Tristan dengan setelan pakaian yang casual sudah berada di sebuah lokasi pemotretan. Setelah mendapatkan sejumlah informasi dari asistennya, Anwar, Tristan langsung mencari tahu tentang William Benigno. William merupakan kekasih Karina yang berprofesi sebagai fotografer. Namanya belum diketahui banyak orang dalam bidang ini, tapi kekayaan William cukup membuat Tristan heran.
Dirinya bukan bermaksud merendahkan William, tapi Tristan dan Anwar sempat berdiskusi kalau pendapatan fotografer yang belum mendapatkan “nama” seperti William, masih belum banyak. Tapi setelah ditelusuri, Anwar menemukan fakta kalau William bahkan memiliki apartemen cukup besar di pusat kota Milan dan barang mewah lain.
Di taman di salah satu sudut kota Milan ini, William tengah memotret model-model dengan pakaian untuk musim panas, begitu menurut Tristan. Sebab terlihat kalau pakaiannya terbuka dan motifnya tidak jauh dari bunga-bunga. Tapi bukan itu yang sedang menjadi fokus pengamatan Tristan saat ini, melainkan bagaimana kekasih Karina sejak tadi terus mendekati model dengan cara yang aneh.
“Apa yang sebenarnya dia lakukan?” gumam Tristan.
Topi baseball berwarna hitam polos Tristan turunkan saat dia sempat bertemu pandang dengan William. Dia segera memutuskan kontak mata mereka dan berpura-pura kembali menekuni buku yang dia bawa.
“Apa Karina tahu kalau pacarnya seperti ini?” gumam Tristan lagi.
Bukan tidak beralasan Tristan menggumamkan kalimat demikian, sebab interaksi William yang notabennya sudah memiliki kekasih kepada modelnya, tidaklah wajar. Ketika William duduk, dia bahkan menarik seorang model untuk duduk di pangkuannya, memeluk pinggang mereka, bahkan tidak segan untuk mencium pipi model-model itu.
Tristan mendengus ketika menyaksikan itu semua di depan matanya. Dia tidak tahu seberapa jauh hubungan Karina dan William, tapi dia pikir seorang Karina bisa memiliki kepekaan untuk mencari pria yang benar untuk dijadikan kekasih. Tapi ternyata yang dia pacari hanyalah salah satu sampah dunia.
Dengan ponselnnya, Tristan mengabadikan moment saat William tengah menunjukkan kalau dia selingkuh. Tapi sepertinya semua bukti itu tidak akan bisa membuat Karina percaya, karena mungkin efeknya hanya sampai Karina memustuskan William. Sedangkan Tristan belum akan mendapatkan apa yang dia inginkan, yaitu persetujuan Karina untuk menjadi istrinya.
///
Sore harinya, Tristan kembali dihubungi oleh Anwar. Asistennya itu sempat heboh saat menghubunginya karena mendapatkan sesuatu yang bisa membuat Karina mau meninggalkan Milan. Mulanya Tristan juga tidak mengerti akan apa yang dimaksudkan oleh Anwar, sampai kemudian asistennya itu menjelaskan dengan panjang lebar.
“Elo dapet jackpot, Bang!” seru Anwar melalui telepon.
“Ada apa sih?” tanya Tristan heran, waktu tidurnya terganggu oleh Anwar yang tidak berhenti meneleponnya sedari tadi.
“Cek email dan nanti angkat video call gue,” ujar Anwar.
Tristan segera menyalakan tab dan membuka email. Memang ada satu email masuk dari Anwar dan langsung Tristan buka. Di sana ada foto-foto yang tadi dikirimkan dirinya sendiri pada Anwar, foto william yang sedang bersama model-model cantik di lokasi pemotretan.
“Maksudnya ini apa?” tanya Tristan karena hanya ada lingkaran-lingkaran merah dalam foto yang diambilnya tadi siang.
Anwar segera mematikan sambungan telepon untuk diganti dengan video call. Tristan langsung mengangkatnya dan layar ponselnya memperlihatkan kalau Anwar sedang menyorot meja kerjanya. Di meja itu terdapat tab yang sama-sama sedang membuka foto dari William.
“Coba elo liat ke lingkaran merah,” kata Anwar pada Tristan. “Lo nemu sesuatu yang janggal nggak, Bang?”
Lingkaran merah yang Anwar buat itu terfokus pada beberapa objek di dalam foto. Ada kamera, ponsel dan cermin yang memantulkan sebuah fakta yang membuat Tristan langsung merasa merinding.
“Udah nemu apa belum?” tanya Anwar lagi karena Tristan masih diam saja.
Tristan menarik napas lalu menghelanya pelan. Dia mengamati sekali lagi apa yang baru saja dia temukan mengenai William, karena mungkin dia salah.
“Dia ternyata m***m, Bang,” ujar Anwar yang kini menunjukkan wajahnya dalam video call mereka.
“Hm,” gumam Tristan setuju. “Tapi ini belum bisa jadi bukti kuat karena bisa aja nggak sengaja kefoto,” lanjutnya seraya berpikir keras.
“Tapi nggak mungkin, Bang... elo liat sendiri kalau foto itu nunjukkin William lagi ngarahin kameranya ke bagian bawah rok dan kepantul di kaca. Dia ini maniak!” ujar Anwar. Dia mendadak merasa emosi karena ternyata selain b******k, William si pacar Karina ini juga tidak beres otaknya.
William seorang fotografer, tapi juga maniak karena mengambil foto daerah pribadi seseorang tanpa izin. Jelas itu ilegal dan dapat menjebloskannya ke dalam penjara.
“Apa Karina bakal nerima fakta ini kalau gue tunjukin? Apa bakal ngefek ke dia?” tanya Tristan, meminta pendapat pada Anwar.
“Ya... itu sih bakah nggak seratus persen kaksih efek. Tapi udah tugas kita lindungin dia seperti pesan Kakek Briyan,” tutur Anwar. Nada bicaranya lebih melembut ketika membicarakan Briyan Sutoyo. “Kita harus bikin Karina putus dari b******n ini. Bisa juga Karina nanti jadi korban dari William.”
Dengan tangan yang tertaut dan dagu yang dia letakkan di sana, Tristan kembali berpikir keras. “Tapi akan jadi wajar kalau William nge-foto Karina, karena mereka pacaran. Kecuali....”
“Kecuali apa, Bang?”
“Kecuali kalau William gunain foto-foto privasi dan ilegal itu untuk tujuan lain.”
“Misal di jual gitu, ya?”
“Iya.”
“Jadi sekarang gue minta tolong buat telusuri kekayaan dia lagi. Karena kalau kita bisa nemuin bukti lebih kuat, Karina juga pasti bakal menjauh sendiri dari William.”
Diskusi antara Tristan dan William ditutup dengan keduanya yang kemudian sibuk untuk mencari tahu lebih banyak soal dari mana aliran dana kekayaan William. Meski ini juga melanggar privasi, tapi keduanya yang sudah dititipi Karina oleh Briyan, menganggap bahwa ini merupakan langkah yang benar.
///
Malam harinya, Tristan harus turun menuju mini market untuk membeli makanan yang bisa sesuai dengan lidahnya. Dua hari di Italia belum bisa membuatnya cocok dengan makannanya, meski dia bukan tipe pria yang suka pemilih dalam hal makanan.
Mini marketnya terletak di dekat pintu lift yang ada di basement. Tampak beberapa penghuni apartemen juga tengah berbelanja kebutuhanya di tempat ini. Setelah menyusuri setiap rak yang ada, pilihan Tristan jatuh pada mie instan yang mereknya dari negara lain bukan dari Italia sendiri. Kemudian ada sosis dan beberapa camilan yang setidaknya mengamankan keadaan perutnya malam ini karena besok pagi dia sudah akan pulang ke Indonesia lagi.
Seharusnya dia memang bisa memakan spaghetti atau pasta, tapi tetap saja Tristan tidak mau. Dia keluar dari mini market dan berjalan pelan menuju lift. Dia menunggu di sana dengan sabar karena liftnya sedang digunakan, namun saat itu dia justru bertemu dengan Karina yang tengah bersama kekasihnya, William.
Mata Tristan langsung mengamati keduanya. Karina sendiri sudah melihat kalau ada Tristan di dekatnya, namun dia acuh dan tetap menanggapi setiap kalimat kekasihnya dengan bahasa Italia. Tristan memilih berdiri di belakang ketika mereka sudah masuk ke dalam lift, dia diam saja dan memainkan ponselnya seolah sedang tidak mendengarkan apapun. Padahal dia cukup mengerti apa yang sedang dibicarakan sepasang kekasih ini.
Mereka bertiga berpisah setelah sampai di lantai tempat tinggal mereka berada. Tristan sendiri kemudian langsung melepaskan jaket dan topinya, lalu menuju dapur untuk memasak. Tapi satu hal terjadi, kompor di apartemennya ini tidak kunjung menyala.
“Oh s**t!” umpat Tristan. Tangannya memijat tengkuknya yang terasa kaku saat ini.
Sial sekali dia, saat sedang merasa di puncak rasa lapar, justru menemui kendala seperti ini. Jika ini kompor biasa, maka Tristan bisa meminta bantuan dengan mudah. Tapi karena kompornya jenis kompor listrik, maka pasti butuh waktu untuk memperbaikinya jika mengadu ke pihak pengelola apartemen.
Tristan sudah akan menelepon nomor salah seorang yang ditunjuk Anwar untuk mengurusi dirinya selama di Milan, namun sebuah ide tiba-tiba muncul di otaknya. Dan kini dia sudah berada di depan apartemen Karina lalu menekan belnya tanpa merasa ragu. Di tangan kirinya ada mangkuk dan kantung plastik belanjaannya tadi.
Bisa menebak apa yang hendak Tristan lakukan?
Ya, Tristan menemukan ide untuk menumpang masak di tempat tingal Karina sekaligus untuk mengetahui lebih banyak soal William. Sebuah kebetulan yang sangat epik jika dipikirkan oleh Tristan, tapi terlebih dahulu dia harus mendapatkan izin masuk ke dalam apartemennya.
“Apa yang kamu lakukan di depan apartemen saya?” tanya Karina begitu membuka pintu dan mendapati orang yang mulai kemarin dia tetapkan masuk dalam daftar hitamnya.
Tristan menyunggingkan senyumnya, dia lalu mengangkat kantung belanjaannya dan mangkuk yang dia bawa ke hadapan Karina. “Kompor di apartemen saya rusak. Jadi saya ingin numpang masak di tempatmu,” jawabnya.
“APA?” pekik Karina. Dia langsung memasang wajah tidak percaya pada Tristan.
Tetangganya saja tidak pernah menumpang masak di tempatnya dan memilih menghubungi pihak pengelola kalau ada masalah. Tapi pria di hadapannya ini dengan sangat santai membuat permintaan itu.
“Saya sangat lapar dan tidak ada makanan Italia yang cocok di lidah saya,” ujar Tristan kemudian.
Karina menghela napasnya. Dia yang hendak menolak permintaan Tristan menjadi merasa kasihan. Dia tahu rasanya menjadi asing di negara orang, jadi dia tidak bisa begitu saja mengabaikan Tristan, terlepas masalah di antara mereka.
“Oke, masuklah,” ucap Karina pada akhirnya. Dia segera menyingkir dari pintu untuk memberi ruang pada Tristan untuk masuk ke dalam tempat pribadinya.
“Siapa dia, sayang?”
William yang baru saja keluar dari kamar Karina pun menanyakan kehadiran sosok pria di belakang kekasihnya.
“Oh, dia tetangga sebelah. Dia ingin menumpang masak karena kompor di tempatnya rusak,” jelas Karina dengan sedikit gugup.
William memang sosok yang ramah dan supel, tapi ada kalanya dia menjadi sedikit kasar jika Karina dekat dengan pria lain.
“Mm.. begitu,” gumam William. Matanya tidak berhenti menatap penuh selidik pada Tristan. “Tapi aku ingin berbicara sebentar denganmu, empat mata,” ujar William pada Karina.
Setelah itu, Tristan ditinggal sendirian di tengah tempat tinggal Karina. William dan Karina sendiri masuk ke dalam kamar entah untuk melakukan apa, karena Tristan tidak memedulikan hal itu. Tapi kemudian mata Tristan menemukan tas yang tadi dibawa oleh William.
Tas itu tergeletak di atas meja kopi dekat sofa. Bentuk tas itu sepertinya untuk menampung kamera di dalamnya, sehingga Tristan langsung saja mendekat dan mengambil tas itu. Lagi-lagi dia harus melanggar privasi karena melakukan hal ini, tapi dia harus mendapatkan cukup banyak bukti soal William Benigno ini.
Ternyata benar, di dalam tas itu terdapat kamera yang kemudian Tristan nyalakan. Dia dibuat terkejut ketika membuka galeri yang terdapat dalam kamera. Karena di sana terdapat banyak foto yang mengarah pada bagian intim wanita, tapi di potret dengan sudut yang menunjukkan kalau itu tindakan ilegal. Ada juga video singkat sampai panjang tersimpan dalam kamera ini.
“Karina....”
Lagi-lagi Tristan dibuat terkejut ketika melihat ada sebuah foto yang menangkap seluruh tubuh Karina. Tapi saat itu Karina tengah telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Tristan mencoba berpikir positif karena mungkin foto ini sudah diambil setelah keduanya sepakat, tapi anehnya Karina tampak sedang tertidur dan bukan berpose.
Paling gila lagi, bagian intim Karina dipotret sampai sangat detail dan itu membuat Tristan harus meneguk ludahnya susah payah. Dia segera menutup galeri itu setelah mendapatkan banyak bukti yang memang menjurus pada ketidak beresan niat William.
Bunyi notifikasi kemudian membuat fokus Tristan teralih. Ternyata itu berasal dari sebuah ponsel lain milik William, karena Tristan yakin kalau tadi William juga menggemgam sebuah ponsel. Dia pun segera mengambilnya ketika membaca notifikasi-notifikasi aneh di layarnya.
“Kapan kau akan mengupload foto baru?”
“Katanya kau akan melakukannya setiap hari.”
“Ayolah upload Antonio. Kami butuh foto-foto menyegarkan yang baru.”
Notifikasi itu bukan berasal dari pesan w******p atau aplikasi populer lainnya. Melainkan sebuah situs yang kemudian Tristan buka melalui ponselnya, mengarah pada situs porno.
“b******n!” umpat Tristan.
Apa b******n ini menjual foto-foto tadi ke situs porno ini? Batin Tristan.
Tristan ingin mencari lebih jauh buktinya namun dia terhalang oleh ponsel yang dilindungi kunci pola. Namun karena dia tahu cara-cara untuk mudah mengetahui kuncinya, dia segera tersenyum. Kakinya kemudian mengarah pada lampu di sudut ruangan yang bersifat sebagai hiasan saja. didekatkannya layar ponsel milik william yang tengah dia matikan ini pada sinar lampu, sehingga dengan mudah pola untuk membuka kunci ponsel bisa terlihat.
Sebuah trik mudah yang ternyata sangat berguna. Karena itu ketika menggunakan ponsel dengan kunci pola, sebaiknya untuk mengusap bagian layarnya kembali, sehingga bekas jari kita pada saat membuat pola, tidak tertinggal begitu saja.
Kini Tristan sudah leluasa untuk mencari tahu tentang kebusukan William. Isi ponsel ini ternyata lebih menjijikkan ketimbang kamera tadi, karena hampir semua filenya adalan foto-foto bagian intim wanita. Dan emosi Tristan langsung memuncak ketika melihat folder bernamakan “KARINA” yang isinya foto-foto telanjang cucu dari mendiang Briyan Sutoyo.
“Sialan!” umpat Tristan lagi.
Dia sudah menemukan bukti kalau William memang benar-benar busuk. Dia menjual foto itu di situs porno dengan akun bernama Antonio. Ada lebih dari seribu foto yang dia unggah di sana meski tidak menyertakan wajah dari pemilik tubuh yang dia ambil fotonya. Tapi semua ini tetap ilegal, sebab William mengambil keuntungan dengan cara yang tidak masuk akal dan tanpa izin.
Tristan bergegas mengembalikan ponsel dan kamera ke dalam tas begitu mendengar suara kenop pintu yang akan terbuka. Dia berlari menuju dapur untuk melihat kalau mie yang dia masak sudah hampir matang.
“Aku sudah kirimkan video dan foto lewat email. Cari tahu lebih banyak soal ini. Karena kita harus melindungi Karina dari si b******n William,” titah Tristan pada Anwar melalui sambungan telepon.
Dia berhasil keluar dari tempat tinggal Karina dengan mulus dan tanpa meninggalkan sedikit pun kecurigaan. Kini sepertinya dia harus menunda kepulangannya menuju Indonesia karena harus segera mengusut tuntas hal ini. Dia tentu tidak akan bisa mengabaikan keselamatan Karina sesuai permintaan Briyan sebelum meninggal dunia.
.
.
///
Gimana pendapat kalian sama cerita ini? aku pengen tahu karena sosok CEO yang aku bikin emang jauh dari kebanyakan cerita yang aku sendiri baca hehe
.
.