin Ilham sudah membuat Dela meningkatkan waktu sholatnya. Ilham mengutuk dirinya sendiri, menepuk-nepuk kepalanya yang kini terdapat peci hitam bertengger di sana. "Bodoh, bodoh, bodoh!" makinya pada dirinya sendiri, namun sebuah ketukan dari luar pintu membuat Ilham menghentikan aksinya. Rupanya apa yang dia pikirkan tentang Dela barusan ternyata salah. "Mas aku baru inget kalo tadi bapak nelpon nanyain kamu." Suara Dela terdengar biasa saja. Tidak ada nada kemarahan di sana. Mungkin efek penyesalan dan kesadaran yang sudah benar-benar kembali di kepala Ilham, membuat lelaki itu sampai berpikir bahwa istrinya mungkin akan ngambek lagi. Ah iya, Bapak. Pak Rasyid menelpon dengan maksud mengundang mereka untuk makan malam di rumahnya. Mungkin dengan begini, hubungannya dan Dela bisa membaik. Setidaknya, saat nanti di perjalanan, Ilham bisa mencarikan sesuatu sebagai permintaan maafnya. Lelaki itu pun bangkit, melepaskan peci hitamnya lalu beranjak ke pintu. Perlahan ia membukanya. "Dela. Kamu nggak marah sama Mas?" tanya Ilham ragu-ragu. Apa yang sudah dia lakukan tadi, sungguh membuat rasa tak nyaman tersendiri. "Marah? Kenapa? Kan Dela masih keburu sholatnya. Mas Ilham juga, kan?" Dela menjawab santai. Wajah cantiknya terpahat alami meski ia tanpa balutan make up. "Lalu kalau sekarang, udah boleh?" Arkh ... Kok malah nanya gini, sih? Ilham yang selalu tergoda setiap kali melihat wajah cantik Dela, lagi-lagi tak bisa mengontrol dirinya sendiri. "Ee ... Maksud aku, udah boleh Mas ajak kamu untuk ke rumah bapak?" Ilham memperbaiki kalimatnya daripada rasa tak nyaman yang dirasakannya malah menjadi-jadi. "Tergantung." Ilham mengernyitkan alisnya tak mengerti. "Iya tergantung, bapak undang aku juga apa nggak?!" Dela tersenyum. Manis sekali. Pemandangan manis yang selalu diperlihatkan Dela menjadi candu yang dalam hitungan detik mampu membangunkan sesuatu yang barusaja tertidur. Shit, padahal seingat Ilham, dia tidak memiliki riwayat libido seperti halnya teman-teman kantornya. Dia lantas memejamkan mata, menghirup nafas dalam demi mengontrol dirinya sendiri sebelum sesuatu yang sangat diinginkannya malah terjadi di waktu yang tidak tepat seperti ini. "Kamu kenapa, Mas? Sakit?" Dela meraih kepala suaminya lalu menyentuhkan telapak tangannya di kening Ilham. "Nggak panas, kok." Emang ga panas, Del. Otak aku yang panas. Sungguh tidak pernah Ilham sangka bahwa keberadaan Dela di hidupnya mampu membangunkan adrenalin berbeda yang berhubungan dengan keintiman. Selama ini, Ilham hanya menjadi penonton tersembunyi adegan-adegan syur yang diam-diam dia donlot dari ponsel miliknya. Kalau sampai teman-teman kantornya tahu, bisa semakin menjadi-jadi mereka mengajak Ilham untuk sesekali mampir ke club malam yang sering mereka datangi. Bahkan mungkin bukan hanya sesekali, bisa berkali-kali sampai Ilham sendiri yang memilih berhenti. Tapi, kekuatan cintanya pada Dela mampu membuatnya terus mengerem keliaran otak dan sinyal tubuhnya. Seperti kali ini, dia kembali memecahkan rekor menahan hasrat yang tersulut dalam dirinya. "Kamu tunggu di mobil. Aku mau ganti baju." Ilham berucap lalu kemudian berlalu tanpa menatap sedikitpun ke arah sang istri. "Loh, Mas. Aku juga mau ganti baju." Dela menyusul langkah suaminya yang berjalan tergesa-gesa ke kamarnya. Bahkan dengan tanpa dosa, Dela berlari dan menyalip Ilham yang kini mendadak kaku karena pemandangan eksotis yang diperlihatkan sang istri. Dela yang berlari di depannya, mempertontonkan sesuatu yang amat menggoda. Pinggul padatnya bergerak ke atas ke bawah mengikuti gerakan tubuh seksi miliknya. Arkh ... Ilham memutar balik badannya. Dela bener-bener nguji aku! Timingnya ga pas, Del. Please ... Kamu jangan siksa aku. Ilham memilih berjalan ke luar lalu duduk di kursi yang ada di beranda rumahnya. Di sana, dia meraup wajahnya frustasi. Ingin sekali menjamah Dela detik ini juga. Tapi undangan Pak Rosyid tadi membuat Ilham terpaksa harus menahan diri, daripada nanti kena omel untuk yang kedua kalinya. "Mas. Ayo ... Kok malah bengong di sini, sih?" Dela mengagetkannya. Ilham menoleh dan langsung bangkit begitu melihat wajah cantik istrinya. Namun lagi-lagi dia diuji dengan penampilan Dela yang memakai dress ketat dengan belahan d**a rendah. Ya Tuhan ... Boleh ga sih kalo aku main dulu ke gunungnya Dela sebentar doang? Glek ... Ilham menelan ludahnya berat, buah khuldi atau yang biasa disebut jakun di lehernya bergerak ke atas ke bawah. "Del, kalau kita ga usah ke rumah bapak, gimana? Aku lagi pengen makan yang lain." Ilham tak bisa menahannya. Bodo amat dengan Omelan bapaknya nanti, dia hanya ingin memakan Dela sekarang. Eh, ralat. Saking bersemangatnya Ilham, author jadi ikutan semangat, wkwkwk. Dia hanya ingin melabuhkan cintanya hasratnya dan libido yang baru-baru muncul dalam dirinya dengan Dela malam ini. "Loh, ya nggak bisa gitu, Mas. Kasihan ibu pasti udah masak banyak. Lagian, emang kamu tahu, ibu masak apa? Kok main bilang mau makan yang lain?!" Dela berucap lembut. Lagi pula, dia sendiri tak sempat masak untuk makan malam mereka. Kalau harus makan di luar, bisa saja sih. Tapi kalau ada undangan makan gratis, kenapa harus keluar uang? Apalagi yang ngundang adalah mertuanya sendiri, orang tua dari suaminya. **** Next apa jawaban Mas Ilham ya? bakal nurut ke Dela atau malah langsung nyosor minta jatah yang harus ketunda Mulu? kepoin di next episode ya. jangan lupa tap love and follow akun Roff. muahh
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN