LaD - Silvana
“GAHHHHH!”aku terbangun saat merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhku. Bahkan seluruh otot dan pergelangan tangan serta kaki rasanya benar-benar ingin membuatku berteriak sekencang-kencangnya.
Aku setengah sadar ketika aku membuka mata dan berada di sebuah ruangan benar-benar sunyi.
Lalu ingatanku kembali saat dimana aku tengah melawan pemimpin Yeti dan berakhirnya dengan bilangnya kesadaran ku. Lalu saat ini aku tidak tahu di mana diriku berada.
Aku mengedarkan pandangan ku lalu menemukan sosok Aldos yang masih duduk tenang sembari menatap ke arahku, tatapannya membuatku merinding, dan seketika itu juga tubuhku membeku karenanya.
"Apa yang sudah kau lakukan?"
Aku menunduk saat suara berat itu menyapa telingaku sebagai bukti teguran secara tidak langsung.
Aku jelas menyadari betapa bodohnya aku karena melupakan batasan yang ada pada diriku, bertindak tanpa berpikir panjang apa yang akan terjadi nantinya. Dan sekarang, aku merasa seperti anak kecil yang akan dimarahi oleh kakakku sendiri.
"Kau hampir saja mati jika tuan Lubis tidak datang dan memberimu pertolongan pertama!"
"Ma-maafkan aku."
Sejenak aku terdiam. Lalu sebentar saja aku mendengar helaan napas kasar dari Aldos.
"Apa yang kau pikirkan, kenapa kau bersikap berlebihan seperti itu? Harus ya kau tahu di mana batasan mu, kau bukan lagi seekor wyren yang bisa menggunakan kemampuan mutlak yang kau miliki. Kau sekarang hanyalah seorang manusia setengah wyren yang memiliki sebuah batasan."
Aku tahu aku salah, tapi baru kali ini aku mendengar amarah dan ceramah panjang dari saudaraku ini. Sosok yang selama ini aku kagumi dan memiliki sisi yang benar-benar lembut, nyatanya dia juga memiliki sisi yang galak saat aku bertindak bodoh.
Mungkin dia melakukan hal itu karena dia tidak ingi. Kehilangan aku. Tapi entah kenapa rasanya di marahi seperti ini membuat ku ingin menangis saja.
Padahal rasa sakit di sekujur tubuhku benar-benar terasa nyeri dan membuatku ingin berteriak karena sakit ini.
itu juga membuatku membentuk sebuah aliran air mata di pipiku. Bahkan kini rasa mual di perut karena kram dan rasa sakit itu begitu terasa, lalu seketika itu juga aku memuntahkan darah dan sisa-sisa makanan kecil bekas makanan pagi tadi, karena setiap otot, setiap pori, setiap serat tubuhku terasa seperti digergaji perlahan oleh pisau bergerigi. Sakit dan begitu memuakkan. Bisakah tubuh ini lebih kuat sedikit lagi agar aku bisa bertarung sebebas yang aku inginkan?
F * ck.
Tubuhku tidak berhenti gemetar karena rasa sakit ini, sakit yang luar biasa yang membuat aku seolah berada di ujung tanduk kematian.
"Kau tidak apa?" Aku merasa Aldos memijat tengkukku lalu membawakan sebuah mangkuk untuk menjadi tempat aku membuang isi perut ku.
"Ini benar-benar menyakitkan."
"Itulah akibatnya jika kau berusaha melewati batasan tubuh mu."
Tubuh ini sangat merepotkan. Padahal aku berpikir jika aku aku bisa menggunakan sesuka hatiku, tapi siapa sangka jika aku malah tidak bisa berbuat apa-apa ketika dia tak lagi sanggup menahan rangsangan dan ledakan kekuatan itu. Sesuatu yang membuat ku heran, apakah tuan Erix mampu menyerap semua energi sihir itu seorang diri?
"Jangan memikirkan hal yang tidak perlu, kika kau membandingkan kekuatan fisikmu dengan tuan, maka kau salah, tuan adalah salah satu werwolf legendaris yang sudah hampir punah, kekuatan fisik tuan bahkan bisa empat kali lipat atau bahkan. Lima kali lipat dari kekuatan kita."
Aku sungguh tidak percaya hal itu, apa tuan Erix memang memiliki kekuatan fisik semacam itu. Jika memang iya? Lalu apakah aku juga bisa menjadi sepertinya?
Aku menoleh sejenak saat aku merasa perutku sudah merasa lebih baik.
"Apa aku bisa melatih fisik tubuh ini agar bisa menjadi seperti tuan."
"Entahlah ...." Aku mendengar helaan napas pelan, lalu pijatan di tengkuk ku mulai menghilang. "Kau tahu, mungkin dengan berlatih kau akan bisa menjadi seperti tuan. Seperti yang biasa manusia dan ras lain lakukan untuk mendapat sebuah kekuatan. Kau juga bisa melakukannya jika kau mau."
"Apa dengan cara itu aku bisa memaksimalkan kekuatanku?"
"Mungkin saja, siapa yang tahu? Bahkan aku melihat beberapa kali tuan berlatih agar mampu menguasai kekuatan dalam dirinya."
Aku terdiam sejenak. Mungkin aku sudah melewati beberapa poin penting untuk mendapatkan kemampuan fisik ku. Padahal jika di pikir aku sudah berada di dalam sebuah wadah yang sungguh luar biasa, karena dengan tubuh ini aku hampir bisa memasuki fase kedua di mana itu sangat sulit aku lakukan jika masih dalam bentuk wyren.
Sepertinya aku harus mencari waktu untuk mulai melatih fisik ku dan mulai mengembangkan tahap demi tahap supaya aku bisa menguasai fase kedua lalu melampauinya dan menguasai tahap akhir di mana itu adalah puncak kekuatan dari ras naga.
Tapi sebelum itu. Aku benar-benar harus menyelesaikan masa penyembuhan ku, karena rasa dari tubuh ini sangat menjengkelkan.
Perut ku kembali terasa berputar, lalu menekan hingga membuat rasa sakit di sekujur tubuhku terasa. Dan setelahnya aku kembali memuntahkan isi perutku.
Sial!
Aku benar-benar harus melatih kemampuan fisik tubuh ini sebelum melakukan tahap latihan yang sedikit ketat setelahnya.
Lalu tanpa kami sadari pintu ruangan perlahan terbuka, lu menunjukkan wajah tuan Erix yang melongok ke dala.
"Apa Silvana udah sadar?" Tanya pria dengan aura yang selalu saja membuat aku kagum itu.
Lalu aku yang masih harus menahan muntahan hanya bisa kembali menatap ke arah mangkuk untuk membersihkan isi perut ku.
"Sudah tuan, hanya saja dia masih tidak baik-baik saja setelah sadar."
Aku tidak tahu apa yang dilakukan keduanya karena aku masih sibuk dengan rasa sakit ini.
Jika saja aku baik-baik saja dan sudah merasa normal. Mungkin aku akan menyambut kedatangan tuan yang selalu saja luar biasa itu. Namun apa yang aku harapkan hanya sia-sia saja, apalagi ketika aku hanya bisa berbaring di tempat tidur seperti saat ini.
"Nggak pApa, itu respon yang normal untuk dia yang berusaha melewati batasannya."
Ucap tuan Erix yang perlahan masuk ke dalam kamar, aku mengangkat wajah ku yang terlihat tak baik-baik saja ini.
"Dia memaksakan kekuatan yang semestinya belum dia kuasai, jadi wajar aja sih kalo tubuhnya mengalami respon seperti itu."
Lalu tuan Lubis duduk di sebelahku, dan di belakang tuan Lubis terlihat tuan Dino yang masuk ke dalam dengan wajah tertunduk lesu. Bahkan bibirnya terlihat mengerucut ke depan.
"Dino. Lo tau cara metode untuk melatih otot dan metode penguatan tubuh?" Tanya tuan Erix pada tuan Dino yang masih terlihat kesal di sana.
"Jangan tanya padaku. Kau hanya bisa memberiku perkataan masih tanpa ada bukti!"
"CK, jangan gitu lah, gue bakal kasih inti kristal ke Lo dua kali lipat dari yang tadi asal Lo bisa ajarin Silvana."
"Urusan mengajari adalah hal yang gampang, aku bisa saja melakukan kapan pun kau mau, tapi sebelum itu apa kau bisa memberiku inti Kristal yang sama seperti yang kau berikan kepadaku too hari."
Kali ini bukan hanya tuan Dino yang menatap kesal, tapi tuan Erix pun melakukan hal yang sama seperti tuan Dino, di mana dia menatap tuan Dino dengan lekat sebelum tangannya merogoh kedalam ruang dimensi yang terlihat seperti sebuah penyimpanan di sana. Lalu melempar beberapa buah inti kristal kepada tuan Dino.
"Udah kan?"
Tuan Dino memasang raut ceria ketika dia melihat dua inti kristal yang terlihat luar biasa itu, bukan hanya penampilan saja yang cantik, tapi dari posisiku, aku masih bisa merasakan pancaran kekuatan yang ada dari inti kristal itu benar-benar luar biasa, walau terlihat sangat berbeda dengan energi sihir, tapi aku yakin jika kristal itu di jadikan sebagai bahan senjata, maka akan menjadi senjata dengan kualitas sangat bagus.
Aku sendiri baru tahu jika tuan Erix memiiki barang seperti itu. Yang mana itu sudah sangat langka untuk sekarang.
"Tentu! kau selalu saja memberikan sesuatu yang luar biasa untuk, Erix."
"Jadi sekarang jelasin ke Silvana. Apa Lo punya metode untum membuat otot-otot milik ya berkembang serta mampu memperkuat tubuh lemah itu?"
"Seperti yang kau harapkan, aku memiliki umur yang lama bukan hanya ku habiskan untuk bersenang-senang atau bermalas-malasan, selama ini aku terus melatih kekuatan tubuh ku dengan berbagai metode yang membuat ku bisa berkembang seperti sekarang."
Aku tertegun sejenak saat mendengar ucapan tuan Dino. Memang aku mengetahui fakta jika elf memiliki umur yang sangat panjang, tapi aku baru tahu jika tuan Dino Ternyata melatih tubuhnya sampai seperti itu. dan yang membuatku penasaran adalah, seberapa kuat tuan Dino saat ini, apakah dia memiliki kekuatan yang hampir setara dengan tuan Erix? Tau malah sebaliknya?
Ah entahlah, membayangkan kekuatan dua irang di hadapanku ini benar-benar membuatku merasa pusing sendiri.
"Jadi intinya Lo bisa nggak?"
"Jika kau bertanya seperti itu. Maka tentu saja ya."
Tuan Erix terlihat tersenyum kecil di sana. "Bagus, jadi mulai besok Lo harus ngelatih Silvana. Biar gue yang ngelatih Aldos."
"Harus banget besok? Memangnya tidak ada hari lain selain besok?"
"Gue pikir nggak ada hari lain, semakin cepat mereka berkembang maka semakin cepat juga kita pergi dari tempat ini. Gue udah nggak sabar buat menjelajahi tempat-tempat yang buat gue penasaran."
"Sialan, kau selalu saja berhasil membuatku ikut penasaran dengan apa yang kau pikirkan!"
"Bener kan? Gue tau Lo juga sama penasarannya sama jadi, lebih cepat kita ngelatih mereka maksa kan lebih cepat juga kita bersenang-senang!"
"Seperti yang kau inginkan. Kita akan membuat mereka berkembang dalam waktu yang singkat dan setelah itu kita pergi dari tempat ini!"
Aku yang masih merasakan efek dari pertarungan sebelumnya. Dan efek karena pengguna fase kedua hanya bisa bengong sembari menatap mereka berdua di sana. Pembicara mereka seolah menggambarkan sebuah penyiksaan yang ada di depan mata. Padahal aku sendiri belum sesehat itu, tapi mereka sudah siap dengan porsi latihan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.