Di ruang makan, Dela tidak membuka suara sama sekali. Bahkan ketika Bu Ningsih mencoba menggodanya dengan menanyai perlakuan Ilham di malam pertama, perempuan itu hanya menjawab dengan senyum canggung.
Lain halnya dengan Pak Rosyid, dia justru berbicara banyak memberikan tips-tips membuat perempuan bertekuk lutut di malam pertama. Bagaimana menjadi lelaki perkasa yang dipuja istri?!
Tanpa canggung dengan keberadaan sang menantu, Pak Rosyid mengoceh dengan diselingi kelakar tawa khasnya.
Ilham sesekali menanggapi, namun dia lebih banyak diam padahal dua telinganya dia pasang dengan sangat tajam guna menggali lebih dalam ilmu peranjangan yang saat setelah makan nanti akan dia praktekkan.
Malam ketiga yang sebenarnya masihlah menjadi malam pertama baginya dan Dela, Ilham sungguh tak sabar untuk mempraktekkan apa yang diajarkan Pak Rosyid.
Dela menghentikan makannya, lalu dengan tanpa permisi dia langsung berjalan ke kamar. Kamar Ilham yang katanya sudah menjadi kamarnya juga sekarang.
Ilham menatap punggung sang istri lalu melihat pada piring bekas Dela. Di sana, makanannya masih utuh belum disentuh sama sekali, tapi kenapa Dela pergi?
Pak Rasyid menatap anaknya.
"Itu tanda-tanda kalau perempuan lagi pengen." Lelaki dengan brewok di dagunya itu mengedipkan mata. Menterjemahkan bahasa tubuh Dela yang kini sudah mengunci pintu di dalam kamar suaminya.
Segera dia cari ponsel di dalam tasnya. Lalu mengetikkan pesan pada nomer suaminya. "Kalau udah selesai, langsung pulang. Telepon aku!"
Setelahnya, dia masuk ke kamar mandi. Melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Ilham sebelum pergi ke meja makan tadi, dia mencuci muka lalu kemudian mengelapnya dengan tisu miliknya sendiri.
*****
Ting ... Pesan masuk di ponsel Ilham. Sembari masih mengunyah makanannya, Ilham merogoh ponsel yang dia simpan di saku kemejanya.
Yang pasti bukan dari kantor, karena masa cutinya masih tersisa empat hari lagi. Ilham mengernyitkan alisnya begitu melihat nama My Wife yang mengirim pesan kepadanya.
Kamu kenapa sih, Del? Udah pergi ga ngomong apa-apa, sekarang malah pakek acara kirim pesan segala.
Dengan sedikit perasaan jengkel dia membuka pesan singkat yang dikirim Dela di aplikasi hijau. Pesan dalam bentuk tulisan itu sukses membuat Ilham geleng-geleng kepala.
"Kenapa, Ham?" Pak Rasyid dan Bu Ningsih bertanya bersamaan. Entah apa yang istrinya tak suka dari dua orang tua di depannya ini? Ilham sendiri tak mengerti. Dela seolah menjadi pribadi berbeda saat berada di rumah ini, berada di tengah-tengah keluarganya.
Ini kali kedua Dela bersikap seperti ini. Dia menunjukkan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang menantu. Main langsung pergi tanpa mengucapkan apa-apa.
Huft ... Ilham mendesah pelan. Tak ingin memperlihatkan keanehan dalam diri istrinya kepada kedua orangtuanya.
Kekaguman yang selalu berujung pada hasrat saat melihat sang istri seketika surut kini. Sikap Dela sungguh membuat Ilham menyimpan sejuta pertanyaan di benaknya.
Ada apa dengan istrinya?
"Ham ... Cepetan makan. Kok malah bengong?" Bu Ningsih membuat Ilham tersentak dari lamunannya yang entah akan berujung di mana? Seolah pertanyaan yang membuat dia berkelana dalam bayang masa lalu saat baru mengenal Dela seketika terhenti.
"I-iya, Bu." Ilham melanjutkan makan.
Namun jangan tanyakan bagaimana perasaannya sekarang? Dia masih tak habis pikir dengan kelakuan istrinya.
"Itu Dela ke kamar mandi kok lama banget ya, Ham? Susul gih, mungkin dia lagi ga enak badan." Bu Ningsih bicara lagi, dia berpikir bahwa Dela ke kamar mandi. Mungkin menantunya jadi mules karena saking gugupnya. Apa hubungannya gugup dengan sakit perut, eh ... Jangan lupa bahwa saat kita sedang sangat gugup, terkadang justru perut kita yang merespon paling cepat.
Lagi pula, selama Dela pacaran dengan Ilham, hanya sekali saja dia datang ke rumah ini, setelah itu tak pernah lagi. Baru setelah resmi menikah saja dia datang dan bahkan menginap di malam pertama. Mungkin benar Dela sedang sangat gugup sekarang.
"Eng ... Aku abisin dulu lah, Bu." Ilham malas sekali kalau harus menyusul Dela. Bukan dia tak peduli, hanya saja kekesalannya pada Dela mengalahi rasa cintanya kali ini. Siapapun pasti akan marah kalau pasangan kita tidak menghargai orang tua kita, bukan? Begitu pula Ilham. Dia kesal karena sudah dua kali Dela bersikap seolah-olah dia tidak menyukai orang tua Ilham.
"Iya abisin dulu, Ham. Itu mah istri kamu ngasih kode doang. Kamu makan yang banyak biar tenaga kamu penuh." Lain halnya dari Bu Ningsih, Pak Rosyid malah mengira Dela sedang memberi Anaknya kode sebagaimana Bu Ningsih jaman dulu, bukan jaman prasejarah ya. Dulu saat Pak Rosyid dan Bu Ningsih masih menjadi pengantin baru.
Ilham sendiri tak mendengarkan apa yang orangtuanya bicarakan. Bukan dia sengaja, tapi hampir seluruh pikirannya tersita untuk menyusun satu demi satu pertanyaan yang kini memenuhi kepalanya.
Makanannya tidak semuanya habis. Tapi Ilham sudah tak berselera. Segera dia bangkit setelah mengucapkan kalimat singkat pada ibunya. "Ilham udah kenyang, Bu."
Lelaki itu tak menunggu respon sang ibu. Langsung saja dia pergi ke lantai atas, ke kamar yang sejak dulu menjadi tempatnya melakukan berbagai aktifitas yang dia sukai di dalam sana.
Ilham memutar handle pintu, tapi ternyata dikunci. Berulang kali Ilham mencoba memutarnya namun tetap, pintu kamar ini dikunci dari dalam.
Tak ingin membuat orang tuanya berpikir yang bukan-bukan, Ilham memutuskan menelpon Dela.
"Aku di depan kamar. Buka!" ucapnya dengan tanpa ekspresi di wajahnya.
Dela langsung menuju pintu, memutar kunci yang menggantung di sana lalu membukanya.
Ilham langsung masuk dan kembali menguncinya dari dalam.
Dela gemetaran, namun tidak memperlihatkannya pada Ilham.
Justru perempuan itu sekarang merasakan debaran jantung yang teramat karena lagi-lagi berada di satu kamar dengan mata saling mengikat satu sama lain.
Ilham tidak bergerak di tempatnya, sementara Dela pun sama, dia mematung di belakang pintu yang sudah terkunci.
Entah kenapa liat wajah kamu aku jadi inget pesan nenek. Karena itu aku ga bisa marah sama kamu!
"Duduk, sini!" Ilham menepuk pinggiran kasur yang dia duduki.
Dia menata hatinya yang kini mampu menetralisir racun panas yang sejak akad selesai selalu penuh dengan hal-hal kotor dan m***m.
Ini masalah yang sangat penting, harus Ilham bicarakan serius dengan Dela agar tidak menumpuk dan menjadi masalah besar nantinya.
Terlebih, umur pernikahan mereka yang masih amat baru. Masih bisa dihitung dengan jam, tidak elok rasanya kalau istrinya ini tidak menyukai orang tuanya.
Dela melangkah perlahan, gerakan kakinya tampak ragu-ragu namun pada akhirnya dia sampai juga di sisi Ilham, dia duduk dengan wajah sedikit tegang karena Ilham terus menatapnya tanpa henti.
Tenang, Ham ... Masalah ga akan pernah selesai kalau sambil marah-marah. Santai kek di pantai, tanyain baik-baik.
"Kamu kenapa?" tanya Ilham pada akhirnya, tentu dengan suara lembut seolah kemarahannya sudah habis tersapu angin.
"Jujur Mas ga suka kamu bersikap kayak gitu sama orang tua Mas, Del." Ilham berbicara dengan sangat lembut. Diraihnya tangan sang istri sembari dia usap perlahan.
"Bersikap gimana, Mas?" Dela tak mengerti.
Dia cuma merasa sedikit mual dan gugup di waktu yang bersamaan.
"Dela sayang ... Mas ga tau kamu kenapa. Tapi kalo kamu ada masalah, kamu cerita sama mas, ya." Sekali lagi Ilham bukan lelaki pemaksa. Dia senantiasa akan selalu membuat Dela nyaman berada di sisinya.
Sebab hal itulah yang selalu Dela katakan bahwa alasannya menerima Ilham karena Ilham membuatnya merasa nyaman di sisinya.
"Del, kamu tahu kan seberapa besar mas mencintai kamu, jadi mas ga akan pernah ninggalin kamu seperti orang tua kamu. Tapi Mas mohon banget kamu jangan hanya cinta ke mas, cintai juga orang tua Mas, Sayang. Mereka berbeda dengan orang tua kamu, Sayang. Mereka juga sayang sama Dela seperti anak mereka sendiri." Ilham ingat betul bagaimana dulu saat pertama kali mengakui dela sebagai kekasih pada orang tuanya. Padahal sebelumnya, mereka sebatas saudara yang saling menjaga.
Pengakuan cinta Ilham membuat kedua orang tuanya, Pak Rosyid dan Bu Ningsih bertambah menyayangi Dela. Mereka bahkan menganggap Dela sebagai putri mereka yang sudah meninggal.
Anggukan serta senyum Dela mampu membuat kesadaran Ilham kembali sepenuhnya. Bayangan saat pertama kali menjalin hubungan dengan Dela seketika sirna dari ingatannya. Berganti, pemandangan cantik nan indah yang terlihat di wajah cantik Dela.
Perempuan itu berkaca-kaca namun kemudian dia seka air matanya yang penuh di pelupuk matanya sebelum ia jatuh ke pipi mulusnya.