LaD - keluar dari desa.
Seminggu telah berlalu, dan gue nggak pernah menyangka jika seluruh urusan pembangunan beberapa rumah untuk para orge sudah selesai, bahkan gudang dan lumbung tempat penyinaran makanan juga sudah selesai di buat, lalu beberapa urusan seperti pertanian untuk bertahan dari masa sulit juga sudah mulai dikembangkan, dan sekarang, sepertinya udah nggak ada lagi yang bisa gue cemaskan di tempat ini.
Semua urusan sudah selesai, janji yang gue beri ke demon orge yang tak lain adalah raja mereka juga sudah terlaksana. Lalu sekarang mungkin sudah saatnya untuk gue angkat kaki dari tempat ini.
Angkat kaki bukan berarti gue minggat atau bakal pergi yang nggak akan pulang, karena entah sejak kapan gue menjadikan tempat ini sebagai rumah gue. Rumah yang akan membawa gue kembali suatu saat nanti.
Gue berdiri di tengah-tengah bangunan yang masih dikembangkan oleh para orge di sini. Tempat yang mungkin akan menjadi gedung pertemuan untuk kami dan orang-orang yang akan gue pilih untuk menjadi penjaga desa serta pemimpin mereka. Nggak mungkin juga gue bakal pergi tanpa menyerahkan hak kepemimpinan kepada mereka.
"Tidak terasa satu Minggu sudah berlalu."
Gue menoleh. Menemukan Dino yang berdiri di sebelah gue dengan tatapan yang tengah menatap bangunan setengah jadi di depan kami.
"Ya gitu lah, gue juga nggak nyangka."
Dino terkekeh sejenak di sana, lalu menoleh dan menatap kearah gue. "Jadi apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"
"Entah." Gue menatap lurus kedepan. Melihat bagaimana dan apa yang akan gue lakukan setelah ini, gue pikir, gue akan menjelajahi dunia ini, masuk ke berbagai desa untuk mempelajari apa yang ada di sana serta mengumpulkan informasi tentang iblis.
"Yang jelas gue bakal keluar dari desa dan menjelajahi dunia ini."
"Apa kau begitu penasaran dengan apa yang ada di luar sana?"
"Tentu saja, kau pikir apa yang membuatku begitu semangat selama ini?"
"Haha, kau ini." Dia menoleh setelahnya. Entah apa yang ada di pikirannya, dia selalu saja mengikuti gue tanpa perlu repot tahu tujuan gue yang sebenarnya, benar-benar anak yang aneh.
"Ya itulah diri gue. Nggak ada yang lebih menarik selain dunia yang selalu membuat gue penasaran ini. Gue nggak sabar dengan apa yang akan gue temui setelah ini, mungkin akan ada keseruan baru dan orang-orang baru yang bisa membuat semangat gue semakin menggelora."
Karena setelah menginjak kaki di dunia ini, gue selalu penasaran dengan segala hal yang terjadi, apa yang akan gue temui dan bagaimana cara kerja dunia ini.
Memikirkan hal itu saja sudah membuat d**a gue berdebar tak henti. Rasa tak sabar dan penasaran ini melebihi sesuatu yang tak pernah gue pikirkan sebelumnya.
Gue benar-benar penasaran.
"Dan aku akan dengan senang hati mengikuti kemanapun kau pergi." Dia terkekeh, dan sudah jelas kalau gue bisa menebak apa yang dia pikirkan. Dari cara dia mengikuti kemana gue pergi selama ini udah menunjukkan betapa penasarannya dia kepada gue.
"Terserah Lo aja sih, gue juga nggak keberatan Lo mau ikut atau nggak, yang jelas Silvana dan juga Aldos akan imut serta sama gue."
"Dan kita akan menjelajahi dunia ini, aku juga tidak sabar menantikan hal ini."
Gue mendengkus pelan, tapi tidak ada ruginya juga mengajak Dino, karena dia jelas mengetahui seluk beluk dari dunia yang masih begitu asing di mata gue.
"Jadi kemana tujuan awal kita?"
Gue terdiam, hal ini masih belum gue pikirkan, gue cuma mikir kalo gue akan menjelajahi tujuan ini tanpa tau kemana tujuan gue sebelumnya.
Gue menoleh kearahnya. Menatap Dino yang masih menatap gue dengan tatapan berbinar.
"Gue belum tau...," Gue menjeda kalimat, lalu setelahnya gue memilih berjalan untuk mengelilingi tempat ini.
"Apa Lo ada saran?"
Dino terlihat berpikir dengan melipat satu tangan untuk menjadi penopang tangan yang lain yang dia letakkan di dagunya.gue udah yakin jika dia bakal kasih gue saran tempat yang bagus di dunia ini.
"Hem ... Aku memikirkan banyak tempat yang menjadi salah satu tujuan ketika aku menjelajah keluar, tapi aku juga masih bingung." Dia menoleh kearah gue lagi.
"Apa kau ada satu tempat yang ingin kau kunjungi? Seperti tempat yang memiliki banyak orang kuat, atau tempat yang menyediakan senjata dan juga armor yang bagus, atau mungkin tempat yang memiliki gadis-gadis cantik seperti Fairy?"
Gue menghentikan langkah gue ketika mendengar ucapan Dino.
Tempat yang memiliki banyak wanita cantik? Gue penasaran sama apa yang dikatakan Dino.
"Maksud Lo tempat yang banyak wanita cantik itu apa?"
"Tentu saja tempat di mana kita bisa memanjakan kejantanan kita dengan banyaknya wanita cantik di sana. Jika kau mengunjungi tempat itu aku yakin kau akan sangat puas ...." Setelah mengucapkan itu dia mendekatkan wajahnya kearah gue. "Tapi aku sarankan sebelum datang ke sana. Isi dulu kantung uang mu dengan banyak uang agar kau tidak di tendang keluar dari tempat itu."
Tunggu, apa yang Dino maksud dengan dunia penuh wanita cantik adalah tempat para psk berkumpul di satu tempat?
Bukankah itu sebuah surga untuk pria seperti ku? Pria yang selama hidupnya menghabiskan waktu hanya dengan memuaskan kehangatan dengan tangan saja, atau bahkan bantuan sabun?
Sungguh. Kenapa juga gue mikir hal yang nggak penting kayak gitu.
Nggak nggak. Gue nggak boleh pergi ketempat itu karena tujuan gue bukanlah hal seperti itu, tapi suatu saat nanti bolehlah gue mampir untuk sekedar memuaskan diri.
"Lupakan. Gue nggak mau dateng ke tempat itu untuk sekarang."
"Jadi..."
"Mungkin lain kali."
Haha, jangan tertawakan gue yang mengenaskan ini, karena sejatinya gue memang mengenaskan sejak gue lahir di kehidupan sebelumnya.
Dino menatap gue dengan tatapan nakal di sana.
"Hoo aku tau apa maksudmu."
"Udahlah abaikan, nggak usah dibahas!"
"Jadi. Kemana kita akan pergi?"
"Kalo menurut Lo. Tempat mana yang sebaiknya kita kunjungi untuk pertama kali?"
Ditanya seperti itu tentu saja membuat Dino berpikir lagi, dia terlihat sangat serius memikirkan tempat yang akan kita tuju pertama kali.
Gue sih terserah. Asal jangan tempat yang bisa menghabiskan banyak uang gue. Walau sejatinya gue memiliki banyak uang sekarang, tapi bukan itu masalahnya. Kalau gue sampai terjebak dan betah di tempat seperti itu. Gue bakal sulit untuk keluar.
"Kalau boleh, aku sarankan tempat yang memiliki banyak senjata dan banyak pengrajin di sana."
Aku mengangguk pelan, itu mungkin pilihan yang tepat, karena selama ini gue sama sekali nggak memiliki sebuah senjata yang mampu mengimbangi kekuatan gue. Apalagi perkembangan kekuatan gue saat ini semakin sulit untuk gue mencari senjata yang tepat.
"Kau tahu bukan, senjata yang aku miliki sudah berkarat, aku ingin menggantinya dengan senjata baru yang akan aku tempa sendiri."
"Boleh, gue setuju sama pilihan Lo, karena gue juga pengen buat senjata khusus untuk gue sendiri."
"Bagus, jadi sudah diputuskan bukan kalau setelah ini tujuan awal kita adalah desa Draft di mana mereka adalah pembuat senjata paling hebat di dunia ini."
"Ya ya ya, terserah Lo aja, kita pikirkan itu besok lagi, karena sekarang gue laper. Gue mau makan dulu." Kata gue setelahnya dengan melambaikan tangan kearah Dino. Gue mulai lapar karena hari sudah mulai siang, gue juga butuh asupan tenaga untuk hari ini.
"Hey, kau meninggalkanku?"
"Gue lapar Dino! Gue cuma mau makan!"
"Aku ikut! Aku juga lapar astaga!"
Gue menoleh seketika, dia ingin tipikal bocil (bocah kecil) yang sering ngikutin gue apa gimana sih? Rasanya gue malah terlihat sedang mengasuh anak kecil, kemanapun gue pergi dia selalu saja mengikuti gue.
"Terserah kau saja."
"Yes! Itulah kenapa aku suka pada dirimu, karena kau tidak pernah mau ambil pusing dalam hal apapun, bahkan aku saja tidak kau pedulikan." Ucapannya tentu saja membuat gue merasa tersindir, apalagi saat mengatakan kalo gue nggak peduli terhadap apapun.
"Diem lah, Lo terlalu banyak omong."
"Karena seperti inilah diriku, kau seharusnya sudah paham dengan tipikal diriku."
Gue hanya menggeleng kecil ketika melihat tingkah konyolnya itu. Mungkin jika orang yang belum mengenal siapa dirinya. Mereka akan menganggap jika Dini hanyalah anak kecil yang terlihat menggemaskan dan bandel. Karena dari tingkah dan perilaku sama sekali tidak mencerminkan jika dia adalah seorang pemimpin yang ditakuti di negara asalnya.
"Kau tahu, aku penasaran, kira-kira mereka masak apa hari ini?" Kata Dino yang sudah berada di sisi tubuh gue dengan kedua tangan yang dia letakkan di belakang kepala.
"Aku sudah tidak sabar untuk menyantap masakan dengan rasa baru yang mereka suguhkan, sesuatu yang membuat ku merasa ingi memakannya lagi dan lagi."
"Hari ini mereka nggak masak banyak, gue udah pesen untuk sedikit menghemat bahan makanan."
"Sungguh? Kau melakukan semua itu?"
Gue mengangguk pelan, karena itulah yang gue lakukan untuk menghemat bahan makanan, karena setelah gue pergi nanti. Gue nggak mungkin bisa mengawasi mereka selama dua puluh empat jam, gue juga bakal melatih mereka untuk mandiri dan tidak bergantung pada apa hang gue beri ke mereka. Setidaknya sedikit wawasan dan juga sedikit pelatihan bisa membuat mereka berkembang sedikit lebih baik.
"CK, kau ini, padahal aku sudah berharap banyak akan makan enak lagi."
"Kalo Lo mau itu, kenapa nggak ikut berburu. Tangkap banyak hewan agar kita bisa berpesta lagi sebelum kita pergi nanti."
"Aku sedang malas, karena rasa lapar ini, aku benar-benar malas untuk berpergian."
"Bahkan kalau gue nggak akan buat pesta kepergian kita tanpa ada bahan makanan yang berlimpah?"
"CK, ayolah Erix. Jangan terlalu menekankan ku." Bibirnya maju beberapa senti ke depan dan hal itu membuat gue tertawa seketika.
"Lo ini. Berburu males, tapi pesta nomor satu." Gue menggeleng pelan setelahnya. "Dasar!" Gue langsung mendorong kepala Dino dengan pelan karen refleks itu sendiri.
Dia benar-benar memiliki cara untuk membuat gue merasa gemas hanya karena tingkahnya. Lalu setelahnya gue malah mendapat ide agar bisa makan enak dan bisa membuat pesta sebelum gue pergi dari tempat ini.
Gue menyeringai lalu melangkah dengan ringan untuk menuju rumah singgah di mana gue bisa mendapat makanan di sana dengan gratis. Bukan hanya gue saja, tapi para orge juga mendapat hak yang sama dengan gue. Bedanya mereka mendapat makanan dengan menukar hasil buruan mereka agar sistem perputaran makanan di tempat ini bisa berjalan dengan teratur.
Karena gue belum mengenalkan mata uang untuk mereka, jadi bisa gue katakan sistem ini cukup efisien untuk kondisi saat ini.
Ya nggak buruk lah, mereka para laki-laki bisa berburu ataupun bekerja dan mendapatkan makanan yang layak, sedangkan para perempuan hanya tinggal menunggu dan menerima Sahil buruan mereka yang ditukar dengan makanan siap jadi. Bahan buruan itulah yang akan diolah dan dijadikan bahan makanan untuk yang lain.
Untuk saat ini menurutnya gue sistem inilah yang cukup adil bagi mereka, dan jika desa ini sudah mulai berkembang nanti, gue akan memberlakukan sistem mata uang agar memudahkan mereka untuk mendapat apa yang mereka inginkan.