Apa yang Dela ucapkan membuat Ilham tersadar dari jerumus pikiran kotor bin panas yang bersarang di otaknya. Nyaris saja dia memaksakan kehendak atas diri istrinya. Itu bukan Ilham banget!
Kini, lelaki itu tengah duduk gelisah di belakang kemudi. Bukan karena dia tidak paham menyetir, tapi karena lelaki itu masih saja menginginkan pelepasan nikmat dan mencicipi setiap inci tubuh seksi nan mulus milik sang istri, namun kesadarannya membuat dia mau tidak mau harus menahannya.
"Mas, nanti ga usah nginep, ya." Dela bersuara, membuat dia semakin sadar di mana posisinya sekarang? di dalam mobil.
Ya, di dalam mobil dengan tujuan rumah bapak, keduanya tidak terlibat pembicaraan sebab sejak tadi hanya hening yang menengahi perjalanan mereka.
"Hmm ...." Ilham menyahuti dengan derheman, lidahnya terlalu kelu untuk banyak bicara sekarang, terlebih ... pikirannya kini berantakan hingga lidah yang biasanya dengan sangat lugas bicara saat dengan Dela justru menjadi kaku seperti ini.
Tak bisa dipungkiri, jawaban Ilham sukses membuat Dela duduk gelisah di tempatnya. Hatinya diliputi kegalauan yang tak bisa dia bagikan pada siapapun. Dia ingin bicara tapi dia belum siap. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah meminta suaminya untuk tidak menginap di rumah mertuanya.
Kalaupun nantinya Ilham menolak, tentu Dela akan menggunakan jurus terakhirnya, merengek pada Ilham. Tapi akankah Ilham akan menurutinya seperti sebelum-sebelumnya kali ini?
Terlebih, belakangan ini ... semenjak ia sah menjadi istri Ilham, lelaki itu seringkali mengabaikan permintaan Dela. Ya, sudah dua kali Ilham tidak mendengarkan apa yang Dela ucapkan. Dan itu cukup untuk membuat seorang Dela merasa gelisah bahkan walau sekarang dia harusnya aman bersama suaminya.
Dia memilih diam, memandangi sekeliling jalan dengan gemerlap lampu yang menerangi kegelapan kota. Bukankah ini tujuannya sejak awal? sejak dia memilih meninggalkan kampung halaman?
Lampu kota yang menyala semalaman, juga keramaian yang tak pernah padam di kota besar ini menjadi alasan utamanya kala itu. Dela ingin berdamai dengan keadaan, bisa berlindung di keramaian daripada selalu merasa terancam dalam senyap dan keteduhan kampung halamannya.
Ah, menyebut kampung halaman, Dela jadi teringat dengan Ambu. Apa perempuan itu baik-baik saja? Bahkan sejak pernikahan itu digelar, Dela sama sekali tidak menghubungi sang Ambu lagi.
Namun rupanya waktu tidak memihak bagi Dela, seakan dia tidak diperbolehkan untuk memikirkan perempuan yang sudah seharusnya dia pikirkan di saat dia sudah menggapai bahagia menapaki jenjang pernikahan. Ya, Dela tak boleh lagi memikirkan Ambu sebab mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di rumah Pak Rosyid dan Bu Ningsih. Tak baik kan kalau tiba di rumah mertua sambil melamun?
Sepasang suami istri itu menyambut kedatangan anak dan menantunya di teras rumah dengan senyum mengembang di bibir Keduanya.
Ah ... Padahal baru sehari Ilham pindah dari rumah ini, ya baru tadi pagi, bukan? Tapi seolah sudah sangat lama bagi Bu Ningsih.
"Dela ... Ilham ...." Bu Ningsih bahkan tidak mampu menyembunyikan kerinduannya, dia menitikkan air mata begitu melihat anak dan menantunya turun dari mobil.
"Ibu nih, malu-maluin. Mereka kan baru pindah tadi pagi. Masa udah disuruh pulang." Pak Rasyid sebetulnya tak setuju dengan apa yang istrinya lakukan, memasak dengan porsi banyak lalu mengundang anak dan menantunya untuk datang.
Haih ... Siapa tahu mereka masih mau perpanjang malam pertama mereka.
"Bapak diem aja deh. Ibu kan kangen sama anak ibu." Bu Ningsih tak terima dengan ucapan Pak Rosyid. Dia memang paling tidak bisa kalau ditinggal Ilham.
Namun siapa sangka, begitu turun dari mobil, Ilham langsung masuk ke kamarnya tanpa berkata apa-apa pada sang ibu dan bapak.
Dela menyusul dengan perasaan kikuk, tak nyaman pada mertuanya yang kini menatapnya penuh tanya. 'ada apa sama Ilham?' itulah yang tampaknya berhias di kepala dua orang tua suaminya.
"Haih ... Anak sama mantu kok sama-sama aneh. Masa mereka ga ada ucap salam sama kita?!" Bu Ningsih nyerocos masuk diikuti oleh Pak Rosyid di belakangnya.
"Salah ibu, mereka tuh belum selesai anunya." Pak Rasyid menjawab dengan bahasa ambigu.
"Anu, anu Mulu pikiran bapak." Bu Ningsih menjawab sewot. Tak disangka, kalimat anu yang keluar dari mulut sang suami, membuat Bu Ningsih menunjukkan rasa tak sukanya. Itu kalimat yang hanya pantas diucapkan saat berdua, begitu pikirnya.
Dan demi menjaga moodnya karena kata anu, Bu Ningsih langsung ke dapur bersiap menyajikan makanan yang sudah sejak sore tadi dia masak.
Sedangkan di dalam kamar, Ilham langsung ke kamar mandi, mencuci muka dengan tujuan menyegarkan pikirannya yang seolah akan membuat kepalanya pecah.
Sungguh, pikirannya selalu penuh dengan body seksi sang istri yang nyaris membuatnya lupa segalanya.
"Oke, elo harus bisa kontrol. Sebentar doang, Ham. Begitu makan malam selesai, elo bisa langsung garap itu ladang bini Lo." Ilham berkata pada pantulan wajahnya di cermin kamar mandi.
Eh, kenapa cara bicara Ilham udah kayak bahasa temen-temen kantornya.
Shit, kayaknya memang otaknya sekarang sembilan puluh sembilan persen sudah sama dengan mereka, teman-teman kantornya.
Tok tok tok ... Pintu di ketuk, tak berselang lama suara Dela terdengar.
"Mas are you okay? Kalau kamu sakit, ke rumah sakit sekarang." Suara Dela terdengar khawatir. Tak biasanya suaminya diam saat bersama dengannya. Sebab itulah, Dela menandai Ilham sebagai laki-laki baik yang pikirannya tidak hanya penuh dengan adegan liar tentang seorang perempuan.
"Aku okay, Sayang. Maaf, bikin kamu khawatir. Aku cuma agak ngantuk, makanya cuci muka." Ilham membuka pintu kamar mandi setelah sukses menenangkan piaraan tersembunyi di balik kolornya.
Huft ... Tenang Ilhaam. Ini akan berakhir setelah makan malam.
Ketika dia dan Dela sudah sama-sama kenyang, ketika itulah waktu yang tepat untuk menggapai puncak nikmat malam pertama yang terpaksa harus tertunda ke malam kedua.
Melihat wajah sang suami yang basah, barulah Dela bernafas lega. Dia lantas berbalik mengambil handuk lalu mengelap wajah Ilham dengan lembut dan perlahan.
Jangan tanya bagaimana tegangnya Ilham sekarang? Susah-susah dia tenangkan piaraan ganasnya. Lalu dengan gampangnya Dela membuat ia terbangun lagi.
Tapi beruntung, pintu kamar yang sedikit terbuka tertangkap oleh matanya. Ilham jadi berpikir dua kali untuk menerkam Dela detik ini juga.
"U-udah, Del. Aku bisa lap sendiri." Ilham langsung mengambil alih handuk yang berada di tangan Dela. Mengganti pekerjaan Dela yang tadinya mengusap kening, pipi dagu dan hidungnya.
Mas Ilham kenapa lagi, sih?
Dela menatap punggung suaminya yang kini berdiri di dekat ranjang.
"Ayo buruan keluar. Kasian bapak sama ibu pasti nungguin." Ilham bersuara lagi namun tidak merubah posisinya. Beberapa detik setelahnya, dia langsung berjalan keluar.
Dela dibuat semakin bertanya-tanya. Ada apakah dengan suaminya