Sarah terdiam. Matanya menatap pria di depannya. Ia masih ingat dengan jelas, senior yang telah merenggut keperawanannya, dan membuat hidupnya penuh kesulitan. Tapi Sarah,bisa melewatinya. Kedua jagoan kembarnya,adalah penyemangat hingga ia bisa mencapai titik ini sekarang.
"Kalian sudah selesai memilih mainan? Ayo pulang!" Sarah, mengabaikan Reza. Raut wajah Sarah, yang gelap dan dingin, membuat Justin dan Kevin ketakutan.
Keduanya melompat turun dari duduknya, lalu memeluk pinggang Maminya. "Mi kita hanya bercanda, jangan marah yah!" Justin memelas. Wajahnya lucu yang menggemaskan. Kevin pun melakukan hal yang sama.
Sarah menarik dalam nafasnya. " Mami gak marah, Mami hanya sedikit lelah, ayo pulang!" Sarah mengabaikan Reza, yang ada tidak jauh darinya.
"Tunggu!" Reza melangkah lebar, mendekati Sarah.
"Kalian boleh main di Timezone dulu," Sarah menunjuk tempat permainan tidak jauh, dari ruang informasi. Justin dan Kevin berlari dengan riangnya.
"Awasi mereka!" perintah Reza pada pengawalnya. Tanpa mengalihkan tatapan tajamnya, pada Sarah. Seolah-olah ingin menyimpan wanita ini di dalam retinanya.
Pengawal itu segera berlari mengikuti Justin dan Kevin.
*************
Diam. Sarah juga tidak ingin mengawali pembicaraan. Sementara Reza, ia masih larut dalam kemarahan dan kekesalan, tiga tahun yang lalu. Saat wanita ini, meninggalkan dirinya terkapar sendirian, di lantai dingin perpustakaan. Reza semakin yakin, jika kedua bocah kembar itu adalah anaknya.
Saat ini mereka berpindah, ke food court.
Anak dari kesalahan yang mereka perbuat, tiga tahun lalu. "Jika tidak ada yang di bicarakan, Saya harus pulang!" Sarah berdiri, meraih tasnya, dan ingin beranjak.
"Duduk!" tegas Reza, membuat Sarah kembali duduk. "Kamu tidak ingin menjelaskan sesuatu?" tanya Reza dingin. Sarah menggeleng.
Sarah tidak menghindari Reza. Ia pasti bertemu kembali dengan pria ini cepat atau lambat. Sarah juga tidak, berniat menyembunyikan identitas Ayah kandung kedua putra kembarnya ini. Tapi Sarah tidak berharap secepat ini.
Ia meninggalkan Indonesia setelah malam itu. Setelah ia mendengar percakapan teman-teman Reza. Bahwa mereka menjadikan Sarah sebagai taruhannya. Awalnya Sarah ingin, meminta pertanggung jawaban Reza. Tapi urung.
"Kira-kira Reza berhasil nggak ngedapetin keperawanan, cewek culun itu si Sarah?" kata Mahasiswa bernama Brian.
"Taruhan aja, kalau sampai Reza berhasil ngerayu tuh cewek culun, tuh ambil Bentley gue di parkiran," pria bernama Jason melempar sebuah kunci.
Sarah yang bersembunyi dibalik tanaman bungur, mengepalkan tangannya. Setelah keperawanannya direnggut, kini dia di jadikan bahan taruhan.
Sarah memutuskan pergi menjauh dari Indonesia saat itu, setelah menerima beasiswa, untuk belajar fashion di Paris. Meskipun sulit, sambil membesarkan putra kembarnya, Sarah mencapai kesuksesan dari titik terendahnya.
Belum Reza berbicara lebih jauh. Suara yang ia kenal menyapa.
"Reza! Kak Amel!" Sheila sudah berdiri disamping meja food court, tempat Reza dan Sarah duduk.
"Oh Mbak Sheila, kebetulan sekali!" Sarah berdiri, menyalami kliennya, lalu mencium pipi kanan dan kirinya.
"Lagi ngobrolin pernikahan apa gimana?" Sarah dan Reza tampak linglung, mendengar pertanyaan Sheila.
"Oh, aku lupa!" Sheila menepuk jidatnya sendiri. Reza meminta tidak mengungkapkan identitasnya, sebagai calon suami Sheila. Sheila hanya mencantumkan inisial R saja, di kolom calon mempelai pria.
"Kak Amel, ini Reza calon suami saya, dan Reza ini Kak Amel Wedding Organizer pernikahan kita!" Sheila memperkenalkan satu sama lain.
Sarah menemukan posisinya kembali, setelah terkejut. "Maaf saya tidak tahu, kebetulan Pak Reza yang menemani putra saya ke ruang informasi, terimakasih Pak saya harus permisih dulu." Mendapatkan kesempatan untuk pergi, Sarah segera berlari. Menjemput kedua putranya, lalu secepatnya pergi dari Mall.
Reza masih terdiam. Ia ingat jika gadis culun itu, memiliki nama panjang Sarah Amelia Dinata. Jadi Sarah adalah WO nya. Pikir Reza, ia tersenyum licik. Reza merencanakan sesuatu di kepalanya.
**********