Menatap Dela seperti ini, dia jadi teringat bagaimana kehidupan Dela di kampungnya.
Ya, gadis yang sejak lama mendiami hatinya ini pernah menceritakan bahwa ambunya tak lagi mencurahkan kasih sayang kepada Dela karena seorang lelaki yang dia nikahi saat Dela berumur tujuh tahun.
Dela merasa kehilangan figur orang tua sebab sang Ambu lebih banyak menghabiskan waktunya bersama suami barunya. Itu cerita singkat yang Dela bagikan pada Ilham dulu.
Ilham tak kan pernah lupa itu. Sebab sejak saat itu, selain karena amanah sang nenek, Ilham bertekad untuk menjaga Dela dan menemaninya dalam suka maupun duka, mengantikan kasih sayang yang gagal dia dapatkan dari ambunya.
Terbersit dalam benak Ilham untuk mengajak Dela pulang kampung. Ya, masa cutinya masih bersisa empat hari. Menurutnya waktu yang tersisa itu masih lebih dari cukup untuk memperbaiki hubungan ibu dan anak itu.
Ya, mungkin dengan begitu Ilham bisa menaklukkan Dela lahir dan batin.
Sejenak keduanya saling berpandangan. Senyum manis mengembang di bibir sepasang suami istri itu.
Berdua dengan tanpa sepatah kata diantara keduanya ternyata sukses membuat Dela dan Ilham bisa saling memahami hati masing-masing.
Dalam hati Dela, untuk malam ini dia akan mengalah dan mau kalau Ilham mengajaknya menginap, sedangkan Ilham, masih seputar kampung Dela, dia akan mengajak Dela pulang kampung dan mengunjungi ambunya.
Empat hari sisa cutiku, aku bakal ajak kamu ke kampung dan nemuin ambu.
Aku ga papa nginep di sini, Mas, asalkan kamu nggak pergi kemana-mana.
Entah kenapa, air mata Dela luruh begitu saja seiring dengan kalimat yang terucap dalam hatinya. Demi Ilham, untuk Ilham dan demi mengokohkan kekuatan cinta dalam pernikahan mereka yang baru seumur biji wijen, Dela tak mengapa nginep di tempat mertuanya.
Ya, meski sejujurnya dia sama sekali tak ingin.
Dengan masih tanpa saling membuka suara, keduanya saling merangkul, mendekap satu sama lain. Setelahnya, Ilham mengajak Dela untuk bersiap karena lagi-lagi, lelaki itu tak kan pernah membiarkan
"Ayo kita pulang," ajak Ilham akhirnya. Pulang yang dimaksud adalah pulang ke rumah mereka sendiri.
Jangan lupakan bahwa Ilham adalah lelaki pengertian dan senantiasa mengalah dalam setiap ada masalah diantara keduanya.
Semoga setelah dari kampung nanti, Dela akan mau kalau diajak nginap di tempat Pak Rosyid dan Bu Ningsih, itulah harapan kedua Ilham.
Dela tersenyum senang mendengar ajakan suaminya, artinya ... Ilham memang lelaki yang tepat untuk menjadi teman hidupnya.
Akhirnya ....
Sekali lagi, Dela menghambur ke pelukan Ilham, mendekap lelaki itu erat saking bahagianya mendengar kalimat ajakan sang suami.
“Udah udah, ayo kita buruan pulang mumpung nggak malem-malem banget.” Ilham bersuara lagi.
“Klao malem banget kenapa emang?” Dela masih saja tak paham situasi.
Tentu saja kalau malam, mereka tak akan diizinkan pulang oleh Bu Ningsih.
Ilham memang anak lelaki, tapi kesehariannya selalu dikontrol oleh sang ibu yang bisa dibilang parnoan. Ya, di saat Ilham lembur, maka akan setiap menit ditelpon ibunya menanyakan dimana dan apakah sudah keluar kantor atau belum?
Maklum, ya ... meskipun Bu Ningsih sudah lama hidup di kota, tetap saja kepribadian desanya tidak bisa dihilangkan.
Karena itu pula, Ilham tak pernah berani bermain di klub meski teman-temannya sering sekali mengajaknya. Dan karena penolakan Ilham yang terus menerus itu, teman-temannya memberinya julukan Si Saleh.
Kini, Ilham dan Dela sudah keluar untuk berpamitan pulang. s**t, ini lebih mendebarkan daripada saat kemaren dia hendak izin meminta cuti ke bossnya. Bukan apa-apa, karena ternyata saat daia melihat jam, angka di sana sudah menunjuk angka sebelas. Adalah angka yang masuk dalam kategori sangat malam untuk Bu Ningsih.
“Kenapa ngga nginep aja, Ham? Ini sudah malem banget, lho.”
Huft ... apa yang dihindari Ilham ternyata kejadian. Tak mungkin dia berani melawan, dilihatnya sejenak wajah sang istri, tapi begitulah ... Dela menunjukkan sikap yang justru membuat Ilham semakin dilema.
Dela memicingkan mata seraya menggigit bibir bawahnya. Jawaban macam apa itu? Bahkan seorang pembaca mimik wajah pun akan sulit menerjemahkan ekspresi Dela saat ini.
“Eng ... anu, Bu-”
“Ya udah kita nginep, tapi besok pagi-pagi kita langsung balik,” bisik Dela kemudian. Dia tahu bagaimana Bu Ningsih memperlakukan Mas Ilham-nya sejak dulu. Jadi sekarang, tak ada salahnya kalau dia menginap di sini.
Toh, semalaman penuh, Mas Ilham pasti akan terus ada di sampingnya.
Ilham yang mendengar bisikan Dela, langsung bernapas lega.
Huft ... memang sejak dulu, Adela ini penuh dengan kejutan. Ilham hampir saja dibuat gemetaran karena harus memilih kemauan sang istri dan larangan sang ibu.
“Eh, iya. Ini udah malem,” sahut Ilham seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
"Yang bilang sekarang masih siang siapa?" Bu Ningsih menjawab dengan raut yang susah diartikan. Sebal karena tadi Ilham hampir saja membuat jantungnya tak karuan kalau sampai dia nekat pulang ke rumahnya di tengah malam begini.
Ini adalah kota, memang kota yang mereka tinggali ini seolah tak kenal malam, tetap saja ramai. Tapi tetap saja Bu Ningsih khawatir kalau sampai Ilham kenapa-kenapa di jalan. Malam yang ramai di kota lebih mengerikan dari malam yang sepi di kampung.
Huft ... Baiklah. Ilham menampakkan barisan gigi putihnya melepas kepergian sang ibu yang berlalu ke kamarnya.
"Oh iya. Ibu kan tadi mau ambil minum buat bapak." Bu Ningsih berbalik. Gara-gara Ilham, dia sampai melupakan niatnya keluar dari kamar tadi.
Perasaan tadi bapak udah minum abis makan. Masa udah mau minum lagi?!
Otak dangkal Ilham jadi makin cetek melihat tingkah orang tuanya.
Tidak tahu saja dia kalau Bu Ningsih dan Pak Rosyid mulai melakukan pemanasan olahraga malam.
Tapi syukur juga dia tak paham dengan tingkah ibu dan bapaknya, sebab malam ini lagi-lagi dia tidak akan dapat jatah apa-apa.
Bukan karena dia menebak Dela akan menolaknya, tapi karena memang dirinya lah yang berjanji akan meminta haknya pada Dela saat nanti sepulang dari kampung Ambu.
Huft ... gara-gara terlalu memikirkan bapaknya yang kebanyakan minum, Ilham sampai tak sadar bahwa sang istri sudah tak ada di sampingnya.
Dela Dela, kebiasaan. Suka banget pergi duluan.
Ternyata istrinya sudah meringkuk dalam selimut dengan membiarkan lampu menyala, terang benderang.
Ceklek, Ilham mematikan lampu.
"Mas jangan dimatiin. Aku takut." Suara Dela terdengar dari atas kasur. Tentu saja masih dengan posisi di bawah selimut.
Tanpa membantah sedikitpun, Ilham langsung menyalakannya lagi. Meski sejujurnya, Ilham tak kan bisa tidur dengan suasana terang seperti ini.